Home / Male Adult / Dimanja Nyonya Dan Nona Muda / Sentuhan Yang Menunda Menu Utama

Share

Sentuhan Yang Menunda Menu Utama

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-05-17 13:40:32

​"Sepi ya... Apa Maudy udah tidur?" tanya Juned dengan nada suara rendah sembari melirik ke sekitar ruang tamu, lorong tengah, hingga ke arah dapur bersih.

​Ratna meletakkan tas jinjing mahalnya di atas meja konsol, ia mengibaskan rambutnya pelan lalu menoleh ke arah Juned dengan senyum yang tampak sangat santai.

​"Iya kayaknya, Ned. Udah biarin aja... Gak usah dipikirin, besok juga udah gak manyun lagi dia," ucap Ratna sembari melangkah perlahan menuj
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Rencana Yang Di Dukung

    ​"Halo, Des..." ucap Juned sembari melirik ke arah Nayla yang juga menatap ke arah Juned dengan sepasang mata bulatnya yang memancarkan rasa tidak suka karena momennya terganggu. ​"Mas udah sampe di rumah Ibu?" tanya Desi di seberang telepon, suara bising arus lalu lintas jalanan Jakarta masih terdengar samar-samar melatarbelakangi nada suaranya. ​"Udah kok, nih baru aja sampe beberapa menit yang lalu... Mas lagi di kamar ini sekarang," ucap Juned dengan nada suara yang sangat tenang dan teratur. ​"Oh gitu, syukur dehh kalau sudah sampai dengan selamat... Oh iya Mas, bilangin ke Nayla ya suruh telepon aku abis ini, aku mau ngomong sama Ibuk juga," ucap Desi. ​Juned mengangguk pelan meskipun istrinya tidak bisa melihat gerakan tersebut, ia melirik kembali ke arah Nayla yang langsung melipat kedua tangannya di depan dada sambil cemberut. ​"Iya, nanti Mas bilangin ke anaknya," ucap Juned memberik

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Godaan dan Kekhawatiran

    "Mas... Mas gak cemburu apa denger Mbak Desi mau pergi ama Andre... Andre kan mantan pacarnya Mbak Desi," ucap Nayla dengan santai sembari menyandarkan punggungnya ke jok mobil. ​Juned menoleh sebentar dan kembali fokus ke jalan raya di hadapannya, ia mengulas senyum tipis seolah pertanyaan sang adik ipar tidak memengaruhi ketenangannya sama sekali. ​"Enggak lah, Mas percaya sama Mbakmu," ucap Juned singkat dengan nada suara yang sengaja dibuat seringan mungkin agar tidak memancing obrolan yang lebih sensitif lagi. ​Meski dalam hati Juned ada perasaan khawatir yang mulai mengganjal sejak tadi, apalagi saat mengingat momen di mana mobilnya sempat berpapasan dengan Andre di gerbang. ​"Hmmm... Gpp Mas... Kan ada akuu... Ya kan..." ucap Nayla yang tiba-tiba merangkul lengan kiri Juned dengan sangat erat, menumpukan dagunya di atas pundak pria itu. ​Juned hanya bisa tersenyum canggung

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Perjalanan Jauh

    "Apa ini adiknya Lusiana ya?" gumam batin Juned. ​Juned pun membalas, "Iya... Ini siapa?" dengan ketikan yang sangat ringkas namun tetap menjaga kesopanan. ​Lalu ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja kayu kecil, tepat di sebelah cangkir kopi hitam buatan Maudy yang kini kepulan uap panasnya sudah mulai menipis. ​Lalu beberapa menit kemudian, layar ponsel pintarnya kembali menyala terang memunculkan sebuah pesan balasan yang baru. ​"Pagi Mas Juned... Ini aku Lauren," balas Lauren dari seberang sana. ​"Oke, aku save ya..." balas Juned singkat, kemudian langsung mengunci layar ponselnya untuk memutus interaksi digital yang mulai terasa agak mengganggu fokus paginya. ​Tak lama setelah ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana pendek, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat dari arah pintu kaca pembatas taman. ​"Mas! Ayo masuk, sarapannya udah siap semua di m

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Sebuah Pesan Asing

    ​"Lho, Ned! Kok belum rapi? Katanya hari ini kamu mau antar adik iparmu pulang ke desa?" tanya Ratna dari arah dapur saat melihat Juned berjalan mendekat dengan santainya.​"Nanti aja siangan aku berangkatnya, Na. Toh di sana juga enggak buru-buru banget, yang penting sampai sebelum malam," ucap Juned santai sambil membolak-balikkan cangkir kosong di genggamannya untuk memeriksa kebersihannya.​Maudy yang sejak tadi berdiri di sisi lain meja dapur sambil memotong beberapa helai sayuran hijau, langsung meletakkan pisaunya. ​"Mas mau ngapain?" tanya Maudy yang sengaja mengambil langkah mendekat ke posisi berdiri Juned.​Juned menunjuk ke arah stoples kaca berisi bubuk kopi hitam yang terletak tidak jauh dari kompor.​"Mau bikin kopi," ucap Juned.​Maudy langsung merebut cangkir kosong dari tangan Juned dengan gerakan yang sangat cepat.​"Eh Mas, aku aja deh yang bikinin yaaahh?? Sekali-kali cobain kopi buatan ak

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Keraguan Terbalas Kenikmatan

    "Haaaaahhh... Lembur lagi, lembur lagi," gumam Juned sembari memijat pelipisnya yang terasa agak kening setelah menatap layar ponsel sejak sore. ​Maudy yang sedang asyik mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tepi kolam langsung menoleh, matanya menatap Juned dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. ​"Mas, kenapa?" tanya Maudy. ​Juned mengembuskan napas panjang, ia meletakkan ponselnya di atas meja kecil dengan gerakan yang tampak sangat pelan dan terasa berat. ​"Enggak apa-apa kok," jawab Juned singkat sembari menyandarkan tubuhnya ke kursi dan hanya diam menatap ke arah langit malam yang mulai gelap. ​Maudy tidak bertanya lagi, ia hanya memperhatikan raut wajah pria di sampingnya itu yang tampak sangat terbebani oleh rentetan urusan pekerjaan belakangan ini. ​Malam harinya, suasana di dalam rumah megah itu terasa jauh lebih tenang dan sunyi setelah jam makan malam keluarga kecil tersebu

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Godaan Yang Akan Datang

    ​"Oh iya Bu, tadi ketemu di kampus Maudy," balas Juned dengan kalimat yang diatur sesopan mungkin. ​Ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja kayu, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi rotan sambil mengembuskan sisa asap rokok terakhirnya ke udara. ​"Ngapain coba segala cerita ke Bu Lusi, kayak enggak ada kerjaan lain saja itu orang," gumam batin Juned yang merasa sedikit gusar dengan situasi mendadak ini. ​Belum sempat kopi di cangkirnya mendingin, ponsel di atas meja kembali bergetar pelan diiringi bunyi denting khas notifikasi pesan masuk dari aplikasi hijau. ​"Kamu pake pelet apa sih Ned, kok bisa-bisanya adikku langsung minta nomor HP-mu? Abis kamu apain dia?" balas Lusiana dalam ruang obrolan digital mereka. ​Juned terperanjat di kursinya, ia mengucek matanya sekali untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah membaca deretan kata-kata bernada penuh selidik tersebut. ​"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status