Masuk"Tidak, Kiara. Mungkin kamu tidak percaya apa yang saya katakan karena sikap saya selama ini ke kamu, tetapi saya melakukan itu semua hanya karena saya ingin selalu berinteraksi sama kamu. Saya sengaja mencari-cari kesalahan kamu supaya saya bisa melihat keberadaan kamu di sisi saya. Maaf, itu memang konyol."Adam mengakui kalau dirinya memang salah mengambil langkah. Dia ingin dekat dengan Kiara, tetapi nyatanya apa yang dia lakukan hanya membuat wanita itu merasa kesal. Bahkan sampai berniat untuk berhenti bekerja karena stress menghadapi sikap Adam. "Bagus deh kalau bapak sadar tingkah bapak itu sangat konyol," celetuk Kiara dengan ketus. "Maaf, Kiara. Maafkan saya. Kedepannya saya janji saya tidak akan seperti itu lagi, tetapi dengan satu syarat," ucap Adam tegas. "Apa, Pak?""Kamu tidak boleh dekat dengan lelaki manapun, dan hanya saya yang boleh menyentuh kamu seperti tadi.""Dih, kok ngatur. Emangnya bapak siapa? Pacar bukan, tunangan bukan, suami juga bukan," sahut Kiara as
Adam sudah membuang celana dalam Kiara sembarangan. Dengan gerakan perlahan, Adam menarik tubuh Kiara ke pinggiran ranjang hingga kakinya terjuntai. Dia meraih kaki Kiara yang masih mengenakan stocking warna kulit, dan menaikkan ke pundaknya. Kedua tangan Kiara meremas seprai. Sejujurnya dia ketakutan karena sebentar lagi milik Adam akan memasuki tubuhnya. "Jangan tegang, Kiara. Saya tidak akan menyakitimu," rayu Adam yang sekarang berusaha mengikis jarak di antara mereka. Lelaki itu memegang miliknya, dan mulai mengelus milik Kiara dengan kepalanya. Milik Kiara sangat mulus tanpa bulu. Terlihat begitu terawat, dengan warna merah muda yang menggoda. Adam tersenyum mendengar desahan Kiara, apalagi milik wanita itu jelas sudah sangat basah. Cairannya membuat milik Adam ikut basah. "Enak, Kiara?" tanya Adam setengah menggoda. Kiara mengangguk ribut, desahannya semakin menjadi. Adam dengan nakal menggoda bagian intinya dengan memberikan tusukan-tusukan kecil. Itu terlalu nikmat bag
"Paaak, sa-saya mau ke-keluar ahhh!" Kiara mendongak, dia menjambak rambut Adam untuk mengekspresikan badai kenikmatan yang menerpanya. Diam-diam Adam menatap Kiara yang sekarang berantakan. Dia suka itu. Dia ingin Kiara mendapatkan lebih dari ini. Sesaat gelombang kenikmatan yang mendera Kiara mereda, Adam menggendong wanita itu, membawanya keluar dari toilet. Milik Adam yang sejak tadi kembali menegang mengayun di udara. Begitu gagah, dan memikat wanita manapun yang melihatnya. Tanpa terkecuali Kiara. Pertama kali melihat milik Adam secara langsung, pikirannya langsung menggila. Dia membayangkan banyak hal liar terjadi antara dirinya dan Adam. "Ba-bapak mau membawa saya ke mana?" tanya Kiara dengan napas yang masih terengah-engah. "Mengunci pintu ruangan saya, lalu saya mau membawa kamu ke kamar rahasia saya, Kiara.""Tidak perlu, Pak. Saya sudah menguncinya tadi," jelas Kiara yang kini melingkarkan kedua tangannya di leher Adam. "Bagus. Ternyata kamu sudah mempersiapkan segala
"Kiara, kenapa kamu hanya membaca pesan saya? Kamu marah? Maaf, saya memang kurang sopan, tetapi saya frustrasi harus bagaimana lagi.""Sudah setengah jam lebih saya berusaha, tetapi milik saya tidak mau keluar. Saya tidak bisa bekerja dalam kondisi seperti ini, Kiara. Cuma kamu yang bisa bantu saya. Tolong saya, Kiara. Saya mohon."Membaca pesan beruntun Adam membuat Kiara tidak tega. Dia membayangkan bagaimana lelaki itu kesusahan sekarang. Tadi saat di ruangannya saja keringat Adam sudah membasahi kening karena terlalu menahan hasratnya. "Bapak di mana sekarang?" balasnya. "Akhirnya kamu balas chat saya, Kiara. Saya ada di toilet pribadi saya sekarang."Kiara terdiam sesaat. Dia membayangkan apa yang harus dia lakukan sekarang. Tentu dia ingin membantu Adam lepas dari 'penderitaan' yang menyiksanya. "Tunggu di sana, Pak. Saya akan segera datang menemui bapak."Selesai mengirim pesan itu, Kiara mematikan komputernya, lalu beranjak dari duduknya. "Mau ke mana, Ki? Buru-buru amat,
"Kamu yakin mau melihatnya, Kiara?" tanya Adam tak percaya. Tidak pernah terpikirkan oleh Adam kalau Kiara akan memaklumi keadaannya, apalagi ingin melihat langsung kondisi 'miliknya' yang sekarang menegang sempurna. "Se-serius, Pak. Itu juga kalau bapak mengizinkannya."Kepalang tanggung. Kiara sudah malu karena kalimatnya di awal, jadi dia sekalian saja menghamburkan rasa malu. Dia memang sopan, tetapi bukan berarti Kiara begitu polos. Dia juga tahu tentang hal-hal berbau dewasa. Adam berdiri dari posisi duduknya, dan sekarang Kiara bisa melihat jelas bagaimana bagian tengah celana Adam menyempit. Walaupun hanya dari luar celana, Kiara sangat yakin kalau milik bosnya memiliki size yang di atas rata-rata. Seperti terhipnotis, Kiara terus menatap bagian itu. Seharusnya rasa penasarannya berakhir, tetapi entah mengapa dia ingin sekali menyentuh benda itu. Apalagi raut wajah Adam sekarang sangat 'normal', tidak seperti Adam yang biasanya. Di sisi ini, lelaki itu terlihat begitu mempe
"Kiara, ke ruangan saya sekarang."Kiara menatap teman-teman satu divisinya setelah membaca pesan tersebut. Tentu saja ekspresi Kiara menarik perhatian teman-temannya. "Kenapa, Ki?" tanya Nina penasaran. "Kayaknya perang dengan Pak Devil akan segera dimulai lagi. Orangnya udah nge-chat. Minta gue ke ruangannya." Kiara berucap tidak bersemangat. Seketika tawa teman-teman satu divisinya pecah. "Pak Adam kangen sama Lo, Ki. Dia nggak tahan lama-lama ngehindar dari Lo," celetuk Raul, lalu melanjutkan tawanya. "Padahal lebih bagus nggak interaksi sama dia, lebih adem.""Halah, diam-diam Kiara pasti juga kangen itu lama nggak tatapan mata sama pak Adam." Arga ikut nimbrung. "Pastinya. Tapi Kiara malu-malu buat mengakui kalo dia kangen sama si bapak ganteng satu itu. Diembat yang lain nanti Lo kecarian, Ki.""Kak Nina, mulai, deh. Udah ah, gue mau ke ruangannya Pak Adam. Daripada nanti dia merepet kayak biasanya. Males."Kiara beranjak dari kursinya, melangkah ke arah pintu keluar diiri







