Masuk...Bab 112Hampir satu jam konser seheila on 7 berlangsung, belum ada tanda-tanda Keeva minta pulang. Perempuan itu masih asyik menggoyang-goyangkan badannya mengikuti irama lagu sementara Aldrich posisinya tepat di belakang Keeva. Mata elangnya tidak bisa lengah memperhatikan sekitar.Meski sangat jarang penonton Sheila on 7 rusuh, tetap saja Aldrich merasa menonton konser di tengah lautan manusia akan sangat tidak aman untuk keselamatan istrinya dari tangan-tangan jahil penonton lain, terutama pria hidung belang yang mengambil kesempatan.“Keeva, ini udah satu album. Kamu bilang satu lagu doang, loh!” seru Aldrich tepat di samping telinga Keeva.Istrinya nyengir kuda. “Bentar lagi, yaa?”“Hujan, Keeva!” desis Aldrich. Mulai geram.Bukan sekedar marah karena Keeva tidak mau pulang, masalahnya sekarang hujan turun lagi. Dan baju mereka sudah basah oleh keringat yang bercampur gerimis.Aldrich menggunakan telapak tangannya untuk menutupi kepala Keeva.“Nggak usah, Al. Kita hujan-hu
...Bab 111Aldrich terkekeh keras. Mendapati wajah terpukul istrinya, ada rasa tidak tega sekaligus lucu.“Hei, di sebelah itu kamar Sania. Aku nggak tahu siapa laki-laki yang ada di dalam. Kamu juga denger, kan? Apa jangan-jangan…”Buru-buru Keeva berjinjit menutup mulut Aldrich, menghalangi hal memalukan yang akan keluar dari mulutnya. Keeva malu sekali, ya ampun! Hampir saja dia mau menceburkan diri ke laut demi meredam kesedihannya yang merasa dikhianati.“Jadi bener? Kamu ngira aku yang ada di kamar sebelah?” ulang Aldrich, menahan tawanya.Keeva spontan mencubit pinggang suaminya. “Y-ya lagian kamu. Ngilang dari siang, dan terakhir aku liat kamu sama Sania. Peluk-pelukan gitu. Jadi, nggak salah dong! Kalau aku nebak itu kamu?” seru Keeva menggebu-gebu. Lalu, mengerucutkan bibirnya.Melihat Keeva cemberut begitu, Aldrich tertawa kecil. “Oke, sorry. Aku emang anterin Sania tadi siang. Tapi cuma sampai ke petugas medis doang abis itu aku pergi. Nggak sengaja ketemu partner bisn
...Bab 110Keeva tersenyum kecut, berusaha meredam debaran jantungnya yang hampir berhenti berdetak. Tidak ingin melihat adegan menyakitkan itu lebih jauh, Keeva menyeret langkahnya menuju kamar.Pintu tertutup dengan suara bantingan kasar, lalu Keeva menguncinya. Sania memang adiknya, Keeva tahu itu. Namun, tetap saja mereka tidak lahir dari rahim yang sama dan dari penglihatan Keeva bisa tahu wanita itu punya rasa yang lebih pada suaminya.Hingga malam hari Keeva masih mengunci diri di kamarnya. Ia tak berminat sama sekali untuk berkumpul bersama yang lainnya untuk makan malam di tepi pantai. Bahkan mood belanja dan mengekplore Jogja hari itu lenyap sudah.Semua gara-gara jalang Sania!Bastian membawakan makan ke kamar, lalu camilan, Keeva menolaknya. Tak ada makanan atau minuman apa pun yang masuk dalam perut Keeva sejak siang. Isi kepalanya penuh oleh berbagai asumsi liar tentang Aldrich dan Sania yang sampai saat ini belum juga kembali.“Bisa gila aku lama-lama di sini,” gumam
...Bab 109Aldrich memasukkan sesuap nasi bercampur kuah gudeg yang kental ke dalam mulutnya. Mengunyahnya pelan. Ia meremas telapak tangan Keeva yang berada di atas meja.“Jangan memandang rendah dirimu, Keeva. Kamu bahkan jauh lebih bersinar dari yang kamu pikirkan.”Sudut bibir Aldrich membentuk senyuman menenangkan. Seperti biasa, Keeva mudah sekali tunduk pada senyum itu. Ia membalas tatapan Aldrich.“Asal kamu tau, sedari awal memang pernikahan kita di atas sebuah perjanjian, tetapi aku tidak pernah meminta menyembunyikan hubungan kita, Keeva. ”“Nggak sehebat itu, Al. Masih banyak wanita yang lebih pantas menyandang status istri kamu daripada aku.”Aldrich membiarkan tatapan mereka saling beradu, ia hanya ingin meyakinkan betapa Keeva cukup pantas bahkan lebih. “Keeva, semua orang punya kelebihan masing-masing. Begitu juga dengan kekurangannya. Aku nggak tahu definisi pantas menurut kamu itu apa. Tapi, merendahkan diri itu sama aja kamu nggak sayang pada dirimu sendiri.”Kee
...Bab 108Setelah mulai menguasai dirinya, Aldrich memutar tubuh Keeva menghadap penuh padanya dan membelakangi seorang wanita yang baru saja memanggil tadi. Keeva hanya bisa mengepalkan tangannya begitu merasakan lengan Aldrich melingkari pinggangnya dari belakang.“Ada apa?” tanya Aldrich, dingin. Menatap lurus pada sosok Sania yang sudah merusak momen ciuman mereka.Sania mengatupkan bibirnya rapat-rapat. “S-sorry, aku nggak tahu kamu sama …”“Iya, aku ajak istri aku.” Aldrich menarik pelan tubuh Keeva hingga tubuh mereka makin merapat. Keeva melotot. Namun, hanya bisa menurut saja saat Aldrich membenamkan wajahnya pada dada bidangnya.“Itu, aku cuma mau panggil kamu buat ikut bakar ikan di taman samping,” kata Sania, canggung. Pandangannya tak lepas dari sosok perempuan yang ada dalam pelukan Aldrich.“Kalau tidak ada hal penting, kamu bisa pergi.”Sania tak bergeming di tempatnya berdiri, memiringkan sedikit badannya mencoba mengintip siapa wanita yang Aldrich bilang istri it
...Bab 107Hawa sejuk bercampur angin pantai selalu menjadi bagian favorit Keeva saat acara liburan. Meski ini out bound bukannya liburan. Pihak kantor mengumumkan kalau hari ini mereka masih bebas, kegiatan mereka dimulai besok. Jadi, Keeva menggunakan waktunya untuk berjalan-jalan di pantai.Ia rela menghabiskan waktu hanya untuk duduk diam menatap jauh ke arah laut, mendengarkan deburan ombak yang bersahutan serta meresapi betapa lembut pasir pantai yang mengubur separuh telapak kakinya.Keeva memejamkan mata, tersenyum menikmati suasana. Namun, itu tidak berlangsung lama ketika sebuah suara terdengar dari arah belakangnya.“Senang, nggak?”Kedua mata Keeva hanya bisa mengerjap di antara tubuh yang menegang kaku. Ia benar-benar kesal dengan kehadiran pria itu sekarang.“Kenapa kamu kesini?” tanya Keeva, mengedarkan pandangannya untuk mengecek sekitar. Kalau-kalau ada staff lain yang melihat mereka.Aldrich tersenyum santai. Mengambil duduk di samping istrinya. “Aman, tenang aja.
Keeva melangkah lebar keluar dari rumah. Aditya sudah pergi beberapa waktu lalu dan ia sama sekali tidak berminat menyusulnya. Ia hanya ingin menikmati udara malam sendirian, guna mendinginkan kepala penuh beban yang tak mau reda.Tujuannya jatuh pada bar di pusat kota. Sebelumnya ia tak pernah me
Bab 5 Insiden di KantorPrangg!“Aww!” pekik Indah.“Duh! Maaf. Maaf bu Keeva saya tidak sengaja,” imbuhnya lagi. Wajahnya menunduk dengan jemari saling bertaut di depan sisa-sisa bingkai foto yang hancur berantakan.Aditya sigap berlari menghampiri dan memeriksa tangan Indah dengan raut wajah yan
Bab 4“Keeva!”Keeva memutar badannya untuk melihat siapa yang memanggil. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis saat tahu yang memanggilnya adalah asisten Aditya. Sahabatnya juga yang menemani mereka merintis perusahaan itu dari nol.Bara tampak tertegun sejenak. Matanya menyisir penampilan baru Kee
Selagi Aditya belum masuk kamar, Keeva buru-buru membuka amplop berisi laporan hasil lab.Ia menarik napas panjang sebelum benar-benar membuka lipatan kertas di tangannya. Detik berikutnya, mata Keeva memanas saat huruf demi huruf yang ia baca membeberkan fakta kalau obat yang ia konsumsi selama i







