MasukHallie berjalan ke hadapan Aska duluan. Dia membungkukkan tubuhnya, lalu menunduk tidak berani melihat mata Aska. Dia meminta maaf dengan terisak-isak, “Kakek Aska, aku bersalah padamu!”Wajah Hallie masih terlihat pucat. Dia yang masih sakit itu merasa putus asa dan lemas. “Sejak kecil, nggak ada orang yang menyayangiku dengan tulus. Setelah bertemu dengan Kakek Aska, aku baru tahu apa yang dinamakan keluarga. Kamu memperlakukanku dengan begitu baik, tapi aku malah mengecewakanmu.”“Aku sama sekali nggak berani pulang untuk bertemu sama kamu. Tapi kalau aku pergi begitu saja, hati nuraniku akan terasa nggak tenang. Nggak peduli kamu memaafkanku atau nggak, aku tetap ingin datang kemari untuk minta maaf sama kamu. Aku akan selalu mengingat kebaikanmu kepadaku untuk selamanya.”Aska teringat dengan pertama kali dirinya bertemu dengan Hallie. Dia begitu ceria dan imut, membuatnya menaruh kerinduannya terhadap Jeje di diri Hallie.Meskipun telah menemukan Jeje, Aska mengira Hallie juga bi
Tatapan Morgan kelihatan mendalam. Dia berkata dengan serius, “Lintas generasi. Bukannya suruh kamu panggil aku ‘Kak Morgan’!”Theresia menggigit bibir merahnya. Dia spontan menyandarkan dagunya di atas pundak Morgan, lalu berbisik di samping telinga si pria, “Saat acara hari itu, Kakek suruh aku panggil kamu ‘Kakak’, aku benar-benar merasa canggung. Di benakku terus terbayang gambaran yang memalukan.” Theresia mengangkat alisnya dan berkata dengan suara manja, “Gimana sama kamu?”Morgan meliriknya sekilas. Ekspresinya terlihat stabil dan santai. “Sama!”Theresia bersandar di atas pundak Morgan dan tidak berhenti tersenyum.Beberapa saat kemudian, Theresia mengangkat kepalanya dan tidak tersenyum lagi. Dia menatap wajah samping tegas sang pria, kemudian berbicara dengan nada ringan, “Aku sudah mau pergi. Gimana kalau kita hargai waktu?”Morgan memiringkan sedikit kepalanya menatap mata yang kelihatan lembut dan menggoda di bawah sinar rembulan. Suaranya terdengar rendah dan berat, “The
Sebenarnya Sonia bisa memahami Hallie. Mereka sama-sama adalah anak yang kehilangan orang tua kandung mereka ketika masih kecil. Satu-satunya perbedaan adalah Hallie terus dibesarkan oleh orang tua asuhnya. Dia dimaki dan dihina sejak kecil. Jadi, Hallie merasa tidak percaya diri dan merasa hidupnya sangat terancam.Hanya saja, Sonia benar-benar percaya bahwa Hallie baik hati. Dia pergi mencari Regan, juga bukan karena Regan adalah satu-satunya sandaran Hallie, melainkan mereka pernah saling menolong satu sama lain ketika di Hondura. Itu semua juga karena Hallie memiliki hati yang baik.Sonia menggenggam tangan dingin Hallie. “Theresia akan memaafkanmu. Pak Guru juga akan memaafkanmu. Kali ini, anggap saja kamu sudah terlahir kembali. Segera pulihkan dirimu.”Hallie hanya tidak berhenti menangis dan berkata, “Sonia, maaf. Aku benar-benar bersalah sama kamu!”…Setelah Hallie yang lemas itu kembali tertidur, Sonia baru berjalan keluar kamar pasien. Dia berkata pada pria yang menunggunya
Orang yang menabrak Hallie tidak berniat merenggut nyawanya, jadi luka yang diderita Hallie tidak tergolong parah. Tentu saja, anaknya sudah tiada.Sekarang sudah larut malam. Reza dan Sonia sama-sama ke rumah sakit. Reza menunggu di luar, sedangkan Sonia pergi menjenguk Hallie.Saat Hallie siuman, dia kedengaran percakapan suster dengan Sonia.“Sebelum pasien masuk ke ruangan UGD, dia suruh kami untuk mencari Roger Manthana. Kami sudah mencari nama orang itu di dalam ponselnya, tetapi dia tidak bersedia ke rumah sakit. Katanya, dia tidak punya hubungan dengan pasien.”“Kami duluan melakukan penyelamatan kepada pasien. Seandainya kamu itu keluarganya pasien, mohon urus prosedur rawat inapnya.”Sonia mengangguk. “Aku sudah mengerti. Aku akan urus nanti.”“Oke!” Selesai berbicara, suster pun membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar.Sonia membalikkan tubuhnya. Ketika melihat Hallie sudah siuman, dia pun menatap Sonia dengan terbengong.“So … Sonia,” ucap Hallie dengan lemas.Sonia berjal
Hallie mendorong tangan Jovita. Tatapannya kelihatan muram. “Aku tahu aku nggak akan menikah dengan Roger. Aku akan lahirkan anak ini dan membesarkannya, tapi aku juga nggak akan kembalikan barang dan uang itu, anggap saja sebagai biaya hidup anak ini.”Jovita sungguh kesal. “Apa kamu pantas untuk mengandung anak Keluarga Manthana?”Hallie membalas tatapan Jovita dengan mata memerah. “Aku memang nggak pantas, tapi semua ini juga diatur sama kamu sendiri, semua ini akibat dari perbuatanmu! Kamu yang mendekatiku duluan waktu itu. Nyonya Jovita juga punya rencanamu sendiri, ‘kan? Kita semua punya tujuan masing-masing, semuanya juga bukannya nggak bersalah!”Jovita menggertakkan giginya. “Kalau bukan karena kamu melakukan provokasi, Theresia juga nggak akan putus sama Roger!”Hallie tersenyum sinis. “Jelas-jelas kamu sendiri yang memandang rendah latar keluarga Theresia. Jangan lempar semua tanggung jawab ke diriku! Selain itu, apa kamu benar-benar mengira Theresia akan suka dengan Roger?
Wajah indah Theresia seketika terlihat dingin. “Kita sudah pernah ketemu sebelumnya, jadi nggak usah perkenalkan diri lagi. Apa Nyonya Jovita ada urusan?”Kening Jovita segera berkerut. Dia menunjukkan ekspresi penuh penyesalan. “Theresia, aku sangat menyukaimu. Semua ini gara-gara Hallie ingin menggaet Roger. Gara-gara provokasinya, barulah terjadi salah paham di antara kita. Semua ini salah Bibi. Bibi sudah ceroboh. Kamu mesti maafin Bibi!”Theresia berkata dengan nada datar, “Orang yang ingin dikenal Nyonya Jovita itu memang ‘putrinya Keluarga Angsara’, nggak ada salah paham sama sekali!”Raut wajah Jovita menjadi pucat. Dia sungguh merasa canggung. “Iya, semua ini salah Bibi terlalu ceroboh, tapi Roger tidak bersalah. Dia selalu membelamu. Kalian jangan sampai putus hanya karena jebakan orang lain. Bibi minta maaf sama kamu. Kamu juga maafin Roger, ya.”“Masalah aku dan Tuan Roger sudah dibicarakan dengan jelas. Kalau ada yang tidak dimengerti dengan Nyonya Jovita, kamu bisa tanyak
Sonia menoleh, lalu tampak ada dua orang wanita sedang berdiri di belakangnya. Salah satunya adalah teman sekelas Sonia, Vero, dan satunya lagi adalah Melia.Sudah lama Sonia tidak bertemu dengan Melia. Setahu Sonia, setelah Melia tamat kuliah, dia pun bekerja di perusahaan ayahnya. Sekarang penampil
Yandi mengambil bangku dan berjemur di depan pintu. Kumis dan janggutnya sudah lumayan panjang, membuatnya terlihat kuat. Ketika orang lain melihatnya, mereka akan dengan cepat mempercepat langkah mereka. Tidak ada yang datang untuk makan.Mereka serius untuk membuka restoran, hanya Yandi yang mengan
Stella berdiri diam di tempat. Silvia berbalik badan dan tersenyum. “Bu Ranty, apa ada yang lain?”Ranty datang menghampiri mereka. Sikapnya yang tadinya dingin berubah. Dia tersenyum kecil dan berkata, “Kalian bilang kalian dari Arkava Studio?”Silvia langsung berkata, “Iya!”“Ternyata diundang oleh t
Jason menyerahkan apel yang sudah dikupasnya tadi kepada Kelly. “Ayo dimakan apelnya!”Ini adalah pertama kalinya Jason mengupas apel. Penampilan apel itu pun terlihat sangat lucu. Kelly yang melihat langsung tertawa.“Kenapa?” Selesai telepon, Bondan pun kembali ke sisi ranjang. Dia bertanya, “Kak Ja







