Share

Dilema Malam Hari

Penulis: Calibrie
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-22 15:05:42

Malam merangkak pelan seperti kabut tebal yang menyelimuti jiwa, namun mataku tak kunjung terpejam. Setiap detik terasa seperti jam, setiap suara kecil, detak jam dinding, gemerisik daun di luar jendela, terdengar begitu keras di tengah kesunyian kamar. Di sampingku, Dinda sudah terlelap dalam dengan wajah damai yang menyakitkan untuk kupandang. Napasnya teratur dan tenang, naik turun dalam ritme yang sempurna, seperti orang yang tak memiliki beban apapun di hatinya.

Aku berbalik, menatap punggungnya yang bergerak naik-turun seirama napasnya. Cahaya lampu dari luar rumah yang menyusup melalui celah gorden menerangi lekuk tubuhnya yang sudah sangat kukenal. Begitu familiar, begitu intim, namun sekarang terasa asing. Seperti menatap orang lain yang mengenakan topeng wajah istriku.

Ingatanku melayang pada sore tadi. Senyumnya yang terlalu cerah saat aku pulang kerja, pelukannya yang terlalu erat, ciumannya yang terlalu bergairah; semuanya terasa begitu nyata, begitu meyakinkan. Seperti seorang aktris yang sedang memerankan peran terbaiknya. Tapi bayangan rambut keriting dan noda kering di celana dalamnya terus berputar, bagai film bisu yang diputar berulang-ulang di benakku. Frame demi frame, detail demi detail, semuanya terekam jelas dalam memori yang enggan melepaskan.

Hatiku berdetak tidak karuan. Ada bagian dari diriku yang masih ingin percaya, yang masih mencari seribu alasan untuk membenarkan Dinda. Mungkin aku salah lihat. Mungkin itu hanya ilusi dari pikiran yang terlalu curiga.

Sebelum Dinda terlelap, kami sempat berbincang ringan di ranjang. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku, jari-jarinya bermain dengan kancing piyamaku.

"Hari ini capek banget," gumamnya pelan, suaranya terdengar lelah namun ada sesuatu yang dipaksakan di dalamnya.

"Iya, aku juga. Meeting seharian," jawabku sambil mengusap rambutnya yang harum. Tapi pikiranku melayang pada foto yang dikirim Andri.

Dinda terdiam sejenak, jari-jarinya berhenti bermain dengan kancing bajuku. Lalu tiba-tiba dia bergerak naik, wajahnya menghadapku langsung. "Mas Aryo..."

"Ya?"

"Aku mau…”  Wajahnya memerah.

“Katanya capek?” balasku. Sebenarnya aku agak enggan untuk bercinta. Gara-gara kecurigaanku itu.

“Biar sekalian. Kamu capek banget ya?” tanya Dinda.

“Hmm…”

“Kamu santai saja… biar aku yang menyenangkanmu…” ucapnya. Dia pun naik ke pangkuanku, menarik wajahku, mencium bibirku.

Biasanya Dinda pemalu dalam hal seperti ini, selalu menunggu aku yang memulai. Tapi malam itu ada yang berbeda. Matanya menatapku intens, tangannya mulai bergerak nakal di dadaku.

"Dinda..." aku ragu, hatiku masih diselimuti kecurigaan yang tebal seperti kabut. Ada suara kecil di kepalaku yang berteriak untuk menolak, untuk tidak terjerat dalam permainannya.

"Sst..." Dia meletakkan jarinya di bibirku, lalu perlahan turun untuk mencium leherku. "Jangan banyak mikir, sayang."

Tapi justru karena dia bilang jangan banyak mikir, otakku malah semakin berpikir. Ini tidak seperti Dinda yang kukenal. Ada keputusasaan tersembunyi dalam setiap sentuhannya, seolah berusaha menghapus jejak dosa dengan kepasrahan yang menyedihkan.

Dinda mendekat dengan mata yang berbinar penuh hasrat; atau mungkin rasa bersalah yang tersamar. Dia memelukku erat, tubuhnya menekan tubuhku dengan kehangatan yang familier namun terasa berbeda. Bibirnya mulai mencari-cari dengan keputusasaan yang terselubung, seolah berusaha menghapus jejak dosa dengan sentuhan.

Aku tak punya pilihan, atau mungkin aku terlalu lemah untuk menolak. Aku membalas sentuhannya, dan di tengah gairah yang mulai menyelimutiku seperti ombak panas, aku melihat itu sebagai kesempatan. Sebuah kesempatan untuk mengecek lagi, untuk memastikan keraguan yang menggerogoti jiwaku. Ya, aku akan mengecek lagi apakah rambut dinda benar-benar habis tak bersisa? Sialan. Tiga helai rambut di celana dalamnya itu sungguh menggangguk pikiranku.

Saat kami berdua sudah larut dalam momen intim itu, dengan napas yang memburu dan tubuh yang bergerak dalam ritme kuno, diam-diam aku mencoba meraba. Teliti, hati-hati, seperti detektif yang mencari bukti di tempat kejadian perkara. Setiap sentuhan penuh perhitungan, setiap gerakan penuh intensi tersembunyi. Dan benar saja, di bagian paling bawah, di tempat yang paling sulit dijangkau pisau cukur, di sudut yang biasanya terlupakan, aku menemukan beberapa helai rambut.

Rambut-rambut itu terasa lebih kasar di bawah jemariku yang bergetar, lebih tebal dari rambut Dinda di bagian depan yang sudah dipangkas habis dengan rapi seperti biasanya. Aku mencoba berpikir positif lagi, memaksa otakku untuk menemukan penjelasan yang rasional. Mungkin itu memang rambut Dinda yang terlupa dicukur. Dan bekas cairan yang telah kering dan membentuk noda putih itu, mungkin juga cairan kewanitaan Dinda sendiri dari hari-hari sebelumnya.

Otakku mati-matian mencari pembenaran, berlari dari satu hipotesis ke hipotesis lain seperti tikus yang terjebak di labirin. Aku mencari celah, mencari alasan, mencari apapun untuk tidak percaya pada apa yang sebenarnya mulai berteriak di dalam diriku dengan suara yang semakin keras dan semakin jelas. Tapi setiap pembenaran terasa hambar, setiap alasan terasa dipaksakan.

Namun, keraguan itu tak pernah benar-benar hilang. Ia bersembunyi di sudut paling gelap dari pikiranku, seperti predator yang sabar menunggu mangsa lengah. Dia menunggu saat-saat lemahku, saat-saat ketika pertahananku turun, untuk menerkam lagi dengan cakar-cakar tajam yang menyayat jiwa.

Aku memejamkan mata dengan paksa, berharap esok pagi semua kegelisahan ini sirna, terbawa angin malam dan berganti dengan kenyataan bahwa semua ini hanyalah salah paham belaka, nightmare yang akan berakhir dengan cahaya fajar. Tapi di dalam hati, aku tahu itu hanyalah harapan kosong, seperti mengharap hujan di tengah padang gurun.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Indra Andriana
kalau isti dpt gaya baru dlm bercinta padahal tadinya malu2 kemungkinan besar punya PIL jd pas pulang di praktekin jg d rumah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Dinda Dan Dewi Sudah Pulang

    Jam delapan pagi, kami akhirnya meninggalkan rumah. Udara pagi masih terasa sejuk ketika aku menyetir mobil melewati jalanan kota yang mulai ramai. Claudia duduk di sampingku dengan senyum tipis yang terlihat berbeda dari biasanya. Blazer hitamnya sudah kembali rapi menutupi tubuhnya, rambut yang tadi pagi masih basah kini sudah ditata kembali menjadi gaya profesional yang biasa ia kenakan.Tak banyak yang kami bicarakan selama perjalanan. Hanya sesekali pandangan kami bertemu, lalu salah satu dari kami tersenyum, sebuah kode rahasia yang hanya kami berdua yang paham. Aku mengantarnya ke sebuah minimarket tidak jauh dari gedung kantornya. Tempat yang cukup aman untuk berpisah tanpa menarik perhatian."Sampai di sini saja, ya," ucapnya sambil melepas sabuk pengaman.Aku mengangguk. "Baik, Kak."Sebelum turun, ia menoleh sejenak, menatapku dengan pandangan yang sulit kuterjemahkan. Ada rasa terima kasih di sana, mungkin juga sedikit penyesalan, atau justru kelegaan. Entahlah."Terima ka

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Pagi Hari Di Kamar Mandi

    Setelah badai itu mereda, suasana ruangan yang tadinya bising oleh deru napas dan erangan mendadak menjadi sunyi yang intim. Claudia masih bertumpu pada sofa, bahunya naik turun dengan tidak teratur, sementara aku masih memeluknya dari belakang, mencoba mengatur detak jantungku yang masih berdetak gila.Aku mengecup pundaknya yang berkeringat, lalu membalikkan tubuhnya perlahan. Wajahnya terlihat berantakan; rambut yang acak-acakkan, bibir yang bengkak, dan mata yang masih berkaca-kaca karena puncak kenikmatan tadi. Ia nampak begitu manusiawi, begitu jauh dari kesan "Wanita Besi" yang ditakuti di kantor pusat."Kamu baik-baik saja, Kak?" tanyaku lembut sambil merapikan helaian rambut yang menempel di pipinya.Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya di dadaku, menghirup aroma tubuhku dalam-dalam. "Aku merasa... hidup, Aryo. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa bukan sekadar pajangan atau mesin pencetak uang."Aku membimbingnya duduk di sofa, menyeli

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Perang Panas Di Sofa

    Lampu ruang tengah yang temaram seolah ikut mengecilkan dunia ini, menyisakan hanya kami berdua di atas sofa yang kini terasa seperti pusat semesta. Napas Claudia memburu, terasa hangat dan pendek-pendek di ceruk leherku saat aku membenamkan wajah di sana. Aroma parfum mahalnya kini bercampur dengan aroma alami kulitnya yang memabukkan, sesuatu yang jauh lebih candu dari wangi masakan tadi."Aryo..." bisiknya parau, sebuah desahan yang lebih mirip rintihan kecil saat jemariku mulai menjelajahi lekuk pinggangnya yang halus.Aku melepaskan pautan bibir kami sejenak hanya untuk menatap matanya yang sayu dan basah. "Kamu cantik sekali, Kak. Benar-benar keterlaluan cantiknya," bisikku tulus.Ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan menarik tengkukku kembali, menyatukan kening kami. Tangannya yang mungil kini merayap di dadaku yang polos, mencengkeram bahuku seolah aku adalah satu-satunya pegangan di tengah badai yang sedang ia rasakan.Aku membawa kecupanku turun ke arah tulang

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Malam Kedua Claudia Kembali Datang

    Kekhawatiranku menguap begitu saja. Pak Hendra ternyata sedang tidak mood bermain-main dengan wanita. Tapi dia menawariku. Saat ia menawarkan "fasilitas" wanita-wanita itu, aku menolak dengan halus, dan ia hanya mengangguk paham tanpa memaksa. Jadi, sogokan wanita itu sebenarnya tak berguna juga. Kalau pun tak ada, sepertinya juga tak masalah.Begitu urusan selesai, kami kembali ke kantor. Lalu aku segera membereskan barang-barangku, kembali ke basement, naik ke mobilku, lalu aku memacu mobil membelah kemacetan kota. Jarum jam menunjukkan angka yang masih bersahabat. Aku mengirim pesan singkat pada Claudia: "Aku pulang tepat waktu. Perlu aku jemput di mana?"Tidak ada balasan. Layar ponselku tetap gelap. Aku sempat ragu untuk menelepon; membayangkan ia sedang memimpin rapat besar atau tenggelam dalam dokumen. Orang sesibuk dia punya dunianya sendiri yang terkadang terasa jauh bagiku.Sesampainya di rumah, aku segera membersihkan diri. Air dingin sedikit membasuh rasa lelahku. Baru saj

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Diajak Meeting Pak Hendra

    Selama aku bekerja hari ini, konsentrasiku tidak sepenuhnya pada pekerjaan. Ponselku bergetar beberapa kali; notifikasi pesan masuk. Dari Claudia."Pagi, Arya. Sudah sampai kantor?""Sudah, Kak. Baru sampai. Kamu gimana?”“Sudah di kantor!”"Syukur deh.""Kamu sibuk nggak hari ini?""Lumayan sibuk. Ada beberapa meeting. Kenapa, Kak?""Nggak ada apa-apa. Cuma kangen aja."Kangen.Kata yang sangat... loaded. Kata yang membawa implikasi lebih dari sekedar interaksi fisik semalam."Aku juga kangen."Dan aku mengetik itu tanpa berpikir panjang. Spontan. Jujur.Kami bertukar pesan sepanjang pagi. Pesan-pesan yang manis, yang penuh dengan flirting subtle, yang kadang membuatku tersenyum sendiri di depan layar komputer."Kapan bisa ketemu lagi?""Kapanpun kamu mau. Istriku masih di vila sampai besok sore.""Hmm... menarik. Nanti aku kabarin ya."Pesan-pesan itu terus berlanjut. Bahkan saat aku sedang meeting, ponselku bergetar dan aku harus menahan diri untuk tidak langsung mengecek. Begitu m

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Pacaran Dulu

    Kami masih saling menatap dalam keheningan kamar yang hanya diterangi lampu tidur redup di sudut. Bayangan kami memanjang di dinding, bergerak halus mengikuti helaan napas yang mulai teratur. Mungkin sama-sama saling merasakan kedalaman. Atau, mencari kejujuran di balik tatapan mata yang lelah setelah gejolak malam ini. Setidaknya itu yang aku rasakan saat ini. Aku ingin tahu, apakah dia serius dengan pertanyaannya tadi; pertanyaan tentang perceraian yang meluncur begitu saja di tengah keintiman kami."Kok diem?" tanya Claudia, jari-jarinya menyentuh daguku, memaksaku untuk tetap menatapnya."Memangnya bisa semudah itu?" jawabku pelan, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri."Apa yang membuatnya sulit?" Claudia menggeser tubuhnya lebih dekat. Kehangatan kulitnya menyentuh lenganku. Di luar jendela kamarku, suara jangkrik mulai mereda, pertanda fajar tak lama lagi."Aku dan Dinda... kami tidak bertengkar. Kami butuh alasan untuk bercerai tanpa saling menyakiti..." Kata-kata itu t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status