Mag-log inSejauh ini, aku belum berani melangkah jauh dengan Ibu Claudia. Waktu itu, saat aku menemani dia mabuk di kamar hotel, aku bisa saja mengambil kesempatan itu. Tapi aku tidak melakukannya. Aku masih punya... rem.Tapi malam ini? Aku tidak tahu.Aku menyetir menuju alamat salon yang dikirimkan Ibu Claudia. Jaraknya cukup jauh dari kantor, sekitar tiga puluh menit dengan kondisi lalu lintas yang cukup padat. Salon itu berada di area yang cukup elite, dengan gedung-gedung yang modern dan parkiran yang luas.Aku tiba di depan salon sekitar jam setengah enam sore. Tapi saat aku hendak turun dari mobil untuk masuk ke dalam salon, ponselku berdering. Ibu Claudia menelepon."Halo, Bu?""Arya, aku belum selesai nih. Masih ada treatment lagi. Kira-kira satu jam lagi baru beres. Kamu nggak apa-apa nunggu?"Satu jam lagi.Aku melirik jam di dashboard mobil."Nggak apa-apa, Bu. Saya tunggu.""Makasih ya. Maaf merepotkan. Kamu bisa nunggu di dalam salon kalau mau, ada ruang tunggu yang nyaman kok. A
Pagi pun tiba dengan cahaya matahari yang menembus celah gorden kamar, menyinari wajahku yang masih terpejam. Aku membuka mata perlahan, merasakan tubuh yang... remuk.Sangat remuk.Punggung yang pegal. Pinggang yang ngilu. Kaki yang terasa berat. Setiap bagian dari tubuhku protes, memberitahuku bahwa aku sudah terlalu... aktif semalam.Aku memutar kepala ke samping. Wulan masih tertidur di sampingku, wajahnya yang damai, napas yang teratur, tubuh yang terlihat sangat rileks. Sementara aku... aku merasa seperti baru saja lari marathon.Beberapa menit kemudian, Wulan mulai bergerak. Matanya terbuka perlahan, menyesuaikan dengan cahaya. Ia memutar tubuhnya menghadapku, lalu tersenyum."Pagi, Mas...""Pagi," jawabku dengan nada yang agak... kesal.Wulan sepertinya merasakan ada yang berbeda dari nadaku. Alisnya terangkat."Kenapa? Ada apa?""Kamu tahu nggak, tubuhku remuk semua gara-gara semalam?"Aku mengatakan itu dengan nada yang setengah marah, setengah bercanda. Tapi rasa sakitnya n
Tapi di tengah semua kenikmatan fisik ini, pikiranku tidak bisa sepenuhnya lepas. Ada bagian dari diriku yang terus membandingkan.Wulan berbeda dari Dinda.Tubuhnya lebih semok, namun kencang kencang. Caranya bergerak itu sangat agresif, sangat jalang. Suaranya yang mendesah berbeda; lebih tinggi, lebih dibuat-buat, tapi itu memberikan sensasi tersendiri.Dinda, meski belakangan ini sangat liar dan jauh berbeda dari dulu, masih bisa dibilang lebih lembut ketimbang Wulan.Maka Wulan tentu selalu memberikan sesuatu yang berbeda. Apalagi, aku melakukannya diam-diam, serta merahasiakan hal ini. Ada kegirangan tersendiri dari aktivitas ini.Aku bergerak semakin cepat. Semakin intens. Wulan pun juga. tubuh kami bergerak dalam harmoni yang sempurna, naik dan turun, masuk dan keluar, dalam ritme yang semakin mengencang.Wulan mendesah semakin keras. Tangannya mencengkeram sprei dengan kuat, kepalanya menengadah ke belakang, tubuhnya melengkung."Mas... aku... aku mau..." ucapnya dengan terpu
Aku tidak bisa menjawab. Kata-kata tercekat di tenggorokan. Yang bisa kulakukan hanya menatapnya dengan tatapan yang penuh... hasrat.Wulan tersenyum puas melihat reaksiku. Ia duduk di sampingku, tubuhnya yang hampir telanjang itu sangat dekat denganku.Dan malam panjang kami baru saja dimulai.Wulan duduk di sampingku, tubuhnya yang hampir telanjang dalam balutan lingerie hitam yang minim itu menciptakan aura yang sangat... menggoda. Kulitnya yang putih mulus terlihat sempurna di bawah pencahayaan ruang tamu yang hangat. Setiap lekuk tubuhnya terlihat jelas; payudara yang penuh dalam balutan bra transparan, pinggang yang ramping, paha yang mulus dan panjang."Gimana, Mas? Bagus nggak?" tanyanya lagi, suaranya rendah dan sensual.Aku masih tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Yang kulakukan adalah menarik tubuhnya mendekat, tanganku melingkari pinggangnya yang ramping, merasakan kulit halusnya di telapak tanganku.Wulan tersenyum, tangannya naik ke leherku, menarikku lebih dekat. Waj
Wulan sungguhan ingin ke rumahku. Dan aku... aku tidak bisa menolak.Tapi aku harus berpikir praktis. Jika ia langsung ke rumahku sekarang dengan mobilnya sendiri, itu akan menciptakan jejak yang tidak perlu di mata tetangga atau warga sekitar. Mobil yang parkir semalaman di depan rumahku bisa menimbulkan pertanyaan."Begini aja," kataku sambil berpikir cepat. "Kamu pulang ke rumah dulu. Ganti baju, bawa apa yang kamu butuhin. Terus nanti ke rumahku... jangan bawa mobil."Wulan mengangguk, memahami maksudku."Oke. Terus gimana?""Kita ketemuan sekalian makan malam dulu di resto. Kamu naik taksi ke sana, aku juga naik mobil sendiri ke sana. Setelah makan, kamu pulang bersamaku. Besoknya kita berangkat bareng ke kantor."Ide yang cukup rapi. Tidak ada mobil Wulan yang parkir di rumahku. Tidak ada jejak yang mencurigakan."Ohhh, oke. Smart," kata Wulan sambil tersenyum. "Berarti aku harus bawa baju kerja untuk besok dong?""Iya. Bawa semua yang kamu butuhin.""Oke. Deal!"Wulan terlihat
"Boleh banget, Bu. Kapan?""Besok sore. Tapi aku minta tolong dijemput ya. Aku habis dari salon, jadi nggak bawa mobil.""Oke, Bu. Jam berapa?""Jam 6 sore. Aku kirim alamat salonnya nanti.""Siap, Bu. Aku tunggu."Aku meletakkan ponsel di meja, lalu menyandarkan punggung di kursi. Napas yang tertahan keluar perlahan.Ini benar-benar terjadi.Besok sore, Ibu Claudia akan datang ke rumahku. Saat Dinda tidak ada. Saat kami berdua... sendirian.Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku tidak mau melewatkan kesempatan ini.Saat aku sedang melamunkan apa yang akan aku lakukan besok, pintu ruanganku tiba-tiba terbuka. Wulan masuk dengan senyum ceria di wajahnya."Mas Arya! Makan siang yuk!"Aku tersentak dari lamunanku, menatap Wulan yang sudah berdiri di depan mejaku dengan outfit kantornya yang rapi; kemeja putih yang sedikit ketat memperlihatkan lekuk tubuhnya, rok span hitam selutut, rambut yang diikat kuda."Oh, Wulan. Iya, boleh. Udah lama kita nggak makan siang bareng ya," katak







