Home / Romansa / Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan / Bab 16. Jenderal Terang-terangan Mengabaikan

Share

Bab 16. Jenderal Terang-terangan Mengabaikan

Author: Zhang A Yu
last update Last Updated: 2025-11-11 08:28:29

Beberapa tamu di sekitar menoleh, tapi jenderal segera menurunkan gelasnya dan menutup mulut dengan tangan, menahan sisa batuk agar tak mencolok.

Pejabat Hang tersenyum lebar, seolah tak menyadari reaksi lawan bicaranya yang sedikit kaku. “Ah, maaf, Jenderal. Araknya mungkin terlalu kuat,” katanya berseloroh, tapi matanya menatap penuh arti.

Jenderal Shang meletakkan gelas perlahan di atas meja. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah. Ada kesungguhan yang dalam, seperti seseorang y
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 167. Mengeksekusi Semudah Membalikkan Tangan

    Pagi datang perlahan, Shen Liu Zi terbangun dalam diam. Kelopak matanya masih terpejam, napasnya teratur, tubuhnya terbungkus jubah tidur tipis berwarna putih gading. Selimut tebal menutupi hingga sebatas dada, sementara rambut hitamnya tergerai acak di atas bantal—membuat wajahnya tampak lebih lembut dari biasanya. Tanpa membuka mata, tangannya bergerak pelan meraba-raba sisi ranjang di sebelahnya. Kosong. Ujung jarinya hanya menyentuh kain seprai yang dingin. Alis halusnya berkerut tipis. Dia menggeser tangan sedikit lebih jauh, masih berharap menemukan kehangatan tubuh seseorang, tapi tetap tidak ada apa-apa. Barulah matanya mengerjap terbuka, kesadarannya kembali penuh. Dia terdiam beberapa detik, lalu bangkit terduduk perlahan. Selimut yang tadi menutupi tubuhnya melorot sedikit. Sepasang matanya mengedar ke seluruh ruangan. Kosong. Tidak ada sosok jenderal Shang. Bahkan pakaian pria itu pun tidak terlihat tertinggal di mana pun, seolah sejak awal kamar ini hanya dihun

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 166. Bongkahan Es Dilelehkan

    Kereta-kereta kuda beserta puluhan prajurit berbaris rapi bak kawanan semut membelah jalur bersalju. Dan di tengah perjalanan, yang masih jauh dari kata dekat, hujan disertai badai turun tanpa berkompromi. Pemimpin jalan—jenderal Shang, mengangkat tangan mengisyaratkan pemberhentian. “Berhenti!” Kereta-kereta kuda berhenti melaju nyaris serentak, diikuti seluruh pasukan, yang meninggalkan suara hentakan—langkah berakhir secara kompak. Kuda hitam jenderal Shang mendengus, uap tipis mengepul di depannya. Jenderal Shang memacu pelan kuda menuju kereta sang Kaisar. Di depannya, dia melaporkan, “Yang Mulia! Perjalanan harus ditunda, karena hujan badai. Ada kemungkinan besar jalan di depan tertutup salju, bahkan lebih parahnya pohon-pohon tumbang.” Kaisar menjawab lugas di balik gerbong kereta. “Aku mengikuti pengaturan mu, Jenderal!” Maka berikutnya, jenderal Shang mengumumkan, “Hujan badai tidak bisa ditembus, semua orang berhenti di tempat!” Pasukan menyahut serentak. “Si

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 165. Terlalu Lemah

    Pintu tenda tersibak kasar. Angin dingin dari luar ikut menerobos masuk bersama langkah jenderal Shang yang tergesa, napasnya masih tersisa sisa kekhawatiran dari laporan Yu Li barusan. Dari dalam tenda, Shen Liu Zi yang sedang berdiri membelakangi pintu menoleh pelan. Tangannya tengah mengaitkan tali mantel, gerakannya agak lambat, seolah tubuhnya tidak sekuat biasanya. Begitu wanita itu berbalik, jenderal Shang sudah lebih dulu mendekat tanpa menunggu apa pun. Telapak tangannya langsung terangkat menyentuh kening Shen Liu Zi. Panas. Benar-benar panas. Alis pria itu mengerut seketika. Tampang dingin yang biasanya tak tergoyahkan meluruh begitu saja, digantikan kecemasan yang jelas terpancar. “Apa pagi tadi semenyakitkan itu sampai kamu demam?” tanyanya pelan, suaranya lebih lembut daripada yang dia perkirakan sendiri. Pipi Shen Liu Zi langsung bersemburat jingga mendengar pertanyaan itu. Dengan malu-malu dia menggeleng lemah. “Bukan begitu, mungkin hanya karena udara

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 164. Menyentuh Kelopak Mawar

    Bibir jenderal Shang menyentuh lembut, ringan seperti helaan angin pagi yang dingin tapi perlahan menghangat. Detak jantung Shen Liu Zi berpacu cepat. Namun, anehnya dia tidak merasa ingin menolak, malahan merasa ada kehangatan yang perlahan merayap di dalam dadanya—hangat menenangkan. Setiap gerakan bibir jenderal Shang sangat perlahan, penuh kehati-hatian, seolah Shen Liu Zi adalah sesuatu yang sangat rapuh dan berharga. Tangannya yang bertumpu di sisi tubuh wanita itu tetap menjaga jarak, tidak menekan, tidak mengekang. Napas Shen Liu Zi bergetar kecil. Tangannya tanpa sadar terangkat, mencengkeram ujung lengan baju jenderal Shang, bukan untuk mendorong, melainkan seakan takut pria itu menjauh terlalu cepat. Beberapa detik—atau mungkin lebih lama—mereka tenggelam dalam keheningan yang hanya diisi detak jantung masing-masing. Tidak ada kata, tidak ada desakan. Lantas, ketika jenderal Shang perlahan menarik diri, dahinya masih menyentuh kening Shen Liu Zi. Napas mereka b

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 163. Dini Hari

    Menjelang dini hari, napas Shen Liu Zi tiba-tiba tersentak! Tubuhnya bergerak kecil, seolah baru saja terlepas dari jerat mimpi yang menyesakkan. Keningnya basah oleh keringat tipis, bulu matanya bergetar beberapa kali sebelum akhirnya kelopak itu terbuka perlahan. Ruangan tenda masih remang. Lampu minyak di sudut meja telah meredup, menyisakan cahaya kekuningan yang samar. Shen Liu Zi menatap langit-langit kain di atas kepalanya dengan pandangan kosong sesaat. Jantungnya masih berdetak cepat, seperti habis berlari jauh. Baru ketika napasnya mulai lebih teratur, dia menyadari ada sesuatu yang hangat melingkupi tangannya. Alisnya berkerut tipis. Perlahan, wanita itu menoleh ke sisi tubuhnya. Di sana, tepat di tepi ranjang, jenderal Shang tertidur dalam posisi duduk. Tubuh pria itu sedikit membungkuk, kepalanya bersandar di sisi tempat tidur dekat pinggang Shen Liu Zi. Wajah tegasnya terlihat lebih lunak dalam keadaan lelap, tanpa kewaspadaan seperti biasanya. Melihat tan

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 162. Pelakunya Hilang

    Terakhir, jenderal Shang mengikat tali gaun Shen Liu Zi, lalu pandangannya terangkat dan seketika bertemu dengan pandangan wanita itu. Pipi Shen Liu Zi masih bersemu kemerahan. Jenderal Shang seolah tak melihatnya langsung saja bertanya, “Bisakah kamu menjelaskan seluruh kejadiannya?” Mata Shen Liu Zi berkedip singkat, sebelum mulutnya bersuara rendah. “Peserta perburuan lain bilang, di wilayah yang ku masuki ada rusa besar.” “Tepatnya wilayah terlarang,” sambung jenderal Shang, “bendera merah di sana sudah ditukar ke bendera kuning.” Shen Liu Zi membelalak. “Ah! Pantas siang itu ada sekelompok serigala menyerang.” Jenderal Shang bergeming, tatapannya tak berpaling dari Shen Liu Zi. “Tapi sebelum sekelompok serigala itu menyerang, ada wanita berpakaian pelayan seperti Yu Li, bahkan dandanannya juga sama, menyerang ku dengan teknik bela diri yang mustahil dikuasai pelayan biasa.” “Masih ingat wajahnya?” tanya jenderal Shang, dibalas anggukan kecil Shen Liu Zi. Jendera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status