LOGIN
“Jenderal belum juga terlihat?”
Entah sudah berapa kali Shen Liu Zi menanyakan hal yang sama. Dia gusar, dia gugup. Pagi tadi, dia dan jenderal Shang Que telah menikah. Dan menurut adat, mempelai pria harus menyibak tudung merah pernikahan mempelai wanita. Dengan begitu, kehidupan pernikahan mereka akan berjalan harmonis. Sayangnya hanya Shen Liu Zi yang menunggu! Dengan lilin pernikahan yang belum dinyalakan, dengan arak malam pertama yang masih penuh di cangkirnya dan tentunya dengan keberadaan jenderal Shang yang entah di mana. “Nyonya, sepertinya Jenderal Shang tidak akan datang.” Pelayan Shen Liu Zi menjawab lirih di balik pintu. “Kamu sebaiknya tidur saja.” Tangan Shen Liu Zi di pangkal paha langsung mengepal, tetapi sudut bibir di wajahnya perlahan-lahan terangkat. “Cari tahu situasi di luar, Yu Li,” suruh Shen Liu Zi. Yu Li; pelayan pribadinya segera pergi ke halaman depan. Dimana tempat itu tadinya menjadi lokasi pernikahan jenderal Shang Que dengan Shen Liu Zi, yang berlangsung meriah. Dihadiri banyak tamu penting, termasuk Kaisar serta Ratu kesayangannya. Kini tempat itu telah kosong. Meja-meja tidak lagi berada di tempatnya secara rapi. Kendi arak tergeletak di mana-mana, makanan khas pernikahan telah habis dikeroyok para tamu. Dan yang paling utama, jenderal Shang Que tidak ada di sana. Yu Li akhirnya kembali menghadapi Shen Liu Zi. Dengan suara merendah dia melapor, “Nyonya, Jenderal Shang Que tidak ada di halaman depan.” Shen Liu Zi tak bisa lagi menunggu! Wanita itu menyibak tudung merahnya sendiri, melemparkannya ke tempat tidur dengan dada naik turun berselimut kemarahan. Lalu, tanpa mengatakan apa-apa, dia meninggalkan kamar, mengayunkan langkahnya ke arah halaman belakang kediaman. “Nyonya—” Yu Li memanggilnya khawatir. Shen Liu Zi melangkah mantap. Dia tahu persis kemana dia harus pergi untuk menemukan jenderal Shang. Dan begitu dia sampai …. Dugaannya tidak salah. Pria yang seharusnya melewati malam pertama bersamanya, kini malah berlutut di depan papan arwah. Tepatnya papan arwah Chu Qiao! Dada Shen Liu Zi bergemuruh hebat. Antara ingin menjerit, atau sekadar membiarkan air mata tumpah. Namun, tidak satu pun yang keluar. Yang ada hanya desiran amarah yang merayap naik dari perut, menyesakkan hingga tenggorokan. Jari-jarinya yang halus perlahan menggenggam sisi gaun, meremas kain halus itu hingga kusut. Kuku-kukunya nyaris menembus lapisan sutra, tetapi tubuhnya tetap tegak. Api kecil di lentera halaman berkedip-kedip di matanya, seolah menyalin amukan yang membara di dalam dada. Dia menatap punggung jenderal Shang Que lama, begitu lama sampai udara di sekitarnya ikut bergetar oleh panas yang tak kasat mata dari kecemburuan serta kehinaan yang sulit dibedakan. Lalu, perlahan tapi tegas, Shen Liu Zi berbalik. Langkahnya berat tapi berirama pasti. Setiap hentakan kakinya memantul di lantai batu, memecah keheningan malam dengan ketukan marah yang teratur. Pintu kamarnya terbuka keras ketika dia masuk. Cahaya dari lentera berayun kencang, menebarkan bayangan panjang di dinding. Tanpa ragu, Shen Liu Zi menarik pedang jenderal Shang yang terpajang di sisi kamar. Logamnya berkilau di bawah cahaya oranye, pantulan tajamnya mengenai mata Shen Liu Zi yang kini basah. Saat itulah tubuhnya mulai bergerak! Gerakan pedangnya cepat, berirama, seperti tarian yang dihafalnya sejak lama. Ujung bilah menebas udara, menimbulkan suara mendesing, memecah diam yang menyesakkan. Setiap ayunan disertai amukan yang tak terucap, amarah pada suaminya, pada arwah wanita itu, pada dirinya sendiri. Gaun pengantinnya yang merah berkibar, tersapu angin. Rambutnya terurai, menampar wajahnya sendiri saat dia berputar cepat, mengayunkan pedang sekali lagi dengan kekuatan penuh. Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah. Menetes tanpa suara, menyatu dengan keringat dan napas beratnya. Dan di tengah semua itu, hanya satu yang tertinggal di udara, yakni rasa hampa yang menggema, seperti luka yang tak bisa disembuhkan bahkan oleh ribuan tebasan pedang. “Nyonya.” Yu Li coba memanggil dari balik pintu. Tidak ada jawaban. Pedang di tangan Shen Liu Zi berputar sekali lagi. Tajam, cepat, dan berbahaya. Namun, di antara gerakan yang begitu terlatih, bilah itu tiba-tiba menukik terlalu dekat ke tubuhnya. Tangannya tergores! Sekejap kemudian, darah merah mengalir dari pergelangan tangannya, menetes ke lantai, membentuk garis kecil di atas ubin batu. Gerakannya berhenti seketika. Pedang itu masih tergenggam di tangannya, tapi bilahnya bergetar pelan, memantulkan cahaya lentera yang goyah. Beberapa helai rambutnya menempel di wajah, matanya menatap kosong ke depan, tanpa jeritan, tanpa gerak. Tidak ada reaksi sakit. Tidak ada keluhan. Hanya tatapan yang kosong dan dingin, seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah di tengah gelap. Darah di tangannya terus mengalir, membasahi gagang pedang hingga menetes ke ujung bilah, menciptakan suara kecil ketika jatuh ke lantai. “Demi membersamaimu, aku telah melatih diri berhari-hari, tapi kamu masih sama .... menjangkaumu sesulit menjangkau bulan.”Di dalam tenda, tempat jenderal Shang duduk memperhatikan peta perkampungan di sekitar gunung Yundai, bawahannya masuk dengan sikap hormat. “Jenderal.” Bawahannya meletakkan surat bersegel resmi kediaman Hang. Tanpa perlu membuka surat itu, jenderal Shang sudah tahu maksud jelas di dalamnya. Bawahan mundur, berbalik pergi. Jenderal Shang melempar pandangan ke luar, memandang jauh tanah longsoran yang kini sepenuhnya dibereskan. “Hutong Bai!” seru jenderal Shang kemudian. Komandan Hutong Bai sigap menghadap. “Ya, Jenderal!” “Kumpulkan pasukan! Siang ini juga kita kembali ke kota Kekaisaran!” perintah jenderal Shang. “Baik!” Longsor di kampung sekitaran gunung Yundai sudah teratasi dengan baik. Siang ini juga, jenderal Shang bersama seratus pasukan di belakangnya kembali ke kota Kekaisaran. Sayangnya perjalanan ke kota Kekaisaran tidak mudah. Jembatan sepanjang sembilan meter di hadapan mereka telah hilang tergerus banjir. Menyisakan tali tipis, serta potongan kayu
Lampu lentera di pondok halaman samping bergoyang pelan, memantulkan cahaya kekuningan ke permukaan meja kayu yang sudah termakan usia. Shen Liu Zi duduk dengan punggung tegak, kedua lengannya bersedekap. Posturnya tenang, tapi bukan santai—lebih seperti seseorang yang siap menyergap balik kapan saja. Tatapannya menyapu dua tael emas di atas meja, lalu naik perlahan ke wajah wanita di seberangnya. Wanita tak dikenal itu bersandar malas di kursi kayu, satu kaki terjulur sedikit ke depan. Rambutnya diikat sederhana, tanpa hiasan. Jubahnya polos, tapi bahunya tegap laksana bahu seseorang yang terbiasa hidup dengan pisau di pinggang dan nyawa di ujung keputusan. Tatapannya jatuh pada dua tael emas itu. Alisnya langsung berkerut. “Nyonya Shen,” katanya dengan napas dihela kasar, jelas tidak senang, “aku bilang dua puluh tael emas lagi, bukan dua tael begini.” Shen Liu Zi mendengus pelan. Wajahnya dingin, nyaris tanpa emosi. “Ambil atau aku yang mengambil balik.” Wanita tak dik
Bagus! Dia menyalahkan negara tepat di depan pemimpinnya. Segelintir pejabat saling bertukar pandang—cepat, samar, dan canggung. Bahasa mata yang biasanya rapi kini kacau. Ada yang menelan ludah dengan wajah pucat, membayangkan kepala mereka sendiri menggelinding jika Kaisar murka. Ada pula yang menunduk dalam-dalam, seolah ingin mengecilkan keberadaannya. Dan ada juga sepasang mata yang justru terpaku penuh kecemasan pada sosok di tengah aula itu Tuan muda Meng! Jemarinya yang tersembunyi di balik lengan jubah mengepal perlahan. Dia tahu betul, satu kalimat barusan bukan sekadar pembelaan, melainkan deklarasi perang tanpa senjata. Aula pertemuan pun kian tenggelam dalam keheningan yang menekan! Bahkan dua warga sipil yang tadi berteriak lantang kini membeku. Kening mereka masih menempel di lantai, tapi tubuh mereka gemetar. Mereka sadar, kata-kata Shen Liu Zi bisa menjadi sebilah pedang yang membunuh mereka saat ini juga. Mereka khawatir kemarahan Kaisar meledak, tet
Pacuan kuda lawan melemah. Deru tapak mereka tak lagi serempak; napas kuda-kuda itu mulai berat, sementara jarak yang mereka kejar justru terasa ganjil, seolah target mereka menghilang begitu saja dari jalur utama. Salah satu dari mereka menarik kendali mendadak. Kuda hitamnya meringkik rendah saat berhenti di dekat bekas tanah berlumpur yang tercabik tak beraturan. Pria itu turun, berlutut, lalu menyentuhkan jarinya pada bekas tapak yang dalam. Itu jejak kuda tergelincir! Matanya menyipit, dan sudut bibirnya terangkat tipis. “Jejaknya berhenti sampai sini,” gumamnya, “kuda itu kemungkinan besar sudah tak sanggup berjalan jauh.” Lainnya mendekat. Mereka saling bertukar pandang—senyum smirk perlahan merekah, penuh keyakinan. “Dia takkan bisa lari jauh,” ujar salah satu dengan nada puas. Sebuah tangan terangkat, memberi Isyarat singkat, tegas. Kelompok segera terbagi dua. Separuh menyisir sekitar, separuh lagi bersiap menyusuri jalur alternatif. Namun, sebelum satu pun dari me
Tubuh kuda terhuyung keras. Tapak depannya tergelincir di tanah basah, dan dalam sekejap, keseimbangan lenyap. “Ah—!” Shen Liu Zi dan Yu Li terlempar dari punggung kuda. Punggung mereka menghantam tanah berlumpur, lalu tubuh keduanya berguling tak terkendali. Sekali, dua kali hingga akhirnya terhenti di antara rerumputan liar bertanah basah. Napas Shen Liu Zi terhempas keluar dari dadanya. Dunia berputar. Telinganya berdengung, seolah seluruh suara tersedot menjauh. Rasa nyeri menjalar dari bahu hingga tulang belakang, membuatnya nyaris memejamkan mata terlalu lama. Namun, naluri tidak memberinya waktu. Shen Liu Zi berbalik, menjatuhkan satu lutut ke tanah. Tangannya refleks menekan lumpur, lantas tanpa ragu menempelkan telinganya ke permukaan tanah itu. Ada gelombang getaran samar, tapi nyata. Jumlahnya bukan hanya satu. Dia tidak bisa menghitung pasti, tetapi yakin merekalah yang mengincar dokumen miliknya. “Yu Li,” bisiknya tajam, rendah, “bangun. Sekarang!” Yu Li terisa
Langkah jenderal Shang terayun. Kekhawatiran yang sempat mengosongkan pikirannya, kini bak menguap ditiup angin. Shen Liu Zi baik-baik saja. Itu sudah cukup. Di mata Shen Liu Zi, pria itu tetap sama—tegap, tenang, dingin. Tidak ada retak pada rautnya, tidak ada gelombang emosi yang lolos ke permukaan. Sorot mata itu tetap jernih dan berjaga, seolah dia datang ke sini hanya untuk menyaksikannya bermandikan lumpur. Kemudian, ketika jenderal Shang mulai mengambil langkah, naluri Shen Liu Zi bergerak lebih cepat dari pikirannya. Tubuh wanita itu bergeser setengah langkah. Gerakannya halus, nyaris seperti menyesuaikan posisi berdiri, tapi tangan kirinya secara alami menarik kantong kain yang menggembung di sisi tubuhnya—menyembunyikannya ke balik lipatan jubah yang sudah kotor. Dia yakin gerakan itu bersih. Tidak mencolok. Tidak meninggalkan jejak. Namun .... Ketajaman mata jenderal Shang tidak bisa ditipu! Sekilas saja pria itu menyadari apa yang Shen Liu Zi lakukan, tetap







