Share

Bab 3

Author: Delia
Aku berkata dengan nada dingin.

Dia terdiam sejenak, lalu berbalik dan masuk ke dapur.

Tak lama kemudian, dia keluar sambil membawa semangkuk bubur nasi.

"Aku masakkan lagi, ayo makan mumpung masih panas."

Aku menunduk memakan bubur, sementara dia duduk di seberangku dengan nada yang terdengar tidak sabar.

"Erisa, kenapa kamu jadi merepotkan begini sekarang?"

Tanganku yang memegang sendok terhenti sejenak.

Dulu, saat aku mual-mual karena reaksi kehamilan dan tidak bisa makan, dia akan memasak berbagai macam hidangan untukku. Bahkan mengemudi di tengah malam untuk membeli kue mawar yang ingin kumakan.

"Sayang, apa pun yang kamu mau, aku akan masak atau belikan untukmu, asalkan kamu senang."

Begitulah yang pernah dia katakan.

Sekarang, dia menganggapku merepotkan.

Aku menunduk, air mata jatuh tanpa suara ke dalam bubur.

Melihat raut wajahku, nada suaranya menjadi lebih lembut.

"Kamu ingin foto kehamilan, 'kan? Aku sudah atur jadwal hari ini."

Aku terdiam sejenak, menyentuh perutku yang membuncit, dan mengangguk pelan.

Seburuk apa pun dia, dia tetap menjadi kenangan bagiku dan anakku.

....

Di studio foto pukul tiga sore, penata rias sedang menyesuaikan warna alas bedak.

"Warna ini cocok untuk menutupi stretch mark."

Dia mencelupkan kuasnya dan menyapunya dengan lembut di perutku.

"Nyonya, santai saja, hasilnya pasti cantik."

Aku menatap tubuhku yang membengkak di cermin, bintik-bintik kehamilan tersebar seperti bintang di bawah tulang selangka.

Tiba-tiba, suara derap sepatu hak tinggi terdengar dari luar pintu. Adik Reno, Lulu, menerobos masuk bergandengan tangan dengan seorang wanita asing. Cat kuku merahnya terang menyilaukan mata.

"Kak Laura, lihat."

Lulu sengaja meninggikan suaranya.

"Ini babi betina yang dinikahi kakakku."

Laura mengenakan atasan pendek dan celana panjang hitam berpotongan lebar, memperlihatkan sedikit bagian perutnya.

Dia memiringkan kepala mengamati perutku, lalu tiba-tiba mengulurkan tangan dan mencoleknya.

"Ternyata, stretch mark terasa menonjol, seperti kulit pohon yang tua."

Kuas rias jatuh ke lantai.

Aku spontan meraih jaket untuk menutupi perutku, tapi Lulu lebih dulu melemparkan jaket itu ke tempat sampah.

"Buat apa ditutupi? Nyatanya jelek, tapi nggak mau diomong orang?"

"Lulu."

Laura menepuk punggung tangannya dengan nada menegur.

"Kita harus menghormati pilihan orang lain."

Dia menoleh kepadaku, tersenyum dengan lembut dan sopan.

"Walaupun aku nggak mengerti kenapa ada orang yang rela merusak diri sendiri seperti ini ...."

Aku menggenggam gaun hamilku dan menatap Reno.

Tatapannya tertuju pada perutku, alisnya sedikit berkerut, lalu dia segera memalingkan wajah.

Dulu, jika seseorang mengatakan sesuatu yang kasar kepadaku, dia akan memaksa orang itu meminta maaf dengan wajah dingin.

Namun, saat ini, dia menunduk menatap layar ponselnya. Cahaya layar menerangi tato "Only L Y" di tulang selangkanya.

"Aku pernah dengar katanya ibu hamil kadang bisa ngompol."

Lulu tiba-tiba mengangkat rokku.

"Kak, mau pakai popok nggak?"

Laura tertawa "hihihi", menutupi bibir merahnya dengan kuku berhias berlian.

"Lulu, jangan iseng, kakak iparmu bisa sedih."

Dia tiba-tiba membungkuk mendekati telingaku, aroma Chanel No. 5 bercampur niat jahat merasuk ke gendang telingaku.

"Tahu nggak? Reno bilang kamu jadi gemuk dan jelek setelah hamil. Setiap kali menyentuhmu, dia harus cuci tangan dengan alkohol tiga kali. Dia nggak tega melihatku menderita seperti ini."

Aku bangkit berdiri sambil gemetar, kursi rias itu berderak jatuh ke lantai.

Reno akhirnya mengangkat kepala, tapi hanya mengerutkan kening sambil melihat jam tangan.

"Bisa lebih cepat nggak? Aku ada urusan jam lima."

Laura langsung melingkarkan tangannya di lengan Reno, ujung jarinya menyentuh tato di tulang selangka Reno.

"Jam lima? Mau datang ke pesta penyambutanku? Nggak usah buru-buru, aku izinkan kamu menemani istrimu selesai foto dulu. Lagi pula, dia sudah susah payah melahirkan anak untukmu."

Aku memandangi wanita di cermin yang perutnya dipenuhi bintik-bintik, stretch mark menyebar dari pusar, seperti kembang api yang layu.

Sedangkan wanita yang berdiri di samping Reno memiliki rambut panjang yang memikat. Pasangan tampan dan cantik, sangat serasi.

"Pak Reno."

Penata rias itu mengangkat spons bedak sambil bertanya dengan ragu-ragu.

"Ada air mata di sudut mata Nyonya, apa perlu diperbaiki riasannya?"

Reno akhirnya bersedia berbicara.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jebakan Lembut   Bab 9

    Jadi, aku menandatangani surat persetujuan untuk program kehamilan dengan sperma donor di sebuah klinik kesuburan di Bosdon.Dokter menyerahkan profil seorang donor sperma. Tinggi 185, lulusan universitas ternama, tanpa riwayat penyakit genetik dalam keluarga."Nona Erisa, kamu yakin ingin membesarkan anak ini sendirian?"Tanya dokter.Aku mengangguk, sambil mengusap kalung di leherku."Ya, sekarang aku mampu memberinya kehidupan terbaik."Namun, Reno sebenarnya tidak benar-benar meninggalkan hidupku.Dia terus mengawasi aku dari balik layar, melalui kamera pengawas di apartemenku dan pelacakan lokasi ponsel.Bahkan, dia menyuap pelayan di kafe yang sering aku kunjungi.Dia seperti binatang buas yang bersembunyi di kegelapan, selalu mengawasi setiap gerak-gerikku.Jadi, saat aku melangkah masuk ke klinik itu, dia langsung mengetahuinya.Dia menerobos masuk ke apartemenku dengan wajah pucat pasi."Erisa, kamu sudah gila? Kamu mau mengandung anak pria lain? Ini pengkhianatan kepada Rara!

  • Jebakan Lembut   Bab 8

    Aku terkekeh sinis, lalu berbalik menuju kamar mandi."Kamu boleh pergi."Dia berdiri dengan terhuyung-huyung, dan saat sampai di pintu, tiba-tiba menoleh ke belakang."Erisa, aku ....""Pergi."Aku memotongnya dengan suara dingin.Setelah dia pergi, aku bergegas ke kamar mandi dan mencuci tangan dengan liar.Keran kubuka sepenuhnya, air dingin membasahi tanganku, tapi perasaan jijik itu tidak kunjung hilang.Aku menatap wajah pucatku di cermin, bergumam pelan."Rara, Ibu akan memberi balasan untuk mereka semua."....Setelah Reno pergi, aku berdiri di depan jendela, menatap punggungnya yang menghilang di tengah badai salju.Beberapa minggu kemudian, berita utama di dalam negeri menjadi dihebohkan dengan berita: [Mantan eksekutif Grup Dewangga, Laura Yosephine, telah resmi ditangkap polisi atas dugaan penipuan bisnis dan penggelapan dana perusahaan.]Berita tersebut secara rinci menggambarkan bagaimana Laura memanfaatkan jabatannya untuk memalsukan kontrak, menggelapkan dana perusahaan

  • Jebakan Lembut   Bab 7

    Aku menepis tangannya, tatapanku sedingin es."Rara sudah di surga. Sana pergi menemuinya."Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis."Oh, nggak bisa. Orang sepertimu, bahkan setelah mati pun akan masuk neraka. Mana mungkin kamu pantas bertemu anakku?"Wajahnya langsung pucat, dan dia mundur selangkah dengan terhuyung-huyung."Nggak mungkin. Kamu masih baik-baik saja sebulan yang lalu. Kalau kamu nggak ngambek dan kabur ke luar negeri, pasti ....""Reno."Aku memotong kalimatnya, suaraku penuh ejekan."Kamu merasa pantas menyebut namanya? Saat kamu menemani Laura ke rumah sakit, pernahkah kamu pikirkan anak kita? Saat kamu membiarkan wanita itu tinggal di rumah kita, pernahkah kamu pikirkan anak kita?"Dia membuka mulutnya, tapi tidak bisa berkata-kata.Aku berbalik masuk ke dalam apartemen, dia menerjang untuk menghentikanku, tapi dicegah oleh petugas keamanan di pintu."Erisa!"Dia berlutut di atas salju, suaranya serak."Izinkan aku bertemu Rara, aku mohon ...."Aku menutup pintu,

  • Jebakan Lembut   Bab 6

    Saat terbangun kembali, cahaya putih yang menyilaukan membuatku menyipitkan mata.Aroma cairan disinfektan menusuk hidungku. Aku terbaring di ranjang rumah sakit, dengan selang infus terpasang di tanganku."Sudah bangun?"Dokter mendekat, dengan nada suara yang berat."Mohon maaf, janinnya nggak bisa diselamatkan."Seluruh tubuhku menggigil, jari-jariku mencengkeram seprai dengan erat."Kenapa?""Benturan langsung di perut menyebabkan plasenta terlepas sebelum waktunya."Dokter membuka buku rekam medis."Saat sampai di sini, pendarahan sudah parah. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin."Aku menutup mata, telingaku berdengung."Mau menghubungi keluarga?"Perawat bertanya dengan suara lembut.Aku menggeleng, suaraku serak."Nggak usah."Ruangan rawat inap sunyi mencekam, hanya terdengar bunyi detak monitor.Aku mengusap perutku, yang kini sudah rata seperti semula, tapi terasa hampa, seolah ada sesuatu yang telah diambil darinya."Rara."Aku bergumam pelan, air mata mengalir tanpa suar

  • Jebakan Lembut   Bab 5

    Saat halaman pemesanan tiket sedang dimuat, gagang pintu berputar, dan Reno masuk.Dia memegang segelas susu hangat di tangannya, matanya melirik layar laptopku."Sudah larut malam begini, masih sibuk apa?"Aku segera mengganti halaman, berbicara dengan tenang."Bukan apa-apa, cari musik untuk ibu hamil."Dia berjalan ke belakangku, meletakkan tangannya di bahuku."Sayang, Laura cuma tinggal beberapa hari di rumah kita. Kamu sebentar lagi melahirkan, jangan terlalu banyak pikiran."Aku menutup laptop, lalu berdiri."Aku capek, aku mau tidur dulu."Dia berdiri diam, seolah ingin berkata sesuatu tapi menahan diri, akhirnya hanya menghela napas, lalu berbalik pergi.Aku membuka kembali laptopku, lalu memesan tiket pesawat ke Bosdon.Cahaya dari layar memantul di wajahku. Aku mengusap perutku yang membuncit, hatiku terasa tenang.Kali ini, aku benar-benar akan pergi.....Keesokan paginya, aku membuka lemari dan mulai mengemas barang-barang.Di sudut lemari, terdapat sebuah kotak perhiasan

  • Jebakan Lembut   Bab 4

    "Laura, jangan bicara lagi."Nada suaranya seolah sedang menengahi pertengkaran, tapi tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Laura.Aku mengepalkan tangan, kuku-kukuku menancap dalam di telapak tanganku.....Sepanjang minggu berikutnya, Reno selalu pulang larut dan berangkat pagi-pagi.Aku tidak bertanya apa-apa. Kami tinggal di bawah satu atap, tapi kami seperti orang asing.Hari ini adalah hari periksa kehamilanku.Aku mengirim pesan padanya, tapi dia tidak membalas. Aku menelepon, tapi dia tidak mengangkatnya.Akhirnya, aku terpaksa naik taksi sendiri ke rumah sakit.Ruang tunggu dipenuhi pasangan suami-istri. Para suami menggandeng istri mereka dengan hati-hati sambil membisikkan kata-kata menghibur.Aku duduk sendirian di sudut, menggenggam buku rekam medis. Bayi dalam kandunganku seolah merasakan perasaanku, menendangku dengan lembut."Nomor 28, Erisa."Aku mendengar perawat memanggil namaku.Aku berdiri dengan susah payah, berpegangan pada dinding, berjalan perlahan masuk ke

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status