Share

Jebakan Lembut
Jebakan Lembut
Author: Delia

Bab 1

Author: Delia
Awalnya, aku mengira menikah dengan Reno adalah hal paling beruntung dalam hidupku. Bahkan sampai aku rela melepaskan kesempatan untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Dia lembut dan penuh perhatian. Selama kehamilan, dia bahkan tidak membiarkanku memakai kaus kaki sendiri.

Hingga saat minggu ke-28 kehamilan, aku menemuinya sambil membawa hasil pemeriksaan kehamilan dengan penuh kegembiraan.

Namun, di luar ruang kerjanya, aku mendengar teman masa kecilnya mengolok-olok.

"Reno, Laura sebentar lagi pulang dari luar negeri. Kamu masih mau lanjut dengan babi betina penerus keturunan itu?"

Dia menjawab dengan santai.

"Aku pura-pura dulu sampai dia melahirkan, lalu cerai."

Teman masa kecilnya bersiul.

"Kamu memang hebat, bisa sesabar itu. Di kalangan kita, yang paling lama pun cuma sampai trimester kedua."

Dia mencibir.

"Aku ingin memastikan semuanya berjalan lancar. Aku nggak tega kalau Laura menderita."

Aku tidak langsung masuk untuk menanyai mereka, melainkan berbalik diam-diam, lalu mulai menyiapkan berkas-berkas untuk studi luar negeri.

....

Aku berdiri di luar ruang kerja, masih menggenggam hasil USG yang baru saja dicetak.

Bentuk bayi itu terlihat jelas. Tangan mungil, kaki mungil, seperti benih yang baru saja berkecambah.

"Rara", itulah nama panggilan yang diberikan Reno kepada anak itu. Saat memberikan nama itu, Reno berkata bahwa dia berharap anak itu bisa tumbuh bahagia dan selalu dikelilingi kasih sayang.

Saat ini, nama yang telah dilekatkan dengan doa itu terasa sangat menyakitkan.

Aku mencengkeram kertas itu dengan erat, kuku-kukuku menggores nama "Rara" yang ditulis tangan di atasnya.

Betapa konyolnya, saat dia memberi nama untuk anak kami, yang ada di pikirannya justru wanita lain.

Perutku tiba-tiba bergejolak, dan rasa pahit mengambang di tenggorokanku.

Secara naluriah, aku berlari ke kamar mandi di sebelah.

Berdiri di depan wastafel, aku membungkuk dan mencoba muntah beberapa kali, tapi tidak ada yang keluar.

Aku melirik lembar hasil USG yang sudah diremas-remas di sampingku. Hatiku terasa seperti dicengkeram erat.

Bentuk bayi itu masih jelas, tapi bagiku, tangan mungil dan kaki mungil itu terasa seperti pisau yang menusuk jantungku dengan keras.

Ternyata, di mata Reno, aku hanyalah "babi betina untuk meneruskan keturunan".

....

Tiba-tiba, aku mendengar langkah kaki terburu-buru di belakangku.

Tangan Reno menempel di punggungku, aroma mint bercampur bau rokok menyengat hidungku.

"Kenapa kamu muntah-muntah lagi?"

Suaranya terdengar tegang, telapak tangannya yang hangat menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.

"Aku sudah minta Bibi masak sarang burung walet, sebentar lagi ...."

Aku tiba-tiba menghindar dari sentuhannya.

Gerakan itu terlalu mendadak, sehingga tangannya membeku di udara.

"Rara mengganggumu lagi?"

Dia berjongkok dan menyibakkan rambut di dahiku yang basah oleh keringat. Saat ujung jarinya menyentuh daun telingaku, seluruh tubuhku gemetar.

Dulu, kehangatan telapak tangannya terasa menenangkan bagiku, tetapi sekarang rasanya seperti lidah ular berbisa.

"Jangan sentuh aku."

Dengan suara serak, aku mendorongnya menjauh.

Dia terdiam sejenak, lalu tersenyum tak berdaya.

"Hormon kehamilan bikin kamu sensitif lagi? Aku ambilkan air hangat."

Aku tidak menjawab, hanya menatap tajam tato di tulang selangka-nya yang bertuliskan "Only L Y".

Itu ditato pada hari aku mengetahui kehamilanku.

Saat aku bertanya padanya, dia menjawab.

"L Y itu singkatan dari Love You, Only Love You. Seumur hidup ini, aku hanya mencintaimu."

Baru sekarang aku mengerti, L Y adalah Laura Yosephine.

"Ayo minum."

Dia mendekatkan cangkir berisi air hangat itu, menempelkan tepi cangkir ke bibirku.

Sinar matahari masuk dari luar jendela, membuat bayangan panjang di bawah bulu matanya, seperti jebakan lembut yang dipasang dengan cermat.

Ponsel Reno tiba-tiba berdering.

Dia melirik layar, alisnya sedikit berkerut.

"Angkat saja."

Aku berbisik.

"Mungkin urusan kantor."

Dia ragu sejenak, lalu berjalan ke tepi jendela untuk mengangkat telepon.

"Ya ... aku mengerti ... aku ke sana sekarang."

Setelah menutup telepon, saat dia berbalik, raut wajahnya sudah berubah menjadi lembut.

"Sayang, ada rapat mendadak di kantor. Aku nanti minta Bibi menjagamu."

Aku menatap tato di tulang selangkanya, lalu tiba-tiba tersenyum.

"Ya."

Begitu dia pergi, aku langsung mendengar suara lirih dari ujung koridor.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jebakan Lembut   Bab 9

    Jadi, aku menandatangani surat persetujuan untuk program kehamilan dengan sperma donor di sebuah klinik kesuburan di Bosdon.Dokter menyerahkan profil seorang donor sperma. Tinggi 185, lulusan universitas ternama, tanpa riwayat penyakit genetik dalam keluarga."Nona Erisa, kamu yakin ingin membesarkan anak ini sendirian?"Tanya dokter.Aku mengangguk, sambil mengusap kalung di leherku."Ya, sekarang aku mampu memberinya kehidupan terbaik."Namun, Reno sebenarnya tidak benar-benar meninggalkan hidupku.Dia terus mengawasi aku dari balik layar, melalui kamera pengawas di apartemenku dan pelacakan lokasi ponsel.Bahkan, dia menyuap pelayan di kafe yang sering aku kunjungi.Dia seperti binatang buas yang bersembunyi di kegelapan, selalu mengawasi setiap gerak-gerikku.Jadi, saat aku melangkah masuk ke klinik itu, dia langsung mengetahuinya.Dia menerobos masuk ke apartemenku dengan wajah pucat pasi."Erisa, kamu sudah gila? Kamu mau mengandung anak pria lain? Ini pengkhianatan kepada Rara!

  • Jebakan Lembut   Bab 8

    Aku terkekeh sinis, lalu berbalik menuju kamar mandi."Kamu boleh pergi."Dia berdiri dengan terhuyung-huyung, dan saat sampai di pintu, tiba-tiba menoleh ke belakang."Erisa, aku ....""Pergi."Aku memotongnya dengan suara dingin.Setelah dia pergi, aku bergegas ke kamar mandi dan mencuci tangan dengan liar.Keran kubuka sepenuhnya, air dingin membasahi tanganku, tapi perasaan jijik itu tidak kunjung hilang.Aku menatap wajah pucatku di cermin, bergumam pelan."Rara, Ibu akan memberi balasan untuk mereka semua."....Setelah Reno pergi, aku berdiri di depan jendela, menatap punggungnya yang menghilang di tengah badai salju.Beberapa minggu kemudian, berita utama di dalam negeri menjadi dihebohkan dengan berita: [Mantan eksekutif Grup Dewangga, Laura Yosephine, telah resmi ditangkap polisi atas dugaan penipuan bisnis dan penggelapan dana perusahaan.]Berita tersebut secara rinci menggambarkan bagaimana Laura memanfaatkan jabatannya untuk memalsukan kontrak, menggelapkan dana perusahaan

  • Jebakan Lembut   Bab 7

    Aku menepis tangannya, tatapanku sedingin es."Rara sudah di surga. Sana pergi menemuinya."Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis."Oh, nggak bisa. Orang sepertimu, bahkan setelah mati pun akan masuk neraka. Mana mungkin kamu pantas bertemu anakku?"Wajahnya langsung pucat, dan dia mundur selangkah dengan terhuyung-huyung."Nggak mungkin. Kamu masih baik-baik saja sebulan yang lalu. Kalau kamu nggak ngambek dan kabur ke luar negeri, pasti ....""Reno."Aku memotong kalimatnya, suaraku penuh ejekan."Kamu merasa pantas menyebut namanya? Saat kamu menemani Laura ke rumah sakit, pernahkah kamu pikirkan anak kita? Saat kamu membiarkan wanita itu tinggal di rumah kita, pernahkah kamu pikirkan anak kita?"Dia membuka mulutnya, tapi tidak bisa berkata-kata.Aku berbalik masuk ke dalam apartemen, dia menerjang untuk menghentikanku, tapi dicegah oleh petugas keamanan di pintu."Erisa!"Dia berlutut di atas salju, suaranya serak."Izinkan aku bertemu Rara, aku mohon ...."Aku menutup pintu,

  • Jebakan Lembut   Bab 6

    Saat terbangun kembali, cahaya putih yang menyilaukan membuatku menyipitkan mata.Aroma cairan disinfektan menusuk hidungku. Aku terbaring di ranjang rumah sakit, dengan selang infus terpasang di tanganku."Sudah bangun?"Dokter mendekat, dengan nada suara yang berat."Mohon maaf, janinnya nggak bisa diselamatkan."Seluruh tubuhku menggigil, jari-jariku mencengkeram seprai dengan erat."Kenapa?""Benturan langsung di perut menyebabkan plasenta terlepas sebelum waktunya."Dokter membuka buku rekam medis."Saat sampai di sini, pendarahan sudah parah. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin."Aku menutup mata, telingaku berdengung."Mau menghubungi keluarga?"Perawat bertanya dengan suara lembut.Aku menggeleng, suaraku serak."Nggak usah."Ruangan rawat inap sunyi mencekam, hanya terdengar bunyi detak monitor.Aku mengusap perutku, yang kini sudah rata seperti semula, tapi terasa hampa, seolah ada sesuatu yang telah diambil darinya."Rara."Aku bergumam pelan, air mata mengalir tanpa suar

  • Jebakan Lembut   Bab 5

    Saat halaman pemesanan tiket sedang dimuat, gagang pintu berputar, dan Reno masuk.Dia memegang segelas susu hangat di tangannya, matanya melirik layar laptopku."Sudah larut malam begini, masih sibuk apa?"Aku segera mengganti halaman, berbicara dengan tenang."Bukan apa-apa, cari musik untuk ibu hamil."Dia berjalan ke belakangku, meletakkan tangannya di bahuku."Sayang, Laura cuma tinggal beberapa hari di rumah kita. Kamu sebentar lagi melahirkan, jangan terlalu banyak pikiran."Aku menutup laptop, lalu berdiri."Aku capek, aku mau tidur dulu."Dia berdiri diam, seolah ingin berkata sesuatu tapi menahan diri, akhirnya hanya menghela napas, lalu berbalik pergi.Aku membuka kembali laptopku, lalu memesan tiket pesawat ke Bosdon.Cahaya dari layar memantul di wajahku. Aku mengusap perutku yang membuncit, hatiku terasa tenang.Kali ini, aku benar-benar akan pergi.....Keesokan paginya, aku membuka lemari dan mulai mengemas barang-barang.Di sudut lemari, terdapat sebuah kotak perhiasan

  • Jebakan Lembut   Bab 4

    "Laura, jangan bicara lagi."Nada suaranya seolah sedang menengahi pertengkaran, tapi tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Laura.Aku mengepalkan tangan, kuku-kukuku menancap dalam di telapak tanganku.....Sepanjang minggu berikutnya, Reno selalu pulang larut dan berangkat pagi-pagi.Aku tidak bertanya apa-apa. Kami tinggal di bawah satu atap, tapi kami seperti orang asing.Hari ini adalah hari periksa kehamilanku.Aku mengirim pesan padanya, tapi dia tidak membalas. Aku menelepon, tapi dia tidak mengangkatnya.Akhirnya, aku terpaksa naik taksi sendiri ke rumah sakit.Ruang tunggu dipenuhi pasangan suami-istri. Para suami menggandeng istri mereka dengan hati-hati sambil membisikkan kata-kata menghibur.Aku duduk sendirian di sudut, menggenggam buku rekam medis. Bayi dalam kandunganku seolah merasakan perasaanku, menendangku dengan lembut."Nomor 28, Erisa."Aku mendengar perawat memanggil namaku.Aku berdiri dengan susah payah, berpegangan pada dinding, berjalan perlahan masuk ke

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status