"Aku dengar pernikahannya gagal! Kekasihnya malah menikahi kakaknya."
"Pasti kakaknya lebih cantik. Sampai sekarang aku masih heran, kok bisa si cupu kayak dia kerja di hotel ternama seperti ini. Sebagai resepsionis pula."
"Katanya, dia sempat menggoda kepala divisi kita."
“Oh! Mungkin kekasihnya tahu hal itu dan langsung mencampakkannya!”
“Hahaha, pantas!”
Lizbeth mendengar semua gunjingan yang jelas-jelas tentang dirinya tersebut. Namun, ia berpura-pura tidak dengar. Lizbeth memilih mengabaikan komentar menyakitkan itu.
Waktu telah berlalu. Elmer sudah menikahi kakak Lizbeth dan mengambil semua yang seharusnya milik Lizbeth. Bahkan, mereka mengusir Lizbeth karena ia sudah menjual cincin pernikahan mereka.
Hanya saja, Lizbeth sedikit menyesalkan keputusan impusifnya untuk bersenang-senang dan membayar pria itu karena hal tersebut berdampak pada nominal tabungan di rekeningnya. Sekarang, ia harus berhemat mati-matian dan bekerja lebih keras sebagai resepsionis di sebuah perusahaan real estate.
“Eh, menurutmu apakah dia pernah tidur dengan bos–”
Brak!
“Jaga bicara kalian. Hati Lilibeth, jauh lebih cantik daripada mulut kalian berdua!” tegur Grace teman dekat Lizbeth. Rupanya ia tadi membanting pintu loker hingga menutup.
Lizbeth menghela napas, sementara kedua perempuan yang membicarakan Lizbeth pergi. Grace menghampiri Lizbeth yang kini menutup lokernya dengan tenang, sama sekali tidak terlihat terprovokasi.
“Mereka keterlaluan. Kenapa kamu diam saja?”
“Bagian soal kakakku yang cantik kan memang benar,” ucap Lizbeth sembari membetukkan kacamatanya. Ia kembali ke penampilannya sehari-hari yang cupu dan membosankan.
Grace tertegun mendengar ucapan sahabatnya dan melangkah bersamanya keluar ruangan.
“Kamu cantik Lilibeth, calon suamimu itu saja yang buta!” ucap Grace dengan nada meyakinkan Lizbeth.
Hari itu, Lizbeth menjalani pekerjaannya seperti biasa. Meski cibiran masih berdatangan, ia tetap menyambut tamu dengan ramah. Bagi sebagian orang, Lizbeth mungkin terlihat cupu, tapi tak ada yang bisa meragukan integritasnya.
"Kamu sudah dengar belum? Katanya perusahaan akan berganti kepemilikan. Rumor kebangkrutan itu bukan sekadar kabar burung lagi!"
Lizbeth yang mendengarnya langsung menunduk, rasa cemas menguasai dirinya. Ia baru saja menghabiskan banyak uang dan bahkan diusir dari rumah. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Untuk makan saja ia sudah harus berhemat. Tidak mungkin ia meminta Elmer mengembalikan sebagian uang yang telah digunakan untuk pernikahan yang gagal itu.
Di tengah kecamuk pikirannya, telepon di meja depan berdering. Grace yang menjawab panggilan itu.
"Baik, Pak. Saya akan segera memberitahu Lizbeth."
Grace menutup panggilan itu dan meraih tangan Lizbeth. “Lilibeth, kamu dipanggil Pak Rainer.”
‘Lilibeth’ adalah panggilan sayang dari orang-orang terdekatnya, seperti saudara dan sahabatnya. Grace menepuk pundaknya pelayan.
“Pak Rainer menunggumu di ruangannya.”
Tanpa pikir panjang Lizbeth langsung pergi menuju ruang atasannya. Kini Lizbeth berdiri di hadapan Rainer yang tengah duduk.
“Duduklah,” ucap Rainer.
Lizbeth pun duduk, dan mencoba untuk tetap tenang. Beberapa saat kemudian, Pak Rainer mendorong sebuah dokumen ke arahnya.
"... apa ini, Pak?"
Saat membuka dan membaca isinya, mata Lizbeth membelalak. Itu surat mutasi.
“Pak ini ....”
“Perusahaan ini akan segera berganti kepemilikan. Kantor pusat meminta beberapa orang. Jadi, saya memilihmu untuk dipindahkan ke sana.”
***
Lizbeth berdiri memandangi gedung pencakar langit bertuliskan ‘KINGSLEY’. Keluarga Kingsley adalah konglomerat asal Amerika, yang rumornya dari kalangan mafia.
Kingsley memiliki banyak anak perusahaan. Perusahaannya bergerak di bidang real estate, infrastruktur, dan konstruksi. Mereka juga memiliki tempat hiburan, klub malam, serta kasino. Serta anak perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan dan restoran, dan kini sudah merambat ke seni dan hiburan.
Hari ini ia resmi mulai bekerja di kantor pusat. Proses perpindahannya berlangsung sangat cepat.
Ia melirik ke sekeliling, suasana kantor pusat terasa lebih besar dan jauh lebih ketat. Lizbeth menghampiri meja resepsionis.
"Halo, saya Lizbeth, resepsionis baru di kantor ini."
Resepsionis bernama Angela terbelalak melihat sosok Lizbeth yang berkacamata. Ekspresi di wajahnya seolah dia tidak percaya, orang baru yang dikirimnya jauh dari prediksinya.
“Tunggu, saya akan menghubungi kantor office dulu.”
Lizbeth hanya mengangguk pelan. Tak lama kemudian, ia dibawa menghadap atasannya yang baru, seorang manajer perempuan.
“Halo, saya Lizbeth. Saya dimutasi kemari,” ujar Lizbeth seraya menyerahkan dokumen mutasinya.
Sonia, manajer barunya, menerima berkas itu. Tatapannya menelusuri Lizbeth dari kepala hingga kaki. Raut wajahnya menunjukkan keterkejutan yang tak jauh berbeda dari Angela sebelumnya.
"Kamu bisa mulai bekerja hari ini. Alex, berikan seragam dan kunci lokernya," perintah Sonia.
"Kupikir yang datang itu perempuan cantik. Apa dia bisa bertahan di sini?" cibir Alex sambil mengangkat alis.
Lizbeth tampak sabar. Dia sudah terbiasa menerima komentar seperti itu. Lizbeth pun mengikuti Alex pergi ke loker dan memberikan seragam itu kepada Lizbeth.
“Semoga kau bisa bertahan!” sindir Alex sambil berlalu.
Lizbeth mengernyit, merasa seolah dirinya sudah divonis takkan mampu bertahan di kantor ini. Setelah berganti pakaian, ia kembali ke area depan. Namun, suasana kantor terlihat jauh lebih sibuk dari sebelumnya. Beberapa orang tampak menggelar karpet merah.
"Eh, ada apa ini?" tanya Lizbeth pada Angela.
"CEO akan datang. Cepat, kita harus menyambutnya. Jangan sampai ada kesalahan!"
Lizbeth terdiam. Sepanjang kariernya, belum pernah ia menyambut langsung kedatangan CEO. Kini, semua dari resepsionis, divisi administrasi, hingga manajer berdiri berjejer menanti.
"Tundukkan wajahmu. Dia tidak suka ditatap langsung," bisik Angela.
Lizbeth menuruti arahan Angela dan menundukkan kepalanya. Tak lama, sosok sang CEO keluar dari mobil mewah yang terparkir di depan. Ia berjalan masuk diiringi sekretaris dan dua bodyguard-nya.
"Selamat datang kembali, Pak," sambut seorang direktur.
Sang CEO berjalan melewati semua orang tanpa berkata sepatah kata pun hingga akhirnya masuk ke dalam lift pribadi.
Di saat yang sama, Lizbeth mencium aroma yang sangat ia kenali.
‘Wangi parfum ini...’
Ia perlahan mengangkat kepalanya dan melirik ke arah lift. Namun, pintu lift telah tertutup rapat.
Lizbeth berhenti melangkah. Matanya menatap Kilian tajam, seakan bersiap jika harus menerima kabar buruk lagi. “Apa itu?”Kilian menarik napas panjang. “Lucas, dia juga berada di New York. Dia datang ke sini, melihat Pak Lucien, belum lama ini.”Deg! Hati Lizbeth langsung mencelos. Ia baru tahu kalau Lukas berada di sini, hal itu mengejutkan Lizbeth. Membuat Lizbeth semakin yakin, kalau Lucas adalah anak kesayangan Alessandro. Bahkan kepergiannya sama sekali tidak diketahui oleh Lizbeth, dan sama sekali tidak memberitahunya.Lizbeth menahan napas. Ekspresinya datar, meski dalam hati penuh gejolak. “Aku mengerti.”Kilian tampak ragu. “Nyonya, apakah Anda tidak—”“Tidak perlu membicarakannya sekarang,” potong Lizbeth cepat, suaranya tegas. “Kita pulang. Aku ingin kembali ke rumah.”Kilian menunduk. “Baik, Nyonya.”Meskipun sebenarnya banyak hal yang ingin kalian katakan kepada Lizbeth tentang Lucas, ia berpikir Lizbeth pasti akan menuduhnya lagi. Demi menjaga perasaan Lizbeth, Kilian
“Justru aku yang seharusnya berterima kasih.” Victoria terkejut. “Karena Mom sudah melahirkan Lucien kedunia ini.” Lizbeth tersenyum, yang diikuti oleh senyuman Victoria.“Hari ini aku akan menjenguk Lucien,” sambung Lizbeth.Ada keterkejutan di wajah Victoria. Bahkan Victoria dan Cameron hingga hari ini belum berani melihat Lucien, dan semua itu diurus oleh pengacara. Victoria tidak tega melihat Lucien yang seperti itu.“Kau memiliki keberanian ibumu, Lilibeth.”Lizbeth tersenyum, setelah itu dia berdiri. Lalu pergi dari kamar Victoria.Sekitar jam 11 siang, Lizbeth akhirnya memutuskan untuk menemui suaminya. Namun, orang yag pertama menemui Lucien adalah Kilian.Petugas membuka pintu ruangan khusus yang dipinta oleh Lizbeth untuk berbicara dengan mereka. Di dalam, Lucien duduk di bangku besi. Wajahnya lebam, bibir pecah, ada luka memar yang sudah mengering di pelipis. Namun, matanya tetap tajam.“Kilian?” suara Lucien serak, nyaris berbisik. Ada keterkejutan sekaligus secercah keleg
Esok harinya, saat sarapan bersama dengan Caspian dan Samantha. Lizbeth akhirnya mengutarakan keinginannya untuk pergi ke New York.“Tidak boleh. Kondisi saat ini belum stabil. Kamu juga tidak boleh menemui Lucien dulu.”Lizbeth mengerutkan keningnya.“Aku bukan anak kecil yang bisa diatur semaumu Dad. Yang berada di sana adalah suamiku. Aku akan tetap pergi meskipun kau tidak mengizinkannya.”Caspian menatap tajam Lizbeth, dia tahu ucapannya tidak akan menghentikan Lizbeth.“Aku akan menemaninya,” kata Samantha.“Aku bisa sendiri,” kata Lizbeth.Samantha menatap Lizbeth. “Untuk saat ini kamu tidak bisa bepergian sendirian. Biarkan Nenek menemanimu. Dengan begitu ayahmu bisa tenang.”Lizbeth menurunkan pandangannya. “Sore ini, tidak ada kata besok.”Lizbeth berdiri. Dia meninggalkan meja makan, saat hendak masuk ke dalam lift. Ia merasakan perutnya sakit.“Aaargh!” desisnya.Lizbeth kembali ke kamar, dia mulai menyiapkan pakaiannya. Apa yang terjadi saat ini tidak bisa menekan keingin
Lucas berhenti tepat di ambang pintu. Punggungnya menegang, detak jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Sebutan itu terdengar jelas di telinga Lucas.“Kakak,” gumam Lucas.Dengan perlahan, ia menoleh. Sorot matanya tajam, berusaha membaca ekspresi Lucien yang penuh luka dan amarah. Namun, Lucien masih bisa tersenyum sinis. “Apa maksudmu?” suara Lucas terdengar berat, hampir tercekat.Lucien tertawa lirih, suaranya serak. “Kakak, seharusnya sejak dulu aku memanggilmu dengan sebutan itu.” Lucien menghela napas. “Jika kau sangat ingin Kingsley, kenapa harus melakukan cara sekotor ini? Kau bisa memintanya padaku. Dengan senang hati aku bisa memberikannya padamu.”Lucas mengepal tangannya. Matanya menajam, sorot matanya merah. Seolah dirinya hanya menerima barang bekas milik Lucien. Lucas menekan amarah dan menyipitkan mata, menahan diri untuk tetap tenang. “Kau berhalusinasi, Lucien. Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”Namun Lucien justru menggeleng pelan, bibirnya meleng
Mario terdiam, menatap Lucien yang mulai terguncang. Wajah pria itu pucat, napasnya berat, seolah tubuhnya menahan sesuatu yang tidak bisa ia lepaskan.Mario mengernyit. “Lucien, jangan bicara seperti itu. Kita cari jalan keluar—”“Tidak ada!” bentak Lucien, suaranya menggema di ruang konsultasi hukum. “Aku sudah tahu permainan ini. Mereka tidak hanya ingin menjatuhkanku, mereka ingin aku mati perlahan. Dan ketika itu terjadi, Lizbeth tidak boleh ikut hancur bersamaku.” Lucien menghela napas. “Aku yang salah, aku yang masuk ke dalam rencana mereka. Alessandro masih memiliki pengaruh, dia bekerja sama dengan kepolisian. Aku sangat yakin.”Mario tercekat. “Lizbeth, tidak akan menerima wasiat terakhirmu. Kurasa kamu jelas tahu seperti apa sifat istrimu.”Lucien menatap Mario, matanya merah berair. “Jika aku tidak bisa keluar dari sini, kau harus mengatur perceraian kami. Lizbeth harus bebas dari semua ini. Dia harus tetap hidup sebagai penerus Kingsley, bukan sebagai istri seorang penjah
Alessandro tertawa di seberang sana. Lucas mematikan panggilan telepon.Di kamar, Lizbeth menggenggam perutnya dengan lemah, tetapi tidak ada lagi air mata yang menetes. Ia tahu saat ini bukan lagi untuknya menangis.“Alessandro, kau harus membayar mahal semuanya.”Lizbeth masih terbaring di ranjang, wajahnya pucat, tubuhnya lemah.Beberapa hari ini, bayangan Lucien di dalam penjara terus menghantui pikirannya.Samantha masuk pelan, membawa sup hangat. “Sayang, kau harus makan. Kalau terus begini, kau bisa jatuh sakit parah.”Lizbeth menggeleng pelan. “Aku tidak lapar.”“Lilibeth, sampai kapan kamu akan seperti ini? Kamu tidak bisa mogok makan semaumu. Jika kamu masih keras kepala, bagaimana dengan anakmu. Dia butuh nutrisi dan gizi.” Samantha duduk di tepi ranjang,ia meraih tangan Lizbeth. “Kalau kau sakit, bagaimana bisa menyelamatkan Lucien.Kamu butuh kekuatan dan juga energi, bukan?.”Lizbeth menoleh, matanya berbinar. Namun, dia tidak membiarkannya menetes.“Nenek benar, aku haru