Share

Bab 4

Author: KarenW
Sudut Pandang Kael:

"Apa maksudnya 'selamat'?" Aku mengernyit, membaca ulang pesan di layar ponselku. "Dia bahkan nggak terdengar kesal."

Eric, temanku, yang sedang bersantai di sofa sambil memegang segelas wine, melirikku. "Mungkin dia memang nggak kesal. Atau mungkin dia sudah tahu pernikahan ini cuma pura-pura. Emangnya itu penting?"

Dia mengangkat bahu. "Kalau dia kesal, dia tahu itu nggak akan mengubah apa-apa. Kalau nggak ... ya selamat, kamu berhasil. Dia nggak bakal lagi ngejar-ngejar kamu. Mungkin dia akhirnya sadar kalau kalian memang nggak akan pernah berhasil."

Seharusnya aku merasa lega. Mungkin bahkan puas.

Bukankah ini yang kuinginkan?

Selama bertahun-tahun, aku memainkan peranku. Tersenyum saat Sera membawakanku kopi, membiarkannya merencanakan kejutan ulang tahun, membuatku kehujanan, dan perlahan menjadi bagian dari hidupku ….

Kemudian tahun ini, Vivian, wanita yang diam-diam kucintai selama bertahun-tahun, mengatakan hal yang selama ini ingin kudengar, bahwa dia ingin menikah.

Aku tahu aku tidak bisa terus menunda. Aku harus melepaskan Sera.

Satu hal yang tidak pernah kuduga adalah betapa sunyinya kepergiannya.

Satu kata. Selamat.

Aku menatap pesan itu, tetapi pikiranku terus melayang.

Kembali ke tawa Sera saat dia membuat kue ulang tahunku gosong. Kembali ke malam kami berlari di tengah badai, lalu meringkuk di bawah satu selimut, basah kuyup, kedinginan, tetapi entah kenapa tetap bahagia.

Kalau saja dia tidak semuda itu, kalau saja dia bukan anaknya Lusian ....

Tidak. Aku menggeleng.

Kael, kamu mencintai Vivian. Ingat itu.

Sera tidak pernah lebih dari keluarga. Seseorang yang kujaga. Tidak lebih.

Eric berdiri dan merapikan bajunya. "Saran dariku? Santai saja. Kalau dia cuma pura-pura baik-baik saja, cepat atau lambat bakal kelihatan. Nggak mungkin dia bisa berpura-pura di pernikahanmu. Apalagi itu bertepatan dengan ulang tahunnya."

Sebelum aku sempat menjawab, pintu terbuka.

Lila masuk.

Dia adalah sahabat terbaik Sera. Dari ekspresinya yang serius, jelas dia tidak datang untuk sekadar menyapa.

"Kael," katanya singkat, tajam. "Kita perlu bicara sebentar."

Aku berdiri, mengancing jas, lalu mengikutinya ke lorong.

Begitu kami sendirian, dia langsung berbalik menghadapku.

"Apa sih masalahmu?"

Aku mengerjap. "Hah?"

"Kamu bahkan nggak punya sedikit rasa menghargai untuk Sera? Menikah di hari ulang tahunnya?"

Aku belum sempat menjawab ketika suara lain menyela.

"Ada apa ini?"

Vivian.

Dia berjalan mendekat, langkahnya anggun. Bahkan dari jarak beberapa meter parfumnya sudah tercium. Dia berhenti di dekatku, lalu tanpa ragu menyelipkan lengannya di lenganku.

Kami memang sudah sepakat untuk mengungkap hubungan kami secara terbuka, terutama di depan orang-orang dari lingkungan Sera.

Tetap saja, aku sedikit tersentak saat tatapan Lila jatuh ke arah kami yang saling berdekatan.

Rasanya seperti dia baru menangkap basah aku.

"Maaf," kata Vivian lembut, memiringkan kepala dengan senyum yang terlatih. "Maksudmu nggak menghormati Sera itu apa ya?"

Dia tersenyum ke arahku, semakin mendekat.

Lila menatap kami berdua, lalu tersenyum tipis. "Nggak apa-apa," katanya datar. "Aku cuma mau bilang selamat."

Kemudian, dia berbalik dan pergi begitu saja.

Namun, suaranya yang tenang entah mengapa membuat perasaanku tidak enak.

Rasa gelisah merayap di dadaku. Apa kedatangan Lila malam ini karena Sera? Apa ini cara Sera yang secara tidak langsung menunjukkan kalau dia terluka karena mengetahui aku akan menikah dengan Vivian?

"Kael, aku tadi sudah benar, 'kan?" Suara Vivian melembut begitu pintu tertutup di belakang Lila. Dia melepaskan lengannya dariku dan menatapku. "Kamu bilang harus terlihat dekat, terutama di depan orang-orangnya. Aku nggak berlebihan, 'kan?"

Aku tersenyum, lalu menggenggam tangannya. "Kamu sudah melakukannya dengan baik."

Setelah itu, kami kembali masuk ke dalam acara.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 15

    Sudut Pandang Kael:Aku tidak bergerak.Sudah lama sekali aku hanya berdiri di sana, sejak Sera pergi bersama pria yang bernama Josh itu.Aku bahkan tidak ingat nama lengkapnya. Yang aku tahu, aku marah.Tidak, aku murka.Aku sendiri tidak benar-benar tahu kenapa. Mungkin karena di kepalaku, aku membayangkan pertemuan kami akan sangat berbeda.Dia seharusnya berlari ke arahku dengan tangan terbuka dan mata berkaca-kaca. Dia seharusnya jatuh ke pelukanku seperti dulu, seolah-olah tempatnya memang ada padaku.Namun, dia malah memeluk pria itu.Josh …. Siapa pun nama belakangnya. Apa dia kaya? Berpengaruh? Lebih baik dariku?Tidak. Tidak mungkin.Memang, bisnis kasinoku sedang tidak dalam kondisi terbaik, terutama setelah masalah dengan Eric dan semua kekacauan media yang dia sebabkan dalam hidupku.Para investor mundur. Bisik-bisik mulai terdengar. Terlalu banyak orang mulai menatapku seolah-olah aku tidak lagi sehebat dulu.Namun, aku masih punya nama, masih punya pengaruh di dunia mafi

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 14

    Sudut Pandang Sera:Aku sama sekali tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semua ini."Ayah. Ini sahabat terbaikmu, yang juga pria yang kamu suruh kupanggil Om, yang juga pria yang kucintai, yang memutus hubungan denganku dengan pernikahan palsu."Ya, jelas tidak mungkin.Sebelum aku sempat menyusun kebohongan yang masuk akal, Josh lebih dulu menundukkan kepala sedikit. "Aku tadi cuma bicara dengan Sera. Dia minta aku mengajaknya keluar sebentar untuk cari udara segar. Kalau kamu nggak keberatan, Pak."Di bawah tatapan penasaran ratusan anggota mafia, Josh menyelipkan jemarinya ke jemariku dengan sengaja, lalu mengangguk sopan pada ayahku.Tatapan ayahku beralih ke tangan kami yang saling menggenggam. Suasanya sontak terasa menegangkan untuk sesaat. Kupikir dia akan marah besar.Namun, dia justru diam sejenak, lalu tersenyum dan menepuk bahuku. "Pergilah. Biar Ayah yang urus di sini."Josh tidak menunggu. Dia menarikku perlahan menembus kerumunan dan aku membiarkannya. Tangannya terasa

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 13

    Sudut Pandang Sera:Ayahku mengadakan pesta makan malam di salah satu hotel terbaik di pusat kota.Saat aku dan Josh tiba, aku kira cuma acara yang kecil dan tertutup, makan malam dengan paling banyak empat orang.Sebaliknya, aku langsung masuk ke aula dengan setidaknya seratus tamu, lampu kristal berkilau di atas kepala, dan gelas-gelas sampanye sudah saling beradu dalam perayaan."Astaga, ini pasti ulah Ayah," gumamku pelan."Sera!" Suara ayahku menggema di seluruh ruangan. "Semuanya, putriku sudah datang! Dialah yang berhasil menutup kesepakatan di kasino Keluarga Darama hari ini!"Detik berikutnya, aku langsung mendengar tepuk tangan meriah dari para tamu undangan. Aku bisa merasakan pipiku memanas."Josh," bisikku, malu setengah mati. "Aku nggak tahu acaranya bakal sebesar ini."Ini bukan sekadar makan malam keluarga. Ini pertemuan besar, ajang kumpul-kumpul semua keluarga mafia penting dalam radius ratusan kilometer. Tiba-tiba aku menjadi tidak yakin bahwa mengajak Josh adalah id

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 12

    Sudut Pandang Sera:Sejak aku menyusul orang tuaku ke Ivia, hari-hariku penuh dengan usaha memahami seluk-beluk bisnis ayahku. Rapat, kunjungan, jabat tangan, nama-nama yang harus kuingat, dan angka-angka yang berusaha tidak kubenci ….Aku meyakinkan diri kalau semua kesibukan ini membantu menjaga pikiranku agar tidak kembali melayang ke Kota Noya, ke semua hal yang pernah berantakan di sana.Hari ini pun tidak berbeda. Saat salah satu staf ayahku sedang mengajakku berkeliling kebun anggur, menjelaskan soal jadwal panen dan tingkat keasaman anggur, ponselku tiba-tiba bergetar.Dari Lila."Kamu sudah dengar belum?" katanya bahkan sebelum aku sempat menyapa. "Vivian dan Eric sama-sama ditahan. Sedangkan Kael …. Kasino dan reputasinya lagi dihancurkan habis-habisan sama gosip. Seluruh dunia mafia Kota Noya lagi 'dibersihkan' besar-besaran."Nada suaranya terdengar sangat puas.Aku tidak berniat memadamkan semangatnya, tetapi jujur saja, aku sudah tidak peduli lagi. Jadi aku hanya mengatak

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 11

    Sudut Pandang Kael:"Pak Kael." Suara asistenku terdengar dari telepon. "Kami sudah mengamankan Vivian di dalam kasino Bapak. Tapi kondisi mentalnya tampak ... nggak stabil. Sedangkan Eric …. Dia menghilang dari rumah sakit, sampai sekarang nggak terlihat. Kami menduga dia sedang menunggu berita tentang Bapak meledak dulu, baru bergerak."Aku menggumam pelan sebagai tanda paham, lalu menutup telepon.Aku pergi dari rumah sakit terlalu terburu-buru karena ingin mengejar Sera sampai membiarkan bajingan seperti Eric lolos. Namun setidaknya, aku masih punya Vivian.Menahannya di dekatku adalah langkah strategis. Dia adalah umpannya. Eric tidak akan terus bersembunyi. Tidak selama wanita yang mengandung anaknya ada di tanganku.Kalau skandal ini sampai keluar ke publik, dampaknya akan menghantam kami berdua. Eric bukan orang sembarangan. Dia dikenal sebagai sahabatku. Dia juga akan ikut jatuh. Jadi aku berharap masih bisa memaksanya duduk dan bernegosiasi.Namun, aku tidak menyangka dia sud

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 10

    Sudut Pandang Kael:Rahangku mengeras.Eric melanjutkan, nadanya penuh ejekan. "Aku cuma muak hidup dalam bayang-bayangmu. Aku sama pintarnya denganmu. Sama kayanya. Tapi nggak, itu nggak cukup. Kamu harus selalu jadi anak emas. Kamu selalu dipuja semua orang. Kamu pikir berteman denganmu bikin orang merasa bersyukur? Seolah-olah kamu ini semacam bos mafia yang sedang bagi-bagi bantuan?"Telingaku berdengung."Bisnis narkoba keluargaku berkembang gara-gara koneksimu?" Eric mencibir. "Iya, terus saja percaya itu. Kael yang hebat, sendirian membantu semua orang jadi kaya. Mau aku kasih medali?"Dia mengeluarkan ponselnya. "Tunggu saja. Kita lihat seberapa kuat kasino kesayanganmu bertahan saat berita ini meledak. Semoga kamu menikmati melihat semuanya hancur."Vivian ikut menimpali, "Aku masih nggak habis pikir gadis bodoh seperti Sera bisa mencintaimu. Jujur saja, aku nggak tahu siapa yang lebih tolol, dia atau kamu."Dia memiringkan kepala dengan nada mengejek. "Oh iya, omong-omong soa

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 9

    Sudut Pandang Kael:"Kael?"Vivian baru sadar lima jam kemudian.Aku tidak bergerak dari sofa, hanya menatapnya, merasakan sesuatu yang dingin meresap sampai ke tulang."Kael," bisiknya, matanya mulai berkaca-kaca. "Gimana dengan bayi kita?"Aku berdiri dan berjalan mendekati ranjangnya perlahan. "A

  • Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah   Bab 8

    Sudut Pandang Kael:Rasanya hampir seperti Sera sudah benar-benar hilang dari hidupku.Seharian ini kami tidak saling bicara sama sekali. Mengingat hari ini adalah ulang tahunnya sekaligus hari pernikahanku, itu sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.Tetap saja, aku memutuskan untuk mengambil langkah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status