Se connecterPagi berikutnya, Juned menatap Ratna dengan raut wajah prihatin yang dibuat begitu sempurna di meja makan. "Ra, Mas harus pulang kampung hari ini buat besuk Desi," ujar Juned dengan nada suara rendah nan berat. "Kondisinya belum stabil pasca pendarahan kemarin. Mas mau ajak Nayla sekalian biar ada yang temenin Mas di jalan." Ratna mengangguk paham tanpa keraguan sedikit pun. "Iya, Ned, mending kamu besuk langsung. Bawa Nayla aja biar kamu gak capek nyetir sendirian," balas Ratna tulus, mengusap pelan lengan pria itu. Beberapa jam kemudian, sedan hitam Juned membelah jalanan antarkota menuju kampung halaman. Nayla duduk di kursi penumpang samping, jemarinya meremas kain celananya erat-erat dengan debar dada yang tak menentu. Ia sama sekali tidak tahu bahrah besar apa yang sedang menunggunya di sana. Juned mengemudi dalam keheningan yang amat mencekam, matanya menatap lurus ke depan dengan kilat dendam yang terbungkus rapat. Begitu mobil berhenti di pekarangan rumah kampung, Ju
Sinar matahari sore makin membias jingga, menerobos masuk menembus celah gorden kamar utama di kampung halaman. Rumah besar bernuansa kayu itu lengang total sejak pukul empat sore, setelah ibu kandung Desi pamit pergi menghadiri pengajian rutin antar-desa di masjid kecamatan. Keheningan itu menjadi panggung sempurna bagi Desi dan Andre untuk menuntaskan gairah terlarang mereka tanpa kekhawatiran. Di atas peraduan yang dilapisi sprei mahal belian uang kiriman dari kota, Desi tertawa manja dalam dekapan Andre. "Ibu pulangnya pasti jam delapan malam nanti, Ndre... Masih lama banget," bisik Desi penuh godaan seraya mengusap rahang Andre. "Baguslah... Jadi kita gak perlu terburu-buru," sahut Andre dengan tawa rendah, menyibak daster tipis Desi dan melumat bibirnya tanpa ragu. Namun, di balik keheningan rumah yang dikira aman itu, sebuah ancaman nyata sedang mengintai dari arah luar. Aryo—sahabat dekat Juned sejak masa kecil di desa yang baru saja kembali dari sawah—berjalan melintas
Di sisi lain, jauh dari riuk pikuk metropolitan dan kilau pencakar langit kota, sebuah kenyataan yang tak tersentuh oleh kalkulasi dingin Juned sedang bergulir di kampung halaman. Sinar matahari sore menembus celah ventilasi kamar sebuah rumah sederhana berdinding tembok putih yang sepi. Desi terbaring di atas ranjang kayu bermotif ukir, mengenakan daster longgar berwarna pudar dengan wajah yang sengaja dipucatkan oleh sisa-sisa rasa lemas. Di atas meja rias kecil di samping tempat tidur, tergeletak beberapa strip obat antibiotik dan vitamin dari rumah sakit yang sudah kosong. Pintu kamar yang sedikit renggang terdorong pelan tanpa suara. Sesosok pria berbadan tegap dengan kemeja flanel berpetak melangkah masuk secara diam-diam, mengunci selot pintu dari dalam dengan gerakan jemari yang sangat terlatih. Pria itu adalah Andre—mantan kekasih Desi semasa sekolah yang kini kembali hadir mengisi celah-celah kekosongan di kampung. Andre melangkah mendekati ranjang, mendudukkan diri d
Beberapa hari berlalu tanpa gejolak yang berarti di permukaan. Di kantor, Juned tetap menjalankan perannya sebagai atasan yang dingin dan amat profesional di hadapan Caca, sembari sesekali memenuhi janji makan malam mewah bersama Fitri demi mengunci investasi miliaran rupiah. Sementara itu, urusan di kampung halaman telah sepenuhnya diredam oleh kucuran dana yang ia kirimkan untuk perawatan Desi, membuat wanita itu tetap terikat dalam kepasrahan di jauh sana. Di rumah kota, dinamika bertiga antara Juned, Ratna, dan Nayla berjalan begitu mulus, terbungkus rahasia panas yang justru membuat ketiganya kian intim. Namun, koordinat papan catur yang disusun Juned secara presisi mendadak bergeser pada suatu Kamis pagi. Nayla terbangun dengan wajah pucat pasi, berlari tergesa-gesa menuju kamar mandi utama seraya memegangi perutnya. Suara mual dan muntah yang hebat memecah keheningan rumah. Ratna yang baru saja selesai menyeduh kopi di dapur langsung bergegas menghampiri, menepuk-nepuk p
Hari Senin tiba dengan cuaca kota yang cerah dan dingin. Juned sudah berdiri tegap di depan cermin besar ruang kerjanya di lantai atas gedung perkantoran, merapikan simpul dasinya dengan presisi tanpa cela. Kejadian akhir pekan di rumah bersama Ratna dan Nayla tidak menyisakan sedikit pun jejak kelelahan pada raut wajahnya; perannya sebagai pemimpin yang berwibawa dan dingin kembali terpasang sempurna. Ketukan pintu yang teratur terdengar. "Masuk," ujar Juned singkat. Caca melangkah masuk membawa map tebal dokumen finalisasi proyek bersama Fitri. Pakaian kerjanya sangat rapi, dan ekspresi wajahnya sepenuhnya profesional. "Semua draf kontrak dan lampiran analisis risiko sudah siap, Pak Juned. Ibu Fitri dan tim hukumnya sudah menunggu di ruang rapat utama," laporan Caca lugas, menjaga jarak aman dua langkah dari meja kerja Juned. "Bagus. Pastikan Notaris sudah memverifikasi pasal empat dan lima," balas Juned tegas tanpa nada godaan sedikit pun. "Sudah diverifikasi, Pak. Semua b
Lampu ruang tengah menyala benderang, membedah kegelapan dapur yang semula temaram. Suara klak ponsel Ratna yang menghantam lantai kayu bergaung nyaring di tengah keheningan malam. Nayla membeku seketika, tubuhnya gemetar hebat hingga napasnya tertahan di tenggorokan saat menyadari posisi jemarinya masih melingkar di pinggang Juned. Ratna berdiri terpaku beberapa langkah di hadapan mereka, matanya melebar menatap tajam ke arah dua orang yang berada dalam posisi begitu intim. Namun, alih-alih meledak dalam amarah atau menumpahkan derai air mata histeris, raut wajah Ratna perlahan berubah. Bibir merona milik Ratna terkerek tipis, membentuk sebuah sunggingan senyum yang sukar diartikan—dingin, sarat akan rahasia, namun begitu bergairah. "Rupanya..." suara Ratna mengalun rendah, teratur tanpa ada getaran emosi yang goyah. "Permainan rahasia kalian di belakangku udah berjalan sejauh ini?" Nayla makin panik, menyembunyikan wajahnya di balik punggung Juned seraya meremas kain kemeja







