LOGINDias terbengong oleh ucapan Morgan. Belakang punggungnya seketika terasa dingin. “Gedebum" Dia pun jatuh duduk di atas kursi.Theresia sudah berjalan ke depan pintu. Ketika melihat Ingga yang berjalan kemari, dia pun berpesan, “Aku pulang kerja dulu. Kamu antar Nona Dias sana!”Ingga melihat bayangan punggung Morgan yang tinggi dan tegap itu, lalu diam-diam tersenyum. Akhirnya dia mengerti kenapa bosnya tiba-tiba mengubah pemikiran untuk tidak ke luar negeri lagi.Ternyata wanita akan kalah di tangan pria tampan!Ingga memberi isyarat tangan oke, lalu mengangguk dengan tersenyum. “Bos harap tenang!”Theresia kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil barang-barang, lalu pergi bersama Morgan.Setelah memasuki lift, Theresia baru memalingkan kepalanya. Dia menatap pria dengan mata berkilauannya. “Apa kamu sengaja ngomong seperti itu agar didengar sama Dias?”Morgan tersenyum dingin. “Meskipun sengaja, aku juga lagi berkata jujur. Kamu kira kenapa aku bisa datang ke Kota Jembara?”Theresia
Wajah Dias menjadi pucat. Dia yang malu itu pun mulai merasa marah. Matanya mulai terbelalak lebar!Theresia melirik Dias sekilas dengan tatapan datar. “Pemikiran Nona Dias hanya terbatas pada pemahamanmu saja. Sementara, pemahaman tipismu itu malah membuat pandanganmu menjadi pendek dan sempit!”Raut wajah Dias menjadi kaku. “Apa yang ingin kamu katakan?”Wajah Theresia tampak memesona dan begitu indah. Auranya lembut, tetapi juga samar-samar memancarkan ketenangan serta ketegasan yang tajam.“Nona Dias, coba pikirkan baik-baik seluruh kejadian di pesta minum hari itu dari awal sampai akhir. Apa kamu masih belum mengerti? Aku dan Tuan Morgan memang sudah saling mengenal sejak awal dan hubungan kami jauh melampaui apa yang kamu bayangkan!”Dias pun terbengong. Dia kembali berpikir dengan serius. Hanya saja, dia benar-benar tidak kepikiran seberapa dekatnya Morgan terhadap Theresia waktu itu? Sepertinya mereka berdua tidak ada tanda-tanda saling kenal.Ketika kepikiran sampai di sini, D
Morgan membalas dengan pesan suara. Suara rendah dan magnetisnya terdengar dari telepon. “Makan yang banyak. Belakangan ini kamu semakin kurus lagi.”Theresia mengangkat alisnya. [ Apa iya? ][ Morgan: Rasanya agak ringan ketika digendong. ][ Theresia: Sejak makan masakan Tuan Morgan waktu itu, aku jadi nggak nafsu makan, wajar kalau aku kurus. ][ Morgan: Aku akan masakin buat kamu pada akhir pekan nanti. ]Theresia mengirim sebuah emotikon seekor kucing kecil memeluk ikan.[ Morgan: Makanlah. ]Theresia meletakkan ponselnya, lalu fokus dalam menyantap makanannya. Dia merasa masakan hari ini sangatlah lezat.Sore harinya, Theresia mengadakan rapat mendadak. Saat keluar dari ruangan rapat, waktu sudah menjelang jam pulang kerja. Ingga pun mendekatinya. “Bos, Dias kemari!”Theresia mengangkat mata indahnya. “Di mana?”Ingga menunjuk ke bagian belakang tubuhnya. “Ruang tamu!”Theresia mengangguk sedikit kepalanya, lalu berjalan ke sisi ruang tamu.Dias mengenakan pakaian formal. Dia sed
Aska tersenyum lebar, seolah-olah merasa lega. “Kalau begitu, sepakat, ya!”Malam harinya mereka semua makan bersama. Julia memesan lagi tiket penerbangan untuk lusa hari nanti. Dia sengaja tidak memesan penerbangan besok karena ingin bersama Theresia untuk beberapa hari ini.Malam harinya.Theresia seperti biasanya, akan pergi mengobrol dengan Julia sebelum tidur. Dia duduk bersandar di ranjang, lalu berkata dengan tersenyum, “Ibu, ada yang ingin aku kasih tahu sama kamu. Aku harap kamu jangan marah.”Ekspresi Julia terlihat lembut. “Ada masalah apa?”Theresia mengeluarkan akta nikah, lalu menyerahkannya kepada Julia. “Aku dan Morgan … sudah menikah.”Julia membuka akta nikah dengan kaget, lalu melihat foto mereka berdua, kemudian melihat bagian tanggal. Matanya seketika terbelalak lebar. “Ini ….”Sepertinya semua berjalan dengan terlalu cepat!Theresia berkata, “Maaf, aku nggak beri tahu kamu dan Kakek duluan. Waktu itu, masalah terlalu mendadak.”Julia tersenyum. “Memang cukup menda
Pria itu membungkukkan tubuhnya untuk mencium kepala Theresia. Suaranya berubah menjadi serak. Dia pun berkata dengan suara berat, “Sebelum kamu datang, aku tidak bisa tidur semalaman.”Theresia menurunkan bulu matanya. “Aku juga.”Mungkin karena merasa terlalu bahagia sekarang. Ketika mengingat kembali cobaan di malam itu, dia juga sudah tidak merasa sedih lagi.Morgan menyembunyikan sikap murungnya. Nada bicaranya malah terdengar serius. “Kalaupun kamu sudah pergi, aku juga akan menunggumu. Kamu sudah menungguku selama ini. Aku juga bisa menunggumu.”Hati Theresia bagai digerogoti semut saja, rasanya sakit dan gatal. Dia menggigit bibir bawahnya. “Jadi, kenapa kamu nggak suruh aku tinggal?”Morgan menunduk dan mencium pipi samping Theresia. Nada bicaranya terdengar manja. “Kalau kamu ingin kehidupan yang menarik, aku bisa memberikannya kepadamu. Aku bisa beri semua yang kamu inginkan.”Theresia memiringkan sedikit kepalanya. Dia menatap mata Morgan. “Aku cuma mau kamu saja!”Tatapan
Sederetan orang di luar berdiri hormat dengan rapi sembari mendengar omongan Jemmy.Jemmy memperkenalkan kepada semua orang dengan serius, “Dulu, Theresia pernah datang ke rumah. Kalian semua juga sudah pernah bertemu dengannya. Hari ini, aku perkenalkan secara resmi. Dia adalah istrinya Morgan, calon nyonya rumah dari Keluarga Bina, Theresia.”Indra merasa paling gembira. Dia duluan memberi selamat. “Selamat, Tuan. Selamat, Nyonya!”Yang lain juga baru tersadar dari rasa kaget mereka. Semuanya mulai memberi selamat.“Nyonya!”“Selamat atas pernikahan Tuan dan Nyonya!”“Tuan dan Nyonya langgeng selalu dan segera dianugerahi momongan!”…Theresia berterima kasih dengan tersenyum lembut. Dia tetap kelihatan tenang dan ramah, tetapi sebenarnya dia sungguh merasa canggung. Semuanya memang terlalu mendadak. Dia bahkan tidak mempersiapkan apa-apa, bahkan tidak membawa hadiah sama sekali.Sepertinya Morgan tahu apa yang sedang dipikirkan Theresia. Dia menggandeng tangan Theresia, lalu berkata
Mereka naik ke lantai dua. Venny berjalan di depan dan membawa mereka berdua ke ruang ganti, membuka lemari, mengeluarkan setumpuk pakaian dan meletakkannya di sofa. Lalu, dia berkata dengan suara rendah, “Semua baju ini nggak pernah dipakai. Kamu bisa memilihnya sendiri.”“Oke.” Sonia mengangguk pel
Obrolan dan tawa orang-orang di lantai pertama merambat masuk ke ruangan melalui pintu. Ruangan tempat mereka berada sunyi. Sonia dapat dengan jelas mendengar napas Reza. Dalam sekejap, darah di tubuhnya seperti mendidih dan jantungnya berdetak lebih cepat.Dinding tempat punggungnya menempel terasa
Sonia menarik kembali senyumnya, lalu bertanya dengan suara berat, “Ada apa, Kel?”Kelly terdiam sejenak, seperti sedang mengendalikan emosinya. Setelah itu, dia baru menjelaskan keseluruhan cerita, “Papaku seorang penjudi. Dia sudah berjudi sejak aku masih kecil, sampai sekarang masih saja berjudi.
Dia sepertinya mengiyakan hal itu di telepon.Sonia mengerutkan kening. Kewaspadaan jauh lebih rendah dari sebelumnya sekarang. Apa karena dia terlalu lelah kemarin?Pestanya hari Sabtu. Dia mau izin satu hari dengan Reza.Seusai kelas, Sonia menelepon Reza. Setelah berdering dua kali, pria itu pun men







