Share

Bab 152. Hari Berburu

Author: Zhang A Yu
last update Last Updated: 2026-01-31 21:46:13

Hari itu salju turun tipis-tipis.

Di tengah jalur berbatu menuju hutan tempat perburuan, pasukan kecil, berzirah serta bersenjata lengkap berjalan bak semut hitam mengawal kereta-kereta kuda di depannya.

Kereta terdepan diseret dua kuda sekaligus, pertanda kereta itu milik Kaisar. Di belakangnya, kereta-kereta lain dengan satu ekor kuda berbaris rapi, berpacu tenang—tanpa ada yang ingin saling mendahului.

Di setiap sisi kereta, prajurit berkuda mengikuti laju dengan punggung tegak, pandan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 168. Tidak Merasa Berdosa

    Di dalam paviliun naga emas, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Lantai berkilau memantulkan cahaya pagi yang menembus celah jendela tinggi, sayangnya suasana di ruangan itu sama sekali tidak hangat. Kasim Feng berdiri membisu di sudut ruangan, kepalanya menunduk tapi tidak terlalu dalam. Di tengah aula, jenderal Shang berlutut. Punggungnya tegak lurus, kedua tangannya diletakkan rapi di atas lutut, kepalanya sedikit menunduk—bukan dalam ketakutan, melainkan dalam sikap hormat yang kaku dan terlatih. Lututnya menempel pada lantai ubin yang dingin, tetapi raut wajahnya tetap datar seperti batu. Di depannya, Kaisar berjalan mondar-mandir. Jubah naga emasnya berayun setiap kali langkahnya berputar. Tangan kanannya sesekali mengepal, lalu terlepas lagi. Wajahnya jelas menunjukkan kegelisahan yang tak mampu dia sembunyikan. Beberapa kali dia membuka mulut seolah hendak berbicara, tapi kembali menutupnya. Langkahnya semakin cepat, lalu semakin lambat, berputar-putar seperti orang y

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 167. Mengeksekusi Semudah Membalikkan Tangan

    Pagi datang perlahan, Shen Liu Zi terbangun dalam diam. Kelopak matanya masih terpejam, napasnya teratur, tubuhnya terbungkus jubah tidur tipis berwarna putih gading. Selimut tebal menutupi hingga sebatas dada, sementara rambut hitamnya tergerai acak di atas bantal—membuat wajahnya tampak lebih lembut dari biasanya. Tanpa membuka mata, tangannya bergerak pelan meraba-raba sisi ranjang di sebelahnya. Kosong. Ujung jarinya hanya menyentuh kain seprai yang dingin. Alis halusnya berkerut tipis. Dia menggeser tangan sedikit lebih jauh, masih berharap menemukan kehangatan tubuh seseorang, tapi tetap tidak ada apa-apa. Barulah matanya mengerjap terbuka, kesadarannya kembali penuh. Dia terdiam beberapa detik, lalu bangkit terduduk perlahan. Selimut yang tadi menutupi tubuhnya melorot sedikit. Sepasang matanya mengedar ke seluruh ruangan. Kosong. Tidak ada sosok jenderal Shang. Bahkan pakaian pria itu pun tidak terlihat tertinggal di mana pun, seolah sejak awal kamar ini hanya dihun

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 166. Bongkahan Es Dilelehkan

    Kereta-kereta kuda beserta puluhan prajurit berbaris rapi bak kawanan semut membelah jalur bersalju. Dan di tengah perjalanan, yang masih jauh dari kata dekat, hujan disertai badai turun tanpa berkompromi. Pemimpin jalan—jenderal Shang, mengangkat tangan mengisyaratkan pemberhentian. “Berhenti!” Kereta-kereta kuda berhenti melaju nyaris serentak, diikuti seluruh pasukan, yang meninggalkan suara hentakan—langkah berakhir secara kompak. Kuda hitam jenderal Shang mendengus, uap tipis mengepul di depannya. Jenderal Shang memacu pelan kuda menuju kereta sang Kaisar. Di depannya, dia melaporkan, “Yang Mulia! Perjalanan harus ditunda, karena hujan badai. Ada kemungkinan besar jalan di depan tertutup salju, bahkan lebih parahnya pohon-pohon tumbang.” Kaisar menjawab lugas di balik gerbong kereta. “Aku mengikuti pengaturan mu, Jenderal!” Maka berikutnya, jenderal Shang mengumumkan, “Hujan badai tidak bisa ditembus, semua orang berhenti di tempat!” Pasukan menyahut serentak. “Si

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 165. Terlalu Lemah

    Pintu tenda tersibak kasar. Angin dingin dari luar ikut menerobos masuk bersama langkah jenderal Shang yang tergesa, napasnya masih tersisa sisa kekhawatiran dari laporan Yu Li barusan. Dari dalam tenda, Shen Liu Zi yang sedang berdiri membelakangi pintu menoleh pelan. Tangannya tengah mengaitkan tali mantel, gerakannya agak lambat, seolah tubuhnya tidak sekuat biasanya. Begitu wanita itu berbalik, jenderal Shang sudah lebih dulu mendekat tanpa menunggu apa pun. Telapak tangannya langsung terangkat menyentuh kening Shen Liu Zi. Panas. Benar-benar panas. Alis pria itu mengerut seketika. Tampang dingin yang biasanya tak tergoyahkan meluruh begitu saja, digantikan kecemasan yang jelas terpancar. “Apa pagi tadi semenyakitkan itu sampai kamu demam?” tanyanya pelan, suaranya lebih lembut daripada yang dia perkirakan sendiri. Pipi Shen Liu Zi langsung bersemburat jingga mendengar pertanyaan itu. Dengan malu-malu dia menggeleng lemah. “Bukan begitu, mungkin hanya karena udara

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 164. Menyentuh Kelopak Mawar

    Bibir jenderal Shang menyentuh lembut, ringan seperti helaan angin pagi yang dingin tapi perlahan menghangat. Detak jantung Shen Liu Zi berpacu cepat. Namun, anehnya dia tidak merasa ingin menolak, malahan merasa ada kehangatan yang perlahan merayap di dalam dadanya—hangat menenangkan. Setiap gerakan bibir jenderal Shang sangat perlahan, penuh kehati-hatian, seolah Shen Liu Zi adalah sesuatu yang sangat rapuh dan berharga. Tangannya yang bertumpu di sisi tubuh wanita itu tetap menjaga jarak, tidak menekan, tidak mengekang. Napas Shen Liu Zi bergetar kecil. Tangannya tanpa sadar terangkat, mencengkeram ujung lengan baju jenderal Shang, bukan untuk mendorong, melainkan seakan takut pria itu menjauh terlalu cepat. Beberapa detik—atau mungkin lebih lama—mereka tenggelam dalam keheningan yang hanya diisi detak jantung masing-masing. Tidak ada kata, tidak ada desakan. Lantas, ketika jenderal Shang perlahan menarik diri, dahinya masih menyentuh kening Shen Liu Zi. Napas mereka b

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 163. Dini Hari

    Menjelang dini hari, napas Shen Liu Zi tiba-tiba tersentak! Tubuhnya bergerak kecil, seolah baru saja terlepas dari jerat mimpi yang menyesakkan. Keningnya basah oleh keringat tipis, bulu matanya bergetar beberapa kali sebelum akhirnya kelopak itu terbuka perlahan. Ruangan tenda masih remang. Lampu minyak di sudut meja telah meredup, menyisakan cahaya kekuningan yang samar. Shen Liu Zi menatap langit-langit kain di atas kepalanya dengan pandangan kosong sesaat. Jantungnya masih berdetak cepat, seperti habis berlari jauh. Baru ketika napasnya mulai lebih teratur, dia menyadari ada sesuatu yang hangat melingkupi tangannya. Alisnya berkerut tipis. Perlahan, wanita itu menoleh ke sisi tubuhnya. Di sana, tepat di tepi ranjang, jenderal Shang tertidur dalam posisi duduk. Tubuh pria itu sedikit membungkuk, kepalanya bersandar di sisi tempat tidur dekat pinggang Shen Liu Zi. Wajah tegasnya terlihat lebih lunak dalam keadaan lelap, tanpa kewaspadaan seperti biasanya. Melihat tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status