LOGINCambuk pertama menghantam punggung Shen Liu Zi tanpa ampun.
Cetar! Shen Liu Zi. “...” Tubuh Shen Liu Zi menegang, pekikannya tertahan di tenggorokan. Cetar! Cambukan kedua meluncur. Kali ini membuat tubuhnya sedikit goyah, tapi matanya tetap menatap lurus ke depan. Dingin, keras kepala, menolak tunduk! “Beraninya kamu tidak patuh di kediaman Jenderal Shang!” bentak Shang Xiwu, mengangkat cambuknya lagi. Cetar! Cambuk kedua mendarat lebih keras dari sebelumnya. Kain tipis di punggung Shen Liu Zi robek, menyingkap garis merah yang perlahan menggelap. Yu Li, yang berlutut tak jauh dari situ, menggigit bibir hingga nyaris berdarah, matanya berkaca-kaca. “Nyonya Ketiga! Tolong maafkan Nyonya Shen!” Pelayan kecil itu bukan hanya memohon pengampunan untuk nyonya nya, tetapi juga lekas melindunginya dari belakang. Cetar! “Diam!” hardik Shang Xiwu sambil tetap mencambuk alhasil mengenai Yu Li, “kamu pembantu, bukan juru bicara!” Shen Liu Zi yang tadinya bersikap angkuh, kini mengerjap melepas lingkaran tangan Yu Li, sekaligus mendorongnya menjauh. “Nyonya.” Yu Li terisak. Shen Liu Zi mengedipkan mata, memberinya isyarat perintah. Cetar! Cambuk diayunkan ke punggung Shen Liu Zi lagi. Dia hampir roboh. Yu Li mengerti isyarat Shen Liu Zi, dia berusaha bangkit dan berbalik lari begitu saja. Shang Xiwu tak peduli akan apa yang dilakukan Yu Li. Yang ada dalam pikirannya kali ini adalah kemarahan, yang harus dilampiaskan dengan dalih mendisiplinkan Shen Liu Zi. Sementara itu .... Yu Li akhirnya menemukan jenderal Shang. Tengah berpatroli di tengah keramaian penduduk, dan wanita itu tanpa ragu berlutut di tengah jalan untuk memohon. “Jenderal Shang!” Kedua tangannya langsung menyatu. ”Tolong pulang sebentar, Jenderal! Hamba mohon!” Suara sekaligus permohonannya sukses menarik perhatian yang lain, tapi tidak dengan jenderal yang tampak acuh tak acuh di punggung kudanya. Yu Li tak menyerah. Dia berjalan sambil tetap berlutut mengikuti jenderal, yang terus memasang wajah dingin tapi tatapannya bak elang mencari mangsa. Pemandangan ini langsung mengundang bisik-bisik di sekitar mereka. Bak suara kumbang bersenandung memenuhi telinga Yu Li. “Jenderal acuh tak acuh.” “Bukankah pelayan itu milik istrinya?” “Oh, jangan-jangan terjadi sesuatu pada Nyonya Shen, tapi jenderal tidak peduli.” “Ada yang ingat tidak? Jenderal punya kekasih yang sudah meninggal.” “Nyonya Shen dan jenderal, menikah karena terpaksa, yah.” Yu Li tak berhasil membujuk jenderal Shang, sedangkan di halaman yang sama .... Huh! Shang Xiwu menarik diri, melempar cambuknya begitu saja. Dia kelelahan, dia sudah puas, dia lantas menatap Shen Liu Zi dari depan. “Dengar! Mulai besok kamu harus belajar dengan baik, atau bukan cambuk lagi yang mendisiplinkanmu, tapi pisau bedah!” kecam Shang Xiwu. Shen Liu Zi berkedip, bukan setuju, melainkan rasa panas perih di punggungnya tidak tertahankan. Shang Xiwu lalu beringsut pergi sembari berseru, “Cambuk wanita itu tiga kali lagi supaya dia tahu kata-kataku bukan sekedar ancaman!” Dua pelayan Shang Xiwu saling bertatapan. Dan seolah tak sabar menyiksa orang, mereka saling mendahului meraih cambuk yang tadi dilempar. Bahkan mereka juga berebut. “Aku saja!” ”Aku!” “Hei! Kemarin kamu sudah melakukannya!” “Tapi kamu tidak ahli, sebaiknya aku saja, yah.” Shen Liu Zi mendengarnya terkekeh lirih. Dan tepat saat cambukan pertama akhirnya terayun .... Hap! Shen Liu Zi menangkap cambuknya, bahkan menariknya ke depan sampai pelayan yang mengayunkan ikut terseret. “Beraninya kalian menyentuhku lagi, aku akan membuat kalian terpotong menjadi tujuh bagian!” kecam Shen Liu Zi. Pelayan itu bangkit, tidak terima, hendak mengayunkan ulang cambukannya, tetapi saat yang bersamaan jenderal Shang muncul membuat pelayan yang di belakang Shen Liu Zi langsung berlutut. “Jenderal!” suaranya panik, secara tak langsung memberitahu temannya kedatangan jenderal. Pelayan yang membawa cambuk menoleh, dan segera saja dia melemparkan cambuk serta berlutut. “Jenderal, kami hanya diperintah Nyonya ketiga Shang.” Jenderal Shang tidak berkata apapun. Pandangannya jatuh pada sosok Shen Liu Zi yang juga menatapnya, dengan senyuman puas sekaligus lega. “Kenapa masih di sini?” Ketika kalimat itu keluar dari mulut jenderal, dua pelayan Shang Xiwu bergegas merangkak pergi. Cambuk tertinggal di sana, jenderal mengambilnya, menatap jejak darah samar di sana, sebelum mengalihkan pandangannya pada punggung Shen Liu Zi. “Nyonya!” Yu Li menyusul masuk, memeluk Shen Liu Zi kemudian membimbingnya bangun. Setelah keduanya berdiri, jenderal Shang melempar botol obat, yang sigap ditangkap Yu Li. Tanpa memberi penjelasan apapun, jenderal melangkah pergi melewati keduanya. Shen Liu Zi sempat menoleh, memandang punggung lebarnya diikuti tetesan air mata, tapi lekas dia seka. “Sudah aku tanyakan sebelumnya, nyonya yakin ingin menjadi istri Jenderal Shang? Dan Nyonya bukan hanya tidak yakin, tetapi begitu menginginkan.” Yu Li secara tak langsung menyayangkan junjungannya menikahi pria dingin, berhati keras seperti jenderal. “Padahal, dengan tampang ini, Nyonya bisa mendapatkan suami sekelas Raja sekalipun,” lanjut Yu Li. Shen Liu Zi berpaling, sudut bibirnya terangkat. ”Jenderal Shang pria pertama yang aku sukai, jika bisa menikahinya, kenapa tidak?” Yu Li memutar bola matanya kesal, tetapi tidak mengatakan apapun. Mereka kemudian pergi ke kamar. Shen Liu Zi membuka pakaian, Yu Li bantu membersihkan luka sebelum mengobatinya. Di sisi lain. Jenderal Shang sudah tiba di kediaman Shang Xiwu, bibi ketiganya. “Yo, keponakanku—” Belum selesai sambutan Shang Xiwu. Jenderal Shang melempar cambuk ke arahnya diikuti teguran dingin. “Tidak perlu mendisiplinkan Shen Liu Zi karena aku sendiri yang akan melakukannya!”Tubuh Liao Peng melesat cepat. Pedangnya berputar cepat, berkilat di bawah cahaya obor yang bergoyang.Sembilan pria yang mengepungnya maju hampir bersamaan, tapi gerakan mereka tidak seragam, tidak rapi, bahkan ada yang terlalu lambat, ada yang terlalu terburu-buru.Tang!Trang!Tak!Bilah pedang beradu, suara logam memekakkan telinga.Satu pria tua menyerang dari kiri dengan parang pendek.Liao Peng memutar pergelangan tangannya, menangkis dengan satu gerakan ringan, lalu menendang perutnya.Buk!Pria itu langsung terlempar ke belakang, jatuh menabrak dinding batu.Belum sempat yang lain berpikir—Wus!Pedang Liao Peng berputar lagi, kali ini menghantam gagang tombak seorang pria muda sampai terlepas dari tangannya.“Aaa—!”Pria muda itu mundur panik, tapi pria lain di belakangnya malah tersandung, membuat barisan mereka kacau sendiri.Liao Peng menyipitkan mata, sorotnya berubah dingin.Sekali lihat saja, dia sudah tahu. Mereka bukan prajurit, bukan pula ahli bela diri, melainkan
Naluri bertarung Shen Liu Zi bangkit dalam sekejap.Otot-ototnya menegang, tenaga dalam yang sejak tadi tertahan mulai mengalir deras di sepanjang meridian.Dia hampir saja menggerakkan tangannya. Hampir saja. Namun pada saat yang sama—Wush!Sebuah anak panah meluncur dari arah ventilasi udara dengan kecepatan, yang hampir tidak terlihat oleh mata biasa tepat saat pisau di tangan bupati Da Tong hendak turun. Ting! Ujung panah itu menghantam bilah pisau kurus di tangan pria tua tersebut. Benturannya keras, membuat pisau bergetar hebat sampai nyaris terlepas dari genggamannya.Tubuh bupati Da Tong langsung tersentak mundur satu langkah, mata kecilnya membelalak.Tanpa sadar kepalanya menengadah, menatap ke arah datangnya anak panah.Di belakangnya, Liao Peng juga langsung menoleh tajam ke arah yang sama; refleks seorang pengawal membuat tubuhnya menegang, seluruh sarafnya siaga.Ruangan gelap itu m
Tubuh perempuan di dipan pertama langsung tersentak kecil, lalu kaku kembali. Matanya membelalak lebar, air mata yang sejak tadi mengalir kini seperti berhenti di sudut matanya.Dia ingin menjerit. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar, selain napas serak yang tertahan di tenggorokan.Di dipan sebelahnya, seorang perempuan melihat semuanya dari sudut matanya. Pupilnya bergetar hebat. Dadanya naik turun tidak teratur.Dia berusaha menggerakkan tangannya. Berusaha memalingkan kepala, sekaligus berusaha menutup mata. Namun, tubuhnya tetap tidak bergerak sama sekali.Di ruangan yang sempit itu, hanya terdengar suara napas berat serta suara daging yang dirobek.Srek! Bupati Da Tong tidak menarik pisau itu.Sebaliknya; tangannya yang gemuk langsung masuk ke luka yang baru saja dia buat.Perempuan di dipan sebelahnya melihat dengan jelas —melalui ekor matanya lagi, dia melihat tangan pria tua itu mengobrak-abrik bagian dalam perut korban seperti sedang mencari sesuatu di dalam
Di sebuah ruangan gelap.Dindingnya terbuat dari batu kasar yang dingin. Udara di dalamnya pengap dan lembap, seperti ruang bawah tanah yang jarang sekali disentuh sinar matahari.Satu-satunya penerangan hanya berasal dari sebuah obor yang tertancap di dinding. Api kecilnya bergoyang pelan, membuat bayangan di ruangan itu bergerak-gerak seperti makhluk hidup.Di dalam ruangan itu ada lima dipan bambu. Lebarnya sempit—tidak lebih dari setengah meter. Disusun berjajar dengan jarak yang tidak terlalu jauh satu sama lain.Di atas masing-masing dipan terbaring seorang perempuan. Kelima perempuan itu membuka mata, tetapi tubuh mereka tidak bergerak sama sekali. Seolah-olah seluruh sendi dan otot mereka telah dicabut dari tubuh.Salah satu dari mereka adalah Shen Liu Zi. Wanita itu terbaring di dipan paling ujung. Rambutnya terurai sedikit di atas tikar bambu, wajahnya pucat, tapi matanya terbuka penuh kesadaran.Tidak seperti yang lain! Di dipan sebelah kirinya, seorang gadis muda menangis
“Jenderal, tubuhku rasanya lemas sekali.” Dengan posisi seperti orang yang hampir pingsan di atas tempat tidur, Shen Liu Zi berusaha mengangkat tangannya. Namun lengannya terasa berat, jatuh setengah jalan di udara. Meski begitu, jari-jarinya tetap berusaha menjangkau sosok yang baru saja melangkah masuk ke dalam kamar. Pintu di belakang jenderal Shang telah tertutup rapat. Lampu minyak di sisi ranjang memancarkan cahaya kuning lembut, membuat bayangan keduanya memanjang di dinding. Shen Liu Zi berbaring miring di atas kasur. Rambutnya sedikit berantakan di bantal, napasnya pelan tapi berat. Tatapannya redup, hampir seperti orang yang sedang kehilangan kesadaran. Jenderal Shang berjalan mendekat. Langkahnya tidak tergesa-gesa. Dan begitu dia sampai di sisi ranjang, dia langsung duduk di tepinya. Tubuhnya membungkuk sedikit, tangannya menyentuh dagu Shen Liu Zi, mengangkat wajah wanita itu sedikit dari bantal. Mata Shen Liu Zi setengah terbuka, pandangannya kabur. “Jenderal,” b
Kebetulan sekali, malam ini jenderal Shang memenuhi undangan makan malam bupati Da Tong. Sekarang, aula tamu kediaman bupati Da Tong diterangi lampu-lampu minyak yang digantung di balok kayu langit-langit. Cahaya kuningnya lembut, tapi cukup terang untuk memperlihatkan setiap wajah yang duduk di ruangan luas itu. Makan malamnya bukan acara besar. Tamunya hanya jenderal Shang dan Shen Liu Zi. Keduanya tidak duduk di meja yang sama. Jenderal Shang duduk di hadapan meja besar—lebih dekat ke bupati Da Tong, sedangkan Shen Liu Zi ditempatkan di meja kecil di sisi kanan sang jenderal; ukuran mejanya setengah dari ukuran meja yang lain. Di seberang jenderal Shang, duduk bupati Da Tong dengan tubuh gemuknya yang hampir memenuhi kursi ukir besar itu. Di sampingnya, duduk seorang wanita dengan punggung tegak, mengenakan jubah sutra warna pucat. Wajahnya tertutup cadar tipis yang menjuntai sampai ke bawah dagu. Wanita itu Istri pertama bupati Da Tong. Tidak banyak bergerak. Bahkan sejak awa







