LOGIN“APA!!!”
Alvan dan Thea berseru bersamaan, tapi secepat mungkin mengatupkan rapat bibirnya saat melihat reaksi Emran.
Selang beberapa saat, Alvan sudah bersama Thea berada di taman belakang dan tampak sibuk berbincang.
“Pak, Bapak bilang kan cuman jadi pacar bohongan. Kenapa sekarang malah nikah?” cicit Thea.
Ia sengaja memelankan suaranya supaya keluarga Alvan tidak mendengar pembicaraan mereka. Alvan menghela napas beberapa kali sambil meraup wajahnya dengan kasar.
“Aku sendiri gak tahu, kenapa tiba-tiba disuruh nikah?”
“Masa mereka tahu kalau ini akal-akalanku saja,” gumam Alvan.
Thea berdecak sambil menatap bingung ke Alvan.
“Terus saya gimana sekarang, Pak?”
Alvan menatap Thea sambil menarik napas panjang.
“Ya sudah, jalani saja.”
Mata Thea melebar saat mendengar jawaban Alvan.
“Maksud Bapak, kita tetap nikah?”
Alvan mengangguk. “Iya, terus mau gimana lagi?”
Thea tercengang kembali. Ia semakin gelisah. Banyak yang sedang dipikirkan dan ia bingung harus mengatasinya dengan apa. Bagaimana kalau ibunya sampai tahu. Thea yakin wanita kesayangannya itu pasti shock dan tentu saja akan berakibat pada penyakitnya.
“Aku akan membayarmu.”
Suara Alvan membuat Thea terkejut. Gadis cantik berambut gelombang itu menoleh ke Alvan dengan ekspresi bingung.
“Kita lakukan semuanya dengan sakral. Toh, kita hanya nikah siri tanpa resepsi. Tidak akan ada yang tahu tentang pernikahan ini.”
“Statusmu aman, begitu juga aku. Selain itu, aku juga akan membayar jasamu. Jadi, tidak ada yang dirugikan, kan?”
Thea terdiam sejenak. Ia tampak berpikir. Sepertinya tidak rugi juga membantu dosen killernya ini. Toh, dia hanya pura-pura saja. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk seolah menyetujui rencana Alvan.
“Terus kita pura-pura nikahnya hanya seminggu ini saja kan, Pak?”
Alvan tidak menjawab. Ia terlihat ragu, tapi kemudian sudah menganggukkan kepala.
Perlahan Thea tersenyum menyetujui semua tawaran Alvan. Alvan hanya diam sambil menatap Thea dengan dalam.
“Ya sudah, kalau gitu sekarang kamu istirahat dulu. Aku mau bicara sama Ayah.”
Empat hari kemudian, tampak kemeriahan di rumah keluarga Alvan. Semua kerabat datang meramaikan suasana.
Ada Alif bersama Dira dan putra putri mereka. Ada Rayhan dan Alisha bersama putra mereka. Meski hanya beberapa kerabat dekat yang diundang tapi prosesi demi prosesi berjalan lancar.
“Saya terima nikah dan kawinnya Ivanka Katleya binti Ridwan Atmaja dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
Suara Alvan bergema memenuhi ruang tamu tersebut. Semua kerabat yang datang dan mendengar ikut bersorak gembira. Sementara Thea hanya diam sambil menundukkan kepala.
Beberapa hari lalu ia sudah menelepon ibunya. Ia tidak mau ibunya khawatir karena ia tidak menjenguknya. Thea tidak mau sakit ibunya semakin parah. Bukankah ini hanya sementara dan Thea yakin setelah satu minggu semua akan selesai.
Usai acara sederhana, Thea segera masuk kamar. Ia sangat lelah dan ingin menyudahi hari ini secepatnya. Baru saja Thea membuka kancing kebayanya, tiba-tiba pintu terbuka dan tampak Alvan masuk ke dalam kamar.
“Eng … Bapak di sini juga kamarnya?” tanya Thea dengan polosnya.
Alvan membeku di posisinya sambil menatap tajam ke Thea.
“Kamu lupa? Kita sudah nikah. Masa harus pisah kamar. Apa kamu mau buat sandiwaranya gagal total?”
Thea buru-buru menggeleng sambil mengatupkan kebaya yang kancingnya terbuka dengan kedua tangan.
Alvan terdiam sementara matanya sudah melirik kebaya Thea yang kancingnya terbuka sebagian.
“Aku mandi dulu.” Alvan langsung ngeloyor masuk kamar mandi tanpa menunggu persetujuan Thea. Padahal awalnya Thea yang ingin menggunakan kamar mandi lebih dulu.
Selang beberapa saat, Thea sudah bisa menikmati sejuknya guyuran air. Matanya terpejam sesekali sambil menikmati buliran air memijat punggungnya. Untuk beberapa saat semua kepenatan hilang seketika.
Cukup lama ia menggunakan kamar mandi dan berpikir jika Alvan sudah terlelap. Namun, dugaannya salah.
Alvan masih terjaga dan kali ini sedang duduk bersandar di kasur sambil memainkan ponselnya. Thea keluar kamar mandi dengan canggung.
“Eng … Pak, saya tidur di mana?”
Thea sengaja bertanya seperti itu karena hanya ada satu ranjang di kamar ini. Thea yakin, Alvan tidak akan mau berbagi dengannya. Apa mungkin pria ini mau tidur di lantai? Atau jangan-jangan dia yang harus mengalah?
“Memangnya kamu mau tidur di mana? Di lantai?”
Seketika Thea menggeleng. Air conditioner di kamar ini sangat dingin, meski lantainya menggunakan karpet. Thea yakin ia akan masuk angin jika tidur di lantai. Ia tidak terbiasa tidur menggunakan ac.
Di tempat kostnya hanya ada kipas angin yang bunyinya seperti baling-baling helicopter yang mendinginkannya. Bagi Thea itu sudah cukup.
“Ya sudah. Sini, tidur di sebelahku.”
Sontak mata Thea membola sambil beberapa kali menelan saliva. Meski pekerjaan sambilannya sebagai call girl, tapi ia tidak pernah sekalipun berada satu ranjang dengan seorang pria.
Thea selalu menolak hubungan badan dengan kliennya. Kalaupun ada yang memaksa, ia punya cara sendiri untuk mengatasinya.
“Kenapa bengong? Bukannya kamu sudah biasa tidur dengan pria?”
Tidak ada jawaban dari wanita cantik itu. Ia hanya menelan saliva. Ia sudah menduga jika dosennya akan berpikir seperti itu. Mana ada wanita dengan profesi call girl yang tidak melakukan hal itu.
“Iya, Pak.”
Thea tersenyum lebar sambil mengangguk. Percuma juga jika ia menjelaskan ke Alvan kalau dia salah satu call girl dengan pengecualian. Toh, profesi ini sudah berkonotasi buruk.
Thea naik ke atas kasur dan langsung berbaring bersebelahan dengan Alvan. Tanpa sungkan ia langsung masuk ke dalam selimut. Ia sangat kedinginan saat ini.
Karena Thea terus menggerakkan kakinya, tanpa sengaja ia sudah bersinggungan dengan paha Alvan. Alvan terkejut dan menoleh ke arahnya. Bersamaan Thea juga sedang melihat padanya.
Dengan lirih, Alvan bersuara, “Kamu sedang menggodaku, Thea?”
“Sudahlah, nanti aku yang ngatur. Kamu gak usah mengembalikannya,” imbuh Alvan.Thea semakin terkejut dan menggelengkan kepala.“Babe, bagaimanapun yang aku lakukan salah. Aku sudah melanggar syarat dalam beasiswa itu dan sebagai konsekuensi aku harus menggantinya.”“Kalau kamu keberatan, aku pinjam uang Kakek saja.”Alvan berdecak sambil menggelengkan kepala menatap Thea dengan sendu.“Aku sama sekali gak keberatan membayarnya. Hanya saja untuk apa aku bayar uang ke yayasan milikku sendiri?”Thea terdiam. Ia duduk tegak sambil menatap Alvan dengan bingung. Bastian yang mengemudi di depan hanya mengulum senyum melihat interaksi mereka.Wajah Thea terlihat linglung, menatap Alvan sambil mengerjapkan mata beberapa kali. Alvan gemas melihatnya.“Bas, jelaskan padanya!!!”Pada akhirnya Alvan malah menyuruh Bastian yang bersuara. Bastian mengangguk sambil melirik Thea melalui kaca spion.“Apa Nona ingat saat Anda memenangkan lomba melukis ketika SMA dulu?”Thea terdiam sejenak kemudian meng
“PAK ALVAN!!!!”Semua orang di dalam ruangan itu sangat terkejut begitu melihat kedatangan Alvan. Leo yang sedari tadi terlihat berapi-api dan sok kuasa, langsung membeku di kursinya.Sementara Thea langsung tersenyum lega begitu melihat Alvan. Ia tidak menduga Alvan akan datang secepat ini.Perlahan Alvan mendekat kemudian berdiri di samping Thea dan merangkulnya.“Kamu baik-baik saja?” tanya Alvan.Thea tersenyum sambil mengangguk. Semua yang hadir di ruangan itu tercengang kaget melihat interaksi mereka.“Jadi benar, Pak Alvan dan Thea sudah menikah?” tanya Pak Hanafi memecah keheningan.Alvan mengangguk. “Iya, benar. Saya sudah menikah dengannya sejak semester yang lalu. Hanya saja peresmiannya baru saat liburan semester ini.”Semua langsung terkejut mendengar pengakuan Alvan. Kemudian tak lama terlihat Bastian masuk ke dalam ruangan. Atas perintah Alvan, Bastian menunjukkan s
Semua yang hadir terdiam, sementara Leo langsung kembali ke tempatnya. Ia kembali menunjukkan beberapa foto kemesraan Alvan dan Thea ke dalam slide yang sudah disiapkan.Tanpa Thea tahu, Leo telah memodifikasi foto aslinya dengan Alvan menggunakan aplikasi pintar. Entah mengapa fotonya terlihat asli sama seperti sebelumnya.“Bagaimana? Kamu mau menyangkal apa sekarang?” sergah Leo.Belum ada jawaban dari Thea. Ia hanya terdiam sambil menatap slide yang memutar fotonya dengan Alvan. Meski Thea mencurugai foto itu tidak asli, tapi ia harus mendapatkan bukti kebohongan Leo.“Kalau tidak salah, bukankah Anda salah satu mahasiswi penerima beasiswa?” tanya salah satu dosen dari perwakilan rektorat.“Iya, Pak.”“Nah, tunggu apa lagi, Pak? Dia ini tidak pantas menjadi contoh mahasiswa yang lain.” Leo langsung menyahut sebelum Thea meneruskan jawabannya.“Harusnya beasiswanya dicabut, kalau
Thea membeku di posisinya kemudian menganggukkan kepala berulang.“Iya, Bu. Saya akan ke kampus.”Tidak ada jawaban dari Bu Nirma, tapi panggilannya sudah berakhir.“Apa semuanya baik-baik saja, Thea?” Suara Widuri menyeruak dari belakangnya.Thea menoleh sambil mengangguk.“Iya, Bun. Cuman saya harus ke kampus hari ini. Apa gak masalah Ayah dan Bunda saya tinggal?”“Iya, gak papa. Biar kamu diantar Pak Udin saja.”Thea mengangguk kemudian sudah berpamitan ke Widuri dan Emran. Selang beberapa saat Thea sudah tiba di kampus. Ia langsung menuju fakultasnya, tapi baru saja turun dari mobil. Beberapa mata sudah mengawasinya dengan tatapan kebencian.“Bukannya itu Thea yang ayam kampus dan pacaran ama Pak Alvan.”“Iya, ngapain dia ke kampus? Gak punya malu banget.”“Kemarin aku juga lihat dia lagi berantem ama seseorang di mini market depan.&
Emran dan Widuri kembali tercengang, tapi reaksi mereka tidak berlebihan. Thea semakin gelisah dibuatnya. Bukankah biasanya para orang tua akan marah jika tahu kenyataan ini. Apalagi Thea adalah menantu mereka.“Namun, harap Ayah dan Bunda garis bawahi. Saya bukan wanita panggilan seperti pada umumnya.”“Saya hanya menemani mereka jalan, ngobrol, tanpa sentuhan fisik dan hubungan intim.”“Saya masih perawan saat menikah dengan Pak Alvan. Saya bersumpah atas nama Tuhan.”Thea berkata sambil mengangkat tangannya ke atas. Matanya menunjukkan kesungguhan dengan mata berkaca menatap Emran dan Widuri bergantian.Widuri hanya diam sambil menganggukkan kepala. Namun, berbanding terbalik dengan Emran.“Setahu Ayah, yang namanya wanita panggilan itu identik dengan konotasi. Apa kamu pikir kami akan langsung percaya dengan penjelasanmu?”Thea terdiam, menurunkan tangannya dan tertunduk lesu. Widuri
“Gimana kabarmu, Sayang?” tanya Widuri begitu mereka di dalam mobil.“Alhamdulillah baik, Bu. Kenapa Bunda gak bilang kalau mau ke sini?”Widuri hanya tersenyum sambil menatap Thea dengan lembut.“Gak papa. Kebetulan Bunda dan Ayah ada keperluan di sini. Jadi sekalian mampir. Kamu juga sedang sendirian, kan?”Thea mengangguk. Sepertinya Alvan sudah memberitahu kedua orang tuanya jika ia sedang berada di luar negeri.“Eng … kalau gak salah tadi Bunda melihat Erika. Apa dia menemuimu?”Wajah Widuri telihat gelisah dan menatap Thea penuh cemas. Thea tersenyum sambil menganggukkan kepala.“Iya, Bun. Bunda gak usah khawatir. Saya dan Erika gak ada masalah, kok.”Widuri hanya diam. Ekspresinya terlihat bingung, tapi perlahan kepalanya mengangguk. Selanjutnya mereka memilih berbincang hal random dan tak terasa mobil sudah membawa mereka ke rumah.Kali ini sengaj







