LOGIN“JENDERAL!!” Teriakan salah satu prajurit meledak tiba-tiba. Bersamaan dengan itu, suara siulan tajam membelah udara. Srrttt! Anak panah meluncur lurus ke arah punggung jenderal Shang yang sedang jongkok meminum air di tepi sungai. Namun, sebelum panah itu sempat menyentuh tubuhnya, jenderal Shang sudah bergerak. Tubuhnya berputar setengah tanpa menoleh. Belati pendek yang terselip di pinggangnya sudah berada di tangan. Trang! Belati itu menghantam batang anak panah tepat di udara. Panah terpental, jatuh ke air sungai dengan bunyi cipratan kecil. Jenderal Shang lantas perlahan bangkit. Air masih menetes dari ujung jarinya, tetapi sorot matanya sudah berubah tajam. Dua prajurit di belakangnya serentak mencabut pedang. Mereka bertiga menoleh ke arah datangnya panah. Suara derap kuda terdengar dari balik semak, serta bebatuan di seberang sungai. Drap! Drap! Beberapa bayangan muncul dari balik kabut tipis. Mereka sekelompok pria berpakaian acak memacu kuda m
Di dalam kamar Shen Liu Zi. Tirai tebal diturunkan setengah, membiarkan cahaya siang di musim dingin ini masuk redup. Aroma obat rebusan masih samar di udara, bercampur dengan bau kayu cendana dari tungku kecil di sudut ruangan. Tabib keluarga Shang baru saja menarik tangannya dari pergelangan Shen Liu Zi. Wajah lelaki tua itu tidak lagi setenang kemarin. Alisnya berkerut tipis, seolah ada sesuatu yang ingin dia katakan, tetapi harus ditahan. Dia lantas berdiri pelan. “Nyonya Shen jangan banyak pikiran,” katanya perlahan, “kesehatan anda sekarang sangat penting. Jika terus gelisah, tubuh anda tidak akan kuat menanggungnya.” Shen Liu Zi duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, tapi wajahnya pucat halus. Bibirnya membentuk senyum tipis, sopan seperti biasa. “Aku mengerti. Terima kasih, Tabib,” jawabnya tenang. Yu Li yang berdiri di samping ranjang jelas bisa membaca isi pikiran sang junjungan. Tatapannya iba, hatinya turut diselimuti kekhawatiran. Tabib menghela napas
Benturan pertama terjadi seperti petir jatuh ke tanah.Trang! Tang! Brakk!Golok besar pasukan Raja Changi turun bersamaan, berat dan brutal, tetapi lima prajurit Wan bergerak jauh lebih cepat.Salah satu prajurit Wan memutar kudanya setengah lingkaran, lalu menebas dari samping.Sret!Leher seorang musuh terbuka lebar, darah menyembur tinggi sebelum tubuhnya jatuh dari pelana.Prajurit lain menunduk menghindari golok besar, lantas menusukkan pedangnya ke bawah.Tuk!Bilah pedang menembus dada musuh sampai ke punggung.Seorang lagi melompat turun dari kuda tepat saat lawan hendak menebas, dan berputar rendah—Crak!Tangannya menebas lutut kuda musuh.Membuat kuda itu ringkik keras dan jatuh, menimpa penunggangnya sampai tulangnya patah.Pasukan Raja Changi sempat terkejut.Lima lawan lima puluh!Rasanya mustahil, tapi mereka tidak mundur sedikit pun. Justru setiap benturan membuat satu lagi dari pasukan musuh jatuh ke tanah.Ada yang kepalanya terpenggal, ada yang tangannya putus dan
Hujan semalam masih menyisakan jejak di tanah desa Beiling.Kabut tipis pagi menggantung rendah di antara atap-atap jerami, dan jalan tanah di tengah desa berubah lembek, penuh bekas roda serta jejak kaki.Penduduk desa sudah mulai beraktivitas sejak matahari belum tinggi.Di dapur terbuka di samping rumah-rumah kayu, beberapa wanita sedang meniup tungku. Asap tipis naik perlahan, bercampur dengan bau nasi yang baru dimasak.Di kandang kecil dekat pagar bambu, seorang pria tua sedang menuang pakan ke palung kuda.Di tepi sungai kecil, dua wanita muda mencuci pakaian sambil berbincang pelan.Di pasar kecil dekat gerbang desa, beberapa pedagang sudah membuka lapak sederhana.Keranjang sayur, ikan asin, dan gandum diletakkan di atas meja kayu pendek.Suasana pagi itu biasa saja; tenang, lambat, seperti hari-hari lain di desa kecil yang jauh dari pusat kota. Namun, tiba-tiba—Drap! Drap! Drap! Drap! Drap!Suara derap kuda terdengar dari arah jalur hutan di barat desa.Semua kepala langsun
Di dalam kamar, Shen Liu Zi masih duduk di tepi ranjang.Punggungnya tegak, tapi tidak lagi santai seperti tadi. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, jari-jarinya bergerak pelan, tanpa sadar, seperti menahan sesuatu di dalam hati.Lampu minyak di meja kecil masih menyala.Cahayanya hangat, tetapi wajah Shen Liu Zi tidak lagi berseri.Matanya beberapa kali melirik ke arah pintu. Masih juga tertutup, masih juga sunyi.Semakin lama, alisnya semakin berkerut tipis.Dia menunduk, tanpa sadar kembali menyentuh perutnya.“Akan terjadi perang besar,” gumamnya pelan, mengulang kata-kata Yu Li.Napasnya tertahan sebentar.Bayangan buruk melintas dalam benaknya begitu saja.Beberapa detik berlalu, guntur menggelegar diikuti kilatan petir. Suara hujan jatuh pun menyusul setelahnya.Shen Liu Zi mengangkat kepala. Sorot matanya bergerak ke arah jendela.Hujan turun mendadak, deras, seperti langit pecah tanpa peringatan.Dia menarik napas panjang. Harapan yang tadi masih tersisa di wajahny
Malam itu, gerbang utama kota Kekaisaran terbuka lebar. Obor-obor dinyalakan di sepanjang jalan utama, cahayanya berderet seperti garis api yang memanjang. Udara malam di musim dingin kian menggigit, tetapi suasana kota tidak sunyi, tidak ada yang tidur. Suara derap kuda terdengar dari kejauhan. Pelan lalu semakin jelas, semakin berat, semakin banyak. Dari ujung jalan, seratus pasukan Gagak Hitam muncul satu per satu. Mereka semua menunggang kuda perang. Zirah hitam menutup dada dan bahu, jubah gelap berkibar pelan tertiup angin malam. Di punggung mereka tergantung busur, di pinggang pedang, di pelana terikat tombak pendek. Wajah-wajah itu tidak muda lagi. Banyak di antara mereka memiliki bekas luka di pipi, di leher, di tangan. Menandakan pasukan ini bukan pasukan baru. Di barisan paling depan, komandan Miao Feng memimpin. Tubuhnya tegap di atas kuda hitam besar. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya tenang, tapi sorot matanya keras seperti batu. Begitu pasukan memasuki pusat
Besoknya. Jenderal Shang beberapa waktu lalu pergi ke pertemuan rutin di istana, dan dengan langkah hati-hati bak maling kecil, Shen Liu Zi memasuki kamar pria itu. Ck! Begitu masuk, mulutnya langsung berdecak. Dia tidak heran jika kamar laki-laki tidak memiliki banyak perabotan, tetapi kamar
Kala itu. Shang Xiwei; putri bungsu paman kedua jenderal, menemui jenderal Shang, yang sudah menunggunya sejak satu dupa lalu. Seakan tidak ada masalah apapun, gadis itu mendekat dengan sapaan hangat. “Kak Que'er! Kamu datang semalam ini!” Jenderal Shang yang beralih ke teras aula, berdiri meman
Di kediaman pejabat Hang, suasana tampak begitu meriah sejak matahari belum sepenuhnya meninggi. Halaman samping yang luas dibuka untuk para tamu; yang sebagian besar dari keluarga pejabat, sementara aula utama masih tertutup, menunggu waktu dimulainya upacara kedewasaan putri ketiga keluarga Hang
Tuan muda Meng berhenti di depan Shen Liu Zi, lalu menundukkan tubuh sedikit sebagai bentuk salam. Di tangan kirinya masih tergenggam cangkir teh yang belum habis, sementara senyumnya menenangkan seperti semilir angin di pagi hari. Shen Liu Zi membalas dengan anggukan halus. Tatapannya lembut, ta







