INICIAR SESIÓNAgnes belum membalas pesan dari Daniel sejak semalam. Ia memilih fokus pada harinya – karena banya pasien – tapi berjanji, akan segera menghubungi Daniel begitu pasien terakhir selesai.
Tapi ternyata tidak semulus itu.
Agnes menahan rasa pening di bagian ubun-ubun kepalanya.
Laras, pasiennya yang mengalami depresi karena ditinggal suaminya meninggal enam bulan yang lalu, tidak berhenti menangis.
Agnes menoleh ke jam di dinding. Waktu konsu
Tujuh fajar telah berlalu, dan setiap kali kelopak matanya terbuka menyambut terang, Agnes terbangun dengan perasaan hampa yang pekat. Ada beban tak kasatmata—seperti sebongkah batu raksasa—yang menindih tepat di tengah dadanya, menyiksa setiap helaan napas yang berusaha ia hirup. Tujuh hari berlalu, namun ingatan tentang malam itu tak pernah terkikis sedikit pun. Sensasi dingin dan sayatan perih ketika Daniel membanting pintu penthouse itu masih terngiang begitu nyaring di telinganya, menyisakan gema keputusasaan yang terus berulang tanpa ampun.Setiap pagi, dalam remang ruang tengah yang lengang, ilusi tentang Daniel kembali merayap menguasai pikirannya. Agnes masih bisa membayangkan gambaran itu dengan teramat jelas: Daniel yang berdiri tegap di sudut dapur dengan kaus olahraga yang basah oleh keringat, napasnya sedikit memburu setelah berlari, lalu meneguk protein shake hingga kandas dalam satu tegukan panjang. Pria itu selalu memiliki aroma keringat yang mask
Hening yang membekukan melapisi seluruh kabin mobil yang dikemudikan oleh Deri. Sepanjang perjalanan membelah riuhnya lalu lintas kota menuju penthouse, tak ada satu pun patah kata yang terucap dari bibir Daniel maupun Agnes. Lidah mereka seolah terkelu oleh krisis emosional yang teramat dahsyat, meninggalkan atmosfer berat yang menyesakkan dada. Deri yang mengemudi di depan pun hanya bisa melirik dari kaca spion dengan raut prihatin yang amat dalam, tak berani memecah keheningan yang sarat akan duka tersebut.Bayangan kejadian beberapa puluh menit lalu masih berputar liar di kepala Agnes, menggeledah sisa-sisa kewarasannya. Tepat setelah Sabina mengambil alih podium dan dengan nada penuh kebanggaan mengumumkan pernikahan dirinya dengan Daniel—pada tanggal dan lokasi yang sama persis dengan yang telah direncanakan Daniel untuk Agnes—dunia Agnes rasanya runtuh seketika. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, Agnes melangkah kaku melarikan diri ke dalam ruang tunggu.
Agnes terpaku kaku di balik meja panggung, menjadi pusat gravitasi dari pusaran teror yang melumpuhkan jiwanya. Di hadapannya, puluhan wartawan menatapnya dengan binar lapar akan sensasi, sementara tim Daniel—Celsi, Monik, dan Jemima—menanti pernyataan resminya dengan napas tertahan. Namun, pusat penderitaan Agnes sesungguhnya tertambat pada dua sosok di barisan paling belakang: Rudi Baskara yang berdiri dengan raut angkuh bak algojo, serta Sabina yang menyunggingkan senyum kemenangan yang memuakkan. Di antara lautan manusia itu, mata Agnes tak sengaja menangkap sosok Vivi. Sahabatnya itu menatapnya dengan dahi berkerut dalam, ratusan kerutan kecemasan terpatri jelas di wajahnya.“Ada apa?” bibir Vivi bergerak pelan tanpa suara dari kejauhan, menyuarakan firasat buruk yang mendadak mencengkeram dadanya.Agnes tidak sanggup membalas isyarat itu. Ia terkunci dalam tatapan mata Rudi yang tampak sangat tajam menembus sukma—sebuah tatapan yang membawa ancaman impli
Hari Konferensi Pers.Pagi itu, atmosfer di dalam gedung tempat konferensi pers berlangsung terasa sangat pekat, berdenyut oleh ketegangan yang merayap hingga ke pori-pori. Ruang utama disulap menjadi panggung drama raksasa tempat masa depan Agnes dan Daniel dipertaruhkan. Puluhan wartawan dari berbagai media cetak, televisi, dan portal berita memadati barisan kursi. Kilatan lampu kilat kamera berkedip tak henti-hentinya, menciptakan pendar cahaya yang menyilaukan. Di atas meja panjang bertatap kain hitam, belasan mikrofon berdiri berderet menanti kalimat pertama yang akan terucap.Di sudut-sudut ruangan dan koridor, beberapa personel kepolisian berseragam lengkap berdiri siaga dengan wajah kaku. Kehadiran mereka dimaksudkan untuk mengantisipasi gejolak atau gangguan dari luar mengingat panasnya isu skandal yang membelit Daniel. Namun bagi Agnes, keberadaan seragam polisi itu justru makin mempertegas betapa mencekamnya situasi ini. Setiap ge
H-1 Konferensi Pers.Waktu melesat dengan kejam, membawa Agnes pada hari yang terasa seperti kutukan panjang yang menguras habis sisa-sisa kewarasannya. Jadwal hari ini di klinik amat sangat menyita tenaga. Dari pagi hingga sore menjelang, ia harus duduk diam, mengangguk, dan mengurai benang kusut keluhan jiwa para pasiennya, sementara jiwanya sendiri meronta dalam labirin ketakutan. Menjadi tempat sampah emosi orang lain di saat batinnya sendiri nyaris hancur berkeping-keping adalah sebuah ironi yang menyiksa. Psikolog baru, Lanang, pun tampak sangat sibuk beradaptasi dengan rentetan pasien pertamanya. Mereka berdua tidak sempat berbincang banyak, hanya saling melempar sapaan singkat dan senyum profesional di lorong yang dingin. Pikiran Agnes sama sekali tidak tertambat di klinik; fokusnya benar-benar tersita habis oleh ancaman gelap yang membayangi rencana pernikahannya.Malam harinya, di bawah pendar temaram lampu kristal penthouse
Agnes menarik pergelangan tangan Felix dengan cengkeraman keras, nyaris menyeret adiknya itu keluar dari pintu depan hingga ke halaman samping rumah yang temaram. Angin malam yang berembus pelan membawa aroma tanah kering dan keputusasaan, mengiringi langkah tergesa mereka agar percakapan mematikan ini tidak sampai terdengar oleh telinga rentan Elvira dan Namira.“Apa kamu bilang? Coba ulangi!” desis Agnes tertahan, suaranya bergetar hebat antara lonjakan amarah dan teror yang membekukan darah. Matanya membelalak lebar, masih menolak keras untuk mempercayai apa yang baru saja meluncur dari bibir adiknya.“Ada orang-orang bayaran yang melindungi Tora, Kak! Mereka menyekapku di jalan dan mengancam untuk memenjarakan aku. Awalnya aku sama sekali tidak peduli kalaupun harus dipenjara, asalkan Tora si brengsek itu juga ikut membusuk di sel yang sama. Tapi kemudian... mereka menempelkan pisau dingin ke leherku dan mengancam akan







