LOGINRima tidak tahu kalau dia diikuti oleh Niko.
Pada saat dia memeriksakan diri di klinik umum, dokter yang menanganinya menyarankan Rima pergi ke dokter kandungan untuk memastikan lagi kondisinya. Rima sudah dites dan hasilnya positif hamil. Dia mendapatkan resep beberapa vitamin dan obat untuk mengatasi rasa mualnya. Setelah melakukan pemeriksaan Rima duduk kembali di kursi tunggu untuk mengantre obat. Dia melamun dan hampir tidak percaya dengan yang terjadi. Ditambah lagi selama satu minggu belakangan, Helen sering sekali berkunjung ke kediaman Arman. Sopia juga berkata bahwa Arman tidak lama lagi akan segera menceraikannya. Kenapa harus hamil di saat situasi seperti ini? Sudah dua tahun aku dan Arman tidak pernah melakukan hubungan suami-istri, jadi anak di dalam rahimku ini kemungkinan besar adalah anak... Niko? Rima menggigit bibirnya, dia meremas kepalanya dengan gelisah. Di tempat duduk ruang tunggu paling belakang, Niko mengenakan masker dan topi. Dia bisa melihat Rima tidak duduk dengan tenang. Bahkan setelah menerima obat, Rima sepertinya tampak tidak senang dengan hasil pemeriksaan. Niko ikut gelisah, dia hanya bisa mengikutinya sampai Rima keluar dari dalam klinik karena kehilangan jejak. Banyak pertanyaan muncul di dalam benaknya. “Bagaimana hasilnya? Apakah Rima sudah diperiksa? Dari poli umum dia pergi ke poli kandungan? Dia hamil? Kenapa ekspresinya tidak terlihat senang sedikit pun?” Niko berniat kembali tapi dalam perjalanannya dia melihat Rima sedang duduk di kursi luar sebuah kafe. Kesempatan ini tidak ingin disia-siakannya, Niko segera menepikan mobilnya lalu turun untuk menyapa. “Rima.” Rima sedang menggenggam cangkir teh hampir menumpahkannya karena terkejut. Melihat Niko datang, Rima buru-buru memasukkan hasil rekam medisnya ke dalam tas. Seperti takut ketahuan olehnya. Niko menarik kursi lalu duduk di seberang meja. Dia heran dengan sikap Rima sekarang. Menurutnya lebih aneh dari sebelumnya. “Apa yang kamu sembunyikan? Apa aku tidak boleh tahu?” kelakar Niko. “Kamu membuatku penasaran. Atau jangan-jangan kamu suka melihatku penasaran denganmu?” “Niko jangan bercanda, ini tidak lucu!” ketusnya. “Ke-kenapa kamu ke sini?” tanyanya dengan nada tidak senang. “Bukankah ini tempat umum?” jawabnya santai. Niko melambaikan tangan pada pelayan. Dia memesan secangkir kopi latte. “Kamu bisa duduk di kursi lain, apa kamu lupa siapa dirimu? Jika ada wartawan atau orang mengenalmu melihatku duduk bersamamu mereka bisa salah paham. Aku tidak mau wajahku dimuat dalam surat kabar!” Rima mencoba mengingatkan. Niko tertawa, dia memasukkan satu tangannya ke dalam saku bajunya. Duduk bersandar dengan santai sambil menikmati kopi latte dalam cangkir. “Oh? Benarkah? Jadi karena alasan itu kamu menghindariku? Jika itu terjadi tenang saja, aku bisa mengatasinya. Kamu tidak perlu cemas.” Rima menelan ludah, dia menghirup teh hangat pesanannya dengan tangan sedikit gemetar. “Bukan hanya itu, karena statusku adalah istri orang lain. Berhenti menyulitkanku, tolong.” Rima berkata dengan suara sedikit tertekan. “Aku sudah bilang apa yang kamu khawatirkan sama sekali tidak akan terjadi.” Rima tidak percaya, dia langsung berdiri dari kursinya pergi dengan terburu-buru. “Aku benar-benar sudah putus,” Niko bicara dengan setengah berteriak. Langkah Rima terhenti sejenak lalu menoleh. “Hubunganmu dengan pacarmu sama sekali bukan urusanku.” “Tunggu,” Niko mengejar dengan setengah berlari. Dia menggenggam pergelangan tangannya agar Rima tidak pergi. Sebelumnya Niko melihat kue di meja masih utuh, Rima sama sekali belum makan apa pun sejak turun dari pesawat. Dan kondisinya saat ini sedang kurang sehat, mungkin karena hamil. “Apa lagi?” Rima menarik lepas tangannya. “Kamu belum makan, duduklah dengan tenang dan makan dulu.” “Kalau kamu tidak datang, kalau kamu tidak terus menggangguku pasti aku sudah makan sejak tadi. Niko, apa kamu masih belum sadar juga? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa salahku padamu?” Rima menatapnya dengan perasaan campur aduk, dia ingin marah karena rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk menuju perceraian, dia merasa kecewa dengan Arman tentang perselingkuhannya dua tahun lalu. “Salahmu? Kamu sudah membuangku tanpa perasaan...” jawabnya lirih. “Niko apa kamu waras? Aku Rima, aku bukan Siska pacarmu. Apa kamu mabuk lagi, hah?” Rima berjinjit mengendus bajunya, lehernya, jarak bibir Rima terlalu dekat sampai membuat Niko terkejut sekaligus berdebar-debar bahagia. “Merepotkan sekali,” gumam Rima sambil terus mengendus leher dan bibir Niko. Pikir Rima mungkin saja Niko minum alkohol. “Ti-tidak ada alkohol?” Rima mengernyitkan keningnya. Dia menelan ludahnya lalu menjauh beberapa langkah. Niko langsung maju mendekat. Di luar dugaannya, tiba-tiba Niko berlutut di depannya. “Niko! Apa-apaan kamu? Apa kamu sudah gila, hah?” “Sebelum kamu mau memaafkanku, sebelum kamu mengatakan kamu bersedia dan tidak menolak bicara denganku, aku tidak akan pernah berdiri!” Niko berlutut sambil terus memegangi tangan Rima. Semua orang melihatnya, Rima mulai panik. “Rima, aku bahkan bisa melakukan hal yang lebih gila dari ini? Apa kamu ingin melihatnya?” tawarnya seraya mengedipkan sebelah matanya. Niko! Pria ini, dia sengaja mengacaukan keadaan! “Kamu sungguh ingin tahu?” lanjut Niko. Rima mengepalkan tangannya. Sebelum Niko bergerak untuk melakukan tindakan yang lebih memancing perhatian orang, Rima segera menariknya berdiri. Niko mengukir senyum senang. “Aku tahu kamu akan memaafkanku,” bisiknya. Kemudian pada detik berikutnya dia berpura-pura pingsan dan jatuh memeluknya. Rima membeku selama beberapa saat. Di tempat umum dia dipeluk oleh seorang artis terkenal. Rima tidak pernah bermimpi untuk melibatkan diri dengannya atau menginginkan dirinya berada di situasi seperti ini. Apa ini hukum karma? Kenapa? Bukankah Arman yang harus dihukum karena telah berselingkuh di belakangku? Kenapa aku juga harus melakukan hal yang aku benci? Rima menyeret Niko ke dalam mobil, dia dibantu beberapa orang yang kebetulan melihatnya kesulitan. Rima terpaksa mengakui Niko sebagai adik sepupunya. Ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil, tanpa bertanya ke mana tujuan mereka pergi, Rima sengaja membawa mobil tersebut menuju ke tempat yang sepi dan jauh dari keramaian. Setelah mobil berhenti, Niko membuka matanya sedikit lalu bangun dan pindah ke kursi depan. Rima duduk di kursi kemudi sambil melipat kedua tangannya, menatap pemandangan waduk buatan di depan sana. Niko sangat senang, dia sendiri tidak tahu alasannya. Entah kenapa setiap melihat Rima, dan berada di dekatnya dia merasa aman, nyaman. Niko seperti menemukan kedamaian yang tidak pernah dia rasakan seumur hidupnya. Niko merasa telah menemukan seseorang yang bisa menerimanya dalam kondisi terluka, dilema, dan bahagia. Dia merasa cocok dengannya tanpa alasan tanpa bisa dijelaskan. “Rima.” “Sudah selesai bersandiwara?” tanyanya seraya menoleh menatapnya. Wajah Niko berada tepat di depan wajahnya beberapa inci dan Rima hampir saja menciumnya. Bukan Rima tapi Niko mendekat lebih dekat lagi dan menciumnya. Setelah menciumnya Niko tersenyum. Lagi-lagi dia membeku dalam situasi yang tidak jelas. Dia terkadang menyalahkan dirinya sendiri dan berpikir dia sudah terlalu lunak pada Niko sehingga membuat Niko tidak tahu batasan. Secara tidak sadar Rima tiba-tiba menampar pipinya.Di lokasi syuting.Sejak pertemuannya dengan Rima hari itu, Niko sama sekali tidak bisa tenang sehari pun. Dia terus teringat dan selalu memikirkannya. Jadwal syutingnya masih belum selesai. Sudah hampir satu bulan lamanya dia tinggal di luar negeri. Niko sedang duduk bersantai pada jam istirahat. Lalu tidak lama kemudian dia mendengar suara beberapa orang sibuk di sekitar. Tidak jauh dari tempat duduknya. Ketika mengangkat kepalanya dia melihat Elguen datang ke lokasi. “Direktur perusahaan datang ke lokasi? Apa yang ingin dia lakukan?” gumam Niko dengan ekspresi cueknya. Niko mengambil botol air minum, ketika ingin meneguknya Elguen merebut, langsung meminumnya.Niko menatapnya. “Apa kamu sangat senggang? Untuk apa datang ke lokasi?”“Sangat jarang kamu datang ke luar negeri, kapan kamu akan berkunjung. Mampirlah sewaktu-waktu,” tawarnya lalu mengenyakkan tubuhnya di samping Niko.“Untuk apa? Kamu mau pamer pacar lagi padaku?” gurau Niko. Dia teringat kejadian di Los Angeles waktu
Ketika Rima tidak berada di rumah, Arumi dan Yosep selalu mencuri waktu untuk menemui kedua cucu kembarnya. Mereka sangat senang melihat perkembangannya. Hanya pada saat Rima pergi barulah mereka bisa pergi menemui mereka. Arumi dan Yosep meminta bantuan beberapa orang untuk mencari tahu jadwal penerbangan Rima, jadi sebelum Rima kembali ke rumah mereka sudah bersiap-siap pergi. Setelah perjalanan panjang, Rima ingin segera kembali menemui bayinya. Ketika turun dari taksi, dia melihat Yosep dan Arumi masuk ke dalam mobil yang diparkir di lantai bawah apartemen. Rima tertegun sejenak menatap mereka, Rima kembali menatap ke arah gedung.“Apa jangan-jangan mereka sudah tahu kalau kedua bayiku sebenarnya anak Niko? Ti-tidak mungkin! Ya, mustahil mereka mengetahuinya. Lagi pula sejak awal tidak ada yang tahu tentang masalah ini. Apartemen ini sangat luas, dan di dalam gedung bertingkat ini bukan hanya ada rumahku, tapi banyak rumah orang lain juga. Mungkin saja mereka bertemu dengan ora
Dia sudah sangat senang dan berpikir doanya selama ini telah terkabul. Satu tahun baginya adalah waktu yang sangat panjang untuk menantikan pertemuan mereka kembali. Niko menoleh ke samping, berharap apa yang dia pikirkan tidak keliru.Namun, setelah melihatnya dengan sungguh-sungguh. Wanita itu sama sekali bukan Rima. Hanya parfumnya saja yang sedikit mirip, sama-sama memiliki aroma manis.Niko mencoba duduk dengan tenang, dia menarik napas panjang sambil menyandarkan kepalanya. Dia tidak ingin berharap lagi karena terus merasa kecewa. Niko memejamkan matanya, dia tertidur. Sangat nyenyak dan terlalu lelap, sampai tidak menyadari seseorang yang dia cari benar-benar melewatinya barusan. Tepat di sampingnya.***Ketika turun dari pesawat, Nani sudah menunggu di bandara. Dia menerima koper Niko dan membawakannya menuju ke mobil.Niko masih berdiri sambil menggenggam ponselnya, dia mencoba menelepon Erik.“Kita langsung ke lokasi?” tanyanya pada Niko.“Ya,” jawabnya seraya bergegas menda
Niko sakit, jadwal syuting terpaksa harus ditunda. Patah hati kali ini terasa lebih menyakitkan dibandingkan sebelumnya. Sejak dibawa kembali dari rumah Rima waktu itu kondisinya tidak kunjung membaik. Tubuhnya juga semakin kurus hari demi hari.Yosep dan Arumi terlihat panik karena kondisi Niko yang tak kunjung membaik. Dokter bilang reaksi tersebut karena batin Niko sangat tertekan.“Apa yang harus kita lakukan? Apakah ada jalan keluar untuk mengatasi masalah ini? Sebelumnya dia juga putus dari Siska tapi dia tidak pernah seperti ini.” Yosep menarik napas panjang, dia tahu masalah ini hanya bisa selesai ketika pengawalnya berhasil menemukan keberadaan Rima dan membawanya ke hadapan putranya.Sudah satu minggu Rima pergi, semua orang tidak mengetahui di mana keberadaannya. Bahkan bawahan Yosep ditugaskan untuk menyelidiki masalah ini lebih lanjut. Pihak kantor juga hanya mendapatkan pemberitahuan bahwa Rima izin cuti terkait kondisi kehamilannya. Rima tidak mengatakan ke mana dia
Rima menatap kedua mata Elguen, dia merasa pria itu tidak sedang bercanda dengan kata-katanya barusan. Rima menjawabnya dengan sedikit canggung.“Kamu tidak perlu cemas padaku. Aku baik-baik saja.”Elguen berjalan mendesaknya sampai Rima bersandar di dinding.“Lalu kenapa kamu tidak membalas pesanku? Apa aku salah? Aku terus bertanya-tanya sebenarnya sisi manaku yang buruk menurutmu? Katakan aku harus bagaimana?”Rima menelan ludahnya sendiri, posisi ini membuatnya takut dan cemas. Elguen mengurungnya dengan kedua lengannya. Lalu membungkuk dan wajah pria itu tepat berada di depan wajahnya. Dia menatapnya lekat-lekat seperti menuntut sesuatu yang sangat berharga melebihi harga satu milyar. Bibir tipis Rima bergetar, Rima hampir tidak bisa berdiri tegak karena posisinya yang rumit, dia terpaksa meraih kemeja Elguen untuk menjaga posisinya agar tidak jatuh ke samping. “Aku tidak membaca pesanmu, aku tidak melihat ponselku sejak kemarin.” Elguen menelan ludahnya menatap bibir ranum t
Tepat setelah itu ponsel Niko berdering nyaring. Niko segera melepaskan pelukannya dari tubuh Rima. Dia membantu Rima turun perlahan dari atas pangkuannya. Ketika miliknya ditarik, cairannya tercecer di kursi dan lantai dapur. Rima segera pergi ke kamar mandi, sementara Niko mengambil tisu untuk menyeka miliknya dan yang tercecer di bawahnya. Ketika Rima keluar dari dalam kamar mandi, Rima ingin mengambil kain pel tapi rupanya lantai sudah dibersihkan. Rima meletakkan alat pel ke tempat semula. Tidak lama setelah itu dia mendengar Niko sedang bicara dengan seseorang di seberang sana. “Iya, Pa?”“Aku? Papa tahu aku tinggal di mana?”“Aku tidak yakin apakah dia bersedia, aku akan mencoba bicara dengannya.” Niko memutuskan panggilan telepon, dia sedang memakai bajunya. Tidak lama setelah itu Rima masuk ke dalam ruangan. Rima juga mengambil bajunya dari dalam lemari.“Tadi Papa menelepon, Mama mengundangmu datang ke acara makan malam.”Rima tidak menjawab, dia mengambil baju ganti la







