เข้าสู่ระบบ***
“Sayang…”
Suara derap langkah terburu-buru mengalihkan atensi Keeva, bibirnya menyunggingkan senyum miring. Aditya berlarian kecil memasuki kamar.
“Aku telpon dari semalam kenapa nggak diangkat? Aku cariin kamu ke beberapa rumah sakit, loh!” ujar Aditya lagi dengan wajah tampak cemas.
Suara itu muncul keesokan paginya. Masuk menusuk telinga Keeva. Aditya duduk di tepi ranjang dengan gerakan yang tenang. Ia mengusap dahi Keeva yang lembab oleh keringat.
“Maaf, yaa. Aku harus ngurusin planning proyek baru. Jadi baru bisa baca pesan kamu tadi malam. Dokter bilang apa?” ujar Aditya lagi dengan wajah sayu dan mata sembabnya.
Keeva mencoba meraih gelas di atas nakas, menghindar dari tangan Aditya yang ingin mengusap lengannya. Suara pria itu masih setenang dan selembut biasanya.
Sayangnya kini Keeva hanya bisa menatapnya penuh amarah dan kebencian yang memuncak.
Senyum yang terulas di bibir Aditya pun, perlahan tampak menjijikan bagi Keeva.
“Maaf, mas. Aku gagal lagi jagain anak kita,” lirih Keeva.
Tanpa menunggu lama, Aditya menarik Keeva ke dalam dekapan. Ia bisa merasakan tubuh Keeva bergetar karena tangis, berulang kali ia mengusap punggung istrinya seraya membisikan kalimat-kalimat penenang.
Entah Keeva menangisi apa. Banyak pemikiran dan pertanyaan yang terlintas berputar-putar. Mencari sebuah penjelasan masuk akal untuk semua ini.
Bagian mana dari Aditya yang nyata?
Bagaimana jika semua tebakannya benar?
Lalu, apa alasan Aditya melakukan semua itu?
***
“Kamu lagi mikirin apa? Hm?”
Sepulang dari rumah sakit, suasana di rumah itu tak lagi sama. Namun, Aditya tetap mulai rutin memberikan obat yang biasa Keeva minum sebelumnya.
“Cerita sama aku,” kata Aditya lagi, melihat Keeva tidak merespon pertanyaannya.
Keeva menggit bibirnya, berusaha menghalau isakan tangis yang ingin keluar bersamaan dengan rasa benci, kecewa dan pikiran-pikiran negatif yang terus merasuk ke dalam otaknya.
“Nggak mikirin apa-apa, kok.” Suara Keeva terdengar serak dan parau.
Sekeras apapun ia mencoba biasa saja, tetaplah ada salah satu sudut dalam hatinya yang tidak lagi nyaman berada di dekat sang suami. Mimpi indahnya mempunyai keluarga kecil yang bahagia sirna sudah. Berubah menjadi mimpi buruk yang meruntuhkan dunianya dalam sekejap.
“Kalau gitu, minum obatnya dulu. Abis itu istirahat lagi, yaa?”
Mau tak mau, Keeva melebarkan senyum manisnya. “Makasih, mas.”
“Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu, Sayang.”
Kening Keeva sedikit berkerut memikirkan alasan di balik ucapan terimakasih suaminya, “Aku ada rapat pagi hari ini, harus berangkat lebih awal ke kantor.”
“Mas, kamu kenapa, sih?” Keeva bertanya sambil merapikan dasi suaminya.
Aditya menggeleng, “Memangnya aku kenapa, sayang?”
Keeva memperhatikan paras tampan suaminya lamat-lamat.
“Kamu aneh, udah dua mingguan ini selalu pulang larut malam. Bahkan beberapa kali nggak pulang ke rumah. Ponsel kamu susah dihubungi, apa sibuk banget?”
Hanya dengusan kasar yang Keeva dengar.
Aditya kembali duduk. “Kamu kenapa jadi banyak protes gini, sayang? Lagi PMS?”
“Protes gimana? Wajar kalau aku tanya, kan?” desak Keeva.
Tangan Aditya mengetuk meja tanpa sadar. “Aku sibuk kerja. Kenapa kamu malah sibuk tanya ini itu yang nggak jelas gini?”
Suara Aditya terdengar ragu, seperti tidak yakin dengan kata-katanya sendiri.
“Aku ada rapat penting. Kamu minum obatnya sekarang, nggak boleh telat. Biar kamu cepat pulih,” lanjut Aditya tak ingin mendengar protes istrinya lebih jauh lagi.
Senyum Keeva lenyap. Namun, beberapa detik kemudian sudut bibirnya kembali terangkat sembari menerima obat yang Aditya sodorkan. Pria itu tidak pernah melewatkan satu menit pun jadwal minum obatnya.
Keeva harusnya sangat beruntung mendapat suami yang begitu telaten merawatnya, dan tidak mengeluhkan kondisi penyakit Keeva yang menurutnya cukup memalukan.
“Jangan lupa selesaikan bahan presentasinya malam ini, ya! Proyek besar ini harus kita dapetin,” ucap Aditya lagi seraya mengecup kening istrinya sekilas sebelum meraih kunci mobil.
Melihat kepergian Aditya, Keeva menaikan satu alisnya. Bagaimana bisa lelaki itu membohonginya dengan senyum yang tampak tulus?
Sebelum semua fakta menyakitkan ini menghantamnya bertubi-tubi, hampir tak ada alasan bagi Keeva untuk mencurigainya.
Namun, tak ada orang lain di rumah itu. Mereka hanya tinggal berdua, Aditya tidak mengizinkan Keeva dibantu ART. Menurutnya semua urusan rumah bisa Keeva kerjakan sendiri karena dia tidak punya kesibukan lain.
Selepas mobil Aditya meninggalkan kediaman mereka, Keeva mengeluarkan pil pahit yang ia sembunyikan di bawah lidah.
Tidak ingin menduga-duga lebih jauh, Keeva menghubungi seseorang untuk mengantarkan beberapa sampel obat yang ia minum ke laboratorium.
“Bawa kesini segera setelah hasil lab keluar,” perintah Keeva pada seorang laki-laki bernama Gery. Dulunya dia adalah mantan karyawan ayahnya juga, partner Aditya yang dijebak hingga sekarang didepak dari seluruh organisasi dibidang teknologi.
Gery sempat menolak kerja sama yang Keeva tawarkan, ia masih dendam padanya dan Aditya. Namun, setelah tahu ini salah satu cara untuk menghancurkan Aditya ia menyetujuinya.
“Akhirnya aku menemukan celah untuk menghancurkan Aditya,” ucap Gery sinis.
“Belum tentu itu perbuatan Aditya. Dan kita juga belum tahu hasil labnya,” tukas Keeva.
Gery hanya tersenyum miring. “Kenapa? Takut akan menemukan iblis dalam diri suami kamu sendiri?”
“Stop Ger! Aku bayar kamu bukan untuk mengejekku,” sahut Keeva ketus.
Lantas menyuruh Gery segera pergi sebelum ada yang melihatnya.
Keeva berdiri mematung di balik pintu hampir sepuluh menit. Antara ingin tahu kebenaran dan ingin tetap buta dalam kebahagiaannya yang palsu.
Jika tebakan Keeva benar Aditya di balik semuanya, jelas suaminya itu pasti sudah mempersiapkan banyak hal untuk menyembunyikan kelakuaan busuknya.
Karena keterbatasan gerak dan menghindari pelacakan oleh Aditya. Keeva memilih Gery sebagai orang yang bisa ia ajak kerja sama. Dia akan melakukan pekerjaannya dengan bersih tanpa meninggalkan jejak digital apa pun.
***
Saat Aditya sedang serius dengan rapat virtualnya di ruang kerja, Gery datang sebagai kurir paket.Jantung Keeva terpacu lebih kencang dari sebelumnya. Ia melirik ke arah ruang kerja Aditya sepintas, memastikannya masih sibuk dengan rapat.
Gery menyelipkan hasil labnya di dalam kotak sereal yang Keeva pesan melalui aplikasi belanja online.
“Siapkan mentalmu.” Gery berujar hanya dengan menggerakan bibirnya tanpa suara.
.
.
.
...Bab 115Sepasang suami istri yang baru saja terbakar habis oleh gairah itu pun terkapar di atas ranjang. Dada yang naik turun berusaha mengatur napas, bulir peluh yang mengaliri hampir sekujur tubuh.Aldrich menarik Keeva masuk dalam dekapannya, membubuhinya dengan kecupan-kecupan manis.Setelah beberapa saat saling bertukar pelukan, Dara menjauhkan sedikit badannya. “Lengket, Al. Bersihin badan dulu.”“Iyaa.” Sebelum benar-benar turun dari ranjang, Aldrich kembali menghujani Keeva dengan kecupan-kecupan kecil yang membuatnya geli.“Stop Al! kamu masih ada agenda kegiatan hari ini, buruan siap-siap,” seru Keeva, sembari mendorong tubuh suaminya.Hari ini agenda mereka adalah meeting evaluasi kerja. Sementara Aldrich dia ada meeting dengan klien berwsama bastian di tempat lain yang masih ada di area resor.Keeva berjalan melangkah riang melewati koridor yang sepi karena semuanya sudah bersiap di resto untuk menikmati makan siang.Seharusnya memang Keeva makan sendiri saja sepert
...Bab 114Keeva tetaplah Keeva. Beberapa menit terlibat adegan panas dengan Aldrich tetap saja saat ada notifikasi yang menandakan ada email masuk ia tetap bisa mendengarnya.“Al, aku liat bentar, yaa?”Keeva meringis di bawah kungkungan tubuh Aldrich. Keringat mereka masih bercampur, begitu juga dengan tubuh yang masih saling menempel menyalurkan kehangatan di tengah dinginnya cuaca Jogja.Aldrich terkekeh, mereka bahkan masih terengah-engah mengatur napas yang belum stabil setelah terlibat penyatuan panas beberapa menit lalu.“Please…” mohon Keeva.“Kamu nggak capek? Hm?”“Capek lah! Tapi bentaran doang cuma mau cek email.”Baiklah! Aldrich harus mengalah menghadapi istri yang gila kerja juga seperti dirinya. Pelan-pelan ia bangkit dari atas tubuh Keeva, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.“Makasih, Al,” ucap Keeva riang. Laptop yang sudah tersinngkir ke atas nakas tadi ia ambil kembali.Beberapa menit Keeva menekuri laptopnya Aldrich tidak lantas tidur. Dia m
...Bab 113 KeevaHujan memang tidak terlalu deras begitu Keeva dan Aldrich sampai di resor, tetapi cukup membuat mereka berdua basah kuyup karena Keeva memaksa untuk menyelinap lewat pintu samping, yang lebih jauh menjangkau kamarnya.Usai berganti dengan pakaian yang kering, Keeva segera duduk di atas ranjang membuka laptopnya. Beberapa camilan sudah terkumpul di sekitarnya siap untuk Keeva absen satu per satu. Kecuali susu dinginnya. Aldrich menggantinya dengan susu hangat yang ia pesan di resto lantai bawah.Aldrich paham sekali istrinya tidak bisa jauh-jauh dari laptop dan segala yang menyangkut Iris Drive. Ia pun segera beranjak menyusul ke atas ranjang untuk menemaninya.“Eh, kenapa? Kamu udah mau tidur, yaa? Aku pindah sofa aja,” ujar Keeva buru-buru menyingkirkan jajannya.“Nggak. Sini aja, aku temenin. Kita bisa sambil diskusi jadinya.”Keeva memperhatikan lama wajah suaminya. Satu tangannya menopang dagu, tertahan di atas paha. “Nggap apa-apa emang? Kamu nggak capek?”“Ng
...Bab 112Hampir satu jam konser seheila on 7 berlangsung, belum ada tanda-tanda Keeva minta pulang. Perempuan itu masih asyik menggoyang-goyangkan badannya mengikuti irama lagu sementara Aldrich posisinya tepat di belakang Keeva. Mata elangnya tidak bisa lengah memperhatikan sekitar.Meski sangat jarang penonton Sheila on 7 rusuh, tetap saja Aldrich merasa menonton konser di tengah lautan manusia akan sangat tidak aman untuk keselamatan istrinya dari tangan-tangan jahil penonton lain, terutama pria hidung belang yang mengambil kesempatan.“Keeva, ini udah satu album. Kamu bilang satu lagu doang, loh!” seru Aldrich tepat di samping telinga Keeva.Istrinya nyengir kuda. “Bentar lagi, yaa?”“Hujan, Keeva!” desis Aldrich. Mulai geram.Bukan sekedar marah karena Keeva tidak mau pulang, masalahnya sekarang hujan turun lagi. Dan baju mereka sudah basah oleh keringat yang bercampur gerimis.Aldrich menggunakan telapak tangannya untuk menutupi kepala Keeva.“Nggak usah, Al. Kita hujan-hu
...Bab 111Aldrich terkekeh keras. Mendapati wajah terpukul istrinya, ada rasa tidak tega sekaligus lucu.“Hei, di sebelah itu kamar Sania. Aku nggak tahu siapa laki-laki yang ada di dalam. Kamu juga denger, kan? Apa jangan-jangan…”Buru-buru Keeva berjinjit menutup mulut Aldrich, menghalangi hal memalukan yang akan keluar dari mulutnya. Keeva malu sekali, ya ampun! Hampir saja dia mau menceburkan diri ke laut demi meredam kesedihannya yang merasa dikhianati.“Jadi bener? Kamu ngira aku yang ada di kamar sebelah?” ulang Aldrich, menahan tawanya.Keeva spontan mencubit pinggang suaminya. “Y-ya lagian kamu. Ngilang dari siang, dan terakhir aku liat kamu sama Sania. Peluk-pelukan gitu. Jadi, nggak salah dong! Kalau aku nebak itu kamu?” seru Keeva menggebu-gebu. Lalu, mengerucutkan bibirnya.Melihat Keeva cemberut begitu, Aldrich tertawa kecil. “Oke, sorry. Aku emang anterin Sania tadi siang. Tapi cuma sampai ke petugas medis doang abis itu aku pergi. Nggak sengaja ketemu partner bisn
...Bab 110Keeva tersenyum kecut, berusaha meredam debaran jantungnya yang hampir berhenti berdetak. Tidak ingin melihat adegan menyakitkan itu lebih jauh, Keeva menyeret langkahnya menuju kamar.Pintu tertutup dengan suara bantingan kasar, lalu Keeva menguncinya. Sania memang adiknya, Keeva tahu itu. Namun, tetap saja mereka tidak lahir dari rahim yang sama dan dari penglihatan Keeva bisa tahu wanita itu punya rasa yang lebih pada suaminya.Hingga malam hari Keeva masih mengunci diri di kamarnya. Ia tak berminat sama sekali untuk berkumpul bersama yang lainnya untuk makan malam di tepi pantai. Bahkan mood belanja dan mengekplore Jogja hari itu lenyap sudah.Semua gara-gara jalang Sania!Bastian membawakan makan ke kamar, lalu camilan, Keeva menolaknya. Tak ada makanan atau minuman apa pun yang masuk dalam perut Keeva sejak siang. Isi kepalanya penuh oleh berbagai asumsi liar tentang Aldrich dan Sania yang sampai saat ini belum juga kembali.“Bisa gila aku lama-lama di sini,” gumam
“Mau apa kamu kesini?” tukas Bu Nadia. Suara ketus itu menyambar bahkan sebelum pintu terbuka sepenuhnya.Keeva membuka mulut, tapi belum sempat bersuara ibunya lebih dulu membuang muka. Tangannya tetap menahan gagang pintu. Tidak memberi akses Keeva untuk masuk.“Dasar nggak tahu terima kasih! Su
Keeva melangkah lebar keluar dari rumah. Aditya sudah pergi beberapa waktu lalu dan ia sama sekali tidak berminat menyusulnya. Ia hanya ingin menikmati udara malam sendirian, guna mendinginkan kepala penuh beban yang tak mau reda.Tujuannya jatuh pada bar di pusat kota. Sebelumnya ia tak pernah me
Bab 5 Insiden di KantorPrangg!“Aww!” pekik Indah.“Duh! Maaf. Maaf bu Keeva saya tidak sengaja,” imbuhnya lagi. Wajahnya menunduk dengan jemari saling bertaut di depan sisa-sisa bingkai foto yang hancur berantakan.Aditya sigap berlari menghampiri dan memeriksa tangan Indah dengan raut wajah yan
Bab 4“Keeva!”Keeva memutar badannya untuk melihat siapa yang memanggil. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis saat tahu yang memanggilnya adalah asisten Aditya. Sahabatnya juga yang menemani mereka merintis perusahaan itu dari nol.Bara tampak tertegun sejenak. Matanya menyisir penampilan baru Kee







