INICIAR SESIÓNAda naluri lain yang lebih kuat, naluri bertahan hidup yang memaksaku menelan kemarahan itu mentah-mentah.“Ada di mana koperku, Mas? Kenapa di bagasi tidak ada?” tanyaku begitu tiba di kamar.“Bukankah sudah aku katakan, kamu hanya perlu memakai pakaian yang ada di lemari itu selama masih berada di dalam rumah ini.” jawabnya datar.“Aku akan memakainya, tapi aku memerlukan pakaian dalamku.” sahutku cepat, menahan gemetar di suaraku.“Aku tidak mengatakan kamu harus mengenakan pakaian dalam,” katanya tanpa perubahan ekspresi. “Jika memang aku memintamu memakainya, aku pasti sudah menyediakannya.”Keningku langsung berkerut. Perasaanku bercampur antara heran, tidak nyaman, dan tertekan oleh cara berpikirnya yang sama sekali tak bisa kupahami. Meski, status kami adalah suami istri, apakah sebegitu harusnya aku terus-menerus berada di hadapannya hanya dengan balutan robe sutra itu? Namun, aku tak berani mendebat lebih jauh dan lebih memilih fokus terhadap barang milikku sendiri.“Lalu di
Aku larut dalam curhatku bersama Erlan hingga tak lagi menyadari waktu. Saat ia kembali mengantarku pulang menggunakan mobilnya, hari telah beranjak gelap. Begitu kami tiba di depan gerbang rumah Mas Aksa yang tak biasanya terbuka lebar, jantungku kembali berdegup tak karuan.“Kalau ada apa-apa, kamu harus jujur sama aku ya, Ras,” ucap Erlan saat aku meraih gagang pintu mobil, bersiap turun.Aku menoleh padanya, lalu mengangguk dengan senyum selebar yang bisa kupaksakan, seharusnya cukup untuk meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Namun, degupan jantungku yang berpacu, membuat dadaku naik turun lebih cepat, hingga tetap tak luput dari perhatiannya. Meski begitu, Erlan memilih untuk tidak mendesakku.“Aku akan berusaha cari informasi yang kamu butuhkan. Aku usahakan lebih dari itu.” lanjutnya.Nada suaranya terdengar mantap, dan entah bagaimana, kata-kata itu terasa seperti usaha halus untuk menenangkanku.Aku mengangguk sekali lagi, lalu turun dari mobilnya. Kami sempat saling melam
Aku masuk tergesa-gesa ke dalam sebuah kafe tempatku biasa bekerja. Bukan karena aku terlambat masuk kerja, melainkan karena aku belum membayar taksi yang kutumpangi. Aku berniat meminjam uang kepada pemilik kafe itu untuk melunasi ongkosnya.Loh, kok bisa?Sebentar, aku akan menceritakannya setelah aku benar-benar menyelesaikan urusan ini.“Pinjami aku uang dulu, cepat!” pintaku sambil menadahkan tangan ke arah Erlan.Erlan tampak sedikit bingung, tetapi tetap menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah muda tanpa banyak bertanya.Begitu uang itu kuterima, aku segera keluar dari kafe dan membayar taksi yang masih menungguku di depannya.“Jadi, berapa totalnya, Pak?” tanyaku kepada sopir taksi itu.“Tujuh puluh tiga ribu, Kak,” jawabnya.“Kembaliannya untuk Bapak aja. Terima kasih, ya, Pak,” ucapku sambil menyodorkan selembar uang yang baru saja kuterima dari Erlan.“Terima kasih, Kak.”Setelah urusan pembayaran selesai, aku kembali melangkah masuk ke dalam kafe itu. Oh ya, tadi a
Pagi itu aku membuka mata dan menggeliat perlahan. Butuh beberapa detik sebelum kesadaranku pulih sepenuhnya dan seketika itu juga aku terkesiap. Tempat di sampingku kosong dan sosok pria itu tak ada. Mungkinkah semalam aku benar-benar sedang bermimpi? “Haii, akhirnya kamu bangun juga” Suara riang Mas Aksa terdengar tepat di belakang telingaku. Ternyata, dia benar-benar nyata dan bukan hanya sosok yang ada di dalam mimpi saja. Aku menoleh spontan dan mendapati ia telah berdiri di sana. Sejak kapan? Apakah ia sudah lama mengamatiku yang masih terlelap, atau memang berniat membangunkanku sebelumnya? Entahlah, yang jelas, penampilannya pagi ini sudah kembali rapi dan terasa sangat berbeda. Jika semalam rambutnya tersisir ke belakang dengan minyak rambut yang mengilap, menegaskan kesan berwibawa dengan kacamata yang membingkai matanya. Kini, rambut itu justru dibiarkan tergerai seadanya, jatuh lurus menutupi seluruh dahinya. Tanpa kacamata, wajahnya juga terlihat jauh lebih muda
Aku refleks hendak meraih tali itu, berniat menyimpulkannya kembali sebelum situasi berkembang lebih jauh. Namun, refleks Mas Aksa jauh lebih cepat. Tangannya lebih dulu menangkap tali tersebut, lalu menariknya dengan satu hentakan singkat, hingga terputus.Mendapat perlakuan seperti itu dari Mas Aksa, aku tak tinggal diam. Dengan cepat kutarik kedua ujung robe itu, berusaha menutupinya kembali bagian depan tubuhku yang terbuka. Namun, Mas Aksa bergerak lebih sigap. Hanya dengan satu tangannya, ia mencekal kedua pergelangan tanganku sekaligus, menahannya di tempat seolah tenagaku tak berarti apa-apa dibanding ketenangannya.Genggamannya tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk membuatku sadar bahwa perlawanan spontan itu sia-sia. Aku mendongak, menatap wajahnya yang jauh lebih tinggi di atasku dengan jarak yang begitu dekat. Dari balik kacamata itu, pandangan Mas Aksa turun menatapku. Dalam, tajam, dan penuh kendali, membuat jantungku berdegup tak karuan."Tidak usah ditutup-tutupi. Untu
Aku sempat mengira, begitu pintu itu kubuka, aku akan langsung berada di dalam kamar mandi atau setidaknya berdiri tepat di depan wastafel. Namun, dugaanku keliru. Meski Mas Aksa sempat mengangguk, ketika ku tanya, apakah pintu tersebut menuju kamar mandi. Nyatanya pintu ini tidak langsung mengarah ke sana.Hal yang pertama menyambutku justru sebuah ruang ganti yang terbentang sangat luas. Ruangan itu lebih menyerupai galeri pribadi, seolah menyimpan seluruh koleksi milik Mas Aksa dengan ketertiban nyaris obsesif. Deretan jas, kemeja, dan mantel tergantung rapi di kedua sisi, tersusun simetris mengikuti garis dinding, seakan setiap helai kain memiliki tempat yang tak boleh tertukar.Rak-rak sepatu berjajar rendah di sepanjang dinding, menampilkan koleksi yang tampak lebih seperti pameran daripada barang yang benar-benar dipakai. Di atasnya, tas-tas dan kotak penyimpanan perhiasan tersusun sejajar, masing-masing ditempatkan dengan jarak presisi.Di tengah ruangan, sebuah ottoman berla







