Share

22. Panggil Papa

Author: Dwrite
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-30 12:04:50

Keheningan menyebar ke seluruh penjuru ruang makan.

Aku sampai bingung harus bagaimana.

Mau nyusul Kang Epen, masih lapar.

Mau lanjut makan, takut dicap nggak peka.

Paling ngeselin memang kalau orang debat sambil makan. Begitu ada yang tersinggung, makanan langsung ditinggal. Yang kasihan itu orang sekitar. Nafsu makan ikut hilang padahal perut masih belum kenyang.

Aku menunduk pelan sambil mengaduk sup yang sudah mulai dingin.

Sejujurnya aku bukan tidak tersinggung dengan ucapan Kang Ep
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Titik Rapuh

    Kesadaranku perlahan kembali ketika mataku terbuka di sebuah ruangan bernuansa putih dengan aroma khas rumah sakit yang menusuk hidung. Kepala masih terasa berat, tubuhku lemas seperti baru saja melewati perjalanan panjang tanpa istirahat, sementara pandangan yang semula kabur perlahan mulai menemukan bentuk. Langit-langit putih di atas kepala menjadi benda pertama yang berhasil kukenali, disusul suara alat medis yang terdengar teratur dari sisi ranjang. Aku menarik napas pelan, mencoba mengingat bagaimana aku bisa sampai di tempat ini, sebelum ingatan tentang pertengkaranku dengan adik-adik kembali menghantam seperti gelombang yang tak memberi kesempatan untuk menghindar. Pintu terbuka perlahan, lalu seorang suster masuk sambil membawa beberapa lembar catatan pemeriksaan. Senyum hangat terukir di wajahnya ketika menyadari aku sudah sadar, tetapi ekspresi itu segera berubah menjadi lebih hati-hati setelah melihat mataku yang masih kosong menatapnya. Ia mendekat, memeriksa infus dan

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Nikmat Sesaat

    "Aku nggak bilang kamu nggak boleh bahagia. Aku cuma minta kamu jangan mengorbankan anak-anak demi kebahagiaan yang belum tentu." Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Tami yang tadi berada di luar ternyata sudah berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlihat tidak nyaman mendengar pembicaraan kami. Aku mengusap wajah. Entah kenapa semuanya terasa semakin berat. Mungkin karena aku sudah terlalu lama menjadi orang yang selalu mengerti. Terlalu lama menjadi orang yang harus kuat. Terlalu lama menjadi tempat semua orang bersandar. "Aku capek, tahu nggak?" Suaraku perlahan pecah. "Sejak dulu aku yang mikirin kalian." Aku menatap Syafira dan Tami bergantian. "Bahkan saat orangtua kita masih lengkap. Siapa yang mikirin uang sekolah? Siapa yang berhenti mengejar hidup sendiri supaya bisa bantu Emak? Siapa yang kerja sampai badan rasanya nggak punya tenaga lagi?" Air mataku mulai jatuh. "Kalian tahu kalau aku juga punya mimpi?" Tidak ada yang menjawab. "Tahu nggak aku per

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Lupa Diri

    Kuparkirkan motor di halaman rumah di sebuah gang kawasan Bekasi Timur. Rumah yang dulu nyaris tak layak disebut tempat tinggal itu sekarang sudah jauh berubah. Dindingnya telah dicat ulang, lantainya diganti, ruang tamunya memiliki perabot yang lebih layak, bahkan dapurnya sudah dilengkapi berbagai peralatan yang dulu hanya bisa kami lihat di televisi. Semua itu berasal dari sebagian uang warisan Zahra dan hasil investasi yang perlahan mulai memberiku kehidupan yang lebih baik. Namun, sore itu ada sesuatu yang membuatku berhenti beberapa detik sebelum masuk. Teras rumah tampak ramai. Beberapa anak muda duduk bergerombol sambil merokok dan menyeruput kopi kemasan. Musik dari salah satu ponsel terdengar samar, bercampur dengan tawa yang sesekali meledak tanpa peduli pada lingkungan sekitar. Aku mengenali beberapa wajah, tetapi sebagian besar sama sekali asing bagiku. Aku mengerutkan kening. Sejak kapan rumah ini berubah menjadi tempat tongkrongan? "Teteh!" Tami langsung ban

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Pesan Zahra

    Kuempaskan tubuh ke atas ranjang, lalu membalikan badan yang semula telungkup menjadi terlentang menatap langit-langit kamar. Lamunanku terberai, membuka kembali memori kenangan yang tersimpan dalam kepala selama kurang lebih dia tahun kebersamaan dengan Dara dan Kang Epen.Sesuatu yang hangat mengalir dari sudut mata saat kubuka galeri di dalam ponsel. Momen kebersamaan kami abadi dalam bentuk digital, mulai dari momen wisuda Dara saat dia membacakan puisi Bahasa Inggris dengan tema 'Ibu', lalu liburan kami ke Disneyland Singapura setahun lalu, kemudian saat mereka ke Swiss beberapa minggu lalu, hingga momen puasa dan Lebaran pertama sebagai keluarga yang terasa begitu menggetarkan dada, disaat keluargku yang semula meremehkan kini balik menghormati. Bahkan kehadiran kami ditunggu-tunggu keluarga Wa Eti saat itu. Untuk apalagi kalau bukan untuk dimintai THR yang mereka harapkan paling besar.... aku mengenal seseorang yang tumbuh dengan luka. Kalian sama hanya saja hidup di dua

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Ragu

    Suasana di pelataran kampus sempat terasa seperti berhenti. Aku masih bisa merasakan telapak tangan Asep di pinggangku ketika akhirnya dia sadar siapa yang berdiri beberapa meter di depan kami. Wajahnya langsung berubah. Tangannya buru-buru terlepas, lalu dia mundur satu langkah dengan kikuk. Aku sendiri segera merapikan tas dan membenarkan posisi pakaian, sementara jantungku berdetak terlalu cepat karena tatapan Kang Epen yang sulit kubaca. Dara berdiri di samping ayahnya sambil memeluk kantong oleh-oleh. Marni yang baru turun dari mobil ikut memperhatikan kami dengan ekspresi serba salah. Untungnya, Kang Epen tidak membuat keributan. Dia hanya menatap Asep beberapa detik, kemudian mengalihkan pandangan kepadaku. "Sudah?" tanyanya singkat. Aku mengangguk cepat. "Sudah." Asep kemudian maju sedikit sambil menganggukkan kepala dengan sopan. "Pak Evan, kenalkan saya Asep dosennya Dina. Juga temannya dari kecil," jelasnya hati-hati. "Tadi kita cuma kebetulan papasan dan saya liat Di

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Cemburu?

    "Kita pergi selama lima hari, ya. Kamu jaga diri." Ah, lima hari. Awalnya kupikir lima hari bukan waktu yang lama. Toh selama ini Kang Epen juga sering pergi dinas berminggu-minggu. Namun entah kenapa, sejak mengetahui ada kehidupan kecil yang tumbuh di dalam rahimku, setiap perpisahan terasa berbeda. Ada rasa takut yang sulit dijelaskan. Aku ingin mereka tetap pergi menikmati liburan, tetapi di sisi lain aku juga ingin mereka selalu berada dalam jangkauanku. Pagi keberangkatan itu rumah kembali ramai. Dara berlari ke sana kemari sambil memeluk boneka kelincinya. Sesekali dia memamerkan paspor mungilnya kepada Marni, seolah benda itu adalah harta paling berharga yang pernah dimilikinya. Sementara Kang Epen berdiri di ruang keluarga memeriksa kembali tiket, koper, dan beberapa dokumen perjalanan. "Dara nggak sabar banget, Pa. Sayang Mama nggak bisa ikut." Dara mendongak ke arah Kang Epen sambil mengerucut bibir. "Mama kan lagi sibuk belajar sayang. Lagi kurang enak badan juga. Ka

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   15. Privat Jet

    Bunyi weeker terdengar nyaris di seluruh penjuru kamar. Dalam penerangan seadanya kugapai-gapai nakas, dan bergegas mematikan. Aku tak ingat sempat berapa jam terlelap, karena setelah pulang tengah malam, aku melanjutkan packing untuk keberangkatan ke Kalimantan hari ini. Sebab selain seenaknya m

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   7. Tipe Ideal

    "Aaargh!" Kang Epen terlonjak begitu melihatku berdiri di samping ranjang memerhatikannya. "Ngapain kamu di sini?" "Penasaran, pengen liat orang cakep kalau bangun tidur gimana? Ternyata bisa belekan sama ileran juga." Aku nyengir. Dia langsung menyeka sudut bibirnya dan beringsut menjauhi. "U

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   6. Kesepakatan Pernikahan

    "Jadi, kamu yang namanya Andi?" Kalimat itu pertama kali terlontar dari mulut Kang Epen setelah lama dia memerhatikan. Masih lekat dalam ingatan saat dia menarikku dari parkiran ke tempat sepi setelah aku menyelesaikan shift malam dan bersiap pulang. Padahal pasca kepergian istrinya, aku sempat ke

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   5. Ide gila

    "Kang Epen masih belum pulang, Na?" tanyaku pada Mirna saat melihatnya pergi lagi, sesaat setelah mengantar aku dan Dara pulang. Sudah hampir jam sembilan sekarang, tapi dia masih belum kembali. Apa aku melakukan kesalahan? "Belum, Teh. Dari tadi saya sama Marni di sini. Paling ke dapur ata

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status