LOGINSetelah menjelaskan perihal gaji dan beberapa aturan lainnya, Ratna bangkit dari sofa dan memberi isyarat agar Juned mengikutinya menuju area belakang yang melewati dapur bersih.
Ia menunjukkan sebuah kamar berpintu kayu yang letaknya berada di depan halaman menjemur. "Nah, ini kamarmu, kamu bisa langsung istirahat." ucap Ratna sambil membuka pintu kamar itu. Juned mengintip ke dalam ruangan yang tampak rapi lengkap dengan kasur dan lemari pakaian kecil untuknya. "Baik Nyonya, terima kasih banyak," jawab Juned sambil meletakkan tas ranselnya di atas lantai. Ratna berdiri di ambang pintu sejenak, memperhatikan Juned yang mulai merapikan barang-barangnya ke atas tempat tidur. "Kalau nanti malam kamu lapar, kamu bisa masak mie di dapur ya," tambah Ratna sebelum berbalik badan. “Maklum mbak Sarti udah pulang.” Juned mengangguk patuh sambil menatap punggung Ratna yang perlahan menjauh kembali menuju ruang tengah. "Iya Nyonya, siap," sahut Juned pelan. Setelah memastikan suasana sunyi, Juned segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang tercium aroma wangi pembersih lantai. "Enam Juta jadi Supir Pribadi Majikan cantik," gumam Juned sambil memejamkan matanya. Udara pagi yang masih dingin tidak menghalangi Juned untuk melahap puluhan repetisi push up di atas lantai semen halaman belakang. Keringat bercucuran membasahi otot lengan dan punggungnya yang kokoh setiap kali ia mengangkat beban tubuhnya sendiri. "Kamu rajin banget jam segini udah olahraga," ucap Ratna yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur. Juned tersentak lalu segera berdiri tegak dengan napas yang masih terengah-engah dan dada yang membusung. Ia mendapati Ratna berdiri tepat di hadapannya dengan hanya mengenakan gaun tidur minim yang sangat memperlihatkan kemolekan tubuhnya. "Eh, Nyonya. Maaf Nyonya kalau saya lancang olahraga disini," ucap Juned sambil buru-buru menyeka keringat di dahinya. Ratna tidak beranjak, ia justru melangkah mendekat hingga Juned bisa merasakan hawa hangat dari napas majikannya itu. "Tidak apa-apa, saya senang punya karyawan rajin seperti kamu," puji Ratna menatapnya ke bawah. Juned merasa suhu di sekitarnya mendadak panas dan ia mulai merasa serba salah dengan tatapan Nyonya pemilik rumahnya. "Anu, apa Nyonya perlu bantuan sesuatu?" tanya Juned dengan nada sedikit gugup. Ratna berdehem lalu melirik gantungan baju yang berada di jemuran kecil dekat pintu belakang. "Ah, iya. Tolong ambilkan baju saya yang itu, Ned," ucap Ratna lembut. Juned langsung bergerak mengambil baju yang dimaksud, memperlihatkan otot punggungnya yang menonjol saat tangannya menjangkau ke atas. Ratna tetap mematung di tempatnya sambil terus mengagumi bentuk fisik Juned yang tampak sangat terlatih. "Kamu biasa kerja kasar di kampung ya, Ned?" tanya Ratna dengan nada sangat penasaran. Juned menyerahkan baju tersebut sambil berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan sang majikan. "Eh, nggak juga kok Nyonya. Kadang saya ngojek, kadang juga memijat orang kalau ada yang butuh," jawab Juned dengan jujur. Ratna mengangguk-angguk pelan mendengar pengakuan itu. Ia kemudian membenahi posisi gaunnya. "Hmmm... yaudah, jam tujuh nanti antar saya berangkat ke kantor ya," jawab Ratna sambil berlalu masuk ke dalam rumah. Mobil mewah itu meluncur mulus menembus kepadatan lalu lintas pagi hingga akhirnya berhenti tepat di lobi gedung perkantoran. Ratna membuka dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dalam jumlah yang cukup banyak. "Ini uang untuk kamu ke tukang cukur rapikan rambut kamu. Sekalian beli pakaian yang lebih bagus setelah mengantar Maudy," ucap Ratna sambil menyerahkan uang itu. “Maudy paling risih sama yang gak rapih. Jadi kamu bisa ke tukang cukur atau kemana lah.” Juned menerima uang tersebut dengan tangan sedikit gemetar karena tidak menyangka akan mendapatkan modal untuk merombak penampilannya. "Maudy ke kampus jam sepuluh nanti, paling jam segini dia belum bangun," tambah Ratna memberikan informasi tambahan. Juned mengangguk paham dan segera menyimpan uang tersebut ke dalam saku celananya dengan aman. "Baik Nyonya, terima kasih sekali lagi." ucap Juned dengan penuh rasa syukur. *** Saat tiba di rumah selepas mengantar Nyonya, Juned menuju dapur untuk mengambil air. Saat sedang minum di dapur, Juned mendengar langkah kaki menuruni anak tangga menuju ruang makan. Ia tertegun melihat Maudy yang hanya mengenakan daster pendek tipis hingga memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus. "Pagi, Non Maudy, ya?" sapa Juned sembari menundukkan pandangannya. Maudy menghentikan langkahnya tepat di depan dapur dan memperhatikan sosok pria di hadapannya dengan tatapan menyelidik. "Kamu supir barunya ya?" tanya Maudy memastikan dengan suara yang masih terdengar khas orang bangun tidur. Juned mengangguk perlahan sambil tetap berdiri kaku di samping meja dapur agar tidak terlihat kurang ajar. "Iya Non, saya Juned, supir baru," jawab Juned dengan tenang. Maudy melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal saja, membuat aroma tubuhnya tercium jelas oleh Juned. Ia mengambil gelas kosong lalu mengisi air mineral sambil tetap melirik ke arah wajah supirnya itu. "Hmm... tadi habis antar Mama?" tanya Maudy sembari meminum airnya perlahan. Juned hanya bisa menelan ludah saat melihat leher Maudy yang bergerak ketika menelan air tepat di hadapannya. Ia berusaha tetap fokus. "Iya Non, ini baru balik dari kantor," jawab Juned singkat. Juned melirik ke arah deretan jemuran yang berjejer rapi di sudut halaman belakang itu saat ekor mata Maudy mengarah kesana. "Cari apa Non? Mau saya bantu cari." tanya Juned sambil mulai melangkah menuju jemuran. Maudy mengikuti langkah Juned dari belakang. "Warna biru dongker, Mas. Ada logo kampusnya di bagian dadanya," jawab Maudy dengan nada suara yang sedikit tidak fokus. Juned menyisir barisan gantungan baju satu per satu dengan teliti agar tidak salah ambil. Ia akhirnya melihat jaket yang dimaksud Maudy terselip di bagian paling pojok jemuran. "Oh, kayaknya ini, Non," ujar Juned sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi untuk meraih jaket itu. Saat tangan Juned terangkat, otot lengan dan bahunya semakin menegang dan terlihat sangat kokoh di bawah sinar matahari pagi. Maudy kembali menelan ludah, merasa terpesona dengan kekuatan fisik yang terpancar dari tubuh Juned. Maudy bergumam kecil, menatap Juned yang lamat mengambil almameter kampusnya. Juned menoleh ke arah Maudy, "Eh, kenapa, Non?" Pandangan Maudy langsung teralihkan, "Ah, nggak apa-apa, Mas." Ucap Maudy semakin gugup. “Nanti tolong anter aku ke kampus, ya.” “Sebentar aku siap-siap dulu.” Ucap Maudy yang berlalu menuju kamarnya. “Siap, Non. Saya tunggu di depan.” Sahut Juned setengah membungkuk sambil menatap punggung Maudy yang berjalan ke kamar.Juned berjalan perlahan melewati ruang tengah sambil menenteng kotak kue, ia sempat melirik ke arah tangga tempat Maudy baru saja menghilang. "Nyonya, ini pesanan kuenya," ucap Juned sambil meletakkan kotak itu dengan sangat hati-hati di atas meja. Ratna mengalihkan pandangannya dari layar laptop, ia menyesap tehnya sedikit lalu menatap wajah Juned yang tampak masih agak tegang. "Oh, taruh aja di situ, Ned. Kok lama banget? Maudy mana?" tanya Ratna sambil merapikan letak kacamatanya. Juned berdiri dengan posisi tegak, ia berusaha menyembunyikan sisa emosinya setelah kejadian di kedai minuman tadi. "Non Maudy langsung ke kamar, Nyonya, tadi mampir dulu beli minuman sama Non Maudy," jawab Juned dengan suara yang diatur sesopan mungkin. "Oh gitu. Yaudah tolong ambilin saya dua piring kecil, garpu, sama pisau rotinya di dapur," perintah Ratna sambil mulai membuka pita kotak kue tersebut. Juned segera melangkah ke dapur dan kembali dengan peralatan yang diminta, lalu mel
Juned sedang fokus menggosok kap mesin mobil dengan kain, mencoba mengalihkan pikirannya dari kejadian panas di dalam rumah tadi. Namun, suara langkah kaki yang ringan dan riang dari arah pintu samping membuat gerakan tangannya seketika melambat. "Aduh, firasat ku kok nggak enak begini ya," gumam batin Juned sambil melirik dari sudut matanya ke arah Maudy yang berjalan mendekat. Maudy menghampiri dengan senyum lebar, ia berdiri sangat dekat dengan Juned yang sedang sedikit membungkuk mengelap bagian pintu. "Mas Juned kok kelihatannya tegang banget sih? Santai aja kali," ucap Maudy sambil tertawa kecil melihat bahu Juned yang kaku. Tanpa permisi, Maudy merunduk dan mendaratkan telapak tangannya di paha Juned, lalu jemarinya mulai merangkak naik perlahan mendekati area kejantanan pria itu. Juned tersentak hingga hampir menjatuhkan kain lapnya, ia menoleh ke kanan-kiri memastikan tidak ada Ratna di sekitar situ. "E-eh, Non... jangan begini, nanti kalau kelihatan Nyonya bisa
"E-eh, itu Nyonya... begini ceritanya," ucap Juned terbata-bata sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ratna melipat tangan di dada. "Jangan coba-coba bohong ya, Ned. Kamu tau kan saya paling nggak suka dibohongi?" ancam Ratna pelan. Juned menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri agar suaranya terdengar meyakinkan. "Semalam itu Non Maudy mabuk parah Nyonya, pas di jalan pulang dia tiba-tiba lepas itunya sendiri," jelas Juned dengan wajah memelas. Ratna mengernyitkan dahi, tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Mau ngapain dia begitu di dalam mobil?" tanya Ratna lagi dengan nada meninggi. "Katanya mau pipis, dia maksa minta berhenti di pinggir jalan, tapi saya nggak berani, karena bahaya," sahut Juned sambil menundukkan kepala. Ia melanjutkan penjelasannya dengan cepat sebelum Ratna sempat menyela lagi. "Saya tetap jalan terus sampai rumah, eh pas sampai ternyata Non Maudy sudah tidur pulas, jadi saya langsung angkat dia ke kamar." Ratna te
Maudy melepaskan tautan bibir mereka secara paksa, lalu mendorong dada Juned dengan sisa tenaga yang ia miliki. Juned yang tidak siap terhuyung keluar dari pintu mobil yang masih terbuka hingga punggungnya membentur tembok garasi.“Non jangan non!”"Minggir!" bentak Maudy sambil berusaha bangkit. "Non, astaga... Non Maudy sadar!" seru Juned sambil berusaha berdiri tegak. Alih-alih menjawab, Maudy justru duduk di tepi jok belakang dan mulai melepas celana dalamnya dengan gerakan yang sangat berani. "Kamu penasaran kan, Mas? Iya kan? Aku tau kamu pengen banget, kan?" racau Maudy sambil bangkit dan menghampiri Juned. Tangan Maudy bergerak secepat kilat meraih ikat pinggang Juned dan melucuti celana pria itu hingga merosot ke lantai garasi. "Duduk! ku bilang duduk!" perintah Maudy sambil mendorong tubuh kekar Juned hingga duduk dan hampir terbaring di jok belakang yang sempit. Juned terduduk kaku di kursi belakang mobil dengan pintu yang masih terbuka. Ia hanya bisa menatap Maudy
Juned merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk sambil menatap langit-langit kamar. Bayangan jemarinya yang menyentuh kulit lembut Ratna di bawah kain jarit tadi terus berputar di kepalanya seperti film pendek yang tak mau berhenti. Belum lagi saat anak majikannya jatuh di dekapannya. Belum lagi bekerja di tempat ini kerjaannya lebih ekstra dari sekadar mengantar.Belum lagi ia menghampiri istrinya sesampai di Jakarta. Semua bercampur jadi satu. "Sial, kalau begini terus mana bisa tidur," umpat Juned dengan suara parau yang tertahan. Juned mendesah kasar, tangannya perlahan merogoh ke dalam celana saat bayangan paha mulus Ratna dan dekapan hangat Maudy mulai menyiksa pikirannya. Miliknya sudah menegang keras, menuntut pelepasan yang sedari tadi ia tahan di depan kedua wanita itu. "Sial, benar-benar bikin gila," umpat Juned dengan napas yang mulai memburu. Ia memejamkan mata erat, membayangkan jemarinya tidak lagi memijat kaki Ratna, melainkan menjelajahi area sensiti
Ratna dan Juned segera merapikan posisi masing-masing agar tidak terlihat mencurigakan di mata Maudy. Ratna merapatkan kedua kakinya dengan cepat sambil menoleh ke arah pintu dengan wajah yang berusaha dibuat sedatar mungkin. Maudy menyipitkan mata, menatap bergantian ke arah ibunya dan Juned yang masih memegang botol minyak pijat. "Kalian lagi ngapain?" tanya Maudy penuh selidik. Ratna menghela napas panjang seolah memang sedang menahan rasa sakit di persendian tubuhnya akibat berolahraga tadi sore. "Oh, ini... habis main padel badan Mama pegal semua, jadi Mama suruh Juned mijitin Mama," jawab Ratna tenang. Maudy mengangguk pelan. Ia menatap Juned sejenak. "Kenapa nggak panggil Mbok Ijah aja?" tanya Maudy lagi. Ratna sedikit memperbaiki letak kain jaritnya agar menutupi paha dengan sempurna di depan anak gadisnya itu. "Tadi Mama sudah telepon Bu Lastri katanya Mbok Ijah lagi ada panggilan pijit juga, jadi nggak bisa datang," jawab Ratna meyakinkan. Setelah memberika







