แชร์

Bab 2: Bau Parfum Asing

ผู้เขียน: semangkukramen
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-05 16:21:38

Suara mesin diesel tua itu menderu di halaman depan, merobek keheningan malam yang sudah merayap pukul dua pagi. Rana yang duduk di tepi ranjang—belum tidur, sengaja menunggu—menarik napas pelan. Matanya menatap lurus ke arah pintu kamar yang mulai berderit terbuka.

Bayu melangkah masuk. Membawa serta hawa malam, debu jalanan, dan aroma rokok kretek yang melekat di jaket kulit kumalnya. Pria itu melempar kunci truk begitu saja ke atas meja rias, lalu menghempaskan tubuhnya ke tepi tempat tidur dengan kasar.

"Lampu masih nyala. Kamu belum tidur?" suara Bayu terdengar serak, sarat kelelahan yang dibuat-buat agar Rana lekas melayaninya tanpa banyak tanya.

Rana tidak langsung menjawab. Ia beranjak dari tepi ranjang, berjalan mendekati suaminya dengan gerakan tenang. Namun, saat ia membungkuk sedikit untuk melucuti sepatu boots Bayu yang penuh lumpur kering, indra penciumannya menangkap sesuatu yang membuat gerakannya terhenti sepersekian detik.

Bau itu.

Bukan sekadar bau jalanan atau keringat asam khas sopir lintas kota. Di balik aroma tembakau itu, tercium jejak samar parfum manis—wangi bunga bergamot yang terlalu feminin untuk ukuran kabin truk yang biasanya hanya diisi tumpukan terpal dan kopi sachet.

Rana menegakkan tubuhnya, menatap punggung suaminya yang sedang melonggarkan kancing kemeja.

"Kamu dari mana aja selain jalur reguler?" tanya Rana pelan, nadanya datar, tanpa emosi yang meluap-luap.

Bayu mendengkah, menoleh sekilas dengan sebelah alis terangkat. "Mulai lagi. Tanya-tanya jam kerja. Namanya juga di jalan, macet di tol Cikampek itu biasa. Kenapa? Curiga?"

"Aku cuma nanya, Mas," balas Rana, suaranya tetap rendah tapi menusuk. "Badanmu bau jalanan, tapi jaketmu... bawa wangi yang lain."

Bayu mendengus kasar, berdiri dengan sebelah tangan berkacak pinggang. Wajahnya langsung mengeras, defensif seperti biasa setiap kali Rana mulai menyentuh batas curiganya. "Kurang ajar banget omonganmu. Capek seharian nyetir, bukannya disambut air hangat, malah dituduh yang enggak-enggak. Kalau mau cari ribut, jangan malam-malam gini. Aku mau tidur!"

Tanpa menunggu sahutan lagi, Bayu merengsek merebahkan tubuhnya ke kasur, membelakangi Rana.

Rana berdiri di tempatnya. Menatap punggung lelaki yang sudah sepuluh tahun berbagi atap dengannya itu. Tidak ada air mata yang jatuh malam ini. Yang ada hanya kepalan tangan Rana di sisi rok daster kusamnya yang mengerat—menandakan bara api di dadanya semakin membakar habis sisa-sisa kesabaran.

—

Matahari pagi baru saja memanjat atap rumah-rumah petak di kawasan itu. Arka sudah lebih dulu dijemput oleh Ibu Sri—ibunya Bayu—untuk diantar ke TK, membuat suasana rumah mendadak lebih senyap.

Di meja makan kecil yang beralaskan taplak plastik kusam, Rana meletakkan piring berisi nasi goreng sederhana dan segelas kopi hitam panas. Bayu duduk di sana, mengenakan kaos oblong partai dan celana pendek, menikmati sarapannya dengan cuek sementara matanya sibuk melirik layar ponsel.

Rana berdiri tidak jauh dari meja, memperhatikan suaminya sejenak. Menunggu napas Bayu sedikit teratur dan suasana hatinya tampak tidak meledak-ledak. Setelah merasa waktu yang tepat, ia membuka mulut.

"Mas..." panggil Rana pelan.

Bayu hanya melirik sekilas dari balik layar ponselnya, enggan membuang pandangan sepenuhnya. "Apa lagi?"

"Aku mau minta tolong belikan kuota data buat HP-ku. Udah berbulan-bulan mati suri, susah kalau mau ngecek apa-apa."

Bayu mendengus pelan, lalu kembali fokus ke layarnya sambil menyuap sesendok nasi. "Buat apa sih kuota-kuotaan? Kamu kan cuma di rumah, ngurusin anak sama masak. Nggak usah aneh-aneh, ngabisin duit aja buat hal nggak berguna."

Rana mengerjap, menahan sabar yang rasanya sudah mengikis habis di tenggorokan. "Bukan buat hal nggak berguna, Mas. Aku juga butuh komunikasi, atau siapa tahun bisa cari-cari info buat usaha kecil-kecilan dari rumah. Biar ada tambahan."

Mendengar kata usaha, sendok di tangan Bayu diletakkan dengan agak keras ke atas piring. Pria itu menoleh tajam, menatap Rana dengan sebelah alis terangkat sinis.

"Usaha, usaha apaan?!" sergah Bayu dengan suara meninggi. "Mau gaya-gayaan jadi wanita karier? Kamu tuh ya, harusnya bersyukur punya suami yang masih mau banting tulang nafkahin kamu di rumah! Nggak usah sok sibuk mau cari duit. Banyak lagak banget jadi perempuan!"

Rana tidak langsung ciut. Ia berdiri tegak, menatap lurus mata suaminya tanpa gentar. "Aku cuma minta kuota, Mas. Bukan minta modal buka toko. Kalau kamu keberatan banget buat ngeluarin uang kecil kayak gitu..." Rana menarik napas pelan, melancarkan senjatanya, "...ya udah, biar aku telepon Ibu aja sekarang. Minta uang ke Ibu buat beli kuota, sekalian aku cerita gimana kondisi dompet kita selama ini."

Gerakan Bayu yang tadinya hendak meneguk kopi langsung terhenti. Rahang pria itu mengeras, wajahnya berubah pias seketika. Gengsi laki-lakinya langsung tersengat telak. Ia paling pantas mati gaya kalau sampai urusan rumah tangga mereka didengar oleh Bu Amel—ibu mertuanya yang tinggal di seberang kecamatan sana, yang kalau tahu anaknya ditelantarkan, pasti bakal langsung datang dan menceramahi Bayu habis-habisan.

"Sialan. Suka banget bawa-bawa orang tua," gerutu Bayu kasar, mendengus kesal sambil merogoh saku celananya dengan gerakan kasar.

Ia melempar selembar uang pecahan lima puluh ribuan ke atas meja, melayang tepat di samping piring makannya.

"Nih! Ambil! Pake seperlunya. Kalau habis dalam seminggu gara-gara kamu pake buat nonton nggak jelas, jangan harap aku tambahin lagi! Sekalian aja tonton bok3p sana! Biar kemampuan ranjang kamu nggak gitu-gitu aja. Ngebosenin! Mana ada laki-laki yang betah sama perempuan nggak kompeten kayak kamu!" cibir Bayu sengit, lalu bangkit berdiri dan meninggalkan piring kotornya begitu saja.

Rana memandangi selembar uang di atas meja itu dalam diam. Jemarinya meraih uang tersebut, meremasnya tipis-tipis di balik punggung. ‘Setidaknya, satu pintu gerbang sudah terbuka,’ batinnya dingin.

Sepeninggal Bayu yang membanting pintu depan, rumah kembali sunyi. Rana meraih selembar uang lima puluh ribu tadi, lalu bergegas menuju warung kelontong terdekat untuk mengisi paket data internet di ponselnya.

Setengah jam kemudian, ia sudah kembali duduk di kursi ruang tamu. Ponsel pintar lamanya—yang selama ini hanya hidup tanpa jaringan dan cuma dipakai Arka bermain game luring—tiba-tiba bergetar nyaring. Rentetan notifikasi aplikasi yang tertahan langsung tumpah ruah begitu sinyal data seluler terhubung kembali.

Rana menatap layar ponselnya yang menyala terang, bersiap mengetik kata kunci lowongan pekerjaan di mesin pencari. Namun, sebelum jarinya menyentuh layar, sebuah notifikasi W******p dari nomor asing tiba-tiba melompat naik. Tanpa nama. Tanpa foto profil.

Rana mengerjap, lalu membaca isi pesan yang langsung meremukkan sisa-sisa kewarasannya pagi ini.

[+62857123: Kirana, kamu cerai dong sama Mas Bayu. Aku hamil. Anak ini butuh bapak.]

Darah Rana mendadak berdesir dingin. Ponsel di genggamannya terasa begitu berat, seolah baru saja berubah menjadi bara api yang membakar telapak tangannya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 7: Bayangan di Kegelapan

    Rana mendorong pintu samping rumah Bu Amel dengan napas yang masih menyisakan sisa-sisa keterkejutan luar biasa. Di ruang tengah, ia langsung menghambur memeluk ibunya, menceritakan bahwa ia tidak hanya diterima bekerja di Senjaya Medika, tetapi langsung ditarik menjadi sekretaris pribadi sang CEO tanpa harus melewati proses seleksi panjang.Namun, alih-alih langsung merayakan kemenangan kariernya, pikiran Rana sore itu justru melayang ke tempat lain.Ia berjalan pelan menuju kursi kayu di ruang taman terbuka yang membatasi antara rumah Bu Amel dan rumah Bu Rita—adik kandungnya. Dari tempatnya duduk, netra Rana menatap lurus ke halaman rumput, memerhatikan Arka yang sedang tertawa lepas berlari-lari mengejar bola bersama sepupunya, anak Bu Rita.Langkah kaki ringan mendekat. Bu Amel datang menghampiri sambil membawa piring kecil berisi tempe goreng hangat yang masih mengepulkan uap tipis, lalu duduk di sebelah putrinya. Melihat tatapan menerawang Rana, Bu Amel menyodorkan piring terseb

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 6: Terjebak dalam Permainannya

    Dunia Rana rasanya mendadak berhenti berputar seketika.Bukan karena ia takut, melainkan karena gelombang kejutan yang telak menghantam kesadarannya. Sosok pria berjas tailored abu-abu arang yang berdiri di hadapannya kini sama sekali tidak menyisakan bayangan remaja belasan tahun yang dulu hobi merajuk di sudut kantor ayahnya. Garis wajahnya tegas, posturnya tinggi tegap, dan aura dominasi mutlak menguar dari setiap langkahnya.Rana membeku di kursinya. Napasnya tercekat di tenggorokan.Ia memang sengaja mengirim lamaran ke Senjaya Medika pagi itu karena ia tahu persis reputasi korporasi di bawah naungan Senjaya Group ini. Berbekal pengalaman magang sepuluh tahun lalu, Rana berharap bisa menyelinap masuk ke posisi staf administrasi yang aman—tempat di mana ia bisa bekerja tenang tanpa menarik perhatian. Ia sama sekali tidak pernah menduga, kursi tertinggi di balik meja eksekutif itu kini diduduki oleh Rian Seno Aji.Staf HRD wanita yang tadinya duduk di sebelah langsung bangkit berdi

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 5: Dia...

    Taksi online berhenti tepat di halaman rumah Bu Amel. Dari dalam rumah, wanita paruh baya itu sontak menghentikan aktivitasnya, mengerjap tak percaya melihat Rana turun seorang diri sambil menyeret koper kain ukuran besar, ditemani Arka yang berdiri kebingungan di sampingnya.Biasanya, jika Rana berkunjung, ia selalu datang bersama Bayu menggunakan truk tua lelaki itu, dan tak pernah lebih dari satu jam. Tapi hari ini? Rana datang sendiri membawa seluruh dunianya dalam sebuah koper usang."I-Ibu... minta tolong bayarin taksolnya dulu, Bu," suara Rana bergetar hebat, napasnya masih memburu sisa kepanikan di jalan.Bu Amel yang sempat buffering seketika merogoh dompetnya tanpa banyak tanya, menyerahkan selembar uang kepada sang sopir. Begitu taksi berlalu, Rana membawa kopernya masuk ke ruang tamu, langsung memeluk Arka erat-erat untuk meredam isak tangis yang mendesak di dadanya.Tidak lama berselang, pintu samping terbuka. Bu Rita—adik kandung Bu Amel—yang sedang berjemur bersama cucu

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 4: Meninggalkan Nestapa

    "Astaga... ada apa ini, Nak?" suara Ibu Sri langsung dibayangi kepanikan. Matanya bergantian menatap Rana yang bermata sembab dan Bayu yang membuang muka—meski jemari lelaki itu tampak gemetar hebat saat memegang ponsel Rana yang baru saja dilempar.Rana tidak menjawab. Napasnya masih memburu naik-turun. Tatapannya yang setajam silet beralih dari punggung suaminya yang kaku, lalu jatuh menatap wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri."Bu," suara Rana terdengar parau namun sarat ketegasan mutlak. "Aku mau cerai sama Bayu."Ibu Sri terperanjat. Ia buru-buru melangkah mendekat dengan hati-hati, merentangkan tangan seolah ingin meredam ledakan. "Ada apa, Nak? Jangan ngomong sembarangan. Bisa dibicarakan baik-baik, ya? Jangan terbawa emosi."Wanita itu lantas beralih menatap anaknya, meminta pembelaan sekaligus mencoba menengahi. "Sabar, Nak. Disabarin aja demi anak kalian, demi Arka. Sayang kalau cerai, nanti Arka gimana masa depannya? Nanti juga Bayu berubah

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 3: Topeng yang Retak

    Ponsel di tangan Rana bergetar sekali lagi. Pesan susulan masuk tanpa jeda, seolah sengaja menghujam ulu hatinya sampai berkeping-keping.Sebuah foto testpack dengan garis merah ganda yang menyala terang. Disusul dokumen USG kabur dengan keterangan usia kandungan yang membuat mata Rana membelalak lebar.Delapan minggu.Dunia di sekeliling Rana seakan runtuh seketika. Selama ini ia menutup mata, mengabaikan bau parfum asing di jaket suaminya, dan bertahan dalam siksaan mental demi Arka. Tapi mendapati suaminya menghamili perempuan lain di luar sana? Tidak. Batas sabar itu bukan lagi robek, melainkan hancur lebur tak bersisa.Isak tangis yang sejak tadi tertahan di tenggorokan akhirnya jebol juga. Rana jatuh berlutut di depan lemari pakaian kayu yang sudah melengkung di bagian tengahnya. Air matanya tumpah deras, membasahi pipinya yang pucat, tapi tangannya sama sekali tidak berhenti bergerak.Dengan napas memburu dan dada yang naik-turun menahan sesak, ia menarik keluar sebuah koper ka

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 2: Bau Parfum Asing

    Suara mesin diesel tua itu menderu di halaman depan, merobek keheningan malam yang sudah merayap pukul dua pagi. Rana yang duduk di tepi ranjang—belum tidur, sengaja menunggu—menarik napas pelan. Matanya menatap lurus ke arah pintu kamar yang mulai berderit terbuka.Bayu melangkah masuk. Membawa serta hawa malam, debu jalanan, dan aroma rokok kretek yang melekat di jaket kulit kumalnya. Pria itu melempar kunci truk begitu saja ke atas meja rias, lalu menghempaskan tubuhnya ke tepi tempat tidur dengan kasar."Lampu masih nyala. Kamu belum tidur?" suara Bayu terdengar serak, sarat kelelahan yang dibuat-buat agar Rana lekas melayaninya tanpa banyak tanya.Rana tidak langsung menjawab. Ia beranjak dari tepi ranjang, berjalan mendekati suaminya dengan gerakan tenang. Namun, saat ia membungkuk sedikit untuk melucuti sepatu boots Bayu yang penuh lumpur kering, indra penciumannya menangkap sesuatu yang membuat gerakannya terhenti sepersekian detik.Bau itu.Bukan sekadar bau jalanan atau keri

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status