Beranda / Romansa / Jejak Cinta di Pulau Serenova / Bab 26 — Impian dan kenangan

Share

Bab 26 — Impian dan kenangan

Penulis: kim sujin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-08 20:00:12

Angin laut bertiup lembut, membawa aroma asin yang menenangkan. Di bawah langit biru yang jernih, Vennesa dan Ben masih duduk di tepi reruntuhan rumah lama itu. Setelah lama terdiam, Vennesa menarik napas panjang, seolah bersiap membuka lembaran yang telah lama terkubur di dadanya.

“Dulu… waktu aku umur delapan belas, aku baru semester dua di universitas,” katanya pelan, matanya menatap jauh ke laut. “Ibu sama Ayah meninggal dalam kecelakaan mobil. Mereka baru pulang dari pasar swalayan—bawa belanjaan bulanan. Mobil mereka ditabrak truk besar yang remnya blong. Semua berakhir di sana.”

Suara Vennesa mulai bergetar. Ia tersenyum pahit, mencoba menahan kenangan itu agar tidak meledak jadi air mata.

“Waktu itu Vellery baru delapan tahun. Aku masih kuliah dan belum punya apa-apa. Tapi aku tahu… aku harus kuat. Aku satu-satunya keluarga yang dia punya.”

Ia berhenti sejenak, menatap kedua tangannya yang terlipat di pangkuan. “Aku ambil ker
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 119 - Penyatuan dua jiwa

    Ben telah merencanakan kejutan istimewa untuk Vennesa selama beberapa minggu terakhir. Semua persiapan dilakukan dengan cermat: dari dekorasi sederhana namun elegan, hingga momen romantis yang akan membuat Vennesa terharu. Hari itu, Ben mengajak Vennesa ke vila sederhana yang dibangun untuknya dan Vellery di Pulau Serenova, tempat mereka bisa merayakan momen bahagia bersama keluarga dan teman-teman terdekat. Begitu tiba, Vennesa terkejut melihat taman vila dihiasi dengan lampu-lampu lembut dan bunga-bunga segar. Ben menatapnya dengan mata penuh cinta, lalu berlutut sambil mengeluarkan cincin yang ia pilih dengan hati-hati. “Vennesa… kau telah membawa kebahagiaan dalam hidupku, lebih dari yang pernah aku impikan. Mau kah kau menikah denganku?” ucap Ben dengan suara mantap. Vennesa menatap Ben, air mata haru menggenang di matanya. “Ya, Ben… aku mau,” jawabnya lirih, senyum manis menghiasi wajahnya. Ben tersenyum lebar, memeluk Vennesa dengan hangat. Mereka berdua tahu, momen i

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 118 - Kehangatan rumah & bisnis baru

    Dua bulan telah berlalu sejak Bryan dan Brayden lahir. Vennesa mulai kembali bekerja di perusahaan internasionalnya, menjalani hari-hari yang padat namun tetap fokus pada keluarga kecilnya. Ia percaya, Ben bisa mengurus rumah dan bayi-bayi mereka sambil memulai bisnis dari rumah. Ben, yang memiliki keahlian di bidang desain grafis dan digital marketing, perlahan menata bisnisnya dari rumah. Ia membuat jasa desain, percetakan custom, dan konsultasi digital untuk klien lokal maupun internasional. Awalnya canggung membagi waktu antara mengurus rumah dan bisnis, tapi seiring waktu, ia mulai menemukan ritme yang pas. Jadwal pagi dan sore dibagi untuk bermain dengan Bryan dan Brayden, sementara proyek-proyek klien tetap berjalan lancar. Vellery, yang kini berusia 21 tahun, tetap tinggal bersama mereka. Ia melanjutkan kuliahnya sambil membantu mengurus bayi, membimbing Ben dan Vennesa saat ada kesulitan, dan menjaga rumah tetap nyaman. Di sela kuliahnya, ia mulai menjalin hubungan dengan E

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 117 - awal dari bahagia

    Pagi itu, rumah Ben dan Vennesa dipenuhi cahaya hangat matahari yang menyelinap melalui jendela-jendela besar ruang keluarga. Udara pagi terasa tenang, namun ketenangan itu segera pecah oleh suara tangisan pelan yang saling bersahutan. Bryan dan Brayden, bayi kembar mereka, terbangun lebih awal dari biasanya, seolah sepakat meminta perhatian orang tua mereka secara bersamaan.Vennesa yang masih setengah mengantuk duduk di sofa dengan rambut sedikit berantakan. Ia memeluk Bryan erat di dadanya, mengusap punggung mungil bayi itu sambil menahan kantuk. Matanya masih berat, tetapi senyum lembut tetap terukir di wajahnya. Di sisi lain, Ben tampak sibuk dan sedikit kikuk mengganti popok Brayden. Bayi itu merengek lebih keras, membuat Ben panik kecil namun tetap berusaha tenang.“Sebentar ya, Nak… Papa belajar pelan-pelan,” gumam Ben, berusaha menghibur Brayden sambil memastikan popok terpasang dengan benar.Tak lama kemudian, Vellery berjalan masuk dari dapur membawa nampan berisi susu han

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 116 - Bryan & Brayden

    Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar VIP rumah sakit, menandai hari baru bagi keluarga kecil Ben dan Vennesa. Setelah beberapa hari perawatan, Vennesa mulai pulih. Bayi-bayi kembar mereka, Bryan dan Brayden, tidur pulas di sampingnya, masing-masing dibungkus selimut lembut. Ben duduk di kursi samping ranjang, menatap istrinya dan kedua buah hatinya dengan tatapan penuh kasih. Hatinya dipenuhi rasa syukur yang tak terukur. Perawat datang untuk melakukan pemeriksaan rutin dan memberi petunjuk terakhir sebelum mereka diperbolehkan pulang. Vennesa mengikuti semua instruksi dengan tenang, meski sesekali tersenyum lemah saat menatap bayi-bayi mereka. Ben membantu menyiapkan tas perlengkapan bayi, memastikan semua obat, popok, dan pakaian bayi lengkap. Ia bahkan menyeka sedikit air liur bayi yang menetes, tersenyum lebar melihat kedua putranya yang imut dan tampan. Ketika perawat mengatakan semuanya siap, Ben menuntun Vennesa ke kursi roda. Bayi kembar mereka ditempatkan

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 115 - wanita paling tangguh

    Matahari mulai meninggi, menembus jendela kamar VIP rumah sakit dengan sinar hangat yang menenangkan. Ben duduk di sisi ranjang, masih merasa takjub melihat Vennesa yang menyandar dengan lemah namun anggun, memeluk kedua malaikat kecil mereka. Meski wajahnya masih pucat akibat kelelahan melahirkan, kecantikan Vennesa tetap terpancar. Senyum lembutnya menebarkan aura keibuan yang hangat dan menenangkan. Ben tidak bisa menahan rasa kagumnya. Ia mengeluarkan ponsel dan mulai mengambil beberapa foto Vennesa bersama bayi-bayi mereka. Setiap jepretan terasa istimewa, menangkap momen kebahagiaan yang begitu murni. Vennesa menatap Ben dengan mata berbinar, senyumnya menenangkan hati Ben yang selama ini penuh gelisah. Tak lama kemudian, Vennesa dengan hati-hati memuat naik salah satu foto itu ke akun media sosialnya. Foto itu menampilkan Vennesa duduk dengan lembut di ranjang, kedua bayi laki-laki kembar yang menggemaskan di pangkuannya. Seperti biasa, unggahan itu langsung mendapat

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 114 - dua malaikat kecil

    Menjelang tengah malam, Vennesa mulai merasakan sakit kontraksi. Ben yang awalnya duduk di sebelahnya akhirnya tertidur nyenyak, lelah setelah seharian menemani istrinya. Pada mulanya, sakit itu terasa ringan, hanya seperti kram biasa, tapi seiring berjalannya waktu, rasa sakit itu semakin kerap dan jauh lebih tajam. Napas Vennesa mulai memburu, dan tubuhnya menegang menahan nyeri yang datang bergelombang. “Ben… Ben… bangun!” teriaknya tiba-tiba, membuat Ben terjaga dengan panik. Ia membuka matanya yang masih setengah ngantuk, melihat Vennesa yang menahan sakit di sampingnya. Panik, Ben bangkit dan mulai mondar-mandir, tidak tahu harus berbuat apa. Tangan Ben gemetar, jantungnya berdetak kencang, dan wajahnya pucat. “Tenang, sayang… tarik napas dalam-dalam,” ucap Vennesa berusaha menenangkan. Ia menuntun Ben untuk mengambil tas perlengkapan bayi yang sebelumnya sudah ia siapkan di dekat pintu. Dengan suara yang sedikit tegang tapi tegas, Vennesa menginstruksikan Ben untuk se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status