Masuk“Saya gak goda Bapak, tapi kalau Bapak minta layanan saya malam ini. Saya siap, kok.”
Bukannya mengelak tuduhan Alvan, Thea malah menantang dosen gantengnya. Seketika mata Alvan membola mendengar ucapan Thea.
“Jangan ngimpi kamu. Sudah tidur sana!!!”
Alvan berkata dengan ketus seraya memutar tubuh membelakangi Thea. Thea mengulum senyum melihat reaksinya.
Padahal ia tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya, tapi Alvan malah sudah sewot duluan. Untuk selanjutnya, sepertinya Thea tidak perlu khawatir jika dosen killer ini macam-macam dengannya.
Dalam hitungan menit, Thea sudah terlelap. Ini hari yang melelahkan baginya.
Entah pukul berapa, tiba-tiba Thea terbangun. Ia merasa ingin ke kamar mandi.
Perlahan Thea membuka mata dan terkejut saat sebuah tangan sudah melingkar di perutnya. Thea menoleh ke belakang dan melihat dosen ganteng yang berbaring di sampingnya adalah pelakunya.
“Busyet!! Ngimpi apa aku tidur dipeluk Pak Alvan?” gumam Thea.
“Tunggu dulu, ini beneran atau mimpi.”
Thea bersuara sambil mengucek matanya. Ia takut kalau ini hanya salah satu bagian bunga tidurnya. Namun, ia akhirnya sadar jika semuanya nyata.
“Gimana, nih? Aku kebelet pipis.”
Thea gugup. Ia bingung. Thea ingin melepas pelukan Alvan, tapi ia juga takut Alvan terjaga dan akan marah padanya.
Hingga tiba-tiba Alvan bergerak dan membuka matanya. Untuk beberapa sekon, mata mereka bertemu. Thea langsung tersenyum cengengesan.
“Eng … Pak, saya mau pipis.”
Alis Alvan mengernyit keduanya. Ia belum sadar sepenuhnya dan terlihat bingung. Pelan, Thea menyentuh tangan Alvan yang masih melingkar di perutnya.
Alvan terjingkat dan buru-buru melepas pelukannya. Tanpa berkata, ia langsung memutar tubuh, tidur membelakangi Thea.
Thea mengulum senyum melihat ulah pria tampan itu. Selanjutnya ia sudah bangkit dari kasur dan ngibrit ke kamar mandi. Panggilan alamnya sudah di ujung kalau tidak segera dituntaskan bakal bahaya.
Keesokan harinya, Alvan dan Thea sudah berpamitan untuk pulang. Mereka harus beraktivitas kembali hari senin besok.
Mereka tiba di kota tujuan saat malam sudah larut. Gara-gara banyak hal yang harus dilakukan Alvan dan keluarganya, mereka terpaksa mengambil penerbangan terakhir.
“Rumahmu dimana? Biar aku antar,” tawar Alvan.
Saat ini keduanya sudah bersiap hendak pulang ke rumah masing-masing. Alvan sengaja memarkir mobilnya di bandara sejak hari keberangkatan kemarin untuk memudahkan kepulangannya seperti sekarang.
“Gak usah, Pak. Saya gak mau merepotkan Bapak. Bukankah kesepakatannya hanya seminggu.”
Thea menolak sambil menggerakkan tangannya.
“Kamu yakin? Ini sudah malam, apa tidak bahaya seorang gadis berkeliaran sendiri di malam hari?”
Thea tertawa sambil mengibaskan tangan ke udara.
“Saya kan biasa keluar malam, Pak. Udah, Bapak gak usah khawatir gitu.”
Alvan tidak menjawab, tapi jakunnya tampak naik turun menelan saliva. Sementara Thea sudah melenggang lebih dulu meninggalkan Alvan.
Alvan mendengkus sambil menggelengkan kepala. Ia langsung berjalan menuju parkiran. Ini sudah larut malam dan ia harus secepatnya pulang. Namun, bukannya langsung pulang, Alvan malah melajukan mobilnya ke tempat Thea menunggu tadi.
“IVANKA KATLEYA!!!” seru Alvan dari dalam mobil.
Thea mendongak kaget melihat ke arah mobil yang berhenti di depannya. Matanya mengerjap berulang saat melihat Alvan sudah menghentikan mobilnya di sana.
“MASUK!!!” imbuhnya lagi sambil membuka lebih lebar jendela mobilnya.
Thea melotot dan terlihat bingung. Bukannya ia sudah bilang tidak mau diantar, kenapa pria ini malah menghampirinya?
“Eng … tapi, Pak ---”
Belum sempat Thea melanjutkan kalimatnya, Alvan sudah melancarkan tatapan yang tajam ke arahnya. Thea bergidik ketakutan melihat mata elang yang mengancam itu. Ia seperti siap menerkam mangsa saja.
TIN!! TIN!!!
Tiba-tiba suara klakson terdengar bersahutan. Thea melihat di belakang mobil Alvan sudah berjajar banyak mobil. Sepertinya pria ini menjadi biang kemacetan.
Thea tidak punya waktu untuk menolak ataupun beralasan dan memilih cara aman menuruti permintaan Alvan.
“Kan saya sudah bilang gak mau diantar, Pak,” ujar Thea membuka pembicaraan mereka, “sekarang Bapak jadi kemalaman sampai rumah, kan?”
Tidak ada jawaban dari Alvan. Ia hanya diam sambil fokus mengemudi. Thea akhirnya memilih diam sambil melihat pemandangan keluar jendela. Kalau mau jujur, ia juga bingung saat hendak pulang tadi.
Jarak bandara dengan tempat kostnya jauh, ditambah daerah tempat kostnya itu termasuk daerah rawan. Banyak pengemudi taxi dan ojek online menolak mengantarnya jika sudah larut seperti ini. Untung saja, Alvan mau berbaik hati mengantarnya tadi.
“Apa masih jauh?”
Pertanyaan Alvan membuyarkan lamunan Thea. Thea menoleh kemudian melihat ke depan.
“Lima ratus meter lagi, Pak. Saya berhenti di depan gang saja. Mobil tidak bisa masuk ke tempat kost saya.”
Alvan manggut-manggut dengan wajah yang fokus ke depan. Tak berapa lama, Thea memberi aba-aba untuk berhenti.
“Stop, Pak. Di sini saja.”
Alvan mengangguk dan menghentikan mobilnya. Ia menoleh ke sebelah kanan, ada sebuah gang kecil yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Di sana tampak rumah petak saling berjajar dengan tinggi tidak sama.
“Tempat kost saya yang warna pink itu, Pak. Ya … siapa tahu Bapak kangen terus mau mampir temuin saya.”
Thea berkata dengan cengengesan dan ucapannya itu membuat Alvan mengernyitkan alis. Thea buru-buru mengatupkan rapat mulutnya begitu melihat reaksi Alvan.
“Bercanda, Pak. Bercanda.”
Thea bergegas membuka seat belt siap hendak keluar, tapi tiba-tiba Alvan bersuara.
“Gak ada yang ketinggalan?”
Thea terdiam, menatap Alvan dengan mata yang mengerjap beberapa kali. Ia melihat bawaannya. Hanya sebuah tas, beberapa paper bag dan semua bisa ia genggam dengan tangannya. Memang ada yang ketinggalan?
Thea menggeleng. “Enggak, Pak. Sudah semua, kok.”
Alvan manggut-manggut sambil memalingkan wajahnya, menatap ke depan.
Dengan lirih, kemudian ia berkata, “Gak mau pamitan ama suaminya dulu, gitu?”
“Sudahlah, nanti aku yang ngatur. Kamu gak usah mengembalikannya,” imbuh Alvan.Thea semakin terkejut dan menggelengkan kepala.“Babe, bagaimanapun yang aku lakukan salah. Aku sudah melanggar syarat dalam beasiswa itu dan sebagai konsekuensi aku harus menggantinya.”“Kalau kamu keberatan, aku pinjam uang Kakek saja.”Alvan berdecak sambil menggelengkan kepala menatap Thea dengan sendu.“Aku sama sekali gak keberatan membayarnya. Hanya saja untuk apa aku bayar uang ke yayasan milikku sendiri?”Thea terdiam. Ia duduk tegak sambil menatap Alvan dengan bingung. Bastian yang mengemudi di depan hanya mengulum senyum melihat interaksi mereka.Wajah Thea terlihat linglung, menatap Alvan sambil mengerjapkan mata beberapa kali. Alvan gemas melihatnya.“Bas, jelaskan padanya!!!”Pada akhirnya Alvan malah menyuruh Bastian yang bersuara. Bastian mengangguk sambil melirik Thea melalui kaca spion.“Apa Nona ingat saat Anda memenangkan lomba melukis ketika SMA dulu?”Thea terdiam sejenak kemudian meng
“PAK ALVAN!!!!”Semua orang di dalam ruangan itu sangat terkejut begitu melihat kedatangan Alvan. Leo yang sedari tadi terlihat berapi-api dan sok kuasa, langsung membeku di kursinya.Sementara Thea langsung tersenyum lega begitu melihat Alvan. Ia tidak menduga Alvan akan datang secepat ini.Perlahan Alvan mendekat kemudian berdiri di samping Thea dan merangkulnya.“Kamu baik-baik saja?” tanya Alvan.Thea tersenyum sambil mengangguk. Semua yang hadir di ruangan itu tercengang kaget melihat interaksi mereka.“Jadi benar, Pak Alvan dan Thea sudah menikah?” tanya Pak Hanafi memecah keheningan.Alvan mengangguk. “Iya, benar. Saya sudah menikah dengannya sejak semester yang lalu. Hanya saja peresmiannya baru saat liburan semester ini.”Semua langsung terkejut mendengar pengakuan Alvan. Kemudian tak lama terlihat Bastian masuk ke dalam ruangan. Atas perintah Alvan, Bastian menunjukkan s
Semua yang hadir terdiam, sementara Leo langsung kembali ke tempatnya. Ia kembali menunjukkan beberapa foto kemesraan Alvan dan Thea ke dalam slide yang sudah disiapkan.Tanpa Thea tahu, Leo telah memodifikasi foto aslinya dengan Alvan menggunakan aplikasi pintar. Entah mengapa fotonya terlihat asli sama seperti sebelumnya.“Bagaimana? Kamu mau menyangkal apa sekarang?” sergah Leo.Belum ada jawaban dari Thea. Ia hanya terdiam sambil menatap slide yang memutar fotonya dengan Alvan. Meski Thea mencurugai foto itu tidak asli, tapi ia harus mendapatkan bukti kebohongan Leo.“Kalau tidak salah, bukankah Anda salah satu mahasiswi penerima beasiswa?” tanya salah satu dosen dari perwakilan rektorat.“Iya, Pak.”“Nah, tunggu apa lagi, Pak? Dia ini tidak pantas menjadi contoh mahasiswa yang lain.” Leo langsung menyahut sebelum Thea meneruskan jawabannya.“Harusnya beasiswanya dicabut, kalau
Thea membeku di posisinya kemudian menganggukkan kepala berulang.“Iya, Bu. Saya akan ke kampus.”Tidak ada jawaban dari Bu Nirma, tapi panggilannya sudah berakhir.“Apa semuanya baik-baik saja, Thea?” Suara Widuri menyeruak dari belakangnya.Thea menoleh sambil mengangguk.“Iya, Bun. Cuman saya harus ke kampus hari ini. Apa gak masalah Ayah dan Bunda saya tinggal?”“Iya, gak papa. Biar kamu diantar Pak Udin saja.”Thea mengangguk kemudian sudah berpamitan ke Widuri dan Emran. Selang beberapa saat Thea sudah tiba di kampus. Ia langsung menuju fakultasnya, tapi baru saja turun dari mobil. Beberapa mata sudah mengawasinya dengan tatapan kebencian.“Bukannya itu Thea yang ayam kampus dan pacaran ama Pak Alvan.”“Iya, ngapain dia ke kampus? Gak punya malu banget.”“Kemarin aku juga lihat dia lagi berantem ama seseorang di mini market depan.&
Emran dan Widuri kembali tercengang, tapi reaksi mereka tidak berlebihan. Thea semakin gelisah dibuatnya. Bukankah biasanya para orang tua akan marah jika tahu kenyataan ini. Apalagi Thea adalah menantu mereka.“Namun, harap Ayah dan Bunda garis bawahi. Saya bukan wanita panggilan seperti pada umumnya.”“Saya hanya menemani mereka jalan, ngobrol, tanpa sentuhan fisik dan hubungan intim.”“Saya masih perawan saat menikah dengan Pak Alvan. Saya bersumpah atas nama Tuhan.”Thea berkata sambil mengangkat tangannya ke atas. Matanya menunjukkan kesungguhan dengan mata berkaca menatap Emran dan Widuri bergantian.Widuri hanya diam sambil menganggukkan kepala. Namun, berbanding terbalik dengan Emran.“Setahu Ayah, yang namanya wanita panggilan itu identik dengan konotasi. Apa kamu pikir kami akan langsung percaya dengan penjelasanmu?”Thea terdiam, menurunkan tangannya dan tertunduk lesu. Widuri
“Gimana kabarmu, Sayang?” tanya Widuri begitu mereka di dalam mobil.“Alhamdulillah baik, Bu. Kenapa Bunda gak bilang kalau mau ke sini?”Widuri hanya tersenyum sambil menatap Thea dengan lembut.“Gak papa. Kebetulan Bunda dan Ayah ada keperluan di sini. Jadi sekalian mampir. Kamu juga sedang sendirian, kan?”Thea mengangguk. Sepertinya Alvan sudah memberitahu kedua orang tuanya jika ia sedang berada di luar negeri.“Eng … kalau gak salah tadi Bunda melihat Erika. Apa dia menemuimu?”Wajah Widuri telihat gelisah dan menatap Thea penuh cemas. Thea tersenyum sambil menganggukkan kepala.“Iya, Bun. Bunda gak usah khawatir. Saya dan Erika gak ada masalah, kok.”Widuri hanya diam. Ekspresinya terlihat bingung, tapi perlahan kepalanya mengangguk. Selanjutnya mereka memilih berbincang hal random dan tak terasa mobil sudah membawa mereka ke rumah.Kali ini sengaj







