Share

Sebuah Tuntutan

Author: NomNom69
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-20 12:45:25

Juned menatap layar ponselnya sejenak, lalu menoleh ke arah Fitri yang jemarinya masih lincah menari di atas papan ketik. "Fit, bentar ya, aku ke balkon dulu mau telepon istriku, dari tadi ternyata dia nelpon berkali-kali tapi gak ngeh karena hp di-silent di kantong," pamit Juned sembari beranjak berdiri.

Fitri hanya mengangguk santai tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari layar komputer. "Oh iya, Jun, silakan aja, sekalian aku mau fokus rapiin data pengeluaran lapangan ini."

Juned seg
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Malam Yang Dinanti

    Juned menatap Nayla sebentar, lalu menghela napas panjang sembari menepuk pelan paha luarnya."Yaudah, tapi Mas mau mandi dulu bentar," kata Juned sambil beranjak dari kursinya, merenggangkan otot leher yang kaku.Nayla langsung mendongak cepat, matanya berbinar lega mendengar jawaban itu."Nanti tolong buatin Mas kopi ya, taruh di halaman belakang," lanjut Juned seraya mengusap rambut Nayla gemas.Nayla mengangguk cepat, jemarinya yang tadinya meremas baju kini melepaskan cengkeramannya."Siap, Mas, nanti Nayla antar kopinya ke belakang," sahut Nayla manis, menyunggingkan senyum tipis dengan pipi yang makin merona.Juned melangkah menuju kamar mandi sembari menyelempangkan handuk hitam di bahunya.Sementara itu, Nayla bergerak cepat ke area kompor dan menyalakan api untuk memanaskan air."Takaran gulanya sedang aja kan, Mas?" teriak Nayla setengah keras agar terdengar dari dapur."Iya, jangan kemanisan!" sahut Juned dari balik pintu kamar mandi yang mulai tertutup.Nayla menuangkan s

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Di Nanti.. Makan Malam

    Juned menarik diri secara paksa, napasnya memburu tak beraturan di tengah kamar yang terasa panas. Sinta terkesiap, tubuhnya yang telanjang masih gemetar menahan sisa gairah yang menggantung hebat.Juned menyambar ponselnya, jemarinya yang masih basah oleh keringat segera menggeser ikon hijau. Ia melirik Sinta yang kini menatapnya dengan tatapan campur aduk antara kesal dan penasaran."Halo, Des? Kenapa?" suara Juned berusaha terdengar stabil meski napasnya masih tersengal."Mas, transferin uang dong. Skincare aku habis, terus besok harus kondangan bareng Ibu ke desa," suara Desi terdengar lugas dari seberang telepon.Juned menghela napas panjang, memejamkan mata sesaat untuk meredam kekesalan yang tiba-tiba membuncah. Ia melirik Sinta yang kini menutup mulutnya dengan tangan, berusaha meredam desahannya sendiri."Ya sudah, nanti aku transfer," jawab Juned singkat, lantas memutuskan panggilan sepihak.Ia melempar ponselnya ke kasur dengan kasar, lalu menatap Sinta yang kini kembali me

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Puncak Kenikmatan Dua

    Juned mendesis pelan, menghentikan usapan jemarinya di kancing kemeja Sinta.Sinta memiringkan kepala, menatap layar ponsel Juned yang terus bergetar menyala di kegelapan kamar."Siapa, Ned? Kenapa enggak diangkat?" bisik Sinta lirih, tangannya masih melingkar manis di leher Juned.Juned menggeser tombol hijau di layar, lalu menempelkan ponselnya ke telinga seraya mengontrol deru napasnya. "Ya, Nay? Ada apa?""Mas Juned belum pulang ya?" suara Nayla terdengar lembut dan sedikit polos dari seberang telepon. "Ini Nayla udah selesai masak buat makan malam, Bu Ratna juga udah pulang nih mau makan malam."Juned menarik napas panjang, mencoba menetralkan nada suaranya agar tetap tenang. "Iya, Nay, ini Mas masih ada urusan bentar sama klien. Kalian makan duluan aja ya, jangan nungguin Mas.""Oh gitu... ya udah deh, Mas Juned jangan lupa makan ya," sahut Nayla mengakhiri panggilan.Juned menurunkan ponselnya setelah sambungan terputus, lalu meletakkan benda pipih itu ke atas meja rias Sinta.

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Candaan dan Sebuah Janji

    Ratna mendadak terkekeh pelan, mencairkan ketegangan yang sempat menggantung di udara."Bercanda kali, serius banget mukanya," ujar Ratna santai seraya menepuk bahu Juned pelan.Sinta buru-buru menarik kembali tangannya dari paha Juned, menyunggingkan senyum kaku ke arah Ratna. "Kaget saya, Bu...""Ya udah, lanjutin makan kalian," kata Ratna mengedipkan sebelah matanya ke arah Juned sebelum berlalu pergi menuju mejanya.Juned menghembuskan napas lega, lalu kembali menatap Sinta yang kini salah tingkah."Jadi... gimana kelanjutan omongan kamu tadi, Sin?" goda Juned seraya memajukan tubuhnya.Sinta meremas sendoknya, wajahnya memerah menahan malu sekaligus canggung."A-apaan sih, enggak ada," elak Sinta cepat, menyendok nasinya asal untuk mengalihkan pandangan.Juned terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya seraya menikmati raut wajah Sinta yang mendadak salah tingkah."Masa panggil nama doang bikin kamu segagap ini, Sin?" goda Juned lagi, melirik jemari Sinta yang masih gemetar kecil d

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Dua Wanita..

    Juned berjalan santai menuju kursi kerjanya, lalu mendudukkan diri dengan tenang."Itu mah tergantung Bu Ratna, Ca," ucap Juned seraya menyandarkan punggungnya di kursi. "Coba kamu tanyain lagi gih ke dia."Caca mendengus kesal, menghentakkan kakinya pelan di atas karpet ruangan. "Masa aku yang nanya duluan, Pak? Kan Bapak yang waktu itu nawarin!"Juned terkekeh pelan melihat wajah cemberut asistennya itu, lalu memajukan tubuhnya menopang dagu di atas meja."Ya udah, atau enggak nanti saya cariin rumah yang deketan sama rumah saya," potong Juned memberi solusi. "Biar gampang kalau mau bolak-balik."Mendengar tawaran itu, raut wajah Caca seketika melunak, digantikan binar penasaran."Beneran ya, Pak?" bisik Caca pelan seraya melangkah mendekati meja kerja Juned. "Awas kalau cuma janji manis doang."Juned mengangguk yakin seraya menyunggingkan senyum tipis. "Iya, beneran. Nanti saya yang urus."Caca tersenyum puas, membetulkan posisi rok kerjanya sebelum merapikan berkas di atas meja."

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Menagih Janji

    Juned menyandarkan tubuhnya di daun pintu, menyeringai tipis menatap Nayla yang gelagapan di balik selimut. "Lagi ngapain kamu, Nay?" tanya Juned santai, melangkah mendekat ke pinggir kasur. Nayla makin merapatkan selimut ke dadanya, menunduk malu dengan napas yang masih tersengal. "Gara-gara liat Mas Juned begituan sama Bu Ratna tadi..." bisik Nayla malu-malu, matanya melirik Juned sekilas. "Nayla jadi kepengen..." Juned terkekeh pelan, lalu menarik perlahan selimut yang menutupi tubuh gadis itu. "Ngapain main sendiri kalau ada Mas di sini?" goda Juned seraya mengusap lembut pipi Nayla yang terasa panas. Juned merayap naik ke atas kasur, menarik selimut yang menghalangi pandangannya hingga melemparnya ke ujung tempat tidur. Nayla langsung melebarkan kedua pahanya tanpa ragu, menatap Juned dengan pandangan menuntut dan napas yang memburu. "Gara-gara, mas... makin basah nih gara-gara nungguin kamu," keluh Nayla seraya menarik tengkuk Juned mendekat. Juned menyeringai, menunduk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status