Home / Fantasi / Jenderal dari Laut Kematian / 101. Perintah Baru Raja

Share

101. Perintah Baru Raja

Author: Zila Aicha
last update publish date: 2026-08-15 09:47:56

Ruang kerja Raja kembali tenggelam dalam keheningan.

Sean Henley memandang Raja Philip selama beberapa detik.

“Yang Mulia… apakah maksud Anda benar-benar ingin mengganti tes ketujuh secara total?” tanyanya hati-hati.

Philip terdiam.

Tatapannya tampak tenang, seolah pertanyaan itu sudah dipikirkannya jauh sebelum hari ini. Justru diamnya membuat Sean semakin yakin bahwa sang raja tidak sedang bercanda.

Sean menarik napas pelan. “Kalau saya boleh menyampaikan pendapat, waktunya terlalu dekat, Ya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jenderal dari Laut Kematian    103. Ide Gila!

    Keheningan masih menyelimuti ruang rapat Divisi Kelas Satu.Sepuluh pasang mata tertuju pada peta pegunungan yang terbentang di atas meja, sementara Sean tetap berdiri di ujung ruangan dengan kedua tangan bertumpu pada permukaan kayu.“Baik,” ucap Sean akhirnya. “Siapa pun boleh mengusulkan ide. Jangan pikirkan pangkat atau senioritas, karena hari ini kita mencari tes terbaik, bukan pendapat yang paling aman.”Kevin mengangkat tangan lebih dulu, “Kalau tujuannya menemukan prajurit terbaik, menurutku kita harus memperpanjang durasi ujian, Sean.”Sean mengangguk pelan, memberi isyarat agar Kevin melanjutkan, “Babak ketujuh dibuat selama satu hari penuh. Peserta dibagi menjadi kelompok kecil, lalu mereka harus bertahan hidup di pegunungan tanpa logistik dari kerajaan.”Beberapa prajurit mengangguk setuju.Kevin menambahkan, “Mereka harus mencari makanan sendiri, membuat tempat berlindung, dan mencapai titik akhir dengan anggota kelompok yang masih lengkap.”Ruangan kembali hening. Sean b

  • Jenderal dari Laut Kematian    102. Sepuluh Prajurit Kelas 1

    Sean masih menatap lencana emas yang berada di tangan Raja Philip.Ruangan itu begitu sunyi hingga suara embusan napas terdengar jelas. Bahkan Neil Roth pun belum mengucapkan sepatah kata sejak tawaran itu keluar dari mulut sang raja.Mikael Avery memang sudah pergi agak lama. Tapi, selama ini sang raja tidak pernah sekalipun menyinggung soal itu. Philip melangkah satu langkah mendekat.“Bagaimana jawabanmu, Wakil Jenderal Henley?”Sean menundukkan kepala sejenak. Bukan karena ragu menerima perintah, melainkan karena dia memahami arti lencana itu lebih baik daripada siapa pun di ruangan ini.Jabatan Jenderal Perang bukan sekadar pangkat.Itu adalah simbol orang yang memimpin seluruh angkatan bersenjata Kerajaan Arans.Sean akhirnya mengangkat kepalanya.“Saya menerima perintah untuk mengganti tes ketujuh, Yang Mulia.”Philip mengangguk pelan.“Tetapi…” Sean menarik napas. “Saya menolak tawaran menjadi Jenderal Perang.”Ruangan seketika membeku.Neil membelalak lebih dulu.“Apa?”"Wa

  • Jenderal dari Laut Kematian    101. Perintah Baru Raja

    Ruang kerja Raja kembali tenggelam dalam keheningan.Sean Henley memandang Raja Philip selama beberapa detik.“Yang Mulia… apakah maksud Anda benar-benar ingin mengganti tes ketujuh secara total?” tanyanya hati-hati.Philip terdiam. Tatapannya tampak tenang, seolah pertanyaan itu sudah dipikirkannya jauh sebelum hari ini. Justru diamnya membuat Sean semakin yakin bahwa sang raja tidak sedang bercanda.Sean menarik napas pelan. “Kalau saya boleh menyampaikan pendapat, waktunya terlalu dekat, Yang Mulia”Neil melirik Sean tanpa berkata apa pun.Sean melanjutkan, “Babak keenam hampir selesai. Para komandan sudah menerima jadwal, logistik juga disiapkan berdasarkan rancangan awal. Jika tes terakhir diubah sekarang, seluruh divisi harus bekerja ulang.”“Itu berarti tidak mungkin?” tanya Philip.“Bukan tidak mungkin,” jawab Sean cepat. “Tetapi risikonya besar, Yang Mulia. Kesalahan kecil bisa membuat ujian menjadi tidak adil bagi para peserta.”Ruangan pun kembali sunyi.Neil Roth menutup

  • Jenderal dari Laut Kematian    100. Pertemuan yang Tidak Disengaja

    “Kenapa Yang Mulia memanggil Wakil Jenderal Henley?” ulang Kevin dengan nada pelan. “Jangan-jangan ada hubungannya dengan tes babak keenam?”Jay masih menatap pintu yang telah tertutup.Beberapa detik kemudian dia menggeleng, “Kurasa tidak.”Kevin mengangkat alis, “Kenapa kau begitu yakin?”“Karena tes keenam masih berlangsung.”Jay menyilangkan kedua tangannya.“Kalau Raja ingin membahas hasil ujian, seharusnya Floha Stone yang dipanggil lebih dulu. Dia komandan yang memimpin babak itu.”Kevin berpikir sejenak.Masuk akal.Sean Henley memang hadir di ruang pengawasan, tetapi bukan orang yang bertanggung jawab atas ujian laut.“Mungkin hanya laporan biasa,” lanjut Jay dengan tenang.Kevin akhirnya mengangguk. “Semoga saja.”Di sisi lain istana, Sean berjalan melewati koridor panjang menuju kediaman Raja Philip.Langkahnya tenang, tetapi pikirannya masih dipenuhi berbagai hal.Jake Styx.Mikael Summer.Dan kini panggilan mendadak dari Raja.Saat melewati taman dalam istana, seseorang m

  • Jenderal dari Laut Kematian    99. Kecurigaan

    Floha masih berdiri di geladak kapal perang sambil memandang Pelabuhan Exalos.Tatapannya belum beralih dari kapal selam nomor satu yang baru saja bersandar dengan tenang. Di antara para calon prajurit yang turun, sosok Mikael Summer masih menjadi orang yang paling menarik perhatiannya.“Senior.”Seorang prajurit kelas dua datang membungkuk di sampingnya.“Ambilkan berkas calon prajurit bernama Mikael Summer itu,” perintah Floha singkat.“Baik, Komandan.”Prajurit itu segera berlari menuju meja administrasi yang berada di sisi pelabuhan. Tidak lama kemudian, dia kembali membawa sebuah map berwarna cokelat.Floha menerimanya lalu langsung membuka halaman pertama.Nama, usia, tempat lahir, hingga riwayat pendidikan tertulis rapi di dalam berkas tersebut.Namun, semakin lama dia membaca, semakin dalam pula kerutan di dahinya.“Tidak ada?”Prajurit di sampingnya ikut bingung.“Ada yang salah, Komandan?”Floha membalik halaman berikutnya.Bagian riwayat pelatihan militer hanya berisi catat

  • Jenderal dari Laut Kematian    98. Pencapaian

    Kapal selam nomor satu berhasil berbelok tepat pada waktunya.Kapal nomor sembilan melintas sangat dekat di belakang mereka. Jarak kedua kapal bahkan hanya beberapa meter.Bam!Suara benturan terdengar dari bagian belakang kapal nomor satu. Tubuh kapal berguncang cukup keras, tetapi tidak sampai kehilangan kendali.Kylan langsung berusaha menstabilkan kapal.“Kita berhasil!”Ayden yang sejak tadi berpegangan pada kursi langsung berdiri.“Brengsek! Mereka sengaja melakukannya!”Rox menatap layar radar dengan wajah kesal.“Mereka jelas tidak mungkin tidak melihat kita.”Salah seorang calon prajurit lainnya ikut berbicara, “Jelas mereka sengaja.”Kylan menoleh ke belakang.Kapal nomor sembilan sudah bergerak menjauh. Tidak ada tanda bahwa mereka mengalami masalah setelah hampir menabrak kapal nomor satu.Ayden mengepalkan tangannya.“Kalau aku tahu siapa yang mengemudikan kapal itu, aku akan mengingat wajahnya.”Rox menghela napas.“Tenanglah.”“Bagaimana bisa tenang? Mereka hampir membu

  • Jenderal dari Laut Kematian    6. Dia Bukan Mikael!

    Mikael tidak menjawab pertanyaan istrinya dan malah tersenyum misterius. Pria itu menoleh ke arah mertua laki-lakinya, “Tuan Brown, sebaiknya kau segera mencari jam tangan tua milikku itu. Kalau tidak, kau … mungkin tidak akan berani membayangkan apa yang bisa aku lakukan.”Setelah berkata demikian

  • Jenderal dari Laut Kematian    5. Itu Milikku!

    “Habisi dia!” Liza Brown yang berdiri di belakang suaminya ikut menyemangati beberapa pengawal itu.Wanita itu terlihat tidak sabar melihat menantu laki-lakinya itu terbunuh.Sementara Mikael dengan santai malah menoleh ke arah istrinya, “Jenna, keluargamu sampai berbuat seperti ini hanya karena ing

  • Jenderal dari Laut Kematian    4. Jam Tangan Tua

    “Ayah, apa kau … yakin ini tidak akan menimbulkan masalah?” Jenna bertanya dengan nada khawatir saat dia melihat ayahnya meminta istrinya untuk menaruh racun di makanan. Bobby mendecakkan lidah, “Tidak akan. Orang hanya akan berpikir kalau dia overdosis obat. Dia baru saja keluar dari rumah sakit,

  • Jenderal dari Laut Kematian    3. Kau Terlihat Berbeda!

    “Ten-tentu saja.”Begitu Jonah setuju, Mikael segera berganti pakaian dan membereskan beberapa barang-barangnya. Jonah tertegun dan berkedip beberapa kali saat melihat bagaimana Mikael bertindak. Di tengah perjalanan, Jonah berulang kali melirik ke arah Mikael dengan dahi mengerut. “Ada apa?” Mik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status