Share

Bab 3

Author: KarenW
Sudut Pandang Sera:

Aku dan Kael sudah membangun begitu banyak kenangan selama bertahun-tahun sampai aku sendiri sudah lupa berapa banyak.

Setiap ulang tahunnya, aku selalu membuatkan kue untuknya. Pinggirannya gosong, bentuknya miring dan hampir hancur. Namun, itu jadi kebiasaan kami. Ritual kecil kami. Setiap kali, tanpa pernah absen, dia akan menangkupkan wajahku, tersenyum seolah-olah aku baru saja memberinya dunia, lalu bilang itu ulang tahun paling spesial yang pernah dia rasakan.

Ada juga malam saat kami kehujanan, tertawa sambil berlari di jalanan yang sepi, tubuh basah kuyup. Dia menggenggam tanganku dan tidak melepaskannya sampai kami tiba di kebun anggurnya di pinggiran kota. Kami meringkuk di bawah satu selimut di ruang penyimpanan, bahu saling menempel, hati terasa lebih dekat dari sebelumnya.

Ada satu momen, mungkin yang paling menyakitkan untuk diingat sekarang, saat orang tuaku memintaku ikut bersama mereka. Memulai hidup baru di Ivia.

Aku menolak berkali-kali. Semua karena aku punya janji yang harus kutepati.

Aku ingin tetap di sini sampai aku berusia 27. Untuk Kael, untuk kami.

Selama ibu dan ayahku pergi, Kael memang menjagaku.

Kupikir itu berarti dia mencintaiku. Aku benar-benar percaya itu artinya dia mencintaiku.

Sekarang? Sekarang aku sudah melihatnya dengan jelas.

Mungkin dia menyukaiku. Mungkin dia bahkan menikmati caraku memandangnya seolah-olah dia adalah pusat duniaku.

Namun, dia tidak pernah mencintaiku.

Cintanya, yang paling tulus, paling nyata, dan paling menakutkan?

Selalu dia simpan ... untuk Vivian.

....

Begitu sampai di apartemen, aku langsung mulai berkemas.

Sebenarnya, tidak banyak yang perlu kubawa. Setelah memilah isi lemari dan menyingkirkan hal-hal yang tidak lagi kuinginkan di mana setengahnya mengingatkanku padanya, aku sadar semua yang benar-benar penting bagiku cukup dimasukkan ke dalam satu koper.

Sisanya? Pakaian, kenang-kenangan, hadiah dari Kael selama bertahun-tahun, semuanya akan kujual atau kusumbangkan. Uangnya akan kuserahkan untuk amal.

Setidaknya itu terasa baik. Melegakan.

Aku duduk di lantai, menarik napas sejenak.

Kemudian, ponselku berdering. Lila, sahabat terbaikku di Kota Noya. Sesama anak keluarga mafia juga, meski seleranya dalam memilih pria jauh lebih bagus.

"Hai, Cantik!" sapanya dengan ceria, suaranya mengalir seperti sinar matahari. "Sudah siap belanja? Maaf ya tahun ini kita nggak bikin pesta bareng. Salahkan pacarku. Dia ngotot mau aku bikin acara sendiri. Kayaknya dia lagi merencanakan sesuatu. Mungkin mau melamar? Maksudku, sudah dua tahun dan belakangan dia jadi aneh tapi romantis banget ...."

Dia terus berbicara, santai dan penuh semangat, sampai akhirnya berhenti, mungkin sadar aku belum mengatakan apa-apa.

Lila mengenalku. Dia tahu betapa aku mencintai Kael. Tahu betapa aku menunggu ulang tahun ini, berharap itu akan jadi momen kami.

"Ada apa, Sayang?" Nada suaranya berubah. "Kael ngelakuin hal bodoh lagi? Sumpah, kalau dia ...."

"Sudah selesai, Lila," kataku pelan. "Aku sudah selesai sama dia."

Hening sesaat di seberang sana.

"Apa?" Suaranya kini lebih lembut. "Apa yang terjadi? Bukannya kalian ... mau resmiin hubungan tahun ini?"

Aku ragu sejenak. Sempat terpikir untuk menyimpan semuanya sendiri, tetapi akhirnya aku mengembuskan napas dan mengatakannya.

"Aku nggak akan merayakan ulang tahun di Kota Noya tahun ini. Aku mau terbang ke Ivia, nyusul ibu dan ayahku."

"Kamu mau pergi?"

Nada terkejutnya tidak mengejutkanku. Dia salah satu dari sedikit orang yang tahu berapa kali aku menolak ajakan orang tuaku untuk tinggal di luar negeri.

Dulu aku tetap tinggal, karena Kael.

"Iya," jawabku.

Kami sama-sama terdiam beberapa saat. Kemudian, suara Lila kembali terdengar, lembut dan tenang. "Aku menghargai keputusanmu, Sayang. Kalau itu yang bikin kamu bahagia ...."

"Aku pasti bahagia," kataku dengan keyakinan penuh.

Dia ragu sejenak. "Kamu bakal kasih tahu dia kalau kamu pergi?"

Dia tidak menyebut namanya.

"Nggak," jawabku. "Dan aku juga lebih suka kalau kamu nggak memberitahunya. Aku ingin semuanya dirahasiakan. Aku nggak butuh drama."

"Baiklah," sahutnya. "Tapi ... kamu masih bisa datang ke pesta ulang tahunku, 'kan? Aku tahu Kael mungkin bakal ada di sana dan ...."

"Aku bakal datang," potongku lembut. "Kamu satu-satunya orang yang masih kuanggap penting di sini. Lagian, aku sudah menyiapkan hadiahmu dari berbulan-bulan lalu."

Setelah kami menutup telepon, aku menjatuhkan diri ke sofa, kepalaku bersandar pada bantal, mata perlahan terpejam.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku seperti itu sampai ponselku bergetar lagi.

Sebuah pesan. Dari Kael.

[ Apa rencanamu untuk pesta ulang tahunmu tahun ini? ]

Aku menatap layar. Tidak menjawab.

Satu pesan lagi masuk.

[ Aku mungkin nggak bisa datang kali ini. Aku bakal menikah. Di hari yang sama. ]

Jari-jariku melayang di atas layar.

Aku mengetik satu kata.

[ Selamat. ]

Kemudian, aku mengirimnya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 15

    Sudut Pandang Kael:Aku tidak bergerak.Sudah lama sekali aku hanya berdiri di sana, sejak Sera pergi bersama pria yang bernama Josh itu.Aku bahkan tidak ingat nama lengkapnya. Yang aku tahu, aku marah.Tidak, aku murka.Aku sendiri tidak benar-benar tahu kenapa. Mungkin karena di kepalaku, aku membayangkan pertemuan kami akan sangat berbeda.Dia seharusnya berlari ke arahku dengan tangan terbuka dan mata berkaca-kaca. Dia seharusnya jatuh ke pelukanku seperti dulu, seolah-olah tempatnya memang ada padaku.Namun, dia malah memeluk pria itu.Josh …. Siapa pun nama belakangnya. Apa dia kaya? Berpengaruh? Lebih baik dariku?Tidak. Tidak mungkin.Memang, bisnis kasinoku sedang tidak dalam kondisi terbaik, terutama setelah masalah dengan Eric dan semua kekacauan media yang dia sebabkan dalam hidupku.Para investor mundur. Bisik-bisik mulai terdengar. Terlalu banyak orang mulai menatapku seolah-olah aku tidak lagi sehebat dulu.Namun, aku masih punya nama, masih punya pengaruh di dunia mafi

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 14

    Sudut Pandang Sera:Aku sama sekali tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semua ini."Ayah. Ini sahabat terbaikmu, yang juga pria yang kamu suruh kupanggil Om, yang juga pria yang kucintai, yang memutus hubungan denganku dengan pernikahan palsu."Ya, jelas tidak mungkin.Sebelum aku sempat menyusun kebohongan yang masuk akal, Josh lebih dulu menundukkan kepala sedikit. "Aku tadi cuma bicara dengan Sera. Dia minta aku mengajaknya keluar sebentar untuk cari udara segar. Kalau kamu nggak keberatan, Pak."Di bawah tatapan penasaran ratusan anggota mafia, Josh menyelipkan jemarinya ke jemariku dengan sengaja, lalu mengangguk sopan pada ayahku.Tatapan ayahku beralih ke tangan kami yang saling menggenggam. Suasanya sontak terasa menegangkan untuk sesaat. Kupikir dia akan marah besar.Namun, dia justru diam sejenak, lalu tersenyum dan menepuk bahuku. "Pergilah. Biar Ayah yang urus di sini."Josh tidak menunggu. Dia menarikku perlahan menembus kerumunan dan aku membiarkannya. Tangannya terasa

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 13

    Sudut Pandang Sera:Ayahku mengadakan pesta makan malam di salah satu hotel terbaik di pusat kota.Saat aku dan Josh tiba, aku kira cuma acara yang kecil dan tertutup, makan malam dengan paling banyak empat orang.Sebaliknya, aku langsung masuk ke aula dengan setidaknya seratus tamu, lampu kristal berkilau di atas kepala, dan gelas-gelas sampanye sudah saling beradu dalam perayaan."Astaga, ini pasti ulah Ayah," gumamku pelan."Sera!" Suara ayahku menggema di seluruh ruangan. "Semuanya, putriku sudah datang! Dialah yang berhasil menutup kesepakatan di kasino Keluarga Darama hari ini!"Detik berikutnya, aku langsung mendengar tepuk tangan meriah dari para tamu undangan. Aku bisa merasakan pipiku memanas."Josh," bisikku, malu setengah mati. "Aku nggak tahu acaranya bakal sebesar ini."Ini bukan sekadar makan malam keluarga. Ini pertemuan besar, ajang kumpul-kumpul semua keluarga mafia penting dalam radius ratusan kilometer. Tiba-tiba aku menjadi tidak yakin bahwa mengajak Josh adalah id

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 12

    Sudut Pandang Sera:Sejak aku menyusul orang tuaku ke Ivia, hari-hariku penuh dengan usaha memahami seluk-beluk bisnis ayahku. Rapat, kunjungan, jabat tangan, nama-nama yang harus kuingat, dan angka-angka yang berusaha tidak kubenci ….Aku meyakinkan diri kalau semua kesibukan ini membantu menjaga pikiranku agar tidak kembali melayang ke Kota Noya, ke semua hal yang pernah berantakan di sana.Hari ini pun tidak berbeda. Saat salah satu staf ayahku sedang mengajakku berkeliling kebun anggur, menjelaskan soal jadwal panen dan tingkat keasaman anggur, ponselku tiba-tiba bergetar.Dari Lila."Kamu sudah dengar belum?" katanya bahkan sebelum aku sempat menyapa. "Vivian dan Eric sama-sama ditahan. Sedangkan Kael …. Kasino dan reputasinya lagi dihancurkan habis-habisan sama gosip. Seluruh dunia mafia Kota Noya lagi 'dibersihkan' besar-besaran."Nada suaranya terdengar sangat puas.Aku tidak berniat memadamkan semangatnya, tetapi jujur saja, aku sudah tidak peduli lagi. Jadi aku hanya mengatak

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 11

    Sudut Pandang Kael:"Pak Kael." Suara asistenku terdengar dari telepon. "Kami sudah mengamankan Vivian di dalam kasino Bapak. Tapi kondisi mentalnya tampak ... nggak stabil. Sedangkan Eric …. Dia menghilang dari rumah sakit, sampai sekarang nggak terlihat. Kami menduga dia sedang menunggu berita tentang Bapak meledak dulu, baru bergerak."Aku menggumam pelan sebagai tanda paham, lalu menutup telepon.Aku pergi dari rumah sakit terlalu terburu-buru karena ingin mengejar Sera sampai membiarkan bajingan seperti Eric lolos. Namun setidaknya, aku masih punya Vivian.Menahannya di dekatku adalah langkah strategis. Dia adalah umpannya. Eric tidak akan terus bersembunyi. Tidak selama wanita yang mengandung anaknya ada di tanganku.Kalau skandal ini sampai keluar ke publik, dampaknya akan menghantam kami berdua. Eric bukan orang sembarangan. Dia dikenal sebagai sahabatku. Dia juga akan ikut jatuh. Jadi aku berharap masih bisa memaksanya duduk dan bernegosiasi.Namun, aku tidak menyangka dia sud

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 10

    Sudut Pandang Kael:Rahangku mengeras.Eric melanjutkan, nadanya penuh ejekan. "Aku cuma muak hidup dalam bayang-bayangmu. Aku sama pintarnya denganmu. Sama kayanya. Tapi nggak, itu nggak cukup. Kamu harus selalu jadi anak emas. Kamu selalu dipuja semua orang. Kamu pikir berteman denganmu bikin orang merasa bersyukur? Seolah-olah kamu ini semacam bos mafia yang sedang bagi-bagi bantuan?"Telingaku berdengung."Bisnis narkoba keluargaku berkembang gara-gara koneksimu?" Eric mencibir. "Iya, terus saja percaya itu. Kael yang hebat, sendirian membantu semua orang jadi kaya. Mau aku kasih medali?"Dia mengeluarkan ponselnya. "Tunggu saja. Kita lihat seberapa kuat kasino kesayanganmu bertahan saat berita ini meledak. Semoga kamu menikmati melihat semuanya hancur."Vivian ikut menimpali, "Aku masih nggak habis pikir gadis bodoh seperti Sera bisa mencintaimu. Jujur saja, aku nggak tahu siapa yang lebih tolol, dia atau kamu."Dia memiringkan kepala dengan nada mengejek. "Oh iya, omong-omong soa

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 9

    Sudut Pandang Kael:"Kael?"Vivian baru sadar lima jam kemudian.Aku tidak bergerak dari sofa, hanya menatapnya, merasakan sesuatu yang dingin meresap sampai ke tulang."Kael," bisiknya, matanya mulai berkaca-kaca. "Gimana dengan bayi kita?"Aku berdiri dan berjalan mendekati ranjangnya perlahan. "A

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 8

    Sudut Pandang Kael:Rasanya hampir seperti Sera sudah benar-benar hilang dari hidupku.Seharian ini kami tidak saling bicara sama sekali. Mengingat hari ini adalah ulang tahunnya sekaligus hari pernikahanku, itu sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.Tetap saja, aku memutuskan untuk mengambil langkah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status