Polan meletakkan senapannya dan bertepuk tangan untuk Sonia. Dia benar-benar mengagumi Sonia. "Luar biasa!"Ranty meletakkan lengannya di bahu Sonia dan terkekeh. "Sonia-ku tidak pernah mengecewakanku!"Sonia terkekeh. "Kamu yang pintar pilih dan sengaja berlatih hal-hal yang kukuasai. Kalau kamu memintaku untuk mengikuti kompetisi menyulam tadi, aku pasti akan ikut malu bersamamu!"Ranty pun tertawa hingga matanya berair.Tak jauh dari sana, Matias terkekeh. "Sepertinya itu orang yang dikenal Sonia. Ranty-ku pasti kecewa karena pertandingan ini tidak terjadi!"Reza terus mengawasi lapangan tembak. Dia tahu mereka bertemu orang yang dikenal. Melihat tatapan kagum Polan terhadap Sonia, dia pun mengerutkan kening. Dia menoleh ke arah Matias dan berujar, "Ayo kita juga ke sana!"Melihat Reza sudah tidak dapat berpangku tangan lagi, Matias pun tersenyum, lalu bangkit dan berjalan menuju area menembak bersama Reza....Langit perlahan-lahan menggelap. Ketika senja, Theresia membuka matanya
Ada banyak barang unik yang berjejer di kedua sisi jalan. Sonia dan Reza berjalan mengikuti kerumunan dan berhenti sesekali. Sebelum mereka selesai menelusuri sebuah jalan, Sonia mendapat telepon dari Ranty. "Sonia, di mana kamu? Cepat kemari dan bantu aku balas dendam!"Sonia mengerutkan kening. "Siapa yang menyinggungmu?""Aku ada di lapangan tembak dan ada yang menindasku!" ujar Ranty dengan marah. "Pacarnya itu penembak profesional dan dia sangat arogan. Aku mau tunjukkan padanya bahwa ada orang yang lebih hebat darinya dan selalu ada langit di atas langit!""Selalu ada langit di atas langit, lalu ada bidadari di atas bidadari?" canda Sonia sambil tertawa."Aku tidak peduli sama bidadari. Pokoknya, kamu kemari saja secepatnya! Aku sudah menantangnya!""Ya sudah! Kirimkan lokasinya!" jawab Sonia. Kota kuno ini sangat luas. Jika harus mencari tempatnya sendiri, dia mungkin baru akan tiba ketika langit sudah gelap."Segera!" jawab Ranty sebelum menutup telepon.Sonia menoleh ke arah
Pemilik kafe tersenyum dan menjawab, "Aku bayar uang sewa, jadi itu tidak ada bedanya dengan milikku."Reza bertanya pada Sonia, "Melvin pernah memberimu toko kue. Gimana kalau aku memberimu sebuah kafe?"Si "Jaket Kulit" berdecak dan tertawa mengejek.Sonia menatap Reza dan menjawab, "Tidak perlu. Tempat ini memang milikku, kok."Seusai berbicara, dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. Panggilan itu dijawab dengan cepat.Sonia bertanya dengan tenang, "Paman Johny, Kakek sudah memberiku perumahan di area Dingga Kota Kuno Reheria, 'kan?"Orang di ujung telepon segera menjawab, "Benar, semua itu milik Nona.""Oke. Di sini, ada kafe bernama Awana. Akhiri kontrak sewa dengan pemiliknya hari ini juga. Beri dia ganti rugi yang sudah ditentukan." Sonia menatap pemilik kafe yang ekspresinya berubah. Suaranya semakin dingin saat melanjutkan, "Usir dia hari ini juga!"Orang di ujung telepon tidak bertanya apa-apa, hanya menjawab dengan hormat, "Baik, aku akan segera melakukannya!"
Gadis itu mengenakan pakaian bergaya Chanel yang dipadukan dengan kalung rubi. Dia sedang mengamuk pada pacarnya. "Capek banget, tapi malah tidak ada tempat duduk!"Pria itu mengenakan jaket kulit hitam dan menghiburnya, "Jangan khawatir, Sayang. Meski harus pakai uang, aku pasti akan temukan tempat duduk untukmu!"Gadis itu melihat ke sekeliling, lalu tiba-tiba mengincar tempat duduk Sonia dan Reza. Dia menunjuk sambil berujar, "Tempat duduk ini bagus! Dekat jendela, juga bisa melihat ke luar.""Oke, yang penting kamu senang!" Pria itu terkekeh dan berjalan menghampiri Reza. "Sobat, berikanlah tempat duduk ini!"Dia mengeluarkan ponselnya dan lanjut berkata, "Aku akan transferkan empat juta kepadamu. Kamu dan pacarmu bisa cari tempat duduk lain."Ini mungkin pertama kalinya Reza bertemu dengan orang yang menawarkan uang untuk menyuruhnya mengalah. Dia melirik pria itu dengan tenang tanpa mengatakan apa-apa. "Kamu tidak dengar yang kubilang?" ujar pria itu dengan kesal karena Reza men
"Mata kalian sangat mirip," jawab gadis itu sambil tersenyum."Kami bukan ibu dan anak. Kami itu teman," jelas Theresia."Oh, begitu." Gadis itu tersenyum meminta maaf. "Maaf.""Tidak apa-apa," jawab Theresia dengan lembut.Gadis itu berkata, "Oh iya, ada versi lain dari buku yang kamu beli terakhir kali. Aku akan mencarikannya untukmu.""Serius?" Theresia sangat gembira dan mengikuti gadis itu untuk pergi mengambil bukunya.Ketika Theresia kembali, Morgan sedang duduk sambil memandang ke luar jendela. Lengannya ditaruh di atas kursi kayu, jari-jarinya yang panjang dan indah sedikit ditekuk. Wajah sampingnya yang memancarkan aura dingin dan tegas terlihat kurang cocok dengan suasana di toko buku, tetapi tetap memiliki daya pikat tersendiri. Theresia berjalan mendekat dengan membawa secangkir kopi. Dia mendorong kopi itu ke depan Morgan dan berkata sambil tersenyum lembut, "Kalau kamu merasa tempat ini terlalu tenang, ayo kita keluar lagi."Morgan berbalik. "Tidak, di sini sangat nyama
Ketika melihat Morgan yang memancarkan aura dingin dan berwibawa, juga tidak terlihat seperti orang biasa, ekspresi pria itu pun menjadi lebih kaku."Ada apa?" tanya Morgan sambil berjalan mendekat.Theresia menceritakan maksud pria itu.Morgan melirik pakaian di tangan pria itu dan menggenggam tangan Theresia. "Maaf, dia tidak punya waktu. Tolong cari orang lain saja!"Pria itu tidak berani berkata apa-apa lagi. Dia mengangguk cepat. "Maaf mengganggu."Seusai berbicara, dia bergegas pergi. Theresia tak kuasa menahan tawa. "Kamu sudah menakuti orang!"Morgan mendongak dan menyentuh topi di kepala Theresia. "Dari mana kamu mendapatkannya?""Aku baru saja membelinya!" Theresia menggoyang-goyangkan rumbai di kedua sisi topi sambil bertanya, "Cakep?"Morgan menatapnya, lalu menggigit bibir dengan pelan, dan menyerahkan kue lobak seafood kepada Theresia. "Makanlah!"Melihat ada lima kotak makanan di dalam plastik, Theresia pun bertanya dengan terkejut, "Banyak banget?"Morgan menjawab, "Mu