Share

Bab 2

Author: Delia
"Reno, Laura sudah pulang, sekarang di bandara."

Suara teman masa kecilnya.

Aku berpegangan pada dinding, perlahan-lahan bergerak ke sudut.

Reno membelakangiku, suaranya sangat pelan.

"Katanya kan baru minggu depan?"

"Pulang lebih cepat."

Temannya melirik ke arahku, lalu menarik lengan baju Reno.

"Cepat pergi, biar aku yang urus di sini."

Reno menoleh ke arah kamar mandi, dan aku segera bersembunyi kembali di dalam.

"Bilang saja ... ada urusan mendadak di kantor."

Dia berbisik.

"Jangan sampai dia curiga."

Suara langkah kaki itu semakin menjauh, aku bersandar di dinding, mengeluarkan ponsel, dan menelusuri daftar kontak.

Panggilan pertama kepada pengacara.

"Bantu aku membuat perjanjian cerai, secepatnya."

Panggilan kedua kepada pembimbingku.

"Profesor, aku ingin mendaftar ulang untuk program doktoral di MIT."

Ada keheningan sesaat di ujung telepon.

"Kamu yakin? Kamu sedang hamil, ayah anakmu ...."

"Aku akan cerai."

Aku memotong pembicaraannya, suaraku sangat tenang hingga aku sendiri terkejut.

"Aku ingin pergi secepatnya."

Setelah menutup telepon, aku membuka kotak masuk email.

Di folder draf terdapat sebuah surat lamaran yang sudah kutulis tiga tahun lalu, dengan judul "Pernyataan Pengunduran Diri".

Aku menghapus draf itu, lalu membuat yang baru.

[Yang terhormat Dewan Penerimaan.

Saya memohon dengan rendah hati agar lamaran program doktoral saya dipertimbangkan kembali ....]

....

Setelah menutup laptop, aku meringkuk di tempat tidur. Dalam keadaan setengah sadar, aku kembali ke malam hujan itu.

Saat berusia 12 tahun, aku juga seperti itu, menatap Ibu yang duduk di depan komputer menulis surat wasiat.

Punggungnya tampak rapuh seperti selembar kertas, jari-jarinya mengetuk keyboard dengan lembut, mengeluarkan suara "tik-tik" yang halus.

"Maafkan Ibu, Erisa, Ibu nggak sanggup lagi."

Dia mengenakan gaun merah favoritku, lalu melompat dari lantai 18.

Hujan turun sangat deras hari itu. Air hujan bercampur darah, mewarnai seluruh jalanan menjadi merah.

Aku berdiri di luar kerumunan, melihat gaun merahnya seperti bunga layu, tergeletak di atas lantai beton yang dingin.

Ayah memeluk kekasih barunya di pemakaman, tanpa meneteskan air mata sedikit pun.

"Ibumu terlalu rapuh."

Sambil mengelus kepalaku, dia berkata.

"Kamu harus kuat."

Sejak saat itu, aku tidak berani lagi percaya pada cinta.

Aku mengurung diri di antara tumpukan buku, membangun tembok tinggi dengan pengetahuan.

Sampai aku bertemu Reno.

Dia rela menyeberangi setengah kota di hari hujan untuk mengantarkanku payung, mengingat setiap hal kecil yang kusebutkan sekilas, dan mengantarkan sup hangat larut malam setelah aku selesai melakukan eksperimen.

"Erisa, beri aku kesempatan."

Matanya berbinar saat dia setengah berlutut dengan satu kaki.

"Izinkan aku memberimu keluarga."

Aku percaya.

Bahkan sampai-sampai aku menolak tawaran beasiswa penuh dari MIT, mengira akhirnya aku menemukan tempat berlindung.

Aku mengira, dia akan menjadi orang yang membuatku tidak takut lagi pada malam hari.

Jika kuingat lagi, sungguh ironis.

Ibu meninggal karena cinta, aku mengorbankan masa depanku demi cinta.

Hasilnya sama saja.

....

Dalam tidurku, aku merasakan kasur sedikit bergerak.

Reno, tanpa mengenakan baju, merapat ke sisiku, melingkarkan tangannya di pinggangku. Dengan bau alkohol yang menyengat, dia mendekatkan wajahnya ke leherku.

"Sayang ...."

Aroma parfum wanita yang manis dan menyengat menusuk hidungku, aku langsung mendorongnya.

"Jangan dekat-dekat, kamu kotor."

Dia tertegun sejenak, lalu dengan langkah goyah bangkit dan masuk ke kamar mandi.

Saat suara air mengalir terdengar, suaranya terdengar dari balik pintu.

"Sayang, sarapan sudah siap di meja. Kemarin kan kamu bilang mau makan bubur kacang merah, aku antre setengah jam di restoran kesukaanmu."

Aku bangkit dan berjalan ke meja makan.

Aku melihat kemejanya tergeletak di lantai, dengan bekas lipstik di kerahnya.

Warnanya merah menyala dan menyilaukan, sudah jelas siapa pelakunya.

Perutku tiba-tiba terasa mual. Aku mengambil sarapan di atas meja, lalu membuangnya beserta seluruh bungkusnya ke tempat sampah.

Setelah mandi, dia keluar dan melihat isi tempat sampah, mengerutkan kening.

"Sayang, kenapa? Bubur kacang merahnya basi?"

"Penampilannya menjijikkan, aku nggak mau."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jebakan Lembut   Bab 9

    Jadi, aku menandatangani surat persetujuan untuk program kehamilan dengan sperma donor di sebuah klinik kesuburan di Bosdon.Dokter menyerahkan profil seorang donor sperma. Tinggi 185, lulusan universitas ternama, tanpa riwayat penyakit genetik dalam keluarga."Nona Erisa, kamu yakin ingin membesarkan anak ini sendirian?"Tanya dokter.Aku mengangguk, sambil mengusap kalung di leherku."Ya, sekarang aku mampu memberinya kehidupan terbaik."Namun, Reno sebenarnya tidak benar-benar meninggalkan hidupku.Dia terus mengawasi aku dari balik layar, melalui kamera pengawas di apartemenku dan pelacakan lokasi ponsel.Bahkan, dia menyuap pelayan di kafe yang sering aku kunjungi.Dia seperti binatang buas yang bersembunyi di kegelapan, selalu mengawasi setiap gerak-gerikku.Jadi, saat aku melangkah masuk ke klinik itu, dia langsung mengetahuinya.Dia menerobos masuk ke apartemenku dengan wajah pucat pasi."Erisa, kamu sudah gila? Kamu mau mengandung anak pria lain? Ini pengkhianatan kepada Rara!

  • Jebakan Lembut   Bab 8

    Aku terkekeh sinis, lalu berbalik menuju kamar mandi."Kamu boleh pergi."Dia berdiri dengan terhuyung-huyung, dan saat sampai di pintu, tiba-tiba menoleh ke belakang."Erisa, aku ....""Pergi."Aku memotongnya dengan suara dingin.Setelah dia pergi, aku bergegas ke kamar mandi dan mencuci tangan dengan liar.Keran kubuka sepenuhnya, air dingin membasahi tanganku, tapi perasaan jijik itu tidak kunjung hilang.Aku menatap wajah pucatku di cermin, bergumam pelan."Rara, Ibu akan memberi balasan untuk mereka semua."....Setelah Reno pergi, aku berdiri di depan jendela, menatap punggungnya yang menghilang di tengah badai salju.Beberapa minggu kemudian, berita utama di dalam negeri menjadi dihebohkan dengan berita: [Mantan eksekutif Grup Dewangga, Laura Yosephine, telah resmi ditangkap polisi atas dugaan penipuan bisnis dan penggelapan dana perusahaan.]Berita tersebut secara rinci menggambarkan bagaimana Laura memanfaatkan jabatannya untuk memalsukan kontrak, menggelapkan dana perusahaan

  • Jebakan Lembut   Bab 7

    Aku menepis tangannya, tatapanku sedingin es."Rara sudah di surga. Sana pergi menemuinya."Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis."Oh, nggak bisa. Orang sepertimu, bahkan setelah mati pun akan masuk neraka. Mana mungkin kamu pantas bertemu anakku?"Wajahnya langsung pucat, dan dia mundur selangkah dengan terhuyung-huyung."Nggak mungkin. Kamu masih baik-baik saja sebulan yang lalu. Kalau kamu nggak ngambek dan kabur ke luar negeri, pasti ....""Reno."Aku memotong kalimatnya, suaraku penuh ejekan."Kamu merasa pantas menyebut namanya? Saat kamu menemani Laura ke rumah sakit, pernahkah kamu pikirkan anak kita? Saat kamu membiarkan wanita itu tinggal di rumah kita, pernahkah kamu pikirkan anak kita?"Dia membuka mulutnya, tapi tidak bisa berkata-kata.Aku berbalik masuk ke dalam apartemen, dia menerjang untuk menghentikanku, tapi dicegah oleh petugas keamanan di pintu."Erisa!"Dia berlutut di atas salju, suaranya serak."Izinkan aku bertemu Rara, aku mohon ...."Aku menutup pintu,

  • Jebakan Lembut   Bab 6

    Saat terbangun kembali, cahaya putih yang menyilaukan membuatku menyipitkan mata.Aroma cairan disinfektan menusuk hidungku. Aku terbaring di ranjang rumah sakit, dengan selang infus terpasang di tanganku."Sudah bangun?"Dokter mendekat, dengan nada suara yang berat."Mohon maaf, janinnya nggak bisa diselamatkan."Seluruh tubuhku menggigil, jari-jariku mencengkeram seprai dengan erat."Kenapa?""Benturan langsung di perut menyebabkan plasenta terlepas sebelum waktunya."Dokter membuka buku rekam medis."Saat sampai di sini, pendarahan sudah parah. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin."Aku menutup mata, telingaku berdengung."Mau menghubungi keluarga?"Perawat bertanya dengan suara lembut.Aku menggeleng, suaraku serak."Nggak usah."Ruangan rawat inap sunyi mencekam, hanya terdengar bunyi detak monitor.Aku mengusap perutku, yang kini sudah rata seperti semula, tapi terasa hampa, seolah ada sesuatu yang telah diambil darinya."Rara."Aku bergumam pelan, air mata mengalir tanpa suar

  • Jebakan Lembut   Bab 5

    Saat halaman pemesanan tiket sedang dimuat, gagang pintu berputar, dan Reno masuk.Dia memegang segelas susu hangat di tangannya, matanya melirik layar laptopku."Sudah larut malam begini, masih sibuk apa?"Aku segera mengganti halaman, berbicara dengan tenang."Bukan apa-apa, cari musik untuk ibu hamil."Dia berjalan ke belakangku, meletakkan tangannya di bahuku."Sayang, Laura cuma tinggal beberapa hari di rumah kita. Kamu sebentar lagi melahirkan, jangan terlalu banyak pikiran."Aku menutup laptop, lalu berdiri."Aku capek, aku mau tidur dulu."Dia berdiri diam, seolah ingin berkata sesuatu tapi menahan diri, akhirnya hanya menghela napas, lalu berbalik pergi.Aku membuka kembali laptopku, lalu memesan tiket pesawat ke Bosdon.Cahaya dari layar memantul di wajahku. Aku mengusap perutku yang membuncit, hatiku terasa tenang.Kali ini, aku benar-benar akan pergi.....Keesokan paginya, aku membuka lemari dan mulai mengemas barang-barang.Di sudut lemari, terdapat sebuah kotak perhiasan

  • Jebakan Lembut   Bab 4

    "Laura, jangan bicara lagi."Nada suaranya seolah sedang menengahi pertengkaran, tapi tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Laura.Aku mengepalkan tangan, kuku-kukuku menancap dalam di telapak tanganku.....Sepanjang minggu berikutnya, Reno selalu pulang larut dan berangkat pagi-pagi.Aku tidak bertanya apa-apa. Kami tinggal di bawah satu atap, tapi kami seperti orang asing.Hari ini adalah hari periksa kehamilanku.Aku mengirim pesan padanya, tapi dia tidak membalas. Aku menelepon, tapi dia tidak mengangkatnya.Akhirnya, aku terpaksa naik taksi sendiri ke rumah sakit.Ruang tunggu dipenuhi pasangan suami-istri. Para suami menggandeng istri mereka dengan hati-hati sambil membisikkan kata-kata menghibur.Aku duduk sendirian di sudut, menggenggam buku rekam medis. Bayi dalam kandunganku seolah merasakan perasaanku, menendangku dengan lembut."Nomor 28, Erisa."Aku mendengar perawat memanggil namaku.Aku berdiri dengan susah payah, berpegangan pada dinding, berjalan perlahan masuk ke

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status