Share

Quality Time!

Author: NomNom69
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-08 16:40:23

Juned mengembuskan napas lega setelah berhasil melewati ketegangan di lobi. Ia bergegas menuju minimarket terdekat untuk membeli rokok dan beberapa kaleng kopi, lalu segera melangkah kembali menuju kamar resort dengan langkah yang sengaja dicepatkan.

Cklek.

Pintu kamar terbuka. Sinta yang sedang bersandar di kepala ranjang langsung menoleh ke arah pintu, lalu melirik jam dinding kamarnya dengan dahi sedikit berkerut.

"Kok lama banget sih, Ned? Beli rokok doang sampai hampir setengah jam send
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Pangkuan Menjelang Tidur

    "Kamu belum mengabari Desi kalau sudah sampai di sini?" tanya Juned.Nayla menggelengkan kepalanya pelan sambil berusaha bangkit menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.Juned lalu menyerahkan ponsel yang terus berdering itu ke jemari Nayla.Nayla menggeser layar untuk menerima panggilan tersebut, lalu menempelkannya ke telinga. "Halo, Mbak Desi?""Iya, Mbak. Aku udah sampai dari tadi kok di rumah tempat Mas Juned kerja," ucap Nayla santai seraya merapikan rambutnya yang berantakan. "Ini aku baru banget selesai ganti baju.""Oh, syukur deh kalau udah sampai," sahut suara Desi samar dari balik telepon. "Gimana di sana? Mas Juned kelihatan capek enggak?"Nayla melirik ke arah Juned yang sedang duduk di tepi kasur sambil mengusap dadanya yang masih naik turun. Senyum tipis mengembang di bibirnya. "Enggak kok, Mbak. Mas Juned segar-segar aja. Ini orangnya lagi duduk di samping aku."Nayla memiringkan ponselnya sedikit ke arah Juned. "Mbak Desi mau ngomong sama Mas Juned enggak? Nih tak ka

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Keringat Tubuh Mungil

    Nayla bergeser semakin mendekat hingga tak ada jarak tersisa di antara mereka, membuat hembusan napas hangatnya menyapu leher Juned. Ia meraup cangkir teh hangat di meja, menyesapnya perlahan satu tegukan, lalu meletakkannya kembali dengan denting halus. Jemari lentiknya bergerak lembut mengusap dada bidang Juned, melingkari leher pria itu sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya dengan manja. "Sebenarnya kamu jauh-jauh datang ke sini cuma mau cerita soal Desi di rumah, atau gimana?" tanya Juned seraya membelai helai rambut langsing istrinya. Nayla seketika mendongak, menunjukkan bibirnya yang mengerucut cemberut dengan tatapan mata yang berpendar menggoda. "Mbak Desi nanti-nanti aja dulu sih, Mas! Aku kan baru aja sampai, masih kangen," bisik Nayla manja, jemarinya kini memainkan kerah kaus yang dikenakan Juned. "Masa baru ketemu, yang ditanyain malah Mbak Desi mulu... Emangnya Mas enggak kangen sama aku?" Juned terkekeh pelan, mengikis ketegangan di dadanya seraya mengusap pingg

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Pesona Manja

    Jempol Juned bergerak cepat mengetik balasan di layar ponselnya, memberi tahu kalau ia sedang dalam perjalanan. "Iya, Nay. Tunggu ya, aku otw sekarang," balas Juned lewat pesan singkat. Tanpa membuang waktu lagi, Juned buru-buru masuk ke dalam rumah. Ia menyambar kunci mobil milik Bu Ratna yang tergantung di dekat pintu, lalu bergegas memacu kendaraannya membelah jalanan malam menuju stasiun kota. Tidak butuh waktu lama bagi Juned untuk tiba di area parkir stasiun. Begitu mobilnya berhenti di pelataran, ia melihat sosok Nayla berdiri di dekat lobi dengan membawa sebuah koper sedang. Juned segera keluar, menghampiri, lalu membantu mengangkat koper itu ke bagasi mobil. "Kok berangkatnya sorean gini, Nay? Kenapa enggak pagi tadi biar sampai siang?" tanya Juned sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya. Nayla tersenyum kecil sambil masuk ke dalam kabin. "Takutnya kalau aku sampai siang, Mas Juned masih sibuk kerja." Juned mengangguk paham, lalu ikut masuk dan duduk di kursi

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Usai Makan Malam

    Pelayan menyajikan berbagai hidangan lezat di atas meja, lalu membungkuk sopan sebelum berlalu pergi."Silakan, Jun, diminum dulu airnya," ucap Om Robby ramah seraya meraih garpu dan pisau.Juned mengangguk sopan. "Terima kasih, Om."Mereka mulai menyantap hidangan dengan tenang. Suara dentingan alat makan beradu tipis dengan alunan musik latar restoran yang lembut."Gimana steak-nya, Ned? Pas enggak bumbunya?" tanya Pak Danu di sela suapannya."Enak banget, Pak. Dagingnya juga empuk," jawab Juned santai usai mengunyah.Fitri menyunggingkan senyum manis, menyikut pelan lengan Juned di sebelahnya. "Kalo Juned mah apa aja dimakan, Pa. Tapi tadi katanya dia suka banget sama dagingnya."Om Robby terkekeh mendengar celotehan keponakannya itu. "Haha, cowok emang kudu makan banyak, Fit, biar kuat mendampingi kamu yang cerewet gini.""Ih, Om Robby kok malah belain Juned terus sih!" protes Fitri sambil menatap omnya bermaksud merajuk.Pak Danu ikut tertawa pelan, memotong steak-nya dengan tena

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Latar Belakang?

    Juned memarkirkan mobilnya dengan rapi di halaman restoran bernuansa mewah itu. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan rasa gugup yang mendadak menjejali dadanya.Fitri menoleh, mengulas senyum menenangkan sambil menggenggam jemari Juned. "Yuk, masuk! Mejanya udah direservasi atas nama Papa kok."Juned mengangguk pelan, menyapu kemeja gelapnya sebentar agar tetap rapi. "Yaudah, ayo."Mereka berdua berjalan bersisian melangkah menembus pintu kaca utama. Seorang pelayan berseragam rapi menyambut mereka ramah, lalu memandu langkah menuju meja khusus di sudut ruangan yang terasa lebih privat.Dari kejauhan, Juned sudah bisa melihat sosok Pak Danu sedang duduk santai, mengobrol akrab bersama seorang pria paruh baya bertubuh tegap di sebelahnya.Fitri melangkah lebih dulu mendekati meja reservasi yang berada di sudut ruangan bernuansa elegan itu, sementara Juned mengekor di belakangnya dengan langkah mantap.Pak Danu yang menyadari kedatangan mereka langsung menghentikan obrolannya d

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Persiapan Makan Malam

    Juned melepas kemeja pertamanya lalu ganti mengenakan kemeja kedua di depan cermin. Ia memutar badannya ke kiri dan ke kanan, mematut diri sambil merapikan bagian bahu. Keduanya melekat sangat pas di tubuhnya, tidak kekecilan dan sama sekali tidak kedodoran."Gimana? Pas banget, kan?" Fitri melangkah mendekat, jemari lenturnya bergerak cekatan merapikan lipatan kerah kemeja yang sedang dipakai Juned. "Nanti buat makan malam mau pakai yang mana?"Juned menunduk menatap kemeja baru yang masih menempel di badannya, lalu menatap Fitri dengan dahi berkerut heran. "Emang enggak dicuci dulu? Ini kan kemeja baru dari paket, Fit."Fitri terkekeh pelan melihat ekspresi polos pria di hadapannya itu. "Iya, nanti dicuci dulu kok, Sayang..."Ia menepuk pelan dada Juned, lalu mengambil alih kemeja yang satu lagi dari atas kasur. "Kan di rumah ada mesin cuci sama mesin pengering yang bagus. Paling sejam juga udah kering dan siap disetrika kemejanya."Juned mengangguk-angguk paham mendengar penjelasan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status