LOGINKeeva melangkah lebar keluar dari rumah. Aditya sudah pergi beberapa waktu lalu dan ia sama sekali tidak berminat menyusulnya. Ia hanya ingin menikmati udara malam sendirian, guna mendinginkan kepala penuh beban yang tak mau reda.
Tujuannya jatuh pada bar di pusat kota. Sebelumnya ia tak pernah menginjakan kaki di sana karena Aditya selalu mengurungnya. Namun, saat ini rasa ingin memberontak dalam dirinya meledak begitu saja tanpa mampu ia kendalikan lagi.
Keeva duduk di booth pojok, masih sedikit kikuk dengan gelas mojito dingin di tangannya. Sudut bibirnya terangkat, matanya berkaca-kaca. Namun, kali ini bukan karena sakit hati. Melainkan rasa bebas yang aneh sekaligus menyenangkan.
“Selamat bebas Keeva! Dunia yang luas dan luar biasa sedang menantimu,” gumam Keeva sendirian
Ia angkat gelas tinggi-tinggi sebelum menenggaknya teguk demi teguk hingga tandas. Rasa mint yang tajam, asam dan getir di tenggorokannya berpadu sempurna dengan suara dentuman musik yang memekakan telinga.
“Satu gelas lagi,” seru Keeva.
Tangannya melambai ke arah bartender. Anehnya minuman-minuman itu justru membuat kepalanya jauh lebih ringan, meski rasanya begitu aneh di lidah Keeva.
Dini hari, Keeva sampai kembali di rumahnya. Di ruang tamu yang remang, Aditya menyambutnya dengan pandangan menghujam penuh amarah.
Tanpa aba-aba, Aditya langsung bangkit dan menarik paksa pergelangan tangan Keeva.
“Lepasin, Mas! Sakit!” teriak Keeva, meringis.
Pergelangan tangannya memerah karena cengkeraman, tetapi Aditya sama sekali tidak berniat melonggarkan genggamannya.
Aditya membalikan tubuh Keeva hingga menempel ke dinding. Napasnya memburu, sorot matanya gelap layaknya seorang pemangsa.
“Murahan!” cibirnya, dingin.
“Mabuk-mabukan, pakaian minim begini. Lagi cari perhatian aku? Hah!” bentak Aditya, tepat di depan wajah sayu Keeva.
Keeva justru terkekeh, kalau dulu pasti Keeva akan langsung ciut begitu mendengar suara keras Aditya dan dia akan melakukan apapun asal pria itu kembali dalam mood yang baik.
Sekarang, yang terjadi di detik berikutnya ia melihat bayangan besar mulai muncul dari balik tembok. Bayangan mengerikan itu seolah masuk ke dalam tubuh Aditya, seketika itu juga Keeva mencekik lehernya secara membabi buta.
Berkali-kali Aditya mencoba meronta sampai hampir kehabisan napas, tetapi semakin meronta cengkeraman tangan Keeva makin kuat juga.
“Gila kamu, Keeva! Ini aku Adit,” seru Adit terbata-bata.
Pupil mata Keeva sontak melebar saat Aditya berhasil meraih saklar lampu dan menyalakan cahaya terang di ruangan itu. Cengkeraman tangan Keeva lepas, berganti dengan suara melengking tajam dari mulutnya.
Kini kedua tangan keeva beralih menutup telinganya sangat erat. Aditya memanfaatkan momen itu untuk segera melarikan diri menuju lantai atas.
Dari ekor matanya, Keeva sempat melirik tajam, memperhatikan bagaimana suaminya berlari terbirit-birit karena ulahnya.
***
Keesokan paginya, Keeva bangun dalam keadaan tubuh yang remuk redam rasanya. Semalaman ia tertidur di sofa. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri sambil mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kewarasannya.
Setidaknya rencana Keeva sejauh ini berjalan seperti apa yang sudah ia perhitungkan sebelumnya. Karena pagi itu juga Aditya langsung memberikan berkas gugatan cerai.
“Ini, kan yang kamu mau? Aku udah nggak sudi punya istri gila kayak kamu,” sentak Aditya tiba-tiba.
Sebuah map warna coklat berisi kertas persetujuan perceraian terlempar tepat mengenai wajah Keeva.
Keeva tersenyum kecut. Memang ini yang dia inginkan, tetapi wanita mana yang tidak merasakan kecewa mendalam ketika sebuah pernikahan yang ia bangun harus berakhir dengan perceraian.
Kini proyek besar yang Aditya incar sudah di tangan, ia merasa tidak membutuhkan Keeva lagi.
“Baik,” balas Keeva datar.
Ia menatap nanar map di tangan. Matanya sempat terpejam mencoba menetralkan rasa sesak yang masih saja bersemayam dalam dadanya.
Karena Aditya terus menolak permintaan cerai Keeva, semalam ia mempunyai ide sengaja mabuk dan bertingkah agresif agar Aditya merasa jijik kemudian bersedia melepasnya. Hanya dengan cara itu Aditya akan bersedia menceraikannya.
Kini, Keeva dibuang seperti sampah yang tidak lagi memiliki nilai jual.
Tanpa menunggu lama Aditya menyeret Keeva, tak peduli betapa Keeva menahan perih di lututnya sebab terbentur lantai.
“Kamu datang kesini dengan tangan kosong, jadi pergi juga tidak usah membawa apa-apa,” peringat Aditya tajam.
Bahkan Keeva tidak diberi kesempatan untuk berkemas pakaian. Dan, ia sudah tidak punya banyak tenaga lagi untuk mendebat suaminya.
Satu-satunya tempat yang terlintas di kepala Keeva hanyalah rumah orang tuanya. Ia pun menyeret kakinya keluar dari kediaman Aditya saat itu juga menuju rumah yang sudah cukup lama tak ia kunjungi itu.
Rumah sederhana yang hanya berjarak 20 menit berkendara itu tampak sepi. Beberapa detik Keeva berdiri ragu di depan pintu.
Aditya pasti sudah lebih dulu mengabarkan pada ibu mertuanya tentang keadaan Keeva yang makin memburuk. Dan, ia menggunakan alasan itu untuk menggugat cerai Keeva. Tentu saja Bu Nadia tidak akan menerima kepulangan anaknya yang dikatakan gila.
Keeva yakin Bu Nadia pasti akan memarahinya habis-habisan, ia tidak akan menerima aliran uang lagi dari Keeva kalau sudah bercerai. Tapi, Keeva juga tidak punya tempat lain untuk pulang.
Menarik napas dalam-dalam. Keeva mengetuk pintu sampai tiga kali.
Pintu terbuka.
Sang ibu berdiri di sana. Memandangi tubuh Keeva dari atas sampai bawah. Tak bergeming, hanya diam yang justru mampu menghancurkan dunia Keeva untuk kesekian kalinya.
...Bab 115Sepasang suami istri yang baru saja terbakar habis oleh gairah itu pun terkapar di atas ranjang. Dada yang naik turun berusaha mengatur napas, bulir peluh yang mengaliri hampir sekujur tubuh.Aldrich menarik Keeva masuk dalam dekapannya, membubuhinya dengan kecupan-kecupan manis.Setelah beberapa saat saling bertukar pelukan, Dara menjauhkan sedikit badannya. “Lengket, Al. Bersihin badan dulu.”“Iyaa.” Sebelum benar-benar turun dari ranjang, Aldrich kembali menghujani Keeva dengan kecupan-kecupan kecil yang membuatnya geli.“Stop Al! kamu masih ada agenda kegiatan hari ini, buruan siap-siap,” seru Keeva, sembari mendorong tubuh suaminya.Hari ini agenda mereka adalah meeting evaluasi kerja. Sementara Aldrich dia ada meeting dengan klien berwsama bastian di tempat lain yang masih ada di area resor.Keeva berjalan melangkah riang melewati koridor yang sepi karena semuanya sudah bersiap di resto untuk menikmati makan siang.Seharusnya memang Keeva makan sendiri saja sepert
...Bab 114Keeva tetaplah Keeva. Beberapa menit terlibat adegan panas dengan Aldrich tetap saja saat ada notifikasi yang menandakan ada email masuk ia tetap bisa mendengarnya.“Al, aku liat bentar, yaa?”Keeva meringis di bawah kungkungan tubuh Aldrich. Keringat mereka masih bercampur, begitu juga dengan tubuh yang masih saling menempel menyalurkan kehangatan di tengah dinginnya cuaca Jogja.Aldrich terkekeh, mereka bahkan masih terengah-engah mengatur napas yang belum stabil setelah terlibat penyatuan panas beberapa menit lalu.“Please…” mohon Keeva.“Kamu nggak capek? Hm?”“Capek lah! Tapi bentaran doang cuma mau cek email.”Baiklah! Aldrich harus mengalah menghadapi istri yang gila kerja juga seperti dirinya. Pelan-pelan ia bangkit dari atas tubuh Keeva, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.“Makasih, Al,” ucap Keeva riang. Laptop yang sudah tersinngkir ke atas nakas tadi ia ambil kembali.Beberapa menit Keeva menekuri laptopnya Aldrich tidak lantas tidur. Dia m
...Bab 113 KeevaHujan memang tidak terlalu deras begitu Keeva dan Aldrich sampai di resor, tetapi cukup membuat mereka berdua basah kuyup karena Keeva memaksa untuk menyelinap lewat pintu samping, yang lebih jauh menjangkau kamarnya.Usai berganti dengan pakaian yang kering, Keeva segera duduk di atas ranjang membuka laptopnya. Beberapa camilan sudah terkumpul di sekitarnya siap untuk Keeva absen satu per satu. Kecuali susu dinginnya. Aldrich menggantinya dengan susu hangat yang ia pesan di resto lantai bawah.Aldrich paham sekali istrinya tidak bisa jauh-jauh dari laptop dan segala yang menyangkut Iris Drive. Ia pun segera beranjak menyusul ke atas ranjang untuk menemaninya.“Eh, kenapa? Kamu udah mau tidur, yaa? Aku pindah sofa aja,” ujar Keeva buru-buru menyingkirkan jajannya.“Nggak. Sini aja, aku temenin. Kita bisa sambil diskusi jadinya.”Keeva memperhatikan lama wajah suaminya. Satu tangannya menopang dagu, tertahan di atas paha. “Nggap apa-apa emang? Kamu nggak capek?”“Ng
...Bab 112Hampir satu jam konser seheila on 7 berlangsung, belum ada tanda-tanda Keeva minta pulang. Perempuan itu masih asyik menggoyang-goyangkan badannya mengikuti irama lagu sementara Aldrich posisinya tepat di belakang Keeva. Mata elangnya tidak bisa lengah memperhatikan sekitar.Meski sangat jarang penonton Sheila on 7 rusuh, tetap saja Aldrich merasa menonton konser di tengah lautan manusia akan sangat tidak aman untuk keselamatan istrinya dari tangan-tangan jahil penonton lain, terutama pria hidung belang yang mengambil kesempatan.“Keeva, ini udah satu album. Kamu bilang satu lagu doang, loh!” seru Aldrich tepat di samping telinga Keeva.Istrinya nyengir kuda. “Bentar lagi, yaa?”“Hujan, Keeva!” desis Aldrich. Mulai geram.Bukan sekedar marah karena Keeva tidak mau pulang, masalahnya sekarang hujan turun lagi. Dan baju mereka sudah basah oleh keringat yang bercampur gerimis.Aldrich menggunakan telapak tangannya untuk menutupi kepala Keeva.“Nggak usah, Al. Kita hujan-hu
...Bab 111Aldrich terkekeh keras. Mendapati wajah terpukul istrinya, ada rasa tidak tega sekaligus lucu.“Hei, di sebelah itu kamar Sania. Aku nggak tahu siapa laki-laki yang ada di dalam. Kamu juga denger, kan? Apa jangan-jangan…”Buru-buru Keeva berjinjit menutup mulut Aldrich, menghalangi hal memalukan yang akan keluar dari mulutnya. Keeva malu sekali, ya ampun! Hampir saja dia mau menceburkan diri ke laut demi meredam kesedihannya yang merasa dikhianati.“Jadi bener? Kamu ngira aku yang ada di kamar sebelah?” ulang Aldrich, menahan tawanya.Keeva spontan mencubit pinggang suaminya. “Y-ya lagian kamu. Ngilang dari siang, dan terakhir aku liat kamu sama Sania. Peluk-pelukan gitu. Jadi, nggak salah dong! Kalau aku nebak itu kamu?” seru Keeva menggebu-gebu. Lalu, mengerucutkan bibirnya.Melihat Keeva cemberut begitu, Aldrich tertawa kecil. “Oke, sorry. Aku emang anterin Sania tadi siang. Tapi cuma sampai ke petugas medis doang abis itu aku pergi. Nggak sengaja ketemu partner bisn
...Bab 110Keeva tersenyum kecut, berusaha meredam debaran jantungnya yang hampir berhenti berdetak. Tidak ingin melihat adegan menyakitkan itu lebih jauh, Keeva menyeret langkahnya menuju kamar.Pintu tertutup dengan suara bantingan kasar, lalu Keeva menguncinya. Sania memang adiknya, Keeva tahu itu. Namun, tetap saja mereka tidak lahir dari rahim yang sama dan dari penglihatan Keeva bisa tahu wanita itu punya rasa yang lebih pada suaminya.Hingga malam hari Keeva masih mengunci diri di kamarnya. Ia tak berminat sama sekali untuk berkumpul bersama yang lainnya untuk makan malam di tepi pantai. Bahkan mood belanja dan mengekplore Jogja hari itu lenyap sudah.Semua gara-gara jalang Sania!Bastian membawakan makan ke kamar, lalu camilan, Keeva menolaknya. Tak ada makanan atau minuman apa pun yang masuk dalam perut Keeva sejak siang. Isi kepalanya penuh oleh berbagai asumsi liar tentang Aldrich dan Sania yang sampai saat ini belum juga kembali.“Bisa gila aku lama-lama di sini,” gumam
“Mau apa kamu kesini?” tukas Bu Nadia. Suara ketus itu menyambar bahkan sebelum pintu terbuka sepenuhnya.Keeva membuka mulut, tapi belum sempat bersuara ibunya lebih dulu membuang muka. Tangannya tetap menahan gagang pintu. Tidak memberi akses Keeva untuk masuk.“Dasar nggak tahu terima kasih! Su
Bab 5 Insiden di KantorPrangg!“Aww!” pekik Indah.“Duh! Maaf. Maaf bu Keeva saya tidak sengaja,” imbuhnya lagi. Wajahnya menunduk dengan jemari saling bertaut di depan sisa-sisa bingkai foto yang hancur berantakan.Aditya sigap berlari menghampiri dan memeriksa tangan Indah dengan raut wajah yan
Bab 4“Keeva!”Keeva memutar badannya untuk melihat siapa yang memanggil. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis saat tahu yang memanggilnya adalah asisten Aditya. Sahabatnya juga yang menemani mereka merintis perusahaan itu dari nol.Bara tampak tertegun sejenak. Matanya menyisir penampilan baru Kee
Selagi Aditya belum masuk kamar, Keeva buru-buru membuka amplop berisi laporan hasil lab.Ia menarik napas panjang sebelum benar-benar membuka lipatan kertas di tangannya. Detik berikutnya, mata Keeva memanas saat huruf demi huruf yang ia baca membeberkan fakta kalau obat yang ia konsumsi selama i







