เข้าสู่ระบบPonsel di tangan Rana bergetar sekali lagi. Pesan susulan masuk tanpa jeda, seolah sengaja menghujam ulu hatinya sampai berkeping-keping.
Sebuah foto testpack dengan garis merah ganda yang menyala terang. Disusul dokumen USG kabur dengan keterangan usia kandungan yang membuat mata Rana membelalak lebar.
Delapan minggu.
Dunia di sekeliling Rana seakan runtuh seketika. Selama ini ia menutup mata, mengabaikan bau parfum asing di jaket suaminya, dan bertahan dalam siksaan mental demi Arka. Tapi mendapati suaminya menghamili perempuan lain di luar sana? Tidak. Batas sabar itu bukan lagi robek, melainkan hancur lebur tak bersisa.
Isak tangis yang sejak tadi tertahan di tenggorokan akhirnya jebol juga. Rana jatuh berlutut di depan lemari pakaian kayu yang sudah melengkung di bagian tengahnya. Air matanya tumpah deras, membasahi pipinya yang pucat, tapi tangannya sama sekali tidak berhenti bergerak.
Dengan napas memburu dan dada yang naik-turun menahan sesak, ia menarik keluar sebuah koper kain usang berwarna gelap yang bertahun-tahun tersimpan di dasar lemari. Debunya mengepul tipis, menyatu dengan isak tangisnya yang pecah dalam keheningan rumah.
Rana meraih pakaian miliknya dan Arka secara asal. Tidak ada lagi kerapian yang ia pikirkan. Lembar demi lembar baju dimasukkan ke dalam koper dengan tangan yang gemetar hebat.
Cukup, batinnya berteriak di antara deru napas yang patah-patah. Sepuluh tahun aku membuang harga diri untuk lelaki bajingan itu. Hari ini, cukup.
Setelah koper itu terisi penuh dan ditarik resletingnya dengan kasar, Rana menyeka wajahnya yang basah kuyup. Matanya menyalang merah, menyisakan tatapan dingin yang jauh lebih berbahaya dari sekadar kemarahan. Ia menyambar tas punggung kecil tempat ia menyimpan dokumen penting milik ia dan anaknya, lalu menyeret koper berat itu keluar dari kamar tidur menuju ruang tamu.
Belum sempat Rana memegang gagang pintu depan untuk melangkah keluar, deru suara mesin truk tua yang amat ia kenal mendadak berhenti di halaman. Rana terpaku sejenak. Belum genap satu jam pria itu pergi bekerja, kenapa sudah kembali lagi?
Pintu depan berderit kasar dibuka dari luar. Bayu melangkah masuk sambil mengepulkan asap rokok kretek di antara jemarinya, dahi pria itu berkerut heran melihat koper kain ukuran besar dan tas punggung yang sudah berdiri tegak di dekat pintu.
Langkah Bayu terhenti. Matanya melotot menatap koper itu, lalu beralih menatap Rana yang berdiri kaku di sampingnya dengan mata sembab dan tatapan membunuh.
"Heh! Ini apa-apaan?!" suara Bayu langsung naik seoktaf, menunjuk koper besar dengan ujung rokoknya. "Kamu mau minggat, hah? Bawa-bawa tas segede gaban begitu mau ke mana?!"
Rana tidak menjawab. Ia menatap suaminya dengan dagu terangkat, meski napasnya memburu menahan amarah yang sudah mendidih di ujung tanduk.
Bayu mendengus sinis, membuang puntung rokoknya ke lantai lalu menginjaknya dengan kasar. "Belagu banget mau minggat! Emangnya kamu punya duit? Mau ngandelin siapa? Mau ngemis ke emakmu di seberang kecamatan? Gara-gara kubeliin kuota kemarin, jadi kebablasan keterusan liat sosmed, ya? Makanya aku paling malas ngasih fasilitas ke perempuan! Otaknya langsung konslet, nggak tahu diuntung!"
Mendengar rentetan hinaan itu, batas kesabaran Rana resmi lenyap tanpa sisa. Rasa sakit hati, jijik, dan amarah yang bergemuruh di dadanya meledak seketika.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Rana menyambar ponsel lamanya yang barusan diisi kuota pagi tadi dari atas meja, lalu melemparkannya tepat ke dada suaminya.
Bugh! Ponsel itu memantul jatuh ke lantai keramik setelah menghantam dada Bayu.
"Baca!" bentak Rana, suaranya melengking tajam, merobek kesunyian rumah petak itu. "Buka mata lebar-lebar dan baca sendiri kelakuan bajingan kamu di luar sana!"
Bayu terperanjat, mundur setengah langkah karena terkejut melihat keberanian Rana yang mendadak berubah drastis. Wajahnya memerah karena emosi tersinggung dilempar ponsel.
"Waras kamu, hah?! Berani lempar HP ke suami—"
"Ceraiin aku sekarang, Bayu!" potong Rana dengan teriakan menggelegar, memotong ucapan suaminya tanpa ampun.
Honorifik “Mas” tidak lagi ia gunakan sebab muak dengan laki-laki di depannya ini.
Bayu tertegun, kelopak matanya mengerjap cepat, kebingungan. "Apaan sih kamu ngelantur—"
"Ceraiin.aku.sekarang!" ulang Rana dengan penekanan di tiap katanya, air matanya kembali tumpah tapi kali ini diiringi seringai kepedihan yang teramat sangat. "Nggak sudi aku hidup serumah sama manusia jahanam kayak kamu! Laki-laki nggak punya modal selain ego dan selangkangan!"
Bayu, yang merasa posisinya sebagai kepala keluarga diinjak-injak di rumahnya sendiri, balas membentak tak kalah sengit. Urat-urat lehernya menonjol keluar.
"Kamu gila, ya?! Cuma gara-gara nggak dibolehin kerja atau gara-gara aku telat pulang, kamu minta cerai?! Gampangan banget mulutmu ngomong cerai! Sadar diri sedikit, Rana! Kamu itu cuma ibu rumah tangga yang hidupnya numpang sama aku! Kalau aku ceraikan kamu, mau makan apa kamu sama anakmu?!" maki Bayu, melotot tajam penuh intimidasi.
Rana tertawa getir, tawa hampa yang justru membuat bulu kuduk Bayu meremang seketika. Ia menunjuk ponsel yang tergeletak di lantai dengan jarinya yang gemetar.
"Numpang? Hidup sama kamu malah bikin aku mati perlahan, Bay!" Rana mendesis tajam, maju selangkah mendekati suaminya. "Buka HP itu! Lihat pesan dari nomor asing yang masuk ke aku pagi ini! Pacar simpanan kamu itu udah kirim pesan ke aku. Dia minta aku cerai karena dia sekarang lagi hamil anak kamu! Ada foto testpack, ada hasil USG-nya juga! Mau nyangkal apa lagi kamu, hah?!"
Mendengar kata hamil dan USG meluncur dari mulut Rana, seketika warna di wajah Bayu menguap. Darahnya mendesir turun ke kaki. Tubuh jangkung lelaki itu menegang kaku, matanya melebar menatap ponsel di lantai, lalu beralih menatap horor ke arah Rana. Seluruh benteng pertahanan dan alibi busuknya runtuh dalam satu detik.
"Ka... kamu..." bibir Bayu mendadak kelu. Kegarangannya lenyap seketika, berganti kepanikan luar biasa saat menyadari rahasia terbesarnya terbongkar telak.
Belum sempat Bayu menyusun alibi untuk meredam kepanikannya, pintu depan yang tidak tertutup rapat tiba-tiba didorong dari luar. Ibu Sri melangkah masuk tanpa aba-aba. Wanita paruh baya itu sontak menghentikan langkahnya, terkesiap mendapati pemandangan di ruang tamu: koper kain ukuran besar yang berdiri tegak, ponsel yang tergeletak di lantai, dan atmosfer tegang yang mencekam di antara anak serta menantunya.
Rana mendorong pintu samping rumah Bu Amel dengan napas yang masih menyisakan sisa-sisa keterkejutan luar biasa. Di ruang tengah, ia langsung menghambur memeluk ibunya, menceritakan bahwa ia tidak hanya diterima bekerja di Senjaya Medika, tetapi langsung ditarik menjadi sekretaris pribadi sang CEO tanpa harus melewati proses seleksi panjang.Namun, alih-alih langsung merayakan kemenangan kariernya, pikiran Rana sore itu justru melayang ke tempat lain.Ia berjalan pelan menuju kursi kayu di ruang taman terbuka yang membatasi antara rumah Bu Amel dan rumah Bu Rita—adik kandungnya. Dari tempatnya duduk, netra Rana menatap lurus ke halaman rumput, memerhatikan Arka yang sedang tertawa lepas berlari-lari mengejar bola bersama sepupunya, anak Bu Rita.Langkah kaki ringan mendekat. Bu Amel datang menghampiri sambil membawa piring kecil berisi tempe goreng hangat yang masih mengepulkan uap tipis, lalu duduk di sebelah putrinya. Melihat tatapan menerawang Rana, Bu Amel menyodorkan piring terseb
Dunia Rana rasanya mendadak berhenti berputar seketika.Bukan karena ia takut, melainkan karena gelombang kejutan yang telak menghantam kesadarannya. Sosok pria berjas tailored abu-abu arang yang berdiri di hadapannya kini sama sekali tidak menyisakan bayangan remaja belasan tahun yang dulu hobi merajuk di sudut kantor ayahnya. Garis wajahnya tegas, posturnya tinggi tegap, dan aura dominasi mutlak menguar dari setiap langkahnya.Rana membeku di kursinya. Napasnya tercekat di tenggorokan.Ia memang sengaja mengirim lamaran ke Senjaya Medika pagi itu karena ia tahu persis reputasi korporasi di bawah naungan Senjaya Group ini. Berbekal pengalaman magang sepuluh tahun lalu, Rana berharap bisa menyelinap masuk ke posisi staf administrasi yang aman—tempat di mana ia bisa bekerja tenang tanpa menarik perhatian. Ia sama sekali tidak pernah menduga, kursi tertinggi di balik meja eksekutif itu kini diduduki oleh Rian Seno Aji.Staf HRD wanita yang tadinya duduk di sebelah langsung bangkit berdi
Taksi online berhenti tepat di halaman rumah Bu Amel. Dari dalam rumah, wanita paruh baya itu sontak menghentikan aktivitasnya, mengerjap tak percaya melihat Rana turun seorang diri sambil menyeret koper kain ukuran besar, ditemani Arka yang berdiri kebingungan di sampingnya.Biasanya, jika Rana berkunjung, ia selalu datang bersama Bayu menggunakan truk tua lelaki itu, dan tak pernah lebih dari satu jam. Tapi hari ini? Rana datang sendiri membawa seluruh dunianya dalam sebuah koper usang."I-Ibu... minta tolong bayarin taksolnya dulu, Bu," suara Rana bergetar hebat, napasnya masih memburu sisa kepanikan di jalan.Bu Amel yang sempat buffering seketika merogoh dompetnya tanpa banyak tanya, menyerahkan selembar uang kepada sang sopir. Begitu taksi berlalu, Rana membawa kopernya masuk ke ruang tamu, langsung memeluk Arka erat-erat untuk meredam isak tangis yang mendesak di dadanya.Tidak lama berselang, pintu samping terbuka. Bu Rita—adik kandung Bu Amel—yang sedang berjemur bersama cucu
"Astaga... ada apa ini, Nak?" suara Ibu Sri langsung dibayangi kepanikan. Matanya bergantian menatap Rana yang bermata sembab dan Bayu yang membuang muka—meski jemari lelaki itu tampak gemetar hebat saat memegang ponsel Rana yang baru saja dilempar.Rana tidak menjawab. Napasnya masih memburu naik-turun. Tatapannya yang setajam silet beralih dari punggung suaminya yang kaku, lalu jatuh menatap wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri."Bu," suara Rana terdengar parau namun sarat ketegasan mutlak. "Aku mau cerai sama Bayu."Ibu Sri terperanjat. Ia buru-buru melangkah mendekat dengan hati-hati, merentangkan tangan seolah ingin meredam ledakan. "Ada apa, Nak? Jangan ngomong sembarangan. Bisa dibicarakan baik-baik, ya? Jangan terbawa emosi."Wanita itu lantas beralih menatap anaknya, meminta pembelaan sekaligus mencoba menengahi. "Sabar, Nak. Disabarin aja demi anak kalian, demi Arka. Sayang kalau cerai, nanti Arka gimana masa depannya? Nanti juga Bayu berubah
Ponsel di tangan Rana bergetar sekali lagi. Pesan susulan masuk tanpa jeda, seolah sengaja menghujam ulu hatinya sampai berkeping-keping.Sebuah foto testpack dengan garis merah ganda yang menyala terang. Disusul dokumen USG kabur dengan keterangan usia kandungan yang membuat mata Rana membelalak lebar.Delapan minggu.Dunia di sekeliling Rana seakan runtuh seketika. Selama ini ia menutup mata, mengabaikan bau parfum asing di jaket suaminya, dan bertahan dalam siksaan mental demi Arka. Tapi mendapati suaminya menghamili perempuan lain di luar sana? Tidak. Batas sabar itu bukan lagi robek, melainkan hancur lebur tak bersisa.Isak tangis yang sejak tadi tertahan di tenggorokan akhirnya jebol juga. Rana jatuh berlutut di depan lemari pakaian kayu yang sudah melengkung di bagian tengahnya. Air matanya tumpah deras, membasahi pipinya yang pucat, tapi tangannya sama sekali tidak berhenti bergerak.Dengan napas memburu dan dada yang naik-turun menahan sesak, ia menarik keluar sebuah koper ka
Suara mesin diesel tua itu menderu di halaman depan, merobek keheningan malam yang sudah merayap pukul dua pagi. Rana yang duduk di tepi ranjang—belum tidur, sengaja menunggu—menarik napas pelan. Matanya menatap lurus ke arah pintu kamar yang mulai berderit terbuka.Bayu melangkah masuk. Membawa serta hawa malam, debu jalanan, dan aroma rokok kretek yang melekat di jaket kulit kumalnya. Pria itu melempar kunci truk begitu saja ke atas meja rias, lalu menghempaskan tubuhnya ke tepi tempat tidur dengan kasar."Lampu masih nyala. Kamu belum tidur?" suara Bayu terdengar serak, sarat kelelahan yang dibuat-buat agar Rana lekas melayaninya tanpa banyak tanya.Rana tidak langsung menjawab. Ia beranjak dari tepi ranjang, berjalan mendekati suaminya dengan gerakan tenang. Namun, saat ia membungkuk sedikit untuk melucuti sepatu boots Bayu yang penuh lumpur kering, indra penciumannya menangkap sesuatu yang membuat gerakannya terhenti sepersekian detik.Bau itu.Bukan sekadar bau jalanan atau keri







