เข้าสู่ระบบBab 4
“Keeva!”
Keeva memutar badannya untuk melihat siapa yang memanggil. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis saat tahu yang memanggilnya adalah asisten Aditya. Sahabatnya juga yang menemani mereka merintis perusahaan itu dari nol.
Bara tampak tertegun sejenak. Matanya menyisir penampilan baru Keeva yang jelas terlihat sangat berkelas dan tak tersentuh.
“Makin cantik aja, mau ketemu Aditya?” puji Bara.
“Iyaa, mau bahas beberapa hal teknis yang lupa aku sampaikan tadi pagi.”
Saat mereka sedang berbincang, seorang wanita dengan rok span ketat dan riasan yang tebal untuk ukuran kantor, berjalan mendekat.
Dengan sekali lihat saja, Keeva langsung bisa mengenalinya. Dia Indah. Wanita dalam rekaman CCTV semalam, dia yang mengirim foto Aditya di atas ranjang.
Seketika rahang indah seolah jatuh. Ia menatap Keeva dari ujung rambut sampai ujung kaki, mencari sisa-sisa wanita pucat dan berantakan selayaknya orang gila yang pernah ia lihat di foto yang Aditya tunjukan.
“Indah, kan?”
Keeva menunjuk name tag di dada wanita itu dengan senyum miring. “Kebetulan sekali saya tadi membeli kopi dan camilan di bawah. Tolong ambil dan bagikan pada semua staff lain.”
“Tapi saya harus memberikan laporan ini pada Pak Aditya sekarang,” tolak Indah.
Keeva tidak menjawab lagi, ia justru mengambil dokumen di tangan Indah. Membaca isinya sekilas.
“Data log untuk sistem ini masih berantakan. Algoritma pendeteksinya akan menyebabkan sistem bug jika dipaksakan. Saya datang kemari untuk ini,” terang Keeva santai. Namun, memiliki beban nada suara yang menekan.
“Itu sudah saya sempurnakan, mana mungkin ada bug. Anda jangan menjadi sok tahu hanya karena istrinya pak Aditya,” tukas Indah.
Keeva melipat tangan di dada, melepas kacamatanya dengan gerakan lambat kemudian menatap Indah dari atas sampai bawah seolah sedang menilai barang murahan. Sesaat ia memperhatikan lebih lama di bagian perutnya.
“Saya memang paling tahu. Itu bukannya wajar. Yang tidak wajar itu kamu cuma seorang staff tapi mengaku banyak tahu tentang suami saya!”
Keeva maju selangkah, makin dekat memaksa Indah untuk mundur karena jarak mereka terlalu rapat.
Wajah Indah seketika memucat. Keeva menatapnya dengan senyum tipis yang justru membuat lawan bicaranya makin panas hati. Tidak lupa Keeva mengingatkan Indah untuk membagikan kopi yang dia bawa.
Hal itu semakin menunjukan siapa yang lebih berkuasa di sana. Beberapa karyawan yang kebetulan melihat perseteruan mereka mulai berbisik-bisik, menertawakan posisi Indah yang biasanya sok berkuasa mendadak kehilangan muka di depan istri bos mereka.
Keeva beralih pada Bara. “Bara, Mas Aditya di mana?”
“Lagi meeting di luar, sebentar lagi kembali. Mau tunggu di ruangannya?” tawar Bara.
Keeva mengangguk singkat, mengikuti Bara yang mengantarnya ke ruangan Aditya.
Tak banyak yang ia lakukan di sana, Keeva hanya duduk manis di depan laptop high- spec yang ia bawa. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, ia meretas masuk ke akun bank pribadinya dan Perusahaan yang selama ini di Kelola Aditya.
Keeva memindahkan semua hak aksesnya kembali ke tangannya dengan cara paling halus yang bahkan tak akan pernah Aditya sadari.
Selesai dengan laptop milik Aditya, Keeva beranjak dari kursi kebesaran suaminya. Saat itu juga pintu ruangan Aditya terbuka. Pria itu terpaku di ambang pintu. Matanya sedikit membelalak, butuh beberapa detik bagi Aditya untuk memastikan sosok wanita dengan rambut sedikit terang itu memang istrinya.
“Sayang, apa yang terjadi sama kamu?” suara Aditya terdengar syok sekaligus terpana dengan perubahan yang begitu tampak dalam diri istrinya.
Keeva tidak langsung menjawab. Ia menundukan wajahnya, pura-pura terisak menahan tangis.
“Maaf, Mas. Aku nggak ijin kamu dulu.”
Aditya berjalan mendekat, rasa cemas seketika menyapu wajahnya.
Keeva mendongak, butuh sedikit waktu untuk membuat dua matanya berkaca-kaca. “Aku nggak tahan lagi ada yang jelek-jelekin kamu gara-gara aku. Katanya aku kuno, kucel dan tidak pantas menjadi seorang istri direktur. Apa aku begitu memalukan?” lanjutnya, masih sesenggukan.
Rahang Aditya mengeras. “Siapa yang berani bicara begitu?!”
Tidak lupa Keeva juga menunjukan bukti screnshoot percakapan dengan Indah, hanya sebagaian tepat di part perempuan binal itu mengejeknya.
Keeva memainkan ujung kemeja suaminnya. “Bukan hanya itu, tadi juga ada staff kamu yang ngatain aku bodoh nggak ngerti apa-apa karena bilang berkas ini bermasalah. ”
Fokus Aditya beralih pada dokumen di meja. “Siapa yang bilang, sayang?”
Keeva menyeka air mata palsunya yang mengalir di pipi. “Dari name tag nya aku tahu namanya Indah. Bisa jadi dia orang yang sama yang mengejek aku, mas. Soalnya dia keliatan benci banget sama aku.”
Aditya mengusap wajahnya kasar. Keeva berhasil memancing emosinya, setidaknya setelah ini akan ada yang ribut besar. Meski itu tak sebanding dengan apa yang sudah Aditya perbuat padanya.
Keeva hanya baru memulai, masih ada banyak kejutan berikutnya yang sudah tersusun rapi di kepala.
“Y-ya udah, sayang. Kamu pulang dulu aja, aku mau tegur staff itu. Biar dia nggak gangguin kamu lagi. Kamu kan, belum pulih bener nanti kecapekan di sini.”
Lagi, Keeva menangis lebih kencang. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan, menyembunyikan senyum dingin yang hampir terulas di bibirnya.
“Tapi, aku mau beresin masalah bug itu. Nanti bisa jadi masalah besar sama klien kamu loh! Kamu panggil aja itu si Indah kesini biar minta maaf sama aku. Kamu nggak mau kan, aku kemana-mana jadi harus dandan secantik ini biar dibilang pantas jadi istri CEO?”
Berpikir sejenak, Aditya mengeluarkan ponselnya. Menghubungi Bara untuk untuk membawa Indah ke ruangannya.
Dari balik punggung Aditya, Keeva terseyum puas.
...Bab 115Sepasang suami istri yang baru saja terbakar habis oleh gairah itu pun terkapar di atas ranjang. Dada yang naik turun berusaha mengatur napas, bulir peluh yang mengaliri hampir sekujur tubuh.Aldrich menarik Keeva masuk dalam dekapannya, membubuhinya dengan kecupan-kecupan manis.Setelah beberapa saat saling bertukar pelukan, Dara menjauhkan sedikit badannya. “Lengket, Al. Bersihin badan dulu.”“Iyaa.” Sebelum benar-benar turun dari ranjang, Aldrich kembali menghujani Keeva dengan kecupan-kecupan kecil yang membuatnya geli.“Stop Al! kamu masih ada agenda kegiatan hari ini, buruan siap-siap,” seru Keeva, sembari mendorong tubuh suaminya.Hari ini agenda mereka adalah meeting evaluasi kerja. Sementara Aldrich dia ada meeting dengan klien berwsama bastian di tempat lain yang masih ada di area resor.Keeva berjalan melangkah riang melewati koridor yang sepi karena semuanya sudah bersiap di resto untuk menikmati makan siang.Seharusnya memang Keeva makan sendiri saja sepert
...Bab 114Keeva tetaplah Keeva. Beberapa menit terlibat adegan panas dengan Aldrich tetap saja saat ada notifikasi yang menandakan ada email masuk ia tetap bisa mendengarnya.“Al, aku liat bentar, yaa?”Keeva meringis di bawah kungkungan tubuh Aldrich. Keringat mereka masih bercampur, begitu juga dengan tubuh yang masih saling menempel menyalurkan kehangatan di tengah dinginnya cuaca Jogja.Aldrich terkekeh, mereka bahkan masih terengah-engah mengatur napas yang belum stabil setelah terlibat penyatuan panas beberapa menit lalu.“Please…” mohon Keeva.“Kamu nggak capek? Hm?”“Capek lah! Tapi bentaran doang cuma mau cek email.”Baiklah! Aldrich harus mengalah menghadapi istri yang gila kerja juga seperti dirinya. Pelan-pelan ia bangkit dari atas tubuh Keeva, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.“Makasih, Al,” ucap Keeva riang. Laptop yang sudah tersinngkir ke atas nakas tadi ia ambil kembali.Beberapa menit Keeva menekuri laptopnya Aldrich tidak lantas tidur. Dia m
...Bab 113 KeevaHujan memang tidak terlalu deras begitu Keeva dan Aldrich sampai di resor, tetapi cukup membuat mereka berdua basah kuyup karena Keeva memaksa untuk menyelinap lewat pintu samping, yang lebih jauh menjangkau kamarnya.Usai berganti dengan pakaian yang kering, Keeva segera duduk di atas ranjang membuka laptopnya. Beberapa camilan sudah terkumpul di sekitarnya siap untuk Keeva absen satu per satu. Kecuali susu dinginnya. Aldrich menggantinya dengan susu hangat yang ia pesan di resto lantai bawah.Aldrich paham sekali istrinya tidak bisa jauh-jauh dari laptop dan segala yang menyangkut Iris Drive. Ia pun segera beranjak menyusul ke atas ranjang untuk menemaninya.“Eh, kenapa? Kamu udah mau tidur, yaa? Aku pindah sofa aja,” ujar Keeva buru-buru menyingkirkan jajannya.“Nggak. Sini aja, aku temenin. Kita bisa sambil diskusi jadinya.”Keeva memperhatikan lama wajah suaminya. Satu tangannya menopang dagu, tertahan di atas paha. “Nggap apa-apa emang? Kamu nggak capek?”“Ng
...Bab 112Hampir satu jam konser seheila on 7 berlangsung, belum ada tanda-tanda Keeva minta pulang. Perempuan itu masih asyik menggoyang-goyangkan badannya mengikuti irama lagu sementara Aldrich posisinya tepat di belakang Keeva. Mata elangnya tidak bisa lengah memperhatikan sekitar.Meski sangat jarang penonton Sheila on 7 rusuh, tetap saja Aldrich merasa menonton konser di tengah lautan manusia akan sangat tidak aman untuk keselamatan istrinya dari tangan-tangan jahil penonton lain, terutama pria hidung belang yang mengambil kesempatan.“Keeva, ini udah satu album. Kamu bilang satu lagu doang, loh!” seru Aldrich tepat di samping telinga Keeva.Istrinya nyengir kuda. “Bentar lagi, yaa?”“Hujan, Keeva!” desis Aldrich. Mulai geram.Bukan sekedar marah karena Keeva tidak mau pulang, masalahnya sekarang hujan turun lagi. Dan baju mereka sudah basah oleh keringat yang bercampur gerimis.Aldrich menggunakan telapak tangannya untuk menutupi kepala Keeva.“Nggak usah, Al. Kita hujan-hu
...Bab 111Aldrich terkekeh keras. Mendapati wajah terpukul istrinya, ada rasa tidak tega sekaligus lucu.“Hei, di sebelah itu kamar Sania. Aku nggak tahu siapa laki-laki yang ada di dalam. Kamu juga denger, kan? Apa jangan-jangan…”Buru-buru Keeva berjinjit menutup mulut Aldrich, menghalangi hal memalukan yang akan keluar dari mulutnya. Keeva malu sekali, ya ampun! Hampir saja dia mau menceburkan diri ke laut demi meredam kesedihannya yang merasa dikhianati.“Jadi bener? Kamu ngira aku yang ada di kamar sebelah?” ulang Aldrich, menahan tawanya.Keeva spontan mencubit pinggang suaminya. “Y-ya lagian kamu. Ngilang dari siang, dan terakhir aku liat kamu sama Sania. Peluk-pelukan gitu. Jadi, nggak salah dong! Kalau aku nebak itu kamu?” seru Keeva menggebu-gebu. Lalu, mengerucutkan bibirnya.Melihat Keeva cemberut begitu, Aldrich tertawa kecil. “Oke, sorry. Aku emang anterin Sania tadi siang. Tapi cuma sampai ke petugas medis doang abis itu aku pergi. Nggak sengaja ketemu partner bisn
...Bab 110Keeva tersenyum kecut, berusaha meredam debaran jantungnya yang hampir berhenti berdetak. Tidak ingin melihat adegan menyakitkan itu lebih jauh, Keeva menyeret langkahnya menuju kamar.Pintu tertutup dengan suara bantingan kasar, lalu Keeva menguncinya. Sania memang adiknya, Keeva tahu itu. Namun, tetap saja mereka tidak lahir dari rahim yang sama dan dari penglihatan Keeva bisa tahu wanita itu punya rasa yang lebih pada suaminya.Hingga malam hari Keeva masih mengunci diri di kamarnya. Ia tak berminat sama sekali untuk berkumpul bersama yang lainnya untuk makan malam di tepi pantai. Bahkan mood belanja dan mengekplore Jogja hari itu lenyap sudah.Semua gara-gara jalang Sania!Bastian membawakan makan ke kamar, lalu camilan, Keeva menolaknya. Tak ada makanan atau minuman apa pun yang masuk dalam perut Keeva sejak siang. Isi kepalanya penuh oleh berbagai asumsi liar tentang Aldrich dan Sania yang sampai saat ini belum juga kembali.“Bisa gila aku lama-lama di sini,” gumam
“Mau apa kamu kesini?” tukas Bu Nadia. Suara ketus itu menyambar bahkan sebelum pintu terbuka sepenuhnya.Keeva membuka mulut, tapi belum sempat bersuara ibunya lebih dulu membuang muka. Tangannya tetap menahan gagang pintu. Tidak memberi akses Keeva untuk masuk.“Dasar nggak tahu terima kasih! Su
Keeva melangkah lebar keluar dari rumah. Aditya sudah pergi beberapa waktu lalu dan ia sama sekali tidak berminat menyusulnya. Ia hanya ingin menikmati udara malam sendirian, guna mendinginkan kepala penuh beban yang tak mau reda.Tujuannya jatuh pada bar di pusat kota. Sebelumnya ia tak pernah me
Bab 5 Insiden di KantorPrangg!“Aww!” pekik Indah.“Duh! Maaf. Maaf bu Keeva saya tidak sengaja,” imbuhnya lagi. Wajahnya menunduk dengan jemari saling bertaut di depan sisa-sisa bingkai foto yang hancur berantakan.Aditya sigap berlari menghampiri dan memeriksa tangan Indah dengan raut wajah yan
Selagi Aditya belum masuk kamar, Keeva buru-buru membuka amplop berisi laporan hasil lab.Ia menarik napas panjang sebelum benar-benar membuka lipatan kertas di tangannya. Detik berikutnya, mata Keeva memanas saat huruf demi huruf yang ia baca membeberkan fakta kalau obat yang ia konsumsi selama i







