Share

Pakaian Baruku

Penulis: Widia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 20:13:01

Aku sempat mengira, begitu pintu itu kubuka, aku akan langsung berada di dalam kamar mandi atau setidaknya berdiri tepat di depan wastafel. Namun, dugaanku keliru. Meski Mas Aksa sempat mengangguk, ketika ku tanya, apakah pintu tersebut menuju kamar mandi. Nyatanya pintu ini tidak langsung mengarah ke sana.

Hal yang pertama menyambutku justru sebuah ruang ganti yang terbentang sangat luas. Ruangan itu lebih menyerupai galeri pribadi, seolah menyimpan seluruh koleksi milik Mas Aksa dengan ketertiban nyaris obsesif. 

Deretan jas, kemeja, dan mantel tergantung rapi di kedua sisi, tersusun simetris mengikuti garis dinding, seakan setiap helai kain memiliki tempat yang tak boleh tertukar.

Rak-rak sepatu berjajar rendah di sepanjang dinding, menampilkan koleksi yang tampak lebih seperti pameran daripada barang yang benar-benar dipakai. Di atasnya, tas-tas dan kotak penyimpanan perhiasan tersusun sejajar, masing-masing ditempatkan dengan jarak presisi.

Di tengah ruangan, sebuah ottoman berlapis kulit gelap berdiri kokoh di atas karpet bertekstur halus, menjadi satu-satunya elemen yang memberi kesan hangat di antara dominasi warna hitam dan abu-abu.

Aku bergidik ngeri memandangi seluruh isi ruangan itu. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena fungsi dari setiap benda di dalamnya terasa begitu tak selaras dengan sosok Mas Aksa yang berprofesi sebagai seorang guru seni.

Setidaknya, demikian profil yang kuketahui. Ada sesuatu yang ganjil, sesuatu yang tak terucap, bersembunyi di balik kemewahan dan keteraturan yang terlalu sempurna ini.

Aku kemudian menyusuri lorong yang membelah ruang ganti tersebut. Langkahku pelan, nyaris tanpa suara, menuju sebuah pintu lain yang sejak tadi menarik perhatianku.

Entah mengapa, kali ini aku yakin pintu itu benar-benar mengarah ke kamar mandi. Sebuah tempat yang kuharap dapat memberiku sedikit ruang untuk menenangkan diri.

Begitu pintu itu kubuka, hawa lembap bercampur dingin langsung menyergap. Kamar mandi itu tak kalah luas dari ruang sebelumnya. Di dalam ruang kamar mandi itu masih didominasi warna gelap dengan permukaan marmer mengilap yang memantulkan cahaya temaram.

Aku melangkah mendekat ke wastafel, memutar keran, lalu menampung air di kedua telapak tangan. Air dingin itu menyentuh wajahku, mengalir turun bersama napas yang masih tersengal, seolah mencoba menarikku kembali ke kesadaran.

Aku membasuh muka berulang kali, berharap kejernihan air mampu meluruhkan kekacauan di kepalaku atau setidaknya membuatku tetap terjaga.

Setelah itu, aku menatap bayanganku di cermin sejenak. Lalu, setelah mematikan keran, aku mengusap wajah dengan tangan yang gemetar, menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka kembali pintu kamar mandi untuk keluar.

Begitu aku melangkah, pandanganku langsung tertumbuk pada sosok tinggi Mas Aksa yang berdiri di depan sebuah lemari di sudut ruang ganti.

Lemari dengan permukaan gelap yang sama sekali tidak berdinding kaca, berbeda dari lemari-lemari lain di sekitarnya.

Di tangan kanannya tergantung sebuah robe sutra berwarna hitam dengan potongan kimono panjang. Tanpa banyak bicara, ia segera menyodorkan pakaian itu kepadaku.

“Ganti pakaianmu dengan itu” katanya datar, dengan nada yang tak memberi ruang bagi bantahan apa pun.

Aku hanya mampu menerima robe sutra itu begitu saja, dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Kemudian membiarkan Mas Aksa melangkah pergi begitu saja. Namun, setelah beberapa langkah di depan, ia kembali berhenti dan membuka sebuah lemari.

Tangannya bergerak meraih sebuah piyama tidur yang terlipat di dalam lemari itu. Sepertinya, piyama itu akan dikenakan olehnya sendiri.

“Dan satu lagi,” ucapnya tanpa menoleh, seakan tahu persis di mana aku berdiri saat ini, “Tepat di depanmu itu adalah lemari yang berisi pakaianmu. Kamu hanya perlu mengenakan pakaian-pakaian tersebut selama masih berstatus sebagai istriku dan tinggal di rumah ini.”

Sesaat kemudian, ia benar-benar keluar dari ruangan itu, meninggalkanku sendirian dalam keheningan yang terasa menekan.

Rasa penasaran akhirnya mendorong tanganku bergerak membuka lemari yang dimaksud Mas Aksa.

Aku sempat berpikir, jika seluruh lemarinya berisi jas, kemeja, dan pakaian-pakaian mahal, setidaknya aku pun akan menemukan gaun-gaun indah di lemari yang katanya menyimpan pakaian untukku dan itu bisa menjadi suatu penghiburan kecil di tengah ketakutan yang belum juga surut. Namun, ketika pintu lemari itu terbuka sepenuhnya, harapanku runtuh seketika, yang ada di dalam lemari itu hanyalah deretan robe sutra panjang dengan potongan kimono, sama persis dengan yang kini menggantung di lenganku. Semua bentuknya sama, hanya perbedaan warna dengan pilihan-pilihan gelap yang terasa muram dan membungkam.

“Apa-apaan maksudnya ini?” gumamku heran. 

Meski demikian, karena koperku masih berada di dalam mobil dan di dekat mobil tersebut ada bangkai kucing yang tadi Mas Aksa bunuh. Aku jadi tak punya pilihan selain mengganti kebaya pengantinku dengan robe sutra itu. 

Sejak resepsi berakhir, aku memang belum sempat berganti pakaian, dan kebaya pengantin itu sudah terasa berat menempel di tubuhku.

Di balik pantulan cermin, kulihat robe berlengan panjang ini telah membalut tubuhku dan jatuh dengan sempurna, menjuntai hingga menyentuh lantai. 

Kain sutranya terasa ringan di kulit, membuat tubuhku terasa jauh lebih bebas dibanding sebelumnya.

Aku menarik satu-satunya tali pengikat yang ada, menyimpulkannya dengan rapi agar robe itu menutupi seluruh tubuhku. Gerakanku hati-hati, nyaris refleks, seakan aku tengah beradaptasi dengan sesuatu yang baru dan asing.

Aku sengaja tidak mengenakan pakaian lain karena tak pernah merasa nyaman tidur dengan menggunakan pakaian berlapis. Lagipula, dalam pikiranku, Mas Aksa tak akan melakukan apa pun. Ia bahkan belum benar-benar mengenalku dan tak akan mungkin tidur di kamar yang sama denganku.

Aku melangkah keluar dari ruang ganti itu dengan percaya diri, menuju pintu yang menghubungkannya langsung ke kamar tidur. Namun, seketika keyakinanku runtuh saat mendapati Mas Aksa telah menyandarkan setengah tubuhnya di kepala tempat tidur. Pakaian yang dikenakannya juga sudah berganti dengan piyama tidur yang sempat ia bawa dari ruang ganti tadi. Rambutnya tampak basah dan tersisir rapi ke belakang. Sepertinya, ia baru saja selesai mandi.

Mungkin ia menggunakan kamar mandi lain yang berada di luar kamar ini.

Posisi kepalanya sedikit menunduk, membuat garis rahangnya tampak lebih tegas dari sudut pandangku. Kacamata berbingkai hitam itu masih bertengger di wajahnya, lensa beningnya memantulkan cahaya layar laptop yang menyala di pangkuannya. Jari-jemarinya bergerak lincah menekan tombol-tombol keyboard, tenggelam dalam kesibukan yang tak sepenuhnya kupahami.

Aku tak pernah benar-benar mengerti bagaimana rutinitas seorang guru sesungguhnya. Namun, apakah wajar jika kesibukan itu masih menuntut perhatiannya di malam yang nyaris beringsut menuju dini hari?

Saat akhirnya ia menyadari kehadiranku, ia menutup laptop itu perlahan, lalu mengalihkan pandangannya ke arahku yang masih berdiri di depan pintu ruang ganti.

Tatapannya menyusur dari ujung kakiku hingga ke wajahku, tenang, datar, nyaris tak terbaca, seolah sedang menilai sesuatu yang tak ia ucapkan. Kemudian, satu sudut bibirnya terangkat tipis, sebelum ia melangkah mendekat sambil membawa laptop itu di satu tangannya.

Aku nyaris tak sempat bereaksi ketika satu tangannya yang terulur begitu telah berada di dekatku. Dengan gerakan pasti, ia melepaskan ikatan tali robe yang kukenakan. Tarikan singkat itu membuat simpulnya terurai begitu saja, dan robe itu pun terbuka, jatuh longgar mengikuti gravitasi. Mengekspose seluruh bagian depan tubuhku dengan sempurna.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Bangkai Kucing

    Aku larut dalam curhatku bersama Erlan hingga tak lagi menyadari waktu. Saat ia kembali mengantarku pulang menggunakan mobilnya, hari telah beranjak gelap. Begitu kami tiba di depan gerbang rumah Mas Aksa yang tak biasanya terbuka lebar, jantungku kembali berdegup tak karuan.“Kalau ada apa-apa, kamu harus jujur sama aku ya, Ras,” ucap Erlan saat aku meraih gagang pintu mobil, bersiap turun.Aku menoleh padanya, lalu mengangguk dengan senyum selebar yang bisa kupaksakan, seharusnya cukup untuk meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Namun, degupan jantungku yang berpacu, membuat dadaku naik turun lebih cepat, hingga tetap tak luput dari perhatiannya. Meski begitu, Erlan memilih untuk tidak mendesakku.“Aku akan berusaha cari informasi yang kamu butuhkan. Aku usahakan lebih dari itu.” lanjutnya.Nada suaranya terdengar mantap, dan entah bagaimana, kata-kata itu terasa seperti usaha halus untuk menenangkanku.Aku mengangguk sekali lagi, lalu turun dari mobilnya. Kami sempat saling melam

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Erlan, tolong aku!

    Aku masuk tergesa-gesa ke dalam sebuah kafe tempatku biasa bekerja. Bukan karena aku terlambat masuk kerja, melainkan karena aku belum membayar taksi yang kutumpangi. Aku berniat meminjam uang kepada pemilik kafe itu untuk melunasi ongkosnya.Loh, kok bisa?Sebentar, aku akan menceritakannya setelah aku benar-benar menyelesaikan urusan ini.“Pinjami aku uang dulu, cepat!” pintaku sambil menadahkan tangan ke arah Erlan.Erlan tampak sedikit bingung, tetapi tetap menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah muda tanpa banyak bertanya.Begitu uang itu kuterima, aku segera keluar dari kafe dan membayar taksi yang masih menungguku di depannya.“Jadi, berapa totalnya, Pak?” tanyaku kepada sopir taksi itu.“Tujuh puluh tiga ribu, Kak,” jawabnya.“Kembaliannya untuk Bapak aja. Terima kasih, ya, Pak,” ucapku sambil menyodorkan selembar uang yang baru saja kuterima dari Erlan.“Terima kasih, Kak.”Setelah urusan pembayaran selesai, aku kembali melangkah masuk ke dalam kafe itu. Oh ya, tadi a

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Penampilan Berbeda

    Pagi itu aku membuka mata dan menggeliat perlahan. Butuh beberapa detik sebelum kesadaranku pulih sepenuhnya dan seketika itu juga aku terkesiap. Tempat di sampingku kosong dan sosok pria itu tak ada. Mungkinkah semalam aku benar-benar sedang bermimpi?“Haii, akhirnya kamu bangun juga” Suara riang Mas Aksa terdengar tepat di belakang telingaku. Ternyata, dia benar-benar nyata dan bukan hanya sosok yang ada di dalam mimpi saja.Aku menoleh spontan dan mendapati ia telah berdiri di sana. Sejak kapan? Apakah ia sudah lama mengamatiku yang masih terlelap, atau memang berniat membangunkanku sebelumnya?Entahlah, yang jelas, penampilannya pagi ini sudah kembali rapi dan terasa sangat berbeda.Jika semalam rambutnya tersisir ke belakang dengan minyak rambut yang mengilap, menegaskan kesan berwibawa dengan kacamata yang membingkai matanya. Kini, rambut itu justru dibiarkan tergerai seadanya, jatuh lurus menutupi seluruh dahinya. Tanpa kacamata, wajahnya juga terlihat jauh lebih muda, bahkan,

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Peran Suami Sesungguhnya

    Aku refleks hendak meraih tali itu, berniat menyimpulkannya kembali sebelum situasi berkembang lebih jauh. Namun, refleks Mas Aksa jauh lebih cepat. Tangannya lebih dulu menangkap tali tersebut, lalu menariknya dengan satu hentakan singkat, hingga terputus.Mendapat perlakuan seperti itu dari Mas Aksa, aku tak tinggal diam. Dengan cepat kutarik kedua ujung robe itu, berusaha menutupinya kembali bagian depan tubuhku yang terbuka. Namun, Mas Aksa bergerak lebih sigap. Hanya dengan satu tangannya, ia mencekal kedua pergelangan tanganku sekaligus, menahannya di tempat seolah tenagaku tak berarti apa-apa dibanding ketenangannya.Genggamannya tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk membuatku sadar bahwa perlawanan spontan itu sia-sia. Aku mendongak, menatap wajahnya yang jauh lebih tinggi di atasku dengan jarak yang begitu dekat. Dari balik kacamata itu, pandangan Mas Aksa turun menatapku. Dalam, tajam, dan penuh kendali, membuat jantungku berdegup tak karuan."Tidak usah ditutup-tutupi. Untu

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Pakaian Baruku

    Aku sempat mengira, begitu pintu itu kubuka, aku akan langsung berada di dalam kamar mandi atau setidaknya berdiri tepat di depan wastafel. Namun, dugaanku keliru. Meski Mas Aksa sempat mengangguk, ketika ku tanya, apakah pintu tersebut menuju kamar mandi. Nyatanya pintu ini tidak langsung mengarah ke sana.Hal yang pertama menyambutku justru sebuah ruang ganti yang terbentang sangat luas. Ruangan itu lebih menyerupai galeri pribadi, seolah menyimpan seluruh koleksi milik Mas Aksa dengan ketertiban nyaris obsesif. Deretan jas, kemeja, dan mantel tergantung rapi di kedua sisi, tersusun simetris mengikuti garis dinding, seakan setiap helai kain memiliki tempat yang tak boleh tertukar.Rak-rak sepatu berjajar rendah di sepanjang dinding, menampilkan koleksi yang tampak lebih seperti pameran daripada barang yang benar-benar dipakai. Di atasnya, tas-tas dan kotak penyimpanan perhiasan tersusun sejajar, masing-masing ditempatkan dengan jarak presisi.Di tengah ruangan, sebuah ottoman berla

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Malam Pertama

    Setelah hingar bingar pesta usai, pria bernama Arjun Aksana itu meminta izin kepada kedua orang tuaku untuk langsung membawaku tinggal di rumahnya, bahkan tanpa perlu menunggu hari esok.Malam itu juga, kami angkat kaki dari rumah orang tuaku tanpa membawa banyak hal. Hanya sebuah koper kecil berisi beberapa potong pakaianku, sebab aku memang tak pernah menyiapkan apa pun sebelumnya.Bersama Arjun dulu, aku dan dia sepakat untuk tinggal bersama kedua orang tuaku setelah menikah, setidaknya sampai kami mampu membeli rumah sendiri, hingga aku tak perlu berkemas sama sekali. Namun, bersama Aksa semuanya jadi berbeda. Ia seolah telah menyiapkan segalanya jauh sebelum hari ini tiba. Setiap langkah hidup yang ia ambil tampak terukur, matang, dan nyaris tanpa celah, bahkan tiba-tiba, ia membawaku seolah telah siap melakukan peran rumah tangga sepenuhnya, hingga akhirnya aku terpaksa mengemas beberapa potong pakaian untuk kubawa bersamanya.Mobil yang kutumpangi akhirnya berhenti di depan se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status