Beranda / Romansa / Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan / Bab 3. Mempermainkan Bibi Shang Xiwu

Share

Bab 3. Mempermainkan Bibi Shang Xiwu

Penulis: Zhang A Yu
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-02 16:46:01

Brak!

Begitu pintu kamar tertutup di belakangnya, Shen Liu Zi bersandar di daun pintu, matanya terpejam rapat.

Napasnya naik-turun, bukan karena berlari, tapi karena amarah yang mendidih di dada bercampur rasa malu yang menyesakkan.

Suara sendok, tawa pelan, dan ejekan samar dari aula tadi masih bergema di telinga, seperti setiap detiknya bagaikan jarum halus yang menusuk pelan-pelan ke dalam kulit.

Dia ingin tertawa, tapi yang keluar hanya helaan napas panjang yang terdengar getir.

Tangannya yang masih berbalut kain putih perlahan menekan dada. Dia bahkan bisa merasakan detak jantungnya yang berlari seperti hendak keluar dari tubuh.

“Suami macam apa itu,” berangnya pelan, hampir tanpa suara.

Shen Liu Zi lantas tanpa sengaja melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Bayangan itu tampak begitu pucat, matanya merah karena menahan emosi.

“Benar-benar seperti anak singkong di tengah perkumpulan apel merah,” ujarnya lirih, miris,

“tidak ada yang lebih memalukan dari ini.”

Tubuhnya lunglai, tapi saat mencoba duduk di tepi ranjang, Shen Liu Zi malah berdiri lagi. Dia tak bisa diam. Setiap kali mencoba menenangkan diri, bayangan wajah-wajah di meja makan itu muncul lagi.

'Di mana Nyonya mu, heh?'

Lalu, suara tak asing mendadak mendekat.

Baru juga Shen Liu Zi menoleh, pintu sudah terbuka, diawali Yu Li yang masuk dengan tampang menciutnya, diikuti bibi ketiga jenderal Shang Que, Shang Xiwu.

“Nyo—” Yu Li tak sempat menyelesaikan kata-katanya.

Bibi ketiga, Shang Xiwu langsung menyela, “Ikuti aku! Mulai hari ini kamu harus belajar etika bangsawan!”

Shen Liu Zi. “...”

Shang Xiwu tidak suka bantahan, wanita tua itu tanpa basa-basi melempar sebuah buku, yang sigap Shen Liu Zi tangkap.

Kemudian, dengan nada ketus yang sama dia berkata, “Pelajari itu malam ini! Besok harus kamu setorkan!”

Shen Liu Zi menatap sampul buku sesaat sebelum mengangguk, memaksa senyum.

Dia tidak setuju, tetapi tidak mengatakannya.

Shang Xiwu pikir Shen Liu Zi akan mematuhi, dia berbalik pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Dan yang terjadi di hari berikutnya ....

“Nyonya, kamu tidak pergi belajar ke rumah Nyonya Shang Xiwu?” Yu Li menyajikan teh sambil bertanya.

Shen Liu Zi sedang jongkok, mencolek debu nyaris tak kasat mata, tidak jauh dari pintu masuk.

Bukannya menjawab pertanyaan Yu Li, Shen Liu Zi malah tersenyum sendiri sebelum beringsut bangun, menyambar teh di atas meja.

Sementara itu.

Baru saja Shang Xiwu menikmati sarapan dengan kepuasan tinggi, tapi detik ini tampangnya berubah kusut tatkala tidak mendapati Shen Liu Zi di pondok; tempat yang dia siapkan untuk mendidik wanita itu.

“Dia belum datang?” Nada suara Shang Xiwu naik satu oktaf. “Apa dia telat bangun lagi, hah?”

Pelayan wanita itu menggeleng pelan. “Aku tidak tahu pasti, Nyonya. Yang jelas, dia sedang duduk santai di kamarnya.”

Jawaban itu seketika menyulut emosi Shang Xiwu!

“Dasar bocah tidak beretika! Cepat siapkan cambuk! Bocah itu harus diberi pelajaran!”

Waktu bergulir.

Langkah Shang Xiwu terdengar cepat dan berat, menghentak-hentak tanah berkerikil, jalur menuju kediaman jenderal Shang.

“Bocah itu berani-beraninya tidak datang belajar?” geram Shang Xiwu, matanya menyipit tajam.

“Lihat saja nanti! Dia pikir bisa menjadi menantu keluarga Shang tanpa tahu sopan santun!”

Hening.

“Aku sendiri yang akan mengajarinya!”

Pelayan di belakangnya berusaha menenangkan, “Nyonya, mungkin Nyonya Shen—”

“Diam!” potong Shang Xiwu dengan nada menggertak, “jangan membelanya!”

Sementara itu, dari balik tembok gerbang, Yu Li yang sudah bersiaga nyaris menjatuhkan nampan kecil yang dibawanya. Dia melihat jelas sosok nyonya ketiga berjalan cepat dengan cambuk tergulung di tangan, wajahnya merah padam seperti siap meledak.

Mata Yu Li membulat. Dia secepatnya berbalik arah, berlari terbirit-birit menuju kamar. Nafasnya tersengal, langkahnya nyaris tersandung di ambang pintu ketika berhasil tiba.

“Nyonya!” serunya sambil menahan napas, “nyonya Shang Xiwu datang! Dia membawa cambuk! Dia—dia hampir melewati gerbang.”

Shen Liu Zi tetap tenang, tapi secepatnya dia menelan bulat-bulat kunyahan apel terakhir di mulutnya, menepuk tangan, dan berdiri. “Ayo, cepat! Pintu belakang!”

Yu Li melongo. “Pintu belakang?”

“Kalau bukan itu, kamu mau kita diseret keliling halaman?” Shen Liu Zi meraih tangan Yu Li, lalu menariknya tanpa banyak bicara.

Mereka berlari melewati dapur kecil yang beraroma nasi kukus, kemudian melewati koridor yang mengarah ke taman belakang. Langkah mereka ringan tapi tergesa. Shen Liu Zi sempat menoleh sekali, memastikan tidak ada yang melihat.

Suara sandal mereka beradu dengan lantai batu, semakin cepat ketika terdengar gema langkah dari arah depan.

“Cepat, Yu Li!”

Pintu belakang terbuka dengan suara berderit kecil, disambut hembusan angin lembap dari taman. Tanpa pikir panjang, Shen Liu Zi menarik Yu Li keluar, menyusuri jalan setapak di balik deretan bambu.

Mereka berdua akhirnya menghilang di antara dedaunan yang bergoyang lembut, sementara di sisi lain—

BRAK!

Pintu kamar Shen Liu Zi terbuka keras, membuat angin di ruangan itu bergolak.

Shang Xiwu berdiri di ambang pintu. Dadanya naik-turun, cambuk di tangan, pandangannya langsung menyapu ruangan. Namun, yang dia temukan hanyalah kesunyian.

Tidak ada Shen Liu Zi, tidak ada Yu Li, tidak ada jejak siapa pun. Dan yang tersisa hanyalah piring kecil di atas meja, berisi dua potongan apel yang setengah termakan.

Wajah Shang Xiwu langsung merah padam!

“Dia berani kabur dariku!” teriaknya, menggema sampai ke halaman depan.

Pelayan-pelayan yang berdiri di luar kamar saling berpandangan tak mengerti.

Shang Xiwu menatap piring itu sekali lagi, lalu dengan gerakan kasar dia menyambar apel yang tersisa dan melemparkannya ke lantai.

Pluk!

“Bocah tengik! Beraninya dia mempermainkan orang tua!”

“Tunggu saja dia kembali, Nyonya. Cambuk masih di tanganmu, dia perlu didisiplinkan.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 229. Jenderal Shang Tidak Membabi Buta

    Tubuh Liao Peng melesat cepat. Pedangnya berputar cepat, berkilat di bawah cahaya obor yang bergoyang.Sembilan pria yang mengepungnya maju hampir bersamaan, tapi gerakan mereka tidak seragam, tidak rapi, bahkan ada yang terlalu lambat, ada yang terlalu terburu-buru.Tang!Trang!Tak!Bilah pedang beradu, suara logam memekakkan telinga.Satu pria tua menyerang dari kiri dengan parang pendek.Liao Peng memutar pergelangan tangannya, menangkis dengan satu gerakan ringan, lalu menendang perutnya.Buk!Pria itu langsung terlempar ke belakang, jatuh menabrak dinding batu.Belum sempat yang lain berpikir—Wus!Pedang Liao Peng berputar lagi, kali ini menghantam gagang tombak seorang pria muda sampai terlepas dari tangannya.“Aaa—!”Pria muda itu mundur panik, tapi pria lain di belakangnya malah tersandung, membuat barisan mereka kacau sendiri.Liao Peng menyipitkan mata, sorotnya berubah dingin.Sekali lihat saja, dia sudah tahu. Mereka bukan prajurit, bukan pula ahli bela diri, melainkan

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 228. Penyelamatan

    Naluri bertarung Shen Liu Zi bangkit dalam sekejap.Otot-ototnya menegang, tenaga dalam yang sejak tadi tertahan mulai mengalir deras di sepanjang meridian.Dia hampir saja menggerakkan tangannya. Hampir saja. Namun pada saat yang sama—Wush!Sebuah anak panah meluncur dari arah ventilasi udara dengan kecepatan, yang hampir tidak terlihat oleh mata biasa tepat saat pisau di tangan bupati Da Tong hendak turun. Ting! Ujung panah itu menghantam bilah pisau kurus di tangan pria tua tersebut. Benturannya keras, membuat pisau bergetar hebat sampai nyaris terlepas dari genggamannya.Tubuh bupati Da Tong langsung tersentak mundur satu langkah, mata kecilnya membelalak.Tanpa sadar kepalanya menengadah, menatap ke arah datangnya anak panah.Di belakangnya, Liao Peng juga langsung menoleh tajam ke arah yang sama; refleks seorang pengawal membuat tubuhnya menegang, seluruh sarafnya siaga.Ruangan gelap itu m

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 227. Pemandangan Mengerikan

    Tubuh perempuan di dipan pertama langsung tersentak kecil, lalu kaku kembali. Matanya membelalak lebar, air mata yang sejak tadi mengalir kini seperti berhenti di sudut matanya.Dia ingin menjerit. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar, selain napas serak yang tertahan di tenggorokan.Di dipan sebelahnya, seorang perempuan melihat semuanya dari sudut matanya. Pupilnya bergetar hebat. Dadanya naik turun tidak teratur.Dia berusaha menggerakkan tangannya. Berusaha memalingkan kepala, sekaligus berusaha menutup mata. Namun, tubuhnya tetap tidak bergerak sama sekali.Di ruangan yang sempit itu, hanya terdengar suara napas berat serta suara daging yang dirobek.Srek! Bupati Da Tong tidak menarik pisau itu.Sebaliknya; tangannya yang gemuk langsung masuk ke luka yang baru saja dia buat.Perempuan di dipan sebelahnya melihat dengan jelas —melalui ekor matanya lagi, dia melihat tangan pria tua itu mengobrak-abrik bagian dalam perut korban seperti sedang mencari sesuatu di dalam

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 226. Ritual Dimulai

    Di sebuah ruangan gelap.Dindingnya terbuat dari batu kasar yang dingin. Udara di dalamnya pengap dan lembap, seperti ruang bawah tanah yang jarang sekali disentuh sinar matahari.Satu-satunya penerangan hanya berasal dari sebuah obor yang tertancap di dinding. Api kecilnya bergoyang pelan, membuat bayangan di ruangan itu bergerak-gerak seperti makhluk hidup.Di dalam ruangan itu ada lima dipan bambu. Lebarnya sempit—tidak lebih dari setengah meter. Disusun berjajar dengan jarak yang tidak terlalu jauh satu sama lain.Di atas masing-masing dipan terbaring seorang perempuan. Kelima perempuan itu membuka mata, tetapi tubuh mereka tidak bergerak sama sekali. Seolah-olah seluruh sendi dan otot mereka telah dicabut dari tubuh.Salah satu dari mereka adalah Shen Liu Zi. Wanita itu terbaring di dipan paling ujung. Rambutnya terurai sedikit di atas tikar bambu, wajahnya pucat, tapi matanya terbuka penuh kesadaran.Tidak seperti yang lain! Di dipan sebelah kirinya, seorang gadis muda menangis

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 225. Ternyata Membuat Tubuh Lemas Bagai Tak Bertulang

    “Jenderal, tubuhku rasanya lemas sekali.” Dengan posisi seperti orang yang hampir pingsan di atas tempat tidur, Shen Liu Zi berusaha mengangkat tangannya. Namun lengannya terasa berat, jatuh setengah jalan di udara. Meski begitu, jari-jarinya tetap berusaha menjangkau sosok yang baru saja melangkah masuk ke dalam kamar. Pintu di belakang jenderal Shang telah tertutup rapat. Lampu minyak di sisi ranjang memancarkan cahaya kuning lembut, membuat bayangan keduanya memanjang di dinding. Shen Liu Zi berbaring miring di atas kasur. Rambutnya sedikit berantakan di bantal, napasnya pelan tapi berat. Tatapannya redup, hampir seperti orang yang sedang kehilangan kesadaran. Jenderal Shang berjalan mendekat. Langkahnya tidak tergesa-gesa. Dan begitu dia sampai di sisi ranjang, dia langsung duduk di tepinya. Tubuhnya membungkuk sedikit, tangannya menyentuh dagu Shen Liu Zi, mengangkat wajah wanita itu sedikit dari bantal. Mata Shen Liu Zi setengah terbuka, pandangannya kabur. “Jenderal,” b

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 224. Dibalik Makan Malam

    Kebetulan sekali, malam ini jenderal Shang memenuhi undangan makan malam bupati Da Tong. Sekarang, aula tamu kediaman bupati Da Tong diterangi lampu-lampu minyak yang digantung di balok kayu langit-langit. Cahaya kuningnya lembut, tapi cukup terang untuk memperlihatkan setiap wajah yang duduk di ruangan luas itu. Makan malamnya bukan acara besar. Tamunya hanya jenderal Shang dan Shen Liu Zi. Keduanya tidak duduk di meja yang sama. Jenderal Shang duduk di hadapan meja besar—lebih dekat ke bupati Da Tong, sedangkan Shen Liu Zi ditempatkan di meja kecil di sisi kanan sang jenderal; ukuran mejanya setengah dari ukuran meja yang lain. Di seberang jenderal Shang, duduk bupati Da Tong dengan tubuh gemuknya yang hampir memenuhi kursi ukir besar itu. Di sampingnya, duduk seorang wanita dengan punggung tegak, mengenakan jubah sutra warna pucat. Wajahnya tertutup cadar tipis yang menjuntai sampai ke bawah dagu. Wanita itu Istri pertama bupati Da Tong. Tidak banyak bergerak. Bahkan sejak awa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status