Share

Peran Suami Sesungguhnya

Penulis: Widia
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 15:58:44

Aku refleks hendak meraih tali itu, berniat menyimpulkannya kembali sebelum situasi berkembang lebih jauh. Namun, refleks Mas Aksa jauh lebih cepat. Tangannya lebih dulu menangkap tali tersebut, lalu menariknya dengan satu hentakan singkat, hingga terputus.

Mendapat perlakuan seperti itu dari Mas Aksa, aku tak tinggal diam. Dengan cepat kutarik kedua ujung robe itu, berusaha menutupinya kembali bagian depan tubuhku yang terbuka. Namun, Mas Aksa bergerak lebih sigap. Hanya dengan satu tangannya, ia mencekal kedua pergelangan tanganku sekaligus, menahannya di tempat seolah tenagaku tak berarti apa-apa dibanding ketenangannya.

Genggamannya tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk membuatku sadar bahwa perlawanan spontan itu sia-sia.

Aku mendongak, menatap wajahnya yang jauh lebih tinggi di atasku dengan jarak yang begitu dekat. Dari balik kacamata itu, pandangan Mas Aksa turun menatapku. Dalam, tajam, dan penuh kendali, membuat jantungku berdegup tak karuan.

"Tidak usah ditutup-tutupi. Untu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Erlan, tolong aku!

    Aku masuk tergesa-gesa ke dalam sebuah kafe tempatku biasa bekerja. Bukan karena aku terlambat masuk kerja, melainkan karena aku belum membayar taksi yang kutumpangi. Aku berniat meminjam uang kepada pemilik kafe itu untuk melunasi ongkosnya.Loh, kok bisa?Sebentar, aku akan menceritakannya setelah aku benar-benar menyelesaikan urusan ini.“Pinjami aku uang dulu, cepat!” pintaku sambil menadahkan tangan ke arah Erlan.Erlan tampak sedikit bingung, tetapi tetap menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah muda tanpa banyak bertanya.Begitu uang itu kuterima, aku segera keluar dari kafe dan membayar taksi yang masih menungguku di depannya.“Jadi, berapa totalnya, Pak?” tanyaku kepada sopir taksi itu.“Tujuh puluh tiga ribu, Kak,” jawabnya.“Kembaliannya untuk Bapak aja. Terima kasih, ya, Pak,” ucapku sambil menyodorkan selembar uang yang baru saja kuterima dari Erlan.“Terima kasih, Kak.”Setelah urusan pembayaran selesai, aku kembali melangkah masuk ke dalam kafe itu. Oh ya, tadi a

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Penampilan Berbeda

    Pagi itu aku membuka mata dan menggeliat perlahan. Butuh beberapa detik sebelum kesadaranku pulih sepenuhnya dan seketika itu juga aku terkesiap. Tempat di sampingku kosong dan sosok pria itu tak ada. Mungkinkah semalam aku benar-benar sedang bermimpi?“Haii, akhirnya kamu bangun juga” Suara riang Mas Aksa terdengar tepat di belakang telingaku. Ternyata, dia benar-benar nyata dan bukan hanya sosok yang ada di dalam mimpi saja.Aku menoleh spontan dan mendapati ia telah berdiri di sana. Sejak kapan? Apakah ia sudah lama mengamatiku yang masih terlelap, atau memang berniat membangunkanku sebelumnya?Entahlah, yang jelas, penampilannya pagi ini sudah kembali rapi dan terasa sangat berbeda.Jika semalam rambutnya tersisir ke belakang dengan minyak rambut yang mengilap, menegaskan kesan berwibawa dengan kacamata yang membingkai matanya. Kini, rambut itu justru dibiarkan tergerai seadanya, jatuh lurus menutupi seluruh dahinya. Tanpa kacamata, wajahnya juga terlihat jauh lebih muda, bahkan,

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Peran Suami Sesungguhnya

    Aku refleks hendak meraih tali itu, berniat menyimpulkannya kembali sebelum situasi berkembang lebih jauh. Namun, refleks Mas Aksa jauh lebih cepat. Tangannya lebih dulu menangkap tali tersebut, lalu menariknya dengan satu hentakan singkat, hingga terputus.Mendapat perlakuan seperti itu dari Mas Aksa, aku tak tinggal diam. Dengan cepat kutarik kedua ujung robe itu, berusaha menutupinya kembali bagian depan tubuhku yang terbuka. Namun, Mas Aksa bergerak lebih sigap. Hanya dengan satu tangannya, ia mencekal kedua pergelangan tanganku sekaligus, menahannya di tempat seolah tenagaku tak berarti apa-apa dibanding ketenangannya.Genggamannya tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk membuatku sadar bahwa perlawanan spontan itu sia-sia. Aku mendongak, menatap wajahnya yang jauh lebih tinggi di atasku dengan jarak yang begitu dekat. Dari balik kacamata itu, pandangan Mas Aksa turun menatapku. Dalam, tajam, dan penuh kendali, membuat jantungku berdegup tak karuan."Tidak usah ditutup-tutupi. Untu

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Pakaian Baruku

    Aku sempat mengira, begitu pintu itu kubuka, aku akan langsung berada di dalam kamar mandi atau setidaknya berdiri tepat di depan wastafel. Namun, dugaanku keliru. Meski Mas Aksa sempat mengangguk, ketika ku tanya, apakah pintu tersebut menuju kamar mandi. Nyatanya pintu ini tidak langsung mengarah ke sana.Hal yang pertama menyambutku justru sebuah ruang ganti yang terbentang sangat luas. Ruangan itu lebih menyerupai galeri pribadi, seolah menyimpan seluruh koleksi milik Mas Aksa dengan ketertiban nyaris obsesif. Deretan jas, kemeja, dan mantel tergantung rapi di kedua sisi, tersusun simetris mengikuti garis dinding, seakan setiap helai kain memiliki tempat yang tak boleh tertukar.Rak-rak sepatu berjajar rendah di sepanjang dinding, menampilkan koleksi yang tampak lebih seperti pameran daripada barang yang benar-benar dipakai. Di atasnya, tas-tas dan kotak penyimpanan perhiasan tersusun sejajar, masing-masing ditempatkan dengan jarak presisi.Di tengah ruangan, sebuah ottoman berla

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Malam Pertama

    Setelah hingar bingar pesta usai, pria bernama Arjun Aksana itu meminta izin kepada kedua orang tuaku untuk langsung membawaku tinggal di rumahnya, bahkan tanpa perlu menunggu hari esok.Malam itu juga, kami angkat kaki dari rumah orang tuaku tanpa membawa banyak hal. Hanya sebuah koper kecil berisi beberapa potong pakaianku, sebab aku memang tak pernah menyiapkan apa pun sebelumnya.Bersama Arjun dulu, aku dan dia sepakat untuk tinggal bersama kedua orang tuaku setelah menikah, setidaknya sampai kami mampu membeli rumah sendiri, hingga aku tak perlu berkemas sama sekali. Namun, bersama Aksa semuanya jadi berbeda. Ia seolah telah menyiapkan segalanya jauh sebelum hari ini tiba. Setiap langkah hidup yang ia ambil tampak terukur, matang, dan nyaris tanpa celah, bahkan tiba-tiba, ia membawaku seolah telah siap melakukan peran rumah tangga sepenuhnya, hingga akhirnya aku terpaksa mengemas beberapa potong pakaian untuk kubawa bersamanya.Mobil yang kutumpangi akhirnya berhenti di depan se

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Cinta Itu Buta

    Beberapa detik kemudian, Erlan menepukkan kedua lengannya spontan. “Ah! Dia itu Pak Aksa. Guru seni adikku. Iya! Elsa pernah nunjukin foto guru baru yang jadi pujaan para siswi di sekolahnya. Penampilannya sangat berbeda dari yang di foto, aku hampir aja gak mengenalinya”“Dia guru?” tanya Caca, nada suaranya bercampur antara kaget dan kagum.“Iya, dia memang guru” jawabku ikut-ikutan. Berbekal pengenalan singkat dari Bude Maryati saat memperkenalkan pria itu padaku beberapa waktu lalu.“Kok kamu bisa kenalan sama guru yang ganteng begitu sih, Ras? Gimana ceritanya?” Tiwi masih saja penasaran, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.“Kamu nggak usah banyak nanya, Wi,” sela Erlan cepat. “Doain aja dia semoga pernikahannya sama Pak Aksa awet. Soalnya pasti bakal banyak banget ulet bulu yang nempel sama Pak Aksa dan pastinya bikin Laras cemburu.”“Kayaknya aku bakal jadi salah satu ulet bulu itu deh, Lan,” sahut Caca genit sambil mengerjap-ngerjapkan mata.Refleks Erlan mengusap wajah Ca

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status