로그인Di lokasi syuting.Sejak pertemuannya dengan Rima hari itu, Niko sama sekali tidak bisa tenang sehari pun. Dia terus teringat dan selalu memikirkannya. Jadwal syutingnya masih belum selesai. Sudah hampir satu bulan lamanya dia tinggal di luar negeri. Niko sedang duduk bersantai pada jam istirahat. Lalu tidak lama kemudian dia mendengar suara beberapa orang sibuk di sekitar. Tidak jauh dari tempat duduknya. Ketika mengangkat kepalanya dia melihat Elguen datang ke lokasi. “Direktur perusahaan datang ke lokasi? Apa yang ingin dia lakukan?” gumam Niko dengan ekspresi cueknya. Niko mengambil botol air minum, ketika ingin meneguknya Elguen merebut, langsung meminumnya.Niko menatapnya. “Apa kamu sangat senggang? Untuk apa datang ke lokasi?”“Sangat jarang kamu datang ke luar negeri, kapan kamu akan berkunjung. Mampirlah sewaktu-waktu,” tawarnya lalu mengenyakkan tubuhnya di samping Niko.“Untuk apa? Kamu mau pamer pacar lagi padaku?” gurau Niko. Dia teringat kejadian di Los Angeles waktu
Ketika Rima tidak berada di rumah, Arumi dan Yosep selalu mencuri waktu untuk menemui kedua cucu kembarnya. Mereka sangat senang melihat perkembangannya. Hanya pada saat Rima pergi barulah mereka bisa pergi menemui mereka. Arumi dan Yosep meminta bantuan beberapa orang untuk mencari tahu jadwal penerbangan Rima, jadi sebelum Rima kembali ke rumah mereka sudah bersiap-siap pergi. Setelah perjalanan panjang, Rima ingin segera kembali menemui bayinya. Ketika turun dari taksi, dia melihat Yosep dan Arumi masuk ke dalam mobil yang diparkir di lantai bawah apartemen. Rima tertegun sejenak menatap mereka, Rima kembali menatap ke arah gedung.“Apa jangan-jangan mereka sudah tahu kalau kedua bayiku sebenarnya anak Niko? Ti-tidak mungkin! Ya, mustahil mereka mengetahuinya. Lagi pula sejak awal tidak ada yang tahu tentang masalah ini. Apartemen ini sangat luas, dan di dalam gedung bertingkat ini bukan hanya ada rumahku, tapi banyak rumah orang lain juga. Mungkin saja mereka bertemu dengan ora
Dia sudah sangat senang dan berpikir doanya selama ini telah terkabul. Satu tahun baginya adalah waktu yang sangat panjang untuk menantikan pertemuan mereka kembali. Niko menoleh ke samping, berharap apa yang dia pikirkan tidak keliru.Namun, setelah melihatnya dengan sungguh-sungguh. Wanita itu sama sekali bukan Rima. Hanya parfumnya saja yang sedikit mirip, sama-sama memiliki aroma manis.Niko mencoba duduk dengan tenang, dia menarik napas panjang sambil menyandarkan kepalanya. Dia tidak ingin berharap lagi karena terus merasa kecewa. Niko memejamkan matanya, dia tertidur. Sangat nyenyak dan terlalu lelap, sampai tidak menyadari seseorang yang dia cari benar-benar melewatinya barusan. Tepat di sampingnya.***Ketika turun dari pesawat, Nani sudah menunggu di bandara. Dia menerima koper Niko dan membawakannya menuju ke mobil.Niko masih berdiri sambil menggenggam ponselnya, dia mencoba menelepon Erik.“Kita langsung ke lokasi?” tanyanya pada Niko.“Ya,” jawabnya seraya bergegas menda
Niko sakit, jadwal syuting terpaksa harus ditunda. Patah hati kali ini terasa lebih menyakitkan dibandingkan sebelumnya. Sejak dibawa kembali dari rumah Rima waktu itu kondisinya tidak kunjung membaik. Tubuhnya juga semakin kurus hari demi hari.Yosep dan Arumi terlihat panik karena kondisi Niko yang tak kunjung membaik. Dokter bilang reaksi tersebut karena batin Niko sangat tertekan.“Apa yang harus kita lakukan? Apakah ada jalan keluar untuk mengatasi masalah ini? Sebelumnya dia juga putus dari Siska tapi dia tidak pernah seperti ini.” Yosep menarik napas panjang, dia tahu masalah ini hanya bisa selesai ketika pengawalnya berhasil menemukan keberadaan Rima dan membawanya ke hadapan putranya.Sudah satu minggu Rima pergi, semua orang tidak mengetahui di mana keberadaannya. Bahkan bawahan Yosep ditugaskan untuk menyelidiki masalah ini lebih lanjut. Pihak kantor juga hanya mendapatkan pemberitahuan bahwa Rima izin cuti terkait kondisi kehamilannya. Rima tidak mengatakan ke mana dia
Rima menatap kedua mata Elguen, dia merasa pria itu tidak sedang bercanda dengan kata-katanya barusan. Rima menjawabnya dengan sedikit canggung.“Kamu tidak perlu cemas padaku. Aku baik-baik saja.”Elguen berjalan mendesaknya sampai Rima bersandar di dinding.“Lalu kenapa kamu tidak membalas pesanku? Apa aku salah? Aku terus bertanya-tanya sebenarnya sisi manaku yang buruk menurutmu? Katakan aku harus bagaimana?”Rima menelan ludahnya sendiri, posisi ini membuatnya takut dan cemas. Elguen mengurungnya dengan kedua lengannya. Lalu membungkuk dan wajah pria itu tepat berada di depan wajahnya. Dia menatapnya lekat-lekat seperti menuntut sesuatu yang sangat berharga melebihi harga satu milyar. Bibir tipis Rima bergetar, Rima hampir tidak bisa berdiri tegak karena posisinya yang rumit, dia terpaksa meraih kemeja Elguen untuk menjaga posisinya agar tidak jatuh ke samping. “Aku tidak membaca pesanmu, aku tidak melihat ponselku sejak kemarin.” Elguen menelan ludahnya menatap bibir ranum t
Tepat setelah itu ponsel Niko berdering nyaring. Niko segera melepaskan pelukannya dari tubuh Rima. Dia membantu Rima turun perlahan dari atas pangkuannya. Ketika miliknya ditarik, cairannya tercecer di kursi dan lantai dapur. Rima segera pergi ke kamar mandi, sementara Niko mengambil tisu untuk menyeka miliknya dan yang tercecer di bawahnya. Ketika Rima keluar dari dalam kamar mandi, Rima ingin mengambil kain pel tapi rupanya lantai sudah dibersihkan. Rima meletakkan alat pel ke tempat semula. Tidak lama setelah itu dia mendengar Niko sedang bicara dengan seseorang di seberang sana. “Iya, Pa?”“Aku? Papa tahu aku tinggal di mana?”“Aku tidak yakin apakah dia bersedia, aku akan mencoba bicara dengannya.” Niko memutuskan panggilan telepon, dia sedang memakai bajunya. Tidak lama setelah itu Rima masuk ke dalam ruangan. Rima juga mengambil bajunya dari dalam lemari.“Tadi Papa menelepon, Mama mengundangmu datang ke acara makan malam.”Rima tidak menjawab, dia mengambil baju ganti la







