LOGINShen Liu Zi terbangun dengan tubuh bergetar halus, napasnya tersengal seperti habis berlari dari mimpi buruk yang terlalu nyata.
Dahi dan lehernya basah oleh keringat dingin. Dia menatap langit-langit kamar yang diterangi cahaya pagi lembut, sejenak bingung di mana dirinya berada. Udara di ruangan itu masih menyimpan aroma dupa dan arak semalam. Tudung pengantin yang dia lempar tergeletak di lantai, sebagian ujungnya menyentuh genangan darah kering yang sudah menghitam di atas ubin. Shen Liu Zi langsung bangkit duduk. Pandangannya menyapu ke seluruh kamar. Ke meja rias, ke kursi di sudut, ke sisi ranjang yang kosong. Tak ada tanda-tanda jenderal Shang! Tempat gantung zirah yang biasanya berdiri di sisi dinding kini kosong, bahkan pedang yang semalam dia gunakan juga tak terlihat. Dia lanjut menyingkap selimut dan turun dari ranjang secara tergesa, tapi langkahnya terhenti begitu matanya menangkap balutan kain putih yang melilit rapi di lengan, tepat di tempat luka semalam berada. Shen Liu Zi menatapnya lama. Jemarinya yang gemetar menyentuh kain itu perlahan, merasakan serat halus yang bersih dan diikat dengan simpul rapi. Belum sempat pikirannya tenang, terdengar ketukan lembut di pintu. Tok! Tok! Angannya membuyar. Segera wanita itu berseru, “Masuk!” Pintu perlahan terbuka, dan Yu Li melangkah masuk dengan hati-hati. Di tangannya ada baskom air hangat, menguapkan aroma bunga teratai. “Selamat pagi, Nyonya. Hamba bawakan air untuk membersihkan diri.” Shen Liu Zi memandangi pelayannya itu beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku baru tahu kamu bisa membalut luka seapik ini.” Yu Li sempat mengerutkan alis, isyarat tak mengerti. Namun, tak ada kesempatan baginya untuk berpikir lebih jauh. Karena saat itu juga, pelayan kediaman jenderal datang melaporkan, “Nyonya Shen Liu Zi, keluarga besar telah menunggu anda makan bersama pagi ini.” Makan bersama! Dua kata itu langsung memenuhi pikiran Shen Liu Zi dan Yu Li. Mereka; terutama Shen Liu Zi, baru ingat kalau pagi hari setelah pernikahan, sepasang pengantin akan diundang makan bersama oleh keluarga besar mempelai pria. Yu Li tanpa komando mendorong Shen Liu Zi ke area pemandian. Shen Liu Zi sambil berjalan juga berkata, “Tunggu sebentar! Aku harus membersihkan diri!” Selang beberapa saat. Shen Liu Zi berdiri tegak di ambang pintu aula yang terbuka lebar. Cahaya matahari pagi menyusup melalui kisi-kisi jendela, memantul di lantai batu yang mengilap, menyoroti sosoknya yang tampak pucat di balik balutan pakaian sederhana berwarna merah muda pucat. Suara riuh rendah para pelayan dan denting mangkuk berhenti seketika saat langkah kakinya terdengar. Semua kepala menoleh ke arah pintu. Aroma arak dan daging asap memenuhi ruangan, tapi yang terasa menusuk justru hawa canggung yang tiba-tiba membeku di udara. Tatapan-tatapan tajam mengarah padanya dari segala penjuru. Sebagian menelusuri dirinya dari kepala hingga kaki dengan pandangan menilai, sebagian lainnya menatap datar tanpa ekspresi. Ada pula beberapa wanita berumur yang saling berbisik pelan, menutup bibir dengan lengan baju mereka sambil mengamati Shen Liu Zi seolah sedang menimbang keberaniannya datang ke tempat itu seorang diri dan terlambat. Hanya saja, tatapan yang paling dia cari justru ada di ujung meja panjang, di kursi sebelah paman kedua.. Dialah jenderal Shang Que! Suaminya! Pria itu duduk dengan tenang, mengenakan pakaian rumahan, bahunya lebar dan tegap seperti biasa. Di hadapannya kendi arak putih. Dia tidak menoleh sedikit pun ke arah pintu! Tangannya hanya bergerak tenang, menuang arak ke cangkirnya sendiri, lalu menyesapnya perlahan seolah tidak terjadi apa-apa. Pemandangan itu membuat dada Shen Liu Zi terasa kaku. Dia ingin memprotes. Memarahi jenderal Shang, yang tidak membawanya masuk selayaknya sepasang suami istri, atau setidaknya mengingatkan akan adanya jamuan pagi. Dan saat yang sama .... “Oh, jadi ini menantu baru yang membuat semua tamu menunggu?” Suara seorang wanita tua memecah hening. Nada bicaranya tajam, tapi dibalut senyum sopan. Shen Liu Zi memaksa senyum. “Maaf, Bibi, maaf semuanya. Aku—” Kalimat itu belum selesai. Salah seorang menyeletuk, “Sudahlah, dia pengantin baru. Mungkin saja, semalam ....” Kalimat itu juga sengaja tak dilanjutkan, yang berbicara melirik ke arah jenderal, sambil tersenyum menggoda dan berakhir tidak mengatakan apapun. “Masuklah, Nyonya Shen. Meski terlambat, sebaiknya jangan biarkan makanan menjadi dingin,” lanjut bibi yang sebelumnya. Shen Liu Zi menunduk sopan. “Terima kasih, Bibi.” Dia melangkah masuk perlahan, setiap langkah terasa berat, seperti menapaki lantai es. Pandangannya sesekali masih terarah pada sosok Shang Que, yang tetap tidak bergeming. Begitu dia kemudian duduk di kursi yang disiapkan di sisi kanan jenderal, jamuan pagi mereka yang sempat tertunda pun dilangsungkan. Setiap orang makan dengan gaya bangsawan, membuat Shen Liu Zi kikuk, karena meski dia dari keluarga kaya raya, dia bukanlah keturunan bangsawan yang belajar etiket terlalu ketat. Shen Liu Zi makan seperti orang normalnya, mengundang tatapan tajam bibi yang tadi, alhasil dia menundukkan wajah menahan perasaan campur aduk di dada. Sementara itu .... Paman kedua jenderal berkata, “Que'er, sebagai seorang suami, kamu harusnya memotongkan kepiting untuk istrimu. Baru kehidupanmu bisa berjalan lancar.” Jenderal Shang menjawab lugas. “Dia punya tangan, apa tidak berfungsi?” Paman kedua jenderal langsung melotot. “Kamu!” nadanya marah, tapi suaranya merendah. Shen Liu Zi segera menjawab, “Tidak apa-apa, Paman, aku bisa memotong sendiri.” Shen Liu Zi benar-benar ingin membuktikan. Dia langsung mengambil gunting serta sendok khusus kepiting, tapi saat memotongnya .... Klontang! Karena kesulitan, piring kepiting tergeser jatuh beserta kepitingnya! Bibi tua seketika bangun menunjuk-nunjuk. “Yo! Apa kamu tidak tahu cara makan yang benar!” Suaranya mengunci setiap perhatian ke arah Shen Liu Zi, membuat wanita itu merasa seperti terdakwa yang hendak dijatuhi hukuman. Sebagai suami, jenderal Shang harusnya menjadi tameng pelindung. Namun, tidak. Pria sedingin bunga es itu memilih beranjak. Dia pergi begitu saja!Semua prajurit beserta komandan Miao Feng dan komandan Hutong Bai berhasil menyebrangi jembatan. Satu-satunya yang belum lewat adalah jenderal Shang! Dia berdiri di tepi sungai, memegang kendali kuda hitamnya yang besar, tinggi selayaknya kuda perang. Nafas hewan itu memburu, hidungnya mengembuskan uap tipis ke udara lembah yang lembap. “Maju,” ucap jenderal Shang rendah, seolah berbicara pada seorang prajurit lama. Kemudian dia menepuk leher kuda itu pelan, lalu melepaskan kendalinya. Si kuda melangkah ke jembatan gantung. Bilah bambu berderit. Tali utama menegang. Jenderal Shang berdiri di belakang, kedua kakinya masih di daratan. Tangannya terkepal di balik lengan baju zirah, dadanya naik turun pelan. Ada rasa waswas yang menusuk, tapi wajahnya tetap tenang selayaknya seorang pemimpin yang tak boleh runtuh di depan siapa pun. Di depannya, kuda itu berjalan pelan selangkah demi sel
Di dalam tenda, tempat jenderal Shang duduk memperhatikan peta perkampungan di sekitar gunung Yundai, bawahannya masuk dengan sikap hormat. “Jenderal.” Bawahannya meletakkan surat bersegel resmi kediaman Hang. Tanpa perlu membuka surat itu, jenderal Shang sudah tahu maksud jelas di dalamnya. Bawahan mundur, berbalik pergi. Jenderal Shang melempar pandangan ke luar, memandang jauh tanah longsoran yang kini sepenuhnya dibereskan. “Hutong Bai!” seru jenderal Shang kemudian. Komandan Hutong Bai sigap menghadap. “Ya, Jenderal!” “Kumpulkan pasukan! Siang ini juga kita kembali ke kota Kekaisaran!” perintah jenderal Shang. “Baik!” Longsor di kampung sekitaran gunung Yundai sudah teratasi dengan baik. Siang ini juga, jenderal Shang bersama seratus pasukan di belakangnya kembali ke kota Kekaisaran. Sayangnya perjalanan ke kota Kekaisaran tidak mudah. Jembatan sepanjang sembilan meter di hadapan mereka telah hilang tergerus banjir. Menyisakan tali tipis, serta potongan kayu
Lampu lentera di pondok halaman samping bergoyang pelan, memantulkan cahaya kekuningan ke permukaan meja kayu yang sudah termakan usia. Shen Liu Zi duduk dengan punggung tegak, kedua lengannya bersedekap. Posturnya tenang, tapi bukan santai—lebih seperti seseorang yang siap menyergap balik kapan saja. Tatapannya menyapu dua tael emas di atas meja, lalu naik perlahan ke wajah wanita di seberangnya. Wanita tak dikenal itu bersandar malas di kursi kayu, satu kaki terjulur sedikit ke depan. Rambutnya diikat sederhana, tanpa hiasan. Jubahnya polos, tapi bahunya tegap laksana bahu seseorang yang terbiasa hidup dengan pisau di pinggang dan nyawa di ujung keputusan. Tatapannya jatuh pada dua tael emas itu. Alisnya langsung berkerut. “Nyonya Shen,” katanya dengan napas dihela kasar, jelas tidak senang, “aku bilang dua puluh tael emas lagi, bukan dua tael begini.” Shen Liu Zi mendengus pelan. Wajahnya dingin, nyaris tanpa emosi. “Ambil atau aku yang mengambil balik.” Wanita tak dik
Bagus! Dia menyalahkan negara tepat di depan pemimpinnya. Segelintir pejabat saling bertukar pandang—cepat, samar, dan canggung. Bahasa mata yang biasanya rapi kini kacau. Ada yang menelan ludah dengan wajah pucat, membayangkan kepala mereka sendiri menggelinding jika Kaisar murka. Ada pula yang menunduk dalam-dalam, seolah ingin mengecilkan keberadaannya. Dan ada juga sepasang mata yang justru terpaku penuh kecemasan pada sosok di tengah aula itu Tuan muda Meng! Jemarinya yang tersembunyi di balik lengan jubah mengepal perlahan. Dia tahu betul, satu kalimat barusan bukan sekadar pembelaan, melainkan deklarasi perang tanpa senjata. Aula pertemuan pun kian tenggelam dalam keheningan yang menekan! Bahkan dua warga sipil yang tadi berteriak lantang kini membeku. Kening mereka masih menempel di lantai, tapi tubuh mereka gemetar. Mereka sadar, kata-kata Shen Liu Zi bisa menjadi sebilah pedang yang membunuh mereka saat ini juga. Mereka khawatir kemarahan Kaisar meledak, tet
Pacuan kuda lawan melemah. Deru tapak mereka tak lagi serempak; napas kuda-kuda itu mulai berat, sementara jarak yang mereka kejar justru terasa ganjil, seolah target mereka menghilang begitu saja dari jalur utama. Salah satu dari mereka menarik kendali mendadak. Kuda hitamnya meringkik rendah saat berhenti di dekat bekas tanah berlumpur yang tercabik tak beraturan. Pria itu turun, berlutut, lalu menyentuhkan jarinya pada bekas tapak yang dalam. Itu jejak kuda tergelincir! Matanya menyipit, dan sudut bibirnya terangkat tipis. “Jejaknya berhenti sampai sini,” gumamnya, “kuda itu kemungkinan besar sudah tak sanggup berjalan jauh.” Lainnya mendekat. Mereka saling bertukar pandang—senyum smirk perlahan merekah, penuh keyakinan. “Dia takkan bisa lari jauh,” ujar salah satu dengan nada puas. Sebuah tangan terangkat, memberi Isyarat singkat, tegas. Kelompok segera terbagi dua. Separuh menyisir sekitar, separuh lagi bersiap menyusuri jalur alternatif. Namun, sebelum satu pun dari me
Tubuh kuda terhuyung keras. Tapak depannya tergelincir di tanah basah, dan dalam sekejap, keseimbangan lenyap. “Ah—!” Shen Liu Zi dan Yu Li terlempar dari punggung kuda. Punggung mereka menghantam tanah berlumpur, lalu tubuh keduanya berguling tak terkendali. Sekali, dua kali hingga akhirnya terhenti di antara rerumputan liar bertanah basah. Napas Shen Liu Zi terhempas keluar dari dadanya. Dunia berputar. Telinganya berdengung, seolah seluruh suara tersedot menjauh. Rasa nyeri menjalar dari bahu hingga tulang belakang, membuatnya nyaris memejamkan mata terlalu lama. Namun, naluri tidak memberinya waktu. Shen Liu Zi berbalik, menjatuhkan satu lutut ke tanah. Tangannya refleks menekan lumpur, lantas tanpa ragu menempelkan telinganya ke permukaan tanah itu. Ada gelombang getaran samar, tapi nyata. Jumlahnya bukan hanya satu. Dia tidak bisa menghitung pasti, tetapi yakin merekalah yang mengincar dokumen miliknya. “Yu Li,” bisiknya tajam, rendah, “bangun. Sekarang!” Yu Li terisa







