로그인Juned mengarahkan kamera ponselnya ke lembar kertas tersebut, lalu mengirimkan hasilnya ke obrolan WhatsApp Ratna."Paling surat harta gono-gini atau apalah," gumam Juned pelan seraya mengedikkan bahu. "Biasa, urusan orang kaya."Ia memasukannya kembali ke dalam map biru dan merapikan posisinya ke tempat semula di dalam lemari. Setelah memastikan pintu lemari tertutup rapat, Juned melangkah keluar kamar dan mematikan lampu.Anak tangga dinaikinya dengan santai saat ia berjalan turun menuju lantai bawah, menghampiri Nayla yang berada di kamar depan.Juned melangkah masuk ke kamar bawah, lalu mendadak menghentikan langkahnya di depan pintu.Nayla berdiri di dekat ranjang hanya berbalut handuk putih sebatas dada, memperlihatkan bahu serta lengannya yang mulus basah."Mau ngapain kamu?" tanya Juned seraya menahan napasnya.Nayla menoleh, mengukir senyum tipis seraya mengerjapkan matanya. "Mau mandi, Mas."Gadis itu mendekat perlahan, lalu meraih pergelangan tangan Juned dan menariknya lem
Juned mengambil alih ponsel yang disodorkan Nayla, lalu menempelkannya ke telinga seraya tetap fokus menatap jalanan di hadapannya."Halo, Des?" sapa Juned pelan."Mas! Kenapa sih WhatsApp dari kemarin gak dibalas-balas?" suara Desi melengking memecah keheningan mobil, terdengar menuntut.Juned menghela napas pendek, mengusap tengkuknya dengan sebelah tangan. "Kemarin Mas sibuk banget, Des. Proyekan lagi numpuk.""Terus ini lagi di mana? Tadi kata Nayla kamu lagi nyetir?" cecar Desi dari seberang telepon."Ini habis dari kampus sama Nayla," sahut Juned tenang. "Nganterin dia liat-liat area kampus sama nanya info pendaftaran."Suara di seberang sana tertahan sejenak sebelum Desi kembali bersuara, kali ini dengan nada agak ragu. "Emang beneran jadi Nayla mau kuliah di sana?""Iya, jadi. Kan kasihan kalau dia di rumah terus gak ada kegiatan," potong Juned cepat. "Nanti deh pas sampai rumah Mas telepon balik ya. Ini lagi bawa mobil, bahaya kalau sambil teleponan gini."Tanpa menjawab ucap
Niken mengibaskan jemarinya di udara, wajahnya kian memerah merona hingga ke ujung telinga."Eh... enggak gitu maksudku, Nay! Kamu juga boleh save nomor Kakak kok!" ujar Niken terbata-bata dengan tawa canggung.Nayla menyandarkan punggungnya ke kursi, memandangi raut panik di wajah mahasiswi itu dengan sudut bibir terangkat nakal."Santai aja kali, Kak..." celetuk Nayla santai, melirik Juned di sampingnya. "Mas-ku ini jomblo kok, aman."Mata Juned melebar seketika. Pria itu menoleh tajam ke arah Nayla dengan dahi berkerut dalam, terperanjat mendengar celetukan lepas dari mulut adik iparnya."Nay, kamu apa-apaan sih..." gumam Juned heran, menatap Nayla tak habis pikir.Niken yang duduk di seberang mereka makin salah tingkah. Jemarinya sibuk merapikan helai rambut di belakang telinga, menunduk dalam sembari mengaduk-aduk sedotan es teh manisnya yang mulai mencair.Keheningan canggung itu syukurnya terpecah ketika seorang pelayan datang membawa nampan berisi tiga porsi nasi timbel yang m
Matahari pagi menyiram pelataran rumah dengan sinar hangatnya saat Juned dan Nayla selesai merapikan piring bekas sarapan di meja makan.Nayla tampil manis menggunakan kaus polos dipadu celana jins santai, merapikan rambutnya yang masih agak basah di depan cermin. "Mas, aku udah siap nih!" serunya gembira seraya memutar tubuhnya perlahan.Juned yang sedang mengancingkan kemeja santainya hanya tersenyum tipis melihat tingkah polos gadis itu. "Yaudah, yuk berangkat sekarang biar gak keburu siang."Perjalanan menuju area kampus ternama di kota itu ditempuh dalam waktu dua puluh menit. Begitu mobil terparkir rapi di bawah rindangnya pohon angsana, Nayla langsung turun dengan mata berbinar, memandangi megahnya deretan gedung fakultas di hadapannya."Wah, luas banget ya, Mas..." gumam Nayla seraya merapatkan jarak dan menggamit lengan Juned dengan erat.Mereka mulai melangkah santai menyusuri jalan setapak yang rindang di sekitar taman tengah kampus. Beberapa mahasiswa terlihat duduk berger
Setelah kepuasan itu mereda, kucuran air shower akhirnya dimatikan. Mereka membasuh diri, berganti pakaian santai, lalu berjalan menuju area kolam renang dengan dua cangkir kopi panas di tangan.Nayla duduk meluruskan kakinya di tepi kolam, membiarkan ujung jarinya menyentuh permukaan air yang tenang. "Seger banget ya, Mas, habis mandi," gumamnya seraya menyesap kopi perlahan.Juned mendaratkan tubuhnya di samping Nayla, meletakkan cangkirnya di lantai semen. "Iya, bikin pikiran rada adem."Nayla menyandarkan kepalanya di bahu Juned, menatap pantulan cahaya lampu di air. "Pikiran Mas Juned lagi berisik, ya?"Juned tersenyum tipis, merangkul pundak Nayla erat-erat. "Enggak juga, cuma lagi banyak yang harus dipikirin aja."Juned menyesap kopinya perlahan, membiarkan uap panasnya menguar di udara sebelum memecah keheningan di antara mereka."Nay, Mbakmu akhir-akhir ini di rumah gimana?" tanya Juned santai, namun matanya menatap lurus ke depan.Nayla menengadah dari bahu Juned, menatap wa
Juned memijat pangkal hidungnya pelan, menatap layar ponselnya tanpa berniat membalas pesan menuntut dari Desi.Ia tahu betul Desi sebenarnya sudah paham kalau adiknya, Nayla, pergi ke tempatnya untuk sekadar main sekaligus melihat-lihat kampus di kota. Hanya saja, lantaran hubungan mereka sedang panas dan perang dingin sejak kemarin, Desi sengaja mencari alasan untuk meluapkan kekesalannya."Mulai lagi drama nyari gara-garanya," gumam Juned malas, mematikan layar ponselnya tanpa membalas sepatah kata pun.Ia memasukkan kembali ponsel itu ke saku celana, membuka pintu mobil, dan memutar kunci kontak. Tanpa membuang waktu, Juned menancap gas membelah jalanan sore menuju rumah Bu Ratna, siap menghadapi obrolan seru—sekaligus adu argumen—yang sudah menunggunya di sana.Mobil Juned berhenti tepat di belakang barisan kendaraan yang mengular di persimpangan lampu merah. Ia bersandar santai pada jok pengemudi, saat getaran ponsel di dasbor kembali mengalihkan perhatiannya.Satu pesan dari De







