LOGINDi pusat kota, suasana bagaikan lukisan hidup.
Suara pedagang bersahutan dengan teriakan bocah yang berlari-lari membawa layang-layang kertas, serta ada pula yang membawa permen tang hu lu. Aroma manisan, minyak wijen, dan bunga kering bercampur di udara. Shen Liu Zi dan Yu Li berjalan di tengah keramaian itu, wajah keduanya tersembunyi di balik tudung tipis, tapi tawa mereka pelan terkendali, seperti dua gadis yang tahu betul sedang bermain api. “Lihat, Nyonya!” seru Yu Li lirih sambil menunjuk ke arah kiri, “gelang gioknya bagus sekali, lihat kilauannya!” Shen Liu Zi menoleh. Di balik rak kayu jati, seorang penjaga toko sedang memperlihatkan gelang hijau muda yang memantulkan cahaya matahari. Dia mendekat dengan langkah santai, mengamati seolah sedang menilai karya seni. “Berapa ini?” tanyanya lembut. “Dua tael per gelang, Nyonya,” jawab si penjaga toko. Shen Liu Zi menatapnya sejenak, lalu mengangkat sebelah alis. “Dua tael untuk giok yang bahkan tak sepadan dengan kaca di kamar mandiku?” Yu Li buru-buru menahan tawa di balik lengan bajunya. Penjaga toko langsung tergagap, wajahnya merah. “Haha, kalau begitu satu tael saja, Nyonya.” “Setengah,” potong Shen Liu Zi dengan tenang, “kalau tidak, aku pergi.” Penjaga toko menelan ludah, akhirnya mengangguk cepat. “Baik-baik, setengah!” Yu Li menutup mulut, tertawa kecil saat mereka berjalan pergi dengan satu kantong kecil di tangan. “Kalau Nyonya terus begini, aku yakin orang-orang di pasar ini akan hafal wajahmu,” katanya geli. Shen Liu Zi menoleh sekilas, senyum di bibirnya mulai lebar. Mereka terus berjalan. Di kanan, kedai aksesoris rambut menampilkan jepit giok dengan bentuk bunga peoni dan kupu-kupu perak. Di kiri, kedai riasan memperlihatkan bedak halus beraroma mawar dan minyak rambut dari negeri selatan. Shen Liu Zi berhenti di depan kedai riasan itu, mengambil satu wadah kecil berukir naga. Dia membukanya dan menghirup pelan. “Ah.” Matanya menyipit. “Ini wewangian dari Hangzhou. Lembut tapi tahan lama.” Yu Li mengangguk penuh semangat. “Kalau begitu beli dua saja, Nyonya. Satu buat Nyonya, satu buat aku.” Shen Liu Zi menatapnya geli. “Berani juga kamu minta dibelikan, ya?” “Kalau Nyonya lagi murah hati seperti ini, aku harus memanfaatkan kesempatan,” jawab Yu Li cepat, membuat Shen Liu Zi tertawa. Saat yang sama .... “Yo! Bukankah itu Nyonya Shen Liu.” Kaisar berkata di balik cadar hitam, yang menutupi sebagian wajahnya. Jenderal Shang yang duduk di seberangnya dengan wajah sama-sama tertutup cadar, tak sama sekali terganggu dari kesibukan menuang arak, meski dia tahu siapa yang dimaksud Kaisar. “Kamu bilang, hari ini dia akan didisiplinkan,” lanjut Kaisar, “kurasa dia melarikan diri.” Jenderal Shang masih diam. Kaisar kemudian mengalihkan perhatiannya dari Shen Liu Zi yang tampak asyik bergurau dengan Yu Li. Pria itu menatap jenderal Shang sesaat sebelum diakhiri memalingkan wajah diikuti helaan napas dalam-dalam. Sikap dingin jenderal Shang bukan hal aneh, bukan hal baru, tapi sejak kematian Chu Qiao, pria itu sudah seperti siluman es yang tidak bisa bicara. Benar-benar dingin! Waktu bergulir. Matahari sudah sampai puncaknya. Shen Liu Zi berjalan perlahan bersama Yu Li, keduanya kini tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa shichen lalu. “Kurasa, Nyonya Shang Xiwu sudah pulang sekarang,” ujar Yu Li dengan nada ragu, “kita bisa masuk tanpa ketahuan, bukan?” Shen Liu Zi memiringkan kepala sedikit. “Seharusnya begitu. Lagipula, siapa yang bisa marah terus-menerus sampai siang begini?” katanya ringan, bibirnya menahan senyum kecil. Yu Li mengangkat bahu, mencoba percaya pada keyakinan itu. Mereka berdua menapaki lantai kayu yang berderit pelan setiap kali kaki Shen Liu Zi melangkah. Tangannya sempat menahan napas saat hendak membuka pintu kamarnya. “Lihat? Aman.” Dia menoleh ke Yu Li dengan ekspresi puas. “Aku bilang juga apa, badai sudah lewat.” Sayangnya, baru saja dia mengayunkan satu langkah ke dalam— “SHEN LIU ZI!” Suara Shang Xiwu meledak dari belakang, keras dan lantang, seperti petir menyambar di siang bolong. Langkah Shen Liu Zi langsung membeku. Napasnya tersangkut di tenggorokan, sementara Yu Li di belakangnya spontan memekik pelan dan hampir menjatuhkan kantong belanjaan mereka. Udara di sekitar tiba-tiba terasa padat. Perlahan, sangat perlahan, Shen Liu Zi menoleh. Dan di sanalah, berdiri Shang Xiwu dengan wajah merah padam, mata melotot tajam, dan cambuk menggulung di tangan yang sedang ditepuk-tepuk pelan ke telapak satunya. Shen Liu Zi menelan ludah. Tangannya refleks menyembunyikan kantong kecil berisi gelang giok di balik lengan bajunya. “B-bibi ketiga,” ucapnya kaku, memaksa senyum. “Aku, aku baru saja pulang dari berdoa di kuil utara.” Dia berbohong. “Berdoa?” Shang Xiwu menyipitkan mata. “Kuil utara? Dengan wewangian Hangzhou dan gelang giok di tanganmu?” Yu Li menunduk dalam-dalam, ingin lenyap dari dunia. Shen Liu Zi, di sisi lain, masih berusaha bertahan dengan wajah setenang mungkin. “Selain tidak beretika, kamu rupanya pintar berbohong, yah,” suara Shang Xiwu meninggi, “kamu pikir aku akan membiarkan masalah ini begitu saja, hm?” Cambuk di tangannya berderak keras saat digetarkan di udara. Cetar! Shen Liu Zi spontan mundur setapak. “Bibi ketiga, aku bisa jelaskan—” “Tidak perlu dijelaskan!” potong Shang Xiwu, “kamu sengaja tidak datang belajar pagi ini, sekarang kamu pulang sambil membawa belanjaan pasar! Kamu pikir jadi istri Jenderal Shang artinya bisa bersenang-senang sepuas hati?” “Bibi ketiga, aku tidak—” “Diam!” Kemarahan Shang Xiwu tak mudah ditaklukkan. “Pelayan! Seret Nyonya Shen ke halaman depan! Wanita itu harus didisiplinkan!” perintah Shang Xiwu, meninggi, tak terbantahkan. Sebelum bisa menghindar, dua pelayan sudah lebih dulu menangkap pergelangan tangan Shen Liu Zi. Mereka bahkan sengaja menekannya dengan kasar! Shen Liu Zi melotot tanda memprotes. “Aku bisa jalan sendiri!” Pelayan tadi tak menghiraukan. Mereka malah tersenyum miring, juga semakin menekan pergelangan tangan Shen Liu Zi hingga akhirnya membuat kantong yang dia bawa jatuh. Klontang! Gelang giok yang dibelinya terbentur halaman berbatu. Shen Liu Zi menoleh, tatapan cemas terlihat jelas di matanya. Yu Li segera mengambil alih kantong itu, dan ketika isinya dikeluarkan, gelang giok sudah patah menjadi tiga bagian. Wajah Shen Liu Zi tak berekspresi, dia menatap lurus ke depan, mau tak mau mengikuti langkah-langkah kasar para pelayan hingga tiba di halaman .... Bug! Shang Xiwu memukul lutut belakangnya. Dug! Shen Liu Zi seketika jatuh berlutut.Semua prajurit beserta komandan Miao Feng dan komandan Hutong Bai berhasil menyebrangi jembatan. Satu-satunya yang belum lewat adalah jenderal Shang! Dia berdiri di tepi sungai, memegang kendali kuda hitamnya yang besar, tinggi selayaknya kuda perang. Nafas hewan itu memburu, hidungnya mengembuskan uap tipis ke udara lembah yang lembap. “Maju,” ucap jenderal Shang rendah, seolah berbicara pada seorang prajurit lama. Kemudian dia menepuk leher kuda itu pelan, lalu melepaskan kendalinya. Si kuda melangkah ke jembatan gantung. Bilah bambu berderit. Tali utama menegang. Jenderal Shang berdiri di belakang, kedua kakinya masih di daratan. Tangannya terkepal di balik lengan baju zirah, dadanya naik turun pelan. Ada rasa waswas yang menusuk, tapi wajahnya tetap tenang selayaknya seorang pemimpin yang tak boleh runtuh di depan siapa pun. Di depannya, kuda itu berjalan pelan selangkah demi sel
Di dalam tenda, tempat jenderal Shang duduk memperhatikan peta perkampungan di sekitar gunung Yundai, bawahannya masuk dengan sikap hormat. “Jenderal.” Bawahannya meletakkan surat bersegel resmi kediaman Hang. Tanpa perlu membuka surat itu, jenderal Shang sudah tahu maksud jelas di dalamnya. Bawahan mundur, berbalik pergi. Jenderal Shang melempar pandangan ke luar, memandang jauh tanah longsoran yang kini sepenuhnya dibereskan. “Hutong Bai!” seru jenderal Shang kemudian. Komandan Hutong Bai sigap menghadap. “Ya, Jenderal!” “Kumpulkan pasukan! Siang ini juga kita kembali ke kota Kekaisaran!” perintah jenderal Shang. “Baik!” Longsor di kampung sekitaran gunung Yundai sudah teratasi dengan baik. Siang ini juga, jenderal Shang bersama seratus pasukan di belakangnya kembali ke kota Kekaisaran. Sayangnya perjalanan ke kota Kekaisaran tidak mudah. Jembatan sepanjang sembilan meter di hadapan mereka telah hilang tergerus banjir. Menyisakan tali tipis, serta potongan kayu
Lampu lentera di pondok halaman samping bergoyang pelan, memantulkan cahaya kekuningan ke permukaan meja kayu yang sudah termakan usia. Shen Liu Zi duduk dengan punggung tegak, kedua lengannya bersedekap. Posturnya tenang, tapi bukan santai—lebih seperti seseorang yang siap menyergap balik kapan saja. Tatapannya menyapu dua tael emas di atas meja, lalu naik perlahan ke wajah wanita di seberangnya. Wanita tak dikenal itu bersandar malas di kursi kayu, satu kaki terjulur sedikit ke depan. Rambutnya diikat sederhana, tanpa hiasan. Jubahnya polos, tapi bahunya tegap laksana bahu seseorang yang terbiasa hidup dengan pisau di pinggang dan nyawa di ujung keputusan. Tatapannya jatuh pada dua tael emas itu. Alisnya langsung berkerut. “Nyonya Shen,” katanya dengan napas dihela kasar, jelas tidak senang, “aku bilang dua puluh tael emas lagi, bukan dua tael begini.” Shen Liu Zi mendengus pelan. Wajahnya dingin, nyaris tanpa emosi. “Ambil atau aku yang mengambil balik.” Wanita tak dik
Bagus! Dia menyalahkan negara tepat di depan pemimpinnya. Segelintir pejabat saling bertukar pandang—cepat, samar, dan canggung. Bahasa mata yang biasanya rapi kini kacau. Ada yang menelan ludah dengan wajah pucat, membayangkan kepala mereka sendiri menggelinding jika Kaisar murka. Ada pula yang menunduk dalam-dalam, seolah ingin mengecilkan keberadaannya. Dan ada juga sepasang mata yang justru terpaku penuh kecemasan pada sosok di tengah aula itu Tuan muda Meng! Jemarinya yang tersembunyi di balik lengan jubah mengepal perlahan. Dia tahu betul, satu kalimat barusan bukan sekadar pembelaan, melainkan deklarasi perang tanpa senjata. Aula pertemuan pun kian tenggelam dalam keheningan yang menekan! Bahkan dua warga sipil yang tadi berteriak lantang kini membeku. Kening mereka masih menempel di lantai, tapi tubuh mereka gemetar. Mereka sadar, kata-kata Shen Liu Zi bisa menjadi sebilah pedang yang membunuh mereka saat ini juga. Mereka khawatir kemarahan Kaisar meledak, tet
Pacuan kuda lawan melemah. Deru tapak mereka tak lagi serempak; napas kuda-kuda itu mulai berat, sementara jarak yang mereka kejar justru terasa ganjil, seolah target mereka menghilang begitu saja dari jalur utama. Salah satu dari mereka menarik kendali mendadak. Kuda hitamnya meringkik rendah saat berhenti di dekat bekas tanah berlumpur yang tercabik tak beraturan. Pria itu turun, berlutut, lalu menyentuhkan jarinya pada bekas tapak yang dalam. Itu jejak kuda tergelincir! Matanya menyipit, dan sudut bibirnya terangkat tipis. “Jejaknya berhenti sampai sini,” gumamnya, “kuda itu kemungkinan besar sudah tak sanggup berjalan jauh.” Lainnya mendekat. Mereka saling bertukar pandang—senyum smirk perlahan merekah, penuh keyakinan. “Dia takkan bisa lari jauh,” ujar salah satu dengan nada puas. Sebuah tangan terangkat, memberi Isyarat singkat, tegas. Kelompok segera terbagi dua. Separuh menyisir sekitar, separuh lagi bersiap menyusuri jalur alternatif. Namun, sebelum satu pun dari me
Tubuh kuda terhuyung keras. Tapak depannya tergelincir di tanah basah, dan dalam sekejap, keseimbangan lenyap. “Ah—!” Shen Liu Zi dan Yu Li terlempar dari punggung kuda. Punggung mereka menghantam tanah berlumpur, lalu tubuh keduanya berguling tak terkendali. Sekali, dua kali hingga akhirnya terhenti di antara rerumputan liar bertanah basah. Napas Shen Liu Zi terhempas keluar dari dadanya. Dunia berputar. Telinganya berdengung, seolah seluruh suara tersedot menjauh. Rasa nyeri menjalar dari bahu hingga tulang belakang, membuatnya nyaris memejamkan mata terlalu lama. Namun, naluri tidak memberinya waktu. Shen Liu Zi berbalik, menjatuhkan satu lutut ke tanah. Tangannya refleks menekan lumpur, lantas tanpa ragu menempelkan telinganya ke permukaan tanah itu. Ada gelombang getaran samar, tapi nyata. Jumlahnya bukan hanya satu. Dia tidak bisa menghitung pasti, tetapi yakin merekalah yang mengincar dokumen miliknya. “Yu Li,” bisiknya tajam, rendah, “bangun. Sekarang!” Yu Li terisa







