LOGINKiara tidak perlu membuktikan seperti apa hubungan dirinya dengan Jason. Selama dia dan Jason muncul bersama, wibawa Jason di Kota Jembara sudah cukup untuk membuat abang keduanya merasa segan. Jika dia ingin menindas Kiara, dia pasti akan berpikir dua kali.Jason menatapnya dengan mata yang elegan dan datar. “Boleh. Tapi mungkin aku tidak punya banyak waktu untuk menjagamu.”“Tuan Jason nggak perlu menjagaku secara khusus. Cukup biarkan abangku melihat aku muncul bersama kamu saja!”Jason mengangguk dengan datar, lalu melanjutkan langkahnya ke depan. Kiara pun segera mengikutinya.…Kelly menuruni mobil. Tadinya dia ingin menghubungi Jason, tetapi dalam sekilas mata, dia dapat melihat bayangan tubuh pria tampan di bawah cahaya berkilauan. Dalam sekilas mata juga, dia dapat melihat wanita di sisinya.Kelly berdiri di tempat. Setelah ragu beberapa saat, dia baru ikut berjalan ke dalam. Kelly melihat papan instruksi dari lobi, lalu naik ke lantai 11, kemudian memasuki aula.Aula sangat l
Sebelumnya, Laura lembur untuk menemani Kelly. Hari ini, Kelly juga sudah berjanji untuk membantu Laura.Saat Jason mendengar Kelly akan lembur lagi, dia kelihatan sangat kecewa, tetapi dia tidak berkata lain. “Setelah acara jamuan selesai, aku akan pergi menjemputmu.”“Maaf, Kak Jason,” kata Kelly dengan suara ringan.“Ngapain ngomong maaf sama aku? Kamu pergi sibuk sana.” Terdengar rasa toleransi dan kasih sayang di dalam suara Jason.“Emm,” balas Kelly.Di Gunawan Group.Jason memutuskan panggilan. Dia menatap ponsel dengan kening sedikit berkerut.Kelly sangat sibuk. Waktu interaksi mereka berdua juga semakin sedikit, membuat dia tidak merasa mereka berdua sedang berpacaran.Biasanya sang pria yang sibuk, sang wanita akan selalu takut kehilangan. Namun, kondisi malah berbalik dalam hubungan mereka.Jason pun tersenyum menyindir. Ternyata hari seperti ini akan terjadi pada dirinya!Setelah memutuskan panggilan, Kelly menggigit bibirnya sejenak sembari berpikir. Pada akhirnya, dia me
Kenneth mengenakan kemeja berwarna biru keabuan. Kancing manset safir berwarna biru di ujung lengan bajunya memancarkan kilau lembut dan hangat di bawah sinar matahari, sangat selaras dengan auranya.Kenneth memandang ke depan, lalu berkata dengan nada suara tenang, “Kamu terlalu sibuk. Kami tidak pernah berhasil mengundangmu dalam beberapa kali reuni dengan teman sekolah. Sekarang semua orang bahkan sudah tidak berani meneleponmu lagi, takut mengganggumu.”Kelly berkata dengan bersalah, “Belakangan ini memang agak sibuk. Lain hari, aku akan traktiran.”Kenneth tersenyum. “Tidak masalah. Semuanya juga paham. Jangan masukin ke hati.”Kenneth melirik Kelly sekilas, lalu melanjutkan, “Ketika di Kowloon waktu itu, kamu bekerja tiga tempat karena kamu sendirian di luar negeri, kamu butuh mencari uang untuk menghidupi Yana. Sekarang, kondisimu juga stabil, kenapa kamu masih sesibuk ini? Kamu itu seorang perempuan. Masa muda baru berapa tahun saja. Jangan bekerja sekeras itu.”Kelly memalingk
Christie menuangkan kopi untuk Kelly. “Kamu begitu berbakat. Apa kamu nggak kepikiran untuk buka studio sendiri?”Kelly berterus terang. “Sebelumnya memang kepikiran, tapi aku selalu merasa ada banyak kekurangan di diriku, terutama dalam beberapa waktu ini. Aku bertemu dengan banyak orang dan menghadapi banyak masalah, perasaan seperti itu semakin terasa lagi. Lagi pula, sekarang aku juga nggak punya uang sebanyak itu.”Raut wajah Christie kelihatan lembut. “Saat aku baru pulang dari luar negeri, aku sangat nggak terbiasa dengan lingkungan pekerjaan di dalam negeri. Aku pernah merasa bingung dalam satu waktu. Terakhir, aku mengandalkan hobiku untuk membuka kafe ini. Tapi, setelah aku menenangkan diriku sekarang, aku merasa aku lagi buang-buang waktu. Aku sudah belajar selama bertahun-tahun, aku malah nggak mengaplikasikannya. Aku benar-benar merasa sayang sekali.”Kelly mencicipi camilan sembari mendengar omongannya dengan tenang.Christie mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, kemud
Pagi harinya, Kelly mengikuti Edwin pergi melihat gedung. Dia belajar bisnis dari Edwin. Setelah pulang, dia pun lembur untuk menulis laporan. Malam harinya, dia pun menyusun kembali apa yang dipelajarinya di pagi hari. Kemudian kembali membuat lukisan desain Kempinski.Jason yang diabaikan itu merasa sedikit kesal, bahkan merasa agak depresi. Saat tengah malam, seringkali dia berdiri di depan ruang baca sembari menatap Kelly dengan kesal. “Sayang, bekerja keras dan bekerja tanpa memikirkan nyawa itu dua hal yang berbeda!”Kelly mengangkat kepalanya. Ketika melihat Jason sedang bersandar di kusen pintu, wajah tampannya memang kelihatan agak suram, tetapi tatapannya yang tajam tersimpan rasa sakit dan tidak berdaya.Kelly tersenyum. “Aku masih ada sedikit ide. Aku ingin segera melukisnya. Kalau nggak, bisa jadi aku akan melupakannya besok. Kamu tidur dulu.”Jason menghela napas. “Kita sudah tiga hari tidak bermesraan.”Cahaya lampu memancarkan lapisan sinar lembut yang bergradasi di waj
“Apa kamu masih bersama dengan Tuan Jason?”“Iya!”“Tidak peduli siapa kekasihmu, kita juga tergolong teman lama. Kalau ada apa-apa, kamu bisa cari aku setiap saat.”“Oke!” Kelly tersenyum. “Kamu pergi sibuk dulu. Aku juga mau ke sana.”Kenneth tersenyum. “Oke, pergilah!”Kelly sedikit mengangguk, lalu membalikkan tubuhnya untuk berjalan ke dalam ruang VIP.Kenneth berdiri di tempat sembari menunjukkan ekspresi merenung sesuatu. Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan ponsel untuk menelepon. “Willie, ini aku Kenneth.”Sebelumnya saat mencari orang untuk mendesain gedung, ada yang merekomendasikan Willie kepada Kenneth. Mereka berdua pernah bertemu beberapa kali. Hubungan mereka juga tergolong bagus.Willie berkata dengan tersenyum, “Tuan Kenneth!”Kenneth berbasa-basi dengan Willie duluan, baru bertanya, “Gimana kabar Kelly di perusahaan pada belakangan waktu ini?”Willie sedang bekerja. Dia mengamati sekeliling, lalu berdiri pergi mencari tempat yang agak terpencil, baru berkata, “Tu
Gavin juga merasa syok ketika melihat sikap hormat Patrick. “Pak Patrick, kamu ….”Patrick memelototi Gavin, lalu berkata, “Apa kamu buta? Apa kamu tidak kenal dengan presdir grup kita!”“Presdir?” Gavin terbengong melongo.Wakil kepala cabang mengenali Reza. Dia berkata dengan sungkan, “Pak Reza, kena
Reza mengenakan pakaian formal itu kelihatan sangat berwibawa. Dia memalingkan kepalanya melihat ke sisi reporter, lalu berkata dengan datar, “Aku tidak pernah mengakui Thalia sebagai kekasihku. Masalah pertunangan itu juga tidak benar. Kami tidak pernah bersama! Aku harap kalian tidak menyebar gosi
Setelah Jolin berjalan pergi, raut wajah Tiffany baru berubah datar. Dia mengangkat kakinya, lalu berjalan ke toilet.Bondan meraih pergelangan tangannya. Sepertinya dia merasa lucu. “Aku ingin tahu apa benar kamu meminjamkan uang kepadanya?”“Meminjamkan uang?” Tiffany tersenyum dingin. “Aku lebih pe
Apalagi dalam wawancara sebelumnya, Thalia pernah mengisyaratkan bahwa Sonia telah melakukan operasi plastik supaya bisa menyerupai wajahnya. Ketika menonton kembali video wawancara itu, semua orang memaki Thalia sebagai wanita murahan!Semua orang mulai menyerang kolom komentar Thalia. Jelas-jelas d







