LOGINDalam sekilas mata, Roger dapat melihat Theresia yang berada di belakang kerumunan. Dia tersenyum pada Theresia, lalu melanjutkan pidatonya. Dimulai dari riwayat Keluarga Manthana dalam merintis karier hingga perkembangan masa depan, semuanya dilontarkan dalam setengah jam.Setelah itu adalah pernyataan terima kasih dari segala pihak. Saat Roger menuruni pentas, wakil presdir dari perusahaan lanjut memberikan sepatah dua kata.Roger melewati kerumunan terus berjalan ke hadapan Theresia, kemudian berkata dengan tersenyum, “Kenapa baru datang?”“Nggak telat, kok. Waktunya pas-pasan.” Theresia tersenyum lembut. “Selamat!”“Selamat juga! Semalam anggota perusahaanmu lembur di hotel untuk mempersiapkan acara hari ini. Mereka sangat cermat dalam mengatur semuanya,” puji Roger.Theresia mengangguk. “Baguslah kalau kamu merasa puas!”Tahun ini adalah pertama kalinya Roger mengikuti acara ulang tahun perusahaan dengan status presdir, apalagi ulang tahun yang ke-50. Pusat perhatian semua orang j
Tatapan Hallie seketika berkilauan. “Apa … boleh seperti itu?”“Kenyataannya memang seperti itu. Kenapa tidak boleh?” Jovita malah merasa sangat antusias. “Setelah diumumkan, meskipun Roger tidak mengakuinya, dia juga mesti mengakuinya!”Hallie segera memikirkan kemungkinan dari hal itu. Dia takut masalah ini akan bocor. Jadi, dia berkata dengan ragu, “Tapi, sekarang aku nggak ingin Kakek tahu masalah ini.”Jovita membujuk, “Tenang saja. Selain karyawan perusahaan, acara ulang tahun perusahaan hanya dihadiri oleh pebisnis saja, tidak mungkin akan tersebar sampai ke telinga Tuan Aska.”Hallie kembali mengingatkan, “Saat perkenalkan aku, jangan ungkapkan aku itu berasal dari Keluarga Angsara. Kalau sampai masalah ini tersebar ke telinga Kakek, aku pasti akan celaka!”Jovita segera menyetujuinya. “Tidak masalah. Sementara ini, aku tidak akan mengungkapkan identitasmu. Saat ditanya orang lain, aku juga tidak akan mengatakannya.”Hallie berpikir sejenak, lalu mengiakannya. “Kalau begitu, se
Saat mendengar ucapan Ingga, Arvan kepikiran kondisi semalam dan dia juga merasa sangat khawatir. Setelah memutuskan panggilan, dia segera menghubungi Theresia.Setelah Theresia mengirim pesan kepada Ingga, dia kembali tidur. Suara dering ponsel mengacaukan pemikirannya. Dia mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya, lalu mengangkatnya. “Tuan Arvan?”Arvan tertegun sejenak. Dia merasa sedikit canggung. “Maaf, sudah mengganggumu di pagi hari!”Theresia merasa mengantuk. Dia membalas dengan mata disipitkan. “Nggak apa-apa. Ada urusan apa?”Arvan bertanya dengan nada mengetes, “Nona Theresia, apa kamu baik-baik saja?”Theresia mengerti maksud Arvan. Nada bicaranya terdengar datar. “Nggak kenapa-napa. Kamu nggak usah khawatir!”“Baguslah kalau begitu!” Arvan merasa agak lega. “Kalau begitu, aku akhiri panggilan dulu.”“Sampai jumpa.”Theresia meletakkan ponselnya. Lengan yang merangkul pinggang Theresia semakin erat lagi. Dia memasukkan Theresia ke dalam pelukannya, lalu menempel era
Theresia terbengong. Dalam seketika, dia pun merespons, lalu berkata dengan nada datar, “Aku beri tahu Ibu, aku akan pulang malam ini.”Morgan mengeluarkan ponselnya. “Aku telepon Bibi Julia.”Mata indah Theresia sedikit terbuka. Dia segera berkata, “Sebenarnya saat meninggalkan Nine Street Mansion, aku sudah kirim pesan kepada Ibu. Sekarang sudah terlalu malam, aku tinggal satu malam di Apartemen Tribeca.”Morgan melirik Theresia sekilas. Setelah itu, dia memalingkan kepalanya memandang malam di luar mobil. Jelas sekali terlihat rasa menyindir di dalam tatapannya.Daun telinga Theresia seketika memerah. Dia diam-diam merasa kesal. Jika ingin membahas soal keteguhan hati, Theresia kalah telak daripada seseorang!Pintu vila dilengkapi teknologi pemindaian inframerah. Begitu mobil Morgan mendekat, pintu itu otomatis terbuka. Mobil Maybach hitam masuk ke halaman vila. Lampu-lampu taman pun menyala dalam seketika, seperti cahaya bulan yang hangat, tersembunyi samar di antara bayangan pepoh
Sopir hotel mengendarai mobil mereka ke depan. Arvan menyapa Theresia, “Nona Theresia, kamu naik mobilku saja. Aku bawa kamu pulang dulu.”Morgan bersuara dengan datar, “Tidak usah. Kami searah. Biar aku saja yang mengantarnya!”Arvan malah merasa agak khawatir. Dia menghalangi Theresia di belakang tubuhnya, bersikap seperti sedang melindungi Theresia. “Mana mungkin aku merepotkan Tuan Morgan untuk mengantarnya. Aku yang membawa Nona Theresia kemari. Biarkan aku saja yang mengantarnya pulang!”Baru saja kenal, malah ingin mengantarnya pulang. Meskipun Theresia bersedia, Arvan merasa dirinya juga bertanggung jawab untuk melindungi Theresia.Sementara itu, Theresia malah berjalan keluar dari belakang. Sepertinya dia tidak sedikit pun ragu untuk berjalan ke sisi Morgan. Dia memalingkan kepalanya untuk berkata pada Arvan, “Aku nggak minum. Aku bisa nyetir untuk antar Tuan Morgan pulang. Semuanya harap tenang!”Arvan tidak berhenti memberi isyarat mata kepada Theresia. Hanya saja, dia melih
Morgan melirik sekilas, lalu membalas dengan nada datar, “Tuan Kelvin tidak usah sungkan. Lebih baik kamu simpan sendiri saja!”“Barang sebagus ini barulah bernilai kalau diberikan kepada orang yang paham seperti kakekmu. Aku juga tulus untuk memberikannya kepadamu.” Ekspresi Kelvin kelihatan tulus.Morgan tersenyum tipis. “Justru karena barang bagus, lebih baik Kelvin menyimpannya saja. Kalau bejana perunggu ini sampai ke tangan kakekku, dia hanya akan menjadikannya sebagai wadah untuk menaruh pakan ikan atau wadah untuk memelihara bunga teratai saja.”Kelvin terdiam. Sepertinya dia masih kurang memahami Keluarga Bina.Setelah Charlie melihat situasi ini, dia segera berkata dengan tersenyum, “Lebih baik Tuan Kelvin menyimpannya saja. Waktu kita masih panjang. Kamu masih ada waktu untuk mencari barang kesukaan Tuan Jemmy.”“Iya!” Kelvin tersenyum. Dia menyerahkan bejana perunggu kepada asistennya, lalu membawanya pergi.Arvan sedang menyaksikan lelucon dari sebelah. Dia pun berkata pad
Jessica menggeleng. “Bukan aku!”Pagi hari tadi ada yang mengirim paket kepada Jessica. Isi dari paket itu adalah berbagai foto dari Brian dan juga Liana. Selain itu, terlampir juga alamat tempat tinggal Liana. Itulah sebabnya Jessica bisa langsung mencari anggotanya untuk menyerbu ke sana.Anehnya, b
“Selama kita bersama, aku merasa kamu adalah wanita yang sangat baik. Dulu aku datang ke rumah sakit hanya untuk bekerja saja. Tapi sejak bertemu dengan kamu, aku sungguh menantikan setiap hari ke rumah sakit.” Derrick menatap Kelly dengan tulus. “Aku sudah memahami kondisimu. Mungkin kamu tidak pah
“Masalah kamu sama Thalia nggak ada hubungannya sama aku!” Sonia memotong pembicaraan Reza dengan tenang. “Aku pernah bilang sebelumnya, kita sudah putus. Sejak kita putus, aku nggak cinta lagi sama kamu!”Reza sungguh kaget dan hatinya terasa sangat sakit. Rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhnya
Sonia tidak berbicara lagi. Dia mengambil ponselnya, lalu berjalan kembali ke ruang bacanya.Reza membawa dua mangkuk ke dapur, lalu memasukkannya ke dalam mesin pencuci piring. Setelah itu, dia membersihkan dapur.Setelah mangkuk selesai dicuci, Reza menyusunnya ke rak. Dia duduk sejenak di ruang tam







