Share

Setelan Yang Gagah

Penulis: NomNom69
last update Tanggal publikasi: 2026-05-17 13:20:21

"Sini handphone-nya, Ned," ucap Ratna sembari mengulurkan tangan kanannya ke arah dasbor, matanya melirik sekilas ke arah layar ponsel Juned yang masih menyala.

​Juned yang sedang fokus menyetir membelah kemacetan jalanan sore itu segera mengambil ponselnya dengan tangan kiri, lalu menyerahkannya ke tangan Ratna tanpa banyak tanya.

​"Agak ribet kalau harus pulang dulu, nanti macet. Makan waktu di jalan," ucap Ratna dengan nada suara yang terdengar sangat tegas na
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Godaan, Sebuah Paket

    Wkwk sorry bro, gue kebablasan halu! Wkwk oke oke, kita reset balik ke rel cerita utama!Pelayan membuka pintu kayu berukir itu, memperlihatkan ruangan private yang tenang dan elegan.Di dalam ruangan, dua orang perwakilan klien bisnis sudah duduk menunggu di dekat jendela besar."Selamat siang, Bu Ratna, Pak Juned," sapa salah satu klien berdiri ramah menyambut kedatangan mereka.Ratna tersenyum profesional, mengulurkan tangan menjabat salam mereka. "Selamat siang, maaf ya kalau agak menunggu."Juned menarik napas lega, ikut menjabat tangan kedua klien itu lalu duduk berdampingan di sebelah Ratna.Mereka pun mulai membicarakan poin-poin penting kerja sama proyek dengan suasana yang serius namun santai.Di tengah-tengah penjelasan materi, jemari kaki Ratna di bawah meja perlahan bergerak nakal.Ujung sepatu tumit tinggi milik Ratna mendadak mengelus lembut betis kaki Juned dari balik celana kainnya.Juned langsung tersentak kaku, berusaha keras menahan ekspresi kagetnya di depan para

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Permainan Kolong Meja

    Juned tersentak kaget, refleks menahan napas saat jemari Caca makin berani merayap naik."Caca, kamu ngapain? Ini masih pagi di kantor," bisik Juned tegang, matanya melirik cemas ke arah pintu ruangan yang transparan.Caca hanya terkekeh manja, menatap Juned dengan pandangan berani yang membakar gairah."Pintu udah aku kunci kok dari dalam, Pak..." bisik Caca halus tepat di depan telinga Juned.Tanpa menunggu balasan, Caca perlahan meluncur turun dan berlutut tepat di kolong meja kayu yang luas itu.Jemari lentik Caca bergerak lincah dan cepat membebaskan kejantanan Juned dari balik celananya."Ca... ssshh... pelan-pelan," desah Juned tertahan, kepalanya mendongak pasrah saat udara dingin menyapa kulitnya.Caca mendekatkan wajahnya, memberikan hembusan napas hangat sebelum akhirnya menyapu lembut area sensitif itu dengan sentuhan bibirnya."Mnnngghh..." Juned merintih halus, matanya terpejam erat seraya jemarinya mencengkeram kuat pinggiran meja kayu.Caca makin gencar memanjakan June

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Godaan dan Sindiran Manja

    Ratna menderai tawa kecil, menggelengkan kepalanya melihat wajah Juned yang memerah panik."Yaudah, Aku naik duluan ya," ujar Ratna santai sambil berbalik menuju lorong."Iya, Na... bentar lagi Aku naik ke atas," sahut Juned cepat, suaranya masih terdengar agak gugup.Ratna hanya melambaikan tangan tanpa menoleh, lalu melangkah santai menaiki tangga menuju kamarnya.Pintu kamar kembali tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mendadak terasa begitu canggung.Nayla perlahan memunculkan kepalanya dari balik selimut, menatap Juned dengan pipi yang masih merona hebat."Bu Ratna... beneran denger semuanya ya, Mas?" bisik Nayla sangat pelan, jemarinya meremas selimut erat-erat.Juned menghembuskan napas panjang, mengusap wajahnya kasar sembari menatap ke arah pintu."Iya kayaknya, Nay..." jawab Juned canggung, menepuk pelan bahu Nayla yang terbuka.Nayla makin menunduk malu, menenggelamkan separuh wajahnya di atas bantal.Juned merapikan selimut yang menutupi tubuh Nayla, lalu bergerak pe

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Terciduk Polos

    Suara dering nyaring dari saku celana Juned mendadak buyar fokus mereka berdua.Juned merogoh kantongnya dengan cepat, lalu melihat nama Ratna tertera di layar ponselnya."Halo, Na?" sapa Juned seraya menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya."Mas udah pulang belum?" tanya Ratna langsung dari seberang telepon, suaranya terdengar agak mengantuk."Udah nih, lagi sama Nayla dulu bentar di bawah," sahut Juned pelan sambil melirik ke arah Nayla."Yaudah, nanti kalau udah selesai langsung naik ke atas ya, tidur di kamar," ujar Ratna tegas."Iya, Na, sebentar lagi Mas naik," jawab Juned singkat sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon.Juned mengantongi kembali ponselnya, lalu menghembuskan napas berat.Nayla menatap Juned dengan mata membulat polos, jemarinya perlahan mengendur dari kaus pria itu."Mbak Ratna ya, Mas?" tanya Nayla pelan dengan nada kecewa yang tak bisa disembunyikan.Juned tidak menjawab, melainkan langsung meraih kedua bahu Nayla dan mendorongnya lem

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Malam Yang Dinanti

    Juned menatap Nayla sebentar, lalu menghela napas panjang sembari menepuk pelan paha luarnya."Yaudah, tapi Mas mau mandi dulu bentar," kata Juned sambil beranjak dari kursinya, merenggangkan otot leher yang kaku.Nayla langsung mendongak cepat, matanya berbinar lega mendengar jawaban itu."Nanti tolong buatin Mas kopi ya, taruh di halaman belakang," lanjut Juned seraya mengusap rambut Nayla gemas.Nayla mengangguk cepat, jemarinya yang tadinya meremas baju kini melepaskan cengkeramannya."Siap, Mas, nanti Nayla antar kopinya ke belakang," sahut Nayla manis, menyunggingkan senyum tipis dengan pipi yang makin merona.Juned melangkah menuju kamar mandi sembari menyelempangkan handuk hitam di bahunya.Sementara itu, Nayla bergerak cepat ke area kompor dan menyalakan api untuk memanaskan air."Takaran gulanya sedang aja kan, Mas?" teriak Nayla setengah keras agar terdengar dari dapur."Iya, jangan kemanisan!" sahut Juned dari balik pintu kamar mandi yang mulai tertutup.Nayla menuangkan s

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Di Nanti.. Makan Malam

    Juned menarik diri secara paksa, napasnya memburu tak beraturan di tengah kamar yang terasa panas. Sinta terkesiap, tubuhnya yang telanjang masih gemetar menahan sisa gairah yang menggantung hebat.Juned menyambar ponselnya, jemarinya yang masih basah oleh keringat segera menggeser ikon hijau. Ia melirik Sinta yang kini menatapnya dengan tatapan campur aduk antara kesal dan penasaran."Halo, Des? Kenapa?" suara Juned berusaha terdengar stabil meski napasnya masih tersengal."Mas, transferin uang dong. Skincare aku habis, terus besok harus kondangan bareng Ibu ke desa," suara Desi terdengar lugas dari seberang telepon.Juned menghela napas panjang, memejamkan mata sesaat untuk meredam kekesalan yang tiba-tiba membuncah. Ia melirik Sinta yang kini menutup mulutnya dengan tangan, berusaha meredam desahannya sendiri."Ya sudah, nanti aku transfer," jawab Juned singkat, lantas memutuskan panggilan sepihak.Ia melempar ponselnya ke kasur dengan kasar, lalu menatap Sinta yang kini kembali me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status