Home / Romansa / Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer / Bab 156 Panggilan Pagi Hari

Share

Bab 156 Panggilan Pagi Hari

Author: Aira Tsuraya
last update Last Updated: 2025-12-31 11:00:21

Thea terperangah kaget. Matanya beberapa kali mengerjap menatap Alvan tanpa kedip. Selama ini Alvan tidak pernah mengutarakan perasaannya. Pergulatan intim mereka tiap malam, tak pernah sekali pun Thea mendengar kata cinta dari bibir Alvan. Hingga malam ini akhirnya tercetus juga kata itu.

“Aku cinta kamu.”

Kembali Alvan bersuara, kini sambil berdesis lembut di telinga Thea. Thea terkejut, menoleh sambil menatapnya dengan bingung.

Alvan tersenyum, mengecup hidung, pipi dan bibir Thea sekilas. Namun, wanita cantik itu masih tertegun tak bisa berkata apa pun.

“Kenapa diam saja? Apa kamu tidak mau menerima pernyataanku?”

Thea menelan ludah kemudian tersenyum, memiringkan tubuh dan memeluk Alvan dengan erat. Bahkan beberapa kali mencium bibir Alvan dengan mesra. Tentu saja Alvan membalasnya dengan sepenuh hati.

“Kamu sungguh-sungguh mengatakannya?” tanya Thea beberapa saat kemudian.

Mereka sudah duduk b

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
hadeuh...ada saja pengganggu,nah ini masalahnya.jika menolak pasti minta bukti..siapkah Alvan dan Thea publish?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 177 Kena Batunya

    “Terima kasih sudah mengantar saya,” ucap Evelyn begitu mobil yang mereka tumpangi tiba di apartemennya.Bastian hanya mengangguk sambil tersenyum. Evelyn membuka seat belt dan bersiap turun, tapi tiba-tiba ia menghentikan aktivitasnya.“Eng … boleh aku tahu namamu. Sepanjang perjalanan tadi, kita belum berkenalan.”Bastian kembali tersenyum, kemudian mengulurkan tangan.“Bastian. Nama saya Bastian.”Evelyn tersenyum menyambut uluran tangan Bastian. “Panggil aku Evelyn.”Bastian mengangguk. Evelyn bersiap turun, tapi tiba-tiba ia terdiam dan tampak sibuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.“Ini nomor teleponku. Lain kali aku akan traktir kamu, tapi tidak di tempat tadi. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih sudah menolongku.”Kembali Bastian menjawab dengan anggukan kepala. Selanjutnya Evelyn sudah turun dan masuk ke dalam apartemen.Bastian tampak

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 176 Perlahan Mundur

    BRAK!!!Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar bersamaan lampu yang menyala benderang. Seketika pria tak dikenal itu terjingkat kaget dan menoleh ke arah pintu.Seorang pria tak dikenal berpenampilan rapi dan bertubuh jangkung telah berdiri menantang di depannya.“APA-APAAN INI?” sergah pria tak dikenal itu.Ia langsung bangkit tergesa mengurai pagutannya. Evelyn yang tadinya terbuai segera membuka mata dan memperhatikan sekitar. Sebenarnya ia bukan tipikal orang yang gampang mabuk. Namun, gara-gara obat tidur yang dimasukkan ke minumannya membuat Evelyn setengah mengantuk.Evelyn mengerjapkan mata menatap pria yang baru saja beradu saliva dengannya.“Kamu bukan Alvan?” desisnya.Pria tak dikenal itu terkejut dan buru-buru bangkit menghampiri pria yang masih menghadang di depan pintu.“Dia memang bukan Tuan Alvan Abbiya, Nona,” sahut pria bertubuh jangkung itu, yang tak lain Bastian.Evel

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 175 Masuk Jebakan

    “Mana yang lainnya, Pak?” tanya Evelyn.Ia langsung berangkat ke tempat yang dikirim Leo beberapa saat kemudian, tapi Evelyn sangat terkejut ketika mendapati hanya dirinya dan Leo yang berada di sana. Tidak ada rekan sejawat seperti yang dikatakan Leo di telepon tadi.“Mereka sedang ke toilet, tapi ada juga yang sudah pulang. Kami sejak dari tadi di sini, Bu Evelyn.”Evelyn hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sesekali ia mengedarkan pandangan memperhatikan sekitar.Sebenarnya Evelyn terbiasa datang ke tempat seperti ini. Ia juga terbiasa minum minuman alkohol. Saat sekolah di luar negeri, salah satu penyebabnya. Apalagi saat itu dia punya circle pertemanan yang cukup banyak dan sering hang out di bar seperti ini.“Saya pesankan minum ya, Bu Evelyn?”Tiba-tiba suara Leo membuyarkan lamunan Evelyn. Evelyn mengangguk dan sama sekali tidak curiga saat Leo bangkit dari duduknya dan pergi menuju meja pe

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 174 Siasat Licik Leo

    “Kamu memang pintar, Bu. Gak rugi aku menikah denganmu,” ujar Paman Sapto.Bi Mira hanya berdecak sambil melihatnya sekilas. Selanjutnya wanita paruh baya itu sudah memundurkan kembali tubuhnya.“Oh ya, lalu bagaimana kabar Ina? Apa hukuman sudah diputuskan?” Paman Sapto mengalihkan topik pembicaraan.Bi Mira menghela napas panjang sambil menggeleng.“Belum. Ada beberapa berkas yang belum lengkap. Semoga saja pengacara suruhan Alvan itu mau membantu Ina. Setidaknya meringankan hukumannya.”Paman Sapto terdiam sambil menganggukkan kepala. Wajahnya terlihat lesu dan muram. Hal yang sama juga ditunjukkan Bi Mira. Bagaimanapun mereka tidak ingin masa depan putri tunggalnya hancur berantakan hanya karena kasus seperti ini.Namun, apa yang terjadi harus terjadi dan Ina harus bertanggung jawab atas perbuatannya.Hampir pukul tujuh malam saat Alvan dan Thea tiba di studio tempat mereka tinggal. Cukup lama m

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 173 Pasutri Licik

    Pria berusia 60-an itu terdiam menatap Bastian dengan sayu. Raut wajahnya terlihat tegang. Bahkan tampak jelas urat nadinya melintang menghiasi wajah pucatnya.“Saya yakin Nona Bella pasti sedih jika mengetahuinya.”Bastian kembali bersuara saat pria di depannya bereaksi. Tidak ada jawaban atau gerak signifikan dari pria tersebut. Namun, Bastian bisa melihat perubahan mimik wajahnya.“Bella yang memutuskan pergi dari rumah ini. Bella yang memilih pria sialan itu. Harusnya dia tahu apa konsekuensinya saat meninggalkan rumah ini. Termasuk kehilangan atas harta dan statusnya.”“Itu juga berlaku pada putrinya!!!”Bastian terdiam. Bibirnya terkatup, menatap pria di depannya dengan sendu.“Thea tidak bersalah. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada masa lalu orang tuanya. Dia berhak tahu siapa dirinya.”“Dia berhak tahu asal usulnya!!!”Bastian terdiam sekilas. Bahunya naik tu

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 172 Bertemu Tuan Besar

    “Bas, kamu dengar suaraku, kan?”Suara Alvan memecah lamunan Bastian. Pria bertubuh jangkung itu mengangguk.“Saya mendengarnya, Tuan,” jawab Bastian dengan senyuman.“Baguslah kalau begitu. Aku minta tolong lakukan secepatnya!!”Bastian kembali menganggukkan kepala lagi. Selanjutnya Alvan sudah mengakhiri panggilannya. Sementara Bastian hanya diam sambil menggulir galeri di ponselnya. Tangannya langsung berhenti pada sebuah foto seorang gadis mengenakan seragam SMA.Tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibir Bastian, tapi jakun pria itu sudah berulang kali bergerak naik turun menelan ludah. Entah apa yang terjadi selanjutnya. Yang pasti ia akan melakukan perintah Alvan dengan baik.Keesokan harinya, Thea dan Alvan terpaksa izin tidak masuk kuliah. Mereka sudah janjian dengan Paman Sapto dan Bu Siti untuk melakukan test DNA. Bahkan Alvan sudah menyiapkan akomodasi untuk mereka agar tidak terlambat.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status