Masuk"Rencana berapa hari di sana?" Seperti Jelangkung yang datang tak diundang pulangnya minta nebeng, lagi-lagi kehadiran Kang Epen selalu sulit diprediksi. Aku bahkan tak menyadari kapan dia datang dan berdiri bersandar di daun pintu memerhatikanku packing barang bawaan. Sepertinya dia bestie-an sama Mbak Kunti atau sebangsa demit penghuni rumah ini, jadi punya kekuatan teleportasi. "Paling lama 4 hari, Kang. Soalnya saya nggak enak kalau nggak ikut bantu-bantu dulu. Kasian juga Emak kalau sampe dia direpotin sendirian." Kang Epen mangut-mangut, lalu lama terdiam sambil mengetuk-ketukkan sandalnya ke lantai. "Kalau begitu saya ikut!" "Hah?" Refleks aku menghentikan segala kegiatan packing dan sepenuhnya beralih padanya. "Serius?" Aku bangkit untuk memastikan. Kaget bukan main. Ini benar-benar di luar prediksi BMKG. Padahal tadinya aku sudah membayangkan lelahnya perjalanan menggunakan kendaraan umum, ditambah sendirian! "Iya. Saya harus pastikan kamu kembali buat Dara. Sia
Hari ini entah kenapa suasana hatiku sedang sangat baik. Dari tadi aku sibuk bolak-balik mencoba pakaian dan barang-barang yang dibeli beberapa hari lalu untuk dipakai pulang kampung nanti. Aku memandangi layar ponsel sekali lagi. Pesan dari Fitri masih terpampang jelas. Pernikahannya tinggal beberapa hari lagi. Aku tersenyum. Sudah lama sekali rasanya tidak pulang kampung dengan perasaan seperti ini. Rasanya bebas, lepas. Tak ada kekhawatiran sama sekali. Biasanya setiap pulang selalu ada masalah yang menunggu. Entah kekepoan tetangga, kecerewetan Wa Ety tentang pekerjaan atau jodohku yang katanya sama-sama tak jelas, bahkan tentang utang Bapak. Tapi, kali ini berbeda. Aku pulang membawa kabar baik. Selain menghadiri pernikahan Fitri, aku juga akan membawa Emak dan adik-adik kembali ke rumah. Memulai lagi dari awal. Setelah berpikir sebentar, aku memutuskan mencari Kang Epen. Di hari Sabtu seperti ini biasanya lelaki itu WFH di ruang kerjanya. Benar saja saat kuketuk pin
Hari pertama resmi menjadi pengangguran ternyata jauh lebih menyenangkan daripada yang kubayangkan.Mungkin karena selama ini aku terlalu sibuk bertahan hidup sampai lupa rasanya beristirahat.Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku benar-benar menuruti saran Kang Epen.Tidur lagi setelah salat ssubuh Biasanya setelah salat aku langsung sibuk. Entah berangkat kerja, mengerjakan pesanan desain, membalas chat pelanggan, atau menghitung uang yang bahkan belum sempat masuk ke rekening.Tapi pagi ini tidak. Aku menarik selimut sampai dagu dan kembali memejamkan mata.Dan rasanya ... masyaAllah. Nikmat.Ketika terbangun lagi, matahari sudah tinggi.Aku melirik jam di nakas. Pukul sebelas siang.Refleks aku duduk tegak."Lah!"Jantungku sempat berdebar karena merasa kesiangan.Namun beberapa detik kemudian baru teringat.Aku sudah resign. Tidak ada atasan yang menunggu, tidak ada absensi, tidak ada target penjualan, tidak ada jadwal shift. Aku benar-benar sedang menganggur.Perasaan aneh lang
Pembacaan wasiat oleh lawyer Zahra akhirnya selesai disaksikan notaris hari ini. Sejak awal aku berusaha terlihat tenang. Duduk manis dan mendengarkan setiap penjelasan yang diberikan, lalu ngangguk seolah semuanya masuk akal. Padahal tidak. Sama sekali tidak. Tanganku sampai dingin saat satu per satu aset disebutkan. Rumah makan, saham, dana pendidikan, uang tunai! Semua itu terasa terlalu besar untuk seseorang yang dulu pernah menangis hanya karena tidak mampu membeli telur satu kilogram. Aku bahkan beberapa kali menyeka mata diam-diam. Memalukan memang. Tapi aku benar-benar tidak sanggup menahannya. Di luar sana, berapa banyak saudara kandung yang saling bermusuhan hanya karena warisan? Berapa banyak keluarga yang hancur karena rebutan tanah, rumah, atau tabungan orang tua? Sedangkan Zahra ... perempuan itu bahkan masih memikirkanku setelah kematiannya. Seseorang yang bukan keluarga, bukan saudara, bahkan awalnya hanya orang asing yang kebetulan dipertemukan takdir. Dad
Malam itu rumah terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Tak terlihat satu pun orang yang lalu-lalang. Hanya tersisa suara televisi yang menyala pelan di ruang keluarga. Aku baru pulang ketika melihat Kang Epen masuk dari pintu depan hampir bersamaan. Kemeja putih yang dipakainya tampak sedikit kusut. Dasi hitamnya sudah longgar. Di tangannya ada tas kerja dan beberapa map tebal. Lelah. Itu kesan pertama yang langsung kutangkap dari wajahnya. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku mulai bisa membaca suasana hatinya meski hanya dari cara dia berjalan. Sepertinya kami sama-sama melewati hari yang berat. "Baru pulang, Kang?" tanyaku sambil melepas sepatu. "Iya." Jawabannya singkat seperti biasa. Aku mengikuti langkahnya ke ruang tengah. "Belum makan?" "Belum." "Kenapa?" "Sibuk. Banyak kerjaan." "Oh." Aku mengangguk pelan. Pertanyaan bodoh. Kalau bukan kerja ya masa mancing. Namun langkahku terhenti ketika melihat dia membuka tutup saji di meja makan. Kosong. Hari itu memang ti
Beberapa hari berlalu sejak kepulanganku dari Kalimantan. Hidup perlahan kembali ke ritmenya semula. Aku kembali bekerja di gerai Xue Xue. Kembali mengenakan seragam yang sudah menemaniku hampir tiga tahun terakhir. Kembali menyapa pelanggan. Kembali membuat minuman dengan gerakan yang sudah kuhafal di luar kepala. Tapi kali ini rasanya berbeda. Karena ini adalah hari terakhir aku berada di sini. Setelah percakapan serius dengan Kang Epen tentang melanjutkan pendidikan dan permintaannya agar aku bisa upgrade skill. Akhirnya aku harus mengambil satu keputusan besar. Resign. Sebuah kata sederhana yang ternyata berat sekali diucapkan. Siang itu aku berdiri di depan ruangan Bang Japra. Tanganku sampai berkeringat. Padahal yang mau kutemui bukan orang asing. Justru sebaliknya. Kalau bukan karena Jeffry atau Bang Japra, mungkin aku tidak akan pernah bekerja di sini. Aku masih ingat bagaimana dulu Zahra meminta teman yang juga mantannya itu untuk membantuku mendapatkan pekerjaan. Da







