共有

Hari Pertama Bekerja

作者: NomNom69
last update 公開日: 2026-02-09 15:56:32

Setelah menjelaskan perihal gaji dan beberapa aturan lainnya, Ratna bangkit dari sofa dan memberi isyarat agar Juned mengikutinya menuju area belakang yang melewati dapur bersih. 

Ia menunjukkan sebuah kamar berpintu kayu yang letaknya berada di depan halaman menjemur.

  "Nah, ini kamarmu, kamu bisa langsung istirahat." ucap Ratna sambil membuka pintu kamar itu.

  Juned mengintip ke dalam ruangan yang tampak rapi lengkap dengan kasur dan lemari pakaian kecil untuknya.

  "Baik Nyonya, terima kasih banyak," jawab Juned sambil meletakkan tas ranselnya di atas lantai.

  Ratna berdiri di ambang pintu sejenak, memperhatikan Juned yang mulai merapikan barang-barangnya ke atas tempat tidur.

  "Kalau nanti malam kamu lapar, kamu bisa masak mie di dapur ya," tambah Ratna sebelum berbalik badan. “Maklum mbak Sarti udah pulang.”

  Juned mengangguk patuh sambil menatap punggung Ratna yang perlahan menjauh kembali menuju ruang tengah. 

  "Iya Nyonya, siap," sahut Juned pelan.

  Setelah memastikan suasana sunyi, Juned segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang tercium aroma wangi pembersih lantai.

  "Enam Juta jadi Supir Pribadi Majikan cantik," gumam Juned sambil memejamkan matanya.

  Udara pagi yang masih dingin tidak menghalangi Juned untuk melahap puluhan repetisi push up di atas lantai semen halaman belakang.

 Keringat bercucuran membasahi otot lengan dan punggungnya yang kokoh setiap kali ia mengangkat beban tubuhnya sendiri.

  "Kamu rajin banget jam segini udah olahraga," ucap Ratna yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur.

  Juned tersentak lalu segera berdiri tegak dengan napas yang masih terengah-engah dan dada yang membusung. Ia mendapati Ratna berdiri tepat di hadapannya dengan hanya mengenakan gaun tidur minim yang sangat memperlihatkan kemolekan tubuhnya.

  "Eh, Nyonya. Maaf Nyonya kalau saya lancang olahraga disini," ucap Juned sambil buru-buru menyeka keringat di dahinya.

  Ratna tidak beranjak, ia justru melangkah mendekat hingga Juned bisa merasakan hawa hangat dari napas majikannya itu.

  "Tidak apa-apa, saya senang punya karyawan rajin seperti kamu," puji Ratna menatapnya ke bawah.

  Juned merasa suhu di sekitarnya mendadak panas dan ia mulai merasa serba salah dengan tatapan Nyonya pemilik rumahnya.

  "Anu, apa Nyonya perlu bantuan sesuatu?" tanya Juned dengan nada sedikit gugup.

  Ratna berdehem lalu melirik gantungan baju yang berada di jemuran kecil dekat pintu belakang. 

  "Ah, iya. Tolong ambilkan baju saya yang itu, Ned," ucap Ratna lembut.

  Juned langsung bergerak mengambil baju yang dimaksud, memperlihatkan otot punggungnya yang menonjol saat tangannya menjangkau ke atas. Ratna tetap mematung di tempatnya sambil terus mengagumi bentuk fisik Juned yang tampak sangat terlatih.

  "Kamu biasa kerja kasar di kampung ya, Ned?" tanya Ratna dengan nada sangat penasaran.

  Juned menyerahkan baju tersebut sambil berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan sang majikan. 

  "Eh, nggak juga kok Nyonya. Kadang saya ngojek, kadang juga memijat orang kalau ada yang butuh," jawab Juned dengan jujur.

  Ratna mengangguk-angguk pelan mendengar pengakuan itu. Ia kemudian membenahi posisi gaunnya.

  "Hmmm... yaudah, jam tujuh nanti antar saya berangkat ke kantor ya," jawab Ratna sambil berlalu masuk ke dalam rumah.

  Mobil mewah itu meluncur mulus menembus kepadatan lalu lintas pagi hingga akhirnya berhenti tepat di lobi gedung perkantoran. Ratna membuka dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dalam jumlah yang cukup banyak.

  "Ini uang untuk kamu ke tukang cukur rapikan rambut kamu. Sekalian beli pakaian yang lebih bagus setelah mengantar Maudy," ucap Ratna sambil menyerahkan uang itu. “Maudy paling risih sama yang gak rapih. Jadi kamu bisa ke tukang cukur atau kemana lah.”

  Juned menerima uang tersebut dengan tangan sedikit gemetar karena tidak menyangka akan mendapatkan modal untuk merombak penampilannya.

  "Maudy ke kampus jam sepuluh nanti, paling jam segini dia belum bangun," tambah Ratna memberikan informasi tambahan.

  Juned mengangguk paham dan segera menyimpan uang tersebut ke dalam saku celananya dengan aman.

  "Baik Nyonya, terima kasih sekali lagi." ucap Juned dengan penuh rasa syukur.

***

  Saat tiba di rumah selepas mengantar Nyonya, Juned menuju dapur untuk mengambil air. Saat sedang minum di dapur, Juned mendengar langkah kaki menuruni anak tangga menuju ruang makan. 

Ia tertegun melihat Maudy yang hanya mengenakan daster pendek tipis hingga memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus.

  "Pagi, Non Maudy, ya?" sapa Juned sembari menundukkan pandangannya.

  Maudy menghentikan langkahnya tepat di depan dapur dan memperhatikan sosok pria di hadapannya dengan tatapan menyelidik.

  "Kamu supir barunya ya?" tanya Maudy memastikan dengan suara yang masih terdengar khas orang bangun tidur.

  Juned mengangguk perlahan sambil tetap berdiri kaku di samping meja dapur agar tidak terlihat kurang ajar. 

  "Iya Non, saya Juned, supir baru," jawab Juned dengan tenang.

  Maudy melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal saja, membuat aroma tubuhnya tercium jelas oleh Juned. Ia mengambil gelas kosong lalu mengisi air mineral sambil tetap melirik ke arah wajah supirnya itu.

  "Hmm... tadi habis antar Mama?" tanya Maudy sembari meminum airnya perlahan.

  Juned hanya bisa menelan ludah saat melihat leher Maudy yang bergerak ketika menelan air tepat di hadapannya. Ia berusaha tetap fokus.

  "Iya Non, ini baru balik dari kantor," jawab Juned singkat.

Juned melirik ke arah deretan jemuran yang berjejer rapi di sudut halaman belakang itu saat ekor mata Maudy mengarah kesana.

"Cari apa Non? Mau saya bantu cari." tanya Juned sambil mulai melangkah menuju jemuran.

Maudy mengikuti langkah Juned dari belakang. "Warna biru dongker, Mas. Ada logo kampusnya di bagian dadanya," jawab Maudy dengan nada suara yang sedikit tidak fokus.

Juned menyisir barisan gantungan baju satu per satu dengan teliti agar tidak salah ambil. Ia akhirnya melihat jaket yang dimaksud Maudy terselip di bagian paling pojok jemuran.

"Oh, kayaknya ini, Non," ujar Juned sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi untuk meraih jaket itu.

Saat tangan Juned terangkat, otot lengan dan bahunya semakin menegang dan terlihat sangat kokoh di bawah sinar matahari pagi. Maudy kembali menelan ludah, merasa terpesona dengan kekuatan fisik yang terpancar dari tubuh Juned.

Maudy bergumam kecil, menatap Juned yang lamat mengambil almameter kampusnya.

Juned menoleh ke arah Maudy, "Eh, kenapa, Non?"

Pandangan Maudy langsung teralihkan, "Ah, nggak apa-apa, Mas." Ucap Maudy semakin gugup. “Nanti tolong anter aku ke kampus, ya.”

“Sebentar aku siap-siap dulu.” Ucap Maudy yang berlalu menuju kamarnya.

“Siap, Non. Saya tunggu di depan.” Sahut Juned setengah membungkuk sambil menatap punggung Maudy yang berjalan ke kamar.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Talak!

    Pagi berikutnya, Juned menatap Ratna dengan raut wajah prihatin yang dibuat begitu sempurna di meja makan. "Ra, Mas harus pulang kampung hari ini buat besuk Desi," ujar Juned dengan nada suara rendah nan berat. "Kondisinya belum stabil pasca pendarahan kemarin. Mas mau ajak Nayla sekalian biar ada yang temenin Mas di jalan." Ratna mengangguk paham tanpa keraguan sedikit pun. "Iya, Ned, mending kamu besuk langsung. Bawa Nayla aja biar kamu gak capek nyetir sendirian," balas Ratna tulus, mengusap pelan lengan pria itu. Beberapa jam kemudian, sedan hitam Juned membelah jalanan antarkota menuju kampung halaman. Nayla duduk di kursi penumpang samping, jemarinya meremas kain celananya erat-erat dengan debar dada yang tak menentu. Ia sama sekali tidak tahu bahrah besar apa yang sedang menunggunya di sana. Juned mengemudi dalam keheningan yang amat mencekam, matanya menatap lurus ke depan dengan kilat dendam yang terbungkus rapat. Begitu mobil berhenti di pekarangan rumah kampung, Ju

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Terjebak

    Sinar matahari sore makin membias jingga, menerobos masuk menembus celah gorden kamar utama di kampung halaman. Rumah besar bernuansa kayu itu lengang total sejak pukul empat sore, setelah ibu kandung Desi pamit pergi menghadiri pengajian rutin antar-desa di masjid kecamatan. Keheningan itu menjadi panggung sempurna bagi Desi dan Andre untuk menuntaskan gairah terlarang mereka tanpa kekhawatiran. Di atas peraduan yang dilapisi sprei mahal belian uang kiriman dari kota, Desi tertawa manja dalam dekapan Andre. "Ibu pulangnya pasti jam delapan malam nanti, Ndre... Masih lama banget," bisik Desi penuh godaan seraya mengusap rahang Andre. "Baguslah... Jadi kita gak perlu terburu-buru," sahut Andre dengan tawa rendah, menyibak daster tipis Desi dan melumat bibirnya tanpa ragu. Namun, di balik keheningan rumah yang dikira aman itu, sebuah ancaman nyata sedang mengintai dari arah luar. Aryo—sahabat dekat Juned sejak masa kecil di desa yang baru saja kembali dari sawah—berjalan melintas

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Saling Menipu

    Di sisi lain, jauh dari riuk pikuk metropolitan dan kilau pencakar langit kota, sebuah kenyataan yang tak tersentuh oleh kalkulasi dingin Juned sedang bergulir di kampung halaman. Sinar matahari sore menembus celah ventilasi kamar sebuah rumah sederhana berdinding tembok putih yang sepi. Desi terbaring di atas ranjang kayu bermotif ukir, mengenakan daster longgar berwarna pudar dengan wajah yang sengaja dipucatkan oleh sisa-sisa rasa lemas. Di atas meja rias kecil di samping tempat tidur, tergeletak beberapa strip obat antibiotik dan vitamin dari rumah sakit yang sudah kosong. Pintu kamar yang sedikit renggang terdorong pelan tanpa suara. Sesosok pria berbadan tegap dengan kemeja flanel berpetak melangkah masuk secara diam-diam, mengunci selot pintu dari dalam dengan gerakan jemari yang sangat terlatih. Pria itu adalah Andre—mantan kekasih Desi semasa sekolah yang kini kembali hadir mengisi celah-celah kekosongan di kampung. Andre melangkah mendekati ranjang, mendudukkan diri d

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kebobolan

    Beberapa hari berlalu tanpa gejolak yang berarti di permukaan. Di kantor, Juned tetap menjalankan perannya sebagai atasan yang dingin dan amat profesional di hadapan Caca, sembari sesekali memenuhi janji makan malam mewah bersama Fitri demi mengunci investasi miliaran rupiah. Sementara itu, urusan di kampung halaman telah sepenuhnya diredam oleh kucuran dana yang ia kirimkan untuk perawatan Desi, membuat wanita itu tetap terikat dalam kepasrahan di jauh sana. Di rumah kota, dinamika bertiga antara Juned, Ratna, dan Nayla berjalan begitu mulus, terbungkus rahasia panas yang justru membuat ketiganya kian intim. Namun, koordinat papan catur yang disusun Juned secara presisi mendadak bergeser pada suatu Kamis pagi. Nayla terbangun dengan wajah pucat pasi, berlari tergesa-gesa menuju kamar mandi utama seraya memegangi perutnya. Suara mual dan muntah yang hebat memecah keheningan rumah. Ratna yang baru saja selesai menyeduh kopi di dapur langsung bergegas menghampiri, menepuk-nepuk p

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Berakhir

    Hari Senin tiba dengan cuaca kota yang cerah dan dingin. Juned sudah berdiri tegap di depan cermin besar ruang kerjanya di lantai atas gedung perkantoran, merapikan simpul dasinya dengan presisi tanpa cela. Kejadian akhir pekan di rumah bersama Ratna dan Nayla tidak menyisakan sedikit pun jejak kelelahan pada raut wajahnya; perannya sebagai pemimpin yang berwibawa dan dingin kembali terpasang sempurna. Ketukan pintu yang teratur terdengar. "Masuk," ujar Juned singkat. Caca melangkah masuk membawa map tebal dokumen finalisasi proyek bersama Fitri. Pakaian kerjanya sangat rapi, dan ekspresi wajahnya sepenuhnya profesional. "Semua draf kontrak dan lampiran analisis risiko sudah siap, Pak Juned. Ibu Fitri dan tim hukumnya sudah menunggu di ruang rapat utama," laporan Caca lugas, menjaga jarak aman dua langkah dari meja kerja Juned. "Bagus. Pastikan Notaris sudah memverifikasi pasal empat dan lima," balas Juned tegas tanpa nada godaan sedikit pun. "Sudah diverifikasi, Pak. Semua b

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Berbahaya

    Lampu ruang tengah menyala benderang, membedah kegelapan dapur yang semula temaram. Suara klak ponsel Ratna yang menghantam lantai kayu bergaung nyaring di tengah keheningan malam. Nayla membeku seketika, tubuhnya gemetar hebat hingga napasnya tertahan di tenggorokan saat menyadari posisi jemarinya masih melingkar di pinggang Juned. Ratna berdiri terpaku beberapa langkah di hadapan mereka, matanya melebar menatap tajam ke arah dua orang yang berada dalam posisi begitu intim. Namun, alih-alih meledak dalam amarah atau menumpahkan derai air mata histeris, raut wajah Ratna perlahan berubah. Bibir merona milik Ratna terkerek tipis, membentuk sebuah sunggingan senyum yang sukar diartikan—dingin, sarat akan rahasia, namun begitu bergairah. "Rupanya..." suara Ratna mengalun rendah, teratur tanpa ada getaran emosi yang goyah. "Permainan rahasia kalian di belakangku udah berjalan sejauh ini?" Nayla makin panik, menyembunyikan wajahnya di balik punggung Juned seraya meremas kain kemeja

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status