MasukLonceng emas dari Menara Doa berdentang sembilan kali, suaranya mengalun merdu memenuhi seluruh sudut ibu kota, menandai berakhirnya masa kegelapan dan dimulainya era baru yang penuh cahaya. Jalanan utama istana telah dihampari permadani sutra merah sepanjang mata memandang. Kelopak bunga mawar dan seroja ditaburkan oleh para pelayan, mengharumkan udara senja yang hangat.Kaisar Chen Xu berdiri di puncak tangga tertinggi Aula Agung. Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan binar kehangatan yang tak mampu ia sembunyikan. Saat pintu kereta besar terbuka dan Li Lian melangkah keluar sambil mendekap sepasang bayi kembar dalam balutan kain kebesaran, seluruh istana seolah menahan napas.Li Lian tampak begitu anggun dalam balutan hanfu kebesaran berwarna merah tua dengan sulaman burung fenghuang emas yang membentangkan sayap di punggungnya. Meski wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan dari perjalanan jauh, aura kemuliaan terpancar dari setiap langkahnya. Ia bukan lagi s
Fajar baru saja menyingsing di cakrawala saat rombongan besar itu mulai bergerak meninggalkan padang rumput Ka-Shar. Kereta kuda yang membawa Li Lian dan kedua bayi kembarnya berada di tengah-tengah formasi pelindung yang sangat ketat. Lin Feng memacu kudanya di sisi kanan kereta, matanya yang tajam menyapu setiap jengkal semak dan bukit yang mereka lalui. Ia tahu, meskipun Permaisuri Xiao telah diringkus, sisa-sisa pengikutnya yang haus darah masih berkeliaran seperti serigala kelaparan, mencari celah untuk menghancurkan kebahagiaan Sang Kaisar.Di dalam kereta, Li Lian memeluk kedua buah hatinya dengan protektif. Bayi laki-lakinya, yang diberi nama sementara "Pangeran Kecil" oleh para tabib, tertidur dengan tenang, sementara adik perempuannya sesekali menggeliat dalam balutan sutra. Li Lian bisa merasakan jimat dari Yan Lu bergetar pelan di dadanya, memberikan sensasi ketenangan yang luar biasa, sesekali dia memegang jimat itu dan berterima kasih padanya. Namun, instingnya sebaga
Di aula utama istana Kekaisaran, suasana yang biasanya sunyi dan berwibawa kini terasa seperti air mendidih. Sejak matahari terbit, Kaisar Chen Xu tidak bisa duduk tenang di atas takhta emasnya. Langkah kakinya yang berat bergema di atas lantai marmer hitam saat ia berjalan mondar-mandir tanpa henti. Aura naga di tubuhnya bergetar hebat, bukan karena amarah, melainkan karena kegelisahan yang luar biasa yang sudah memuncak selama berbulan-bulan.Tiba-tiba, seorang utusan berkuda dengan pakaian yang berdebu dan napas tersengal masuk ke aula, lalu berlutut dengan terburu-buru. Di tangannya, ia memegang sebuah tabung perak dengan segel bunga teratai dan naga—tanda pesan rahasia dari tanah Ka-Shar."Yang Mulia! Berita dari tanah Ka-Shar telah tiba!" seru utusan itu dengan suara serak.Chen Xu tidak menunggu Kasim Zhao mengambil pesan itu. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar tabung perak tersebut dan membukanya. Matanya yang tajam menyisir baris demi baris tulisan di atas kain sutra
Enam bulan telah berlalu. Kini, di hamparan padang rumput Ka-Shar yang luas, musim beralih membawa angin sejuk yang membelai tenda-tenda putih besar. Li Lian duduk bersila di tengah sebuah kolam batu alami yang dialiri air dari mata air suci pegunungan. Usia kehamilannya telah memasuki bulan kesembilan. Perutnya yang membulat besar tampak berkilau di bawah siraman cahaya bulan purnama, sementara para tetua suku dan tabib wanita Ka-Shar melantunkan mantra penyucian di sekelilingnya.Ritual ini adalah ritual terakhir. Selama berbulan-bulan, Li Lian menjalani diet ketat herbal dan meditasi energi Dantian untuk meredam kutukan kuno yang sempat menyusup ke rahimnya. Air mata air suci itu terasa dingin menyentuh kulitnya, namun di dalam rahimnya, ia merasakan kehangatan yang luar biasa. Denyut kehidupan di dalamnya terasa jauh lebih kuat dan aktif daripada bayi normal pada umumnya."Nona, fokuslah pada napas Anda," bisik Tabib Utama Ka-Shar, seorang wanita tua dengan garis-garis kebijaksa
“Lin Feng, biarkan dia mendekat! Dia tidak berbahaya!”Suara Li Lian memecah kesunyian hutan pinus yang mencekam itu. Meski suaranya terdengar parau dan lemah, ada nada otoritas yang membuat Lin Feng tertegun di tempatnya. Para prajurit elit yang semula sudah menarik busur panah dengan ujung besi yang berkilat di bawah cahaya obor, kini saling pandang dengan ragu. Atmosfer di perbatasan hutan itu menjadi sangat tegang, seolah-olah satu desahan napas yang salah saja bisa menyulut pertumpahan darah.Lin Feng mengepalkan hulu pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. “Tapi Nona, kita tidak tahu siapa mereka. Di tengah malam buta seperti ini, siapa pun bisa menjadi ancaman bagi Anda dan janin di rahim Anda!”“Aku merasakannya, Lin Feng. Instingku tidak pernah salah,” balas Li Lian dari balik tirai kereta. “Tidak ada hawa membunuh, tidak ada haus darah. Hanya ada kesedihan yang sangat dalam. Biarkan dia maju.”Dengan enggan, Lin Feng memberi isyarat agar barisan prajurit membuka jalan.
"Li Lian..."Chen Xu berbisik dengan nada yang nyaris hancur. Ia berlutut di sisi tempat tidur, mencengkeram tangan Li Lian seolah-olah jika ia melepaskannya, wanita itu akan hilang ditelan kegelapan. Baginya, takhta ini tidak ada harganya jika ia harus kembali terpisah dari wanita yang baru saja ia selamatkan dari ambang maut.Li Lian mengulas senyum tipis, jemarinya yang dingin mengusap pipi Chen Xu yang kasar. "Yang Mulia, hamba melakukan ini demi putra kita. Anda bisa menjemput kami nanti, saat segalanya sudah suci dan aman. Biarkan hamba memberikan masa depan yang bebas dari kutukan untuknya."Di tengah suasana yang menyesakkan itu, Kasim Zhao melangkah mendekat dengan sangat hati-hati. Ia membungkuk rendah di samping Chen Xu dan berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh sang Kaisar."Yang Mulia, ini adalah strategi yang bijaksana. Biarkan Nona Li Lian melahirkan di sana. Begitu beliau kembali membawa pewaris yang sehat dan bebas kutukan, itu akan menjadi alasan terkuat
Chen Xu berhenti tepat satu langkah di depan Zhao Xinyi. Ujung pedangnya tidak lagi mengarah ke leher sang Putri, melainkan tertancap dalam ke lantai pualam di antara kaki mereka, menimbulkan suara retakan yang mengerikan."Dia bukan sekadar tabib," desis Chen Xu, suaranya rendah namun penuh peneka
Wu Chen yang baru saja akan melangkah pergi, segera berbalik dengan wajah tegang saat pengawal istana itu merangsek masuk ke area Paviliun Cendana. Di dalam ruangan, Chen Xu sudah berdiri tegak, meski napasnya masih sedikit berat akibat luka-luka yang belum sepenuhnya pulih.Pengawal itu berlutut s
Belum sempat Li Lian menghapus sisa air mata di pipinya, suara tawa yang melengking rendah memecah kesunyian paviliunnya. Mei Lan berdiri di ambang pintu dengan senyum kemenangan yang tak bisa ia sembunyikan. Berita perjodohan Lee Chen Xu dengan Putri Agung telah menyebar secepat api di kediaman P
Pintu Kuil Leluhur terbuka dengan suara berderit yang menyakitkan telinga. Cahaya matahari pagi menerobos masuk, menusuk mata Li Lian yang sembap. Seorang pengawal berdiri di sana dengan wajah kasar, tanpa sedikit pun rasa hormat."Nyonya Muda, Tuan Besar memerintahkan Anda kembali ke paviliun. Sek






