Share

2. Bayar Denda

Penulis: Dwrite
last update Tanggal publikasi: 2026-04-24 12:19:41

Begitu banyak hal tak terduga dalam hidupku. Salah satunya adalah pertemuanku kembali dengan Zahra setelah hilang kontak bertahun-tahun lamanya. Bermula dari kejadian tak terduga lima tahun lalu yang memaksa kami untuk saling bertukar cerita hingga berakhir dengan meluapkan emosi bersama. Selama lima tahun terakhir ini dia telah berhasil memberiku banyak sekali pelajaran tentang kehidupan di dunia yang selalu kuanggap sialan. Mulai dari pengalaman menikah di usia yang bisa dibilang muda, mengurus anak yang tak diinginkan, berkarir, dan masih banyak lagi tekanan berat yang dibebankan di pundaknya yang rentan.

Meski begitu, menurutku separuh hidupnya masih tampak mudah karena dia terlahir kaya. Berbeda denganku. Si anak sulung yang menanggung beban sebagai tulang punggung keluarga. Penopang bagi adik-adiknya dan si harapan orangtua. Hidupku seolah sudah ditentukan bahkan sebelum sempat aku memilih mau jadi apa.

Aku bersedia menerima tawaran Zahra, ketika akhirnya menemukan kebuntuan di tengah terjalnya perjalanan yang tak ada habisnya. Delapan belas tahun merantau dari kampung ke kota, berpikir bahwa kita bisa mengubah nasib, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Semua yang kita punya benar-benar habis tak bersisa. Dan akulah yang bertanggung jawab untuk memperbaiki semuanya.

"Dalam rangka apa, nih traktir kita semua Nasi Padang? Jangan-jangan dua hari libur lu baru aja bobol bank?" Lely, salah satu rekan dekatku di tempat kerja bertanya. Dia mengambil posisi di sampingku yang bersandar pada frezzer, sementara karyawan lain menggantikan tugas kami di sela makan siang yang berjalan bergantian.

"Hahaha ... bukan atuh ih, melarat-melarat begini saya mah bukan maling. Kebetulan aja ada kerjaan sampingan yang hasilnya lumayan." Aku tersenyum saat membayangkan Kang Epen dengan dompetnya yang tebal senang menari striptis di hadapan.

"Wih, sambilan di mana emangnya, Din?" Bang Erlan, begitu ia biasa dipanggil, tiba-tiba menyambar. Tak ada pengecualian meski aku lebih tua setahun. Karena hitungannya dia seniorku juga kepercayaan Manager di waralaba yang menawarkan berbagai minuman teh segar dan es krim ini.

Sudah tiga tahun aku bekerja di salah satu Franchise Xue Xue, di samping itu aku juga masih mengambil sambilan sebagai sales, admin online, bahkan malamnya juga masih ngojek tipis-tipis. Lokasi tempat kerjaku sangat strategis karena berada di Planet Bekasi yang terkenal hareudang, apalagi bila sudah datang musim kemarau setiap hari kedai ramai. Bisa dibilang weekday dan weekend tak ada bedanya mengingat letaknya juga di kawasan kampus, kantor pusat properti yang cukup terkenal, juga kafe yang satu harga kopinya bisa buat tiga kali makan. Apalagi kalau bukan Starbucek.

Dari beberapa pekerjaan inilah aku mulai mengenal Kang Epen dan sedikit paham tentang karakternya yang seringkali Zahra ceritakan. Karena ternyata selain Bapak Dara dan suami Zahra, Kang Epen juga pemilik GrandLand, perusahaan real estate yang ada di samping kedai. Seringkali aku mendapatinya ngopingopi santai di kafe seberang. Bahkan saat hendak menyeberang, pernah iseng kutawari es krim, karena selama tiga tahun jadi pegawai dia tak pernah sekalipun mampir. Namun, respons benar-benar di luar dugaan, katanya es krim murah cuma bikin sakit tenggorokan. Pikasebeubeleun pisan, bukan?

Siapa sangka lalaki songong bin pikasebeleun itu berakhir jadi suamiku sekarang.

"Ada'lah, kerjaan yang sebenernya nggak susah, tapi harus kuat mental." Aku menaik-turunkan alis, tersenyum penuh arti yang membuat Bang Erlan justru mengernyitkan dahi.

"Astaga, Dina! Jangan bilang kalau lo--"

"Bangke!" Kami bertiga mengalihkan pandangan saat melihat Hanam melempar apron.

"Ada apa, Nam? CS nyebelin lagi?" tanya Lely.

"Bukan, si Edo hari ini katanya nggak masuk. Jadi, terpaksa di antara kita yang gantiin. Sialan, padahal gue baru dapet jatah kemar--."

"Ya udah biar saya aja we!" Aku mengangkat tangan menawarkan diri. Sembari bangkit, kulempar bungkus nasi padang yang hanya tersisa daun pisang dan tulang ayam.

"Eh, nggak apa-apa emang, Din? Masa kamu? Biasa juga anak cowok, kan?" Terlihat dari raut wajahnya lelaki berkacamata itu tampak sungkan.

"Nggak apa-apa atuh. Emang udah lama saya pengen nyoba. Cuma nggak pernah dibolehin Pak Japra, katanya cewek tugasnya racik minuman, bukan jadi badut maskot." Sebenarnya nama managerku itu Jeffery, tapi karena lidah Sunda yang kadang belibet, aku sering membuat nama panggilan sendiri. Contohnya Kang Epen.

"Eh, serius, Din?" Hanam si cowok green flag masih saja tampak sungkan.

"Iya, udah, ah! Yuk, bantu pasang. Jangan lupa Bang Erlan sama Lely setelin lagu Geboy Mujaer." Aku menepuk bahu Hanam dan merangkulnya menuju gudang. Meninggalkan Bang Erlan dan Lely yang masih terheran-heran.

"Kadang nggak ngarti gua mah. Selalu full energy si Dina, tuh. Apa dia nggak paham konsep bete atau galau?"

"Kayaknya dia kelebihan dopamin, deh, Bang. Jadi, bawaannya selalu ceriah dan bahagiah!"

Aku hanya bisa tersenyum tipis mendengarnya. Kalau saja kalian tahu kisahku, masihkah menganggapnya begitu?

***

Saat sedang asik joget ngebor-ngecor dan berswafoto dengan anak-anak dalam kostum Maskot Xue Xue, aku mencium aroma-aroma surgawi dari sosok yang melintas di hadapan. Meski terbungkus kostum yang sudah meleyot minta segera dilepaskan, semerbak wangi parfum yang botolannya seharga sewa kontrakan tahunan ini tentu tak mungkin dipakai sembarang orang.

Seperti dugaan, kulihat Kang Epen digandeng seorang wanita cantik nan bohai. Awalnya aku ingin tak peduli, tapi saat teringat pesan Zahra bahwa Kang Epen harus tetap di jalan yang benar, aku langsung menabrak wanita di sampingnya hingga nyaris tersungkur kalau saja tidak ditahan Kang Epen.

"Punya mata, kan? Mana managernya? Gue mau ngomong!" Tak perlu menunggu lama saat aku kena semprot dan pelototan.

"Ma-maaf, Teh. Mata saya ketutup kostum segede gaban, jadi nggak keliatan."

"Halah, alasan. Lo pas--"

"Udah, udah, Sha! Buang-buang waktu ngurusin hal beginian."

Wanita itu sudah siap menerjang kalau saja Kang Epen tak menahan. Setelah ditenangkan, dia melunak dan kembali mengapit lengan lelaki yang secara hukum dan agama berstatus sah sebagai suamiku, tapi baginya mungkin aku hanya seperti belek di ujung mata. Mengganggu.

Terbukti dari pernikahan kami yang hanya berlangsung di KUA tanpa dihadiri keluarga dari pihaknya. Jadi, jangan harap aku akan diakui sebagai istri.

Setelah menghadiahiku dengan tatapan membunuh. Mereka masuk ke kafe Starbucek dan langsung mengambil tempat di samping jendela. Berbincangbincang manja diselingi canda dan tawa. Sepertinya obrolan mereka sangat mengasyikan karena si Cewek kegatelan tanpa sungkan nempel-nempel Kang Epen.

Pemandangan yang bagi istri-istri tersakiti tampak memilukan itu, bagiku tak demikian. Justru aku memikirkan sesuatu yang sepertinya menguntungkan.

Setelah suasana kedai tak terlalu ramai, bergegas aku meminta Hanam untuk membantu membukakan kostum, lalu kupotret dua sejoli bukan mahrom itu setelah memperbesar objek dengan maksimal.

[ Nempel dan cipika-cipiki sama cewek lain di belakang istri, denda maratus rebu! ]

Pesan itu kukirim bersamaan dengan foto barusan. Dari kejauhan, mata jeliku bisa merasakan tatapan lasernya menembus kaca.

Cukup lama balasan tiba, sampai sebuah notif kiriman foto darinya datang.

m-Transfer :

BERHASIL!

Ke 5231654653

ANDINA JULIANTI

Rp. 500,000.00

[ BACOT!!]

Setelah melihat note yang tertera, aku mengalihkan pandangan kembali padanya, tanpa diduga dia tiba-tiba mengacungkan jari tengah.

"Unchh, agak nyelekit, ya, Bun. Tapi nggak apa-apa, yang penting dapet uit jajan."

*

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Lebih Buruk

    "Istrimu tadi sempat nanya. Katanya apa masih ada kemungkinan hamil setelah vasektomi?" "Terus kamu jawab apa?" "Ya, kujawab apa adanya. Kalau nggak ada teknologi dan kemampuan dokter manapun yang bisa menandingin kuasa Tuhan." "Katamu prosedur ini paling efektif untuk mencegah kehamilan?!" "Efektif bukan berarti bisa mencegah 100% Evandi Sebastian Gunawan. Kadang otak pintarmu tak bekerja kalau berkaitan dengan hal-hal yang kau hindari. Sama halnya dengan IUD, Spiral, k*ndom, bahkan steril. Risiko untuk kebobolan akan selalu ada. Karena fungsi KB, kontrasepsi, dll itu hanya untuk mencegah, bukan menyalahi kodrat manusia untuk berekproduksi, kecuali kalau memang ada gangguan di dalam organ. Understand?" Percakapan dengan dokter Fransiska di ruang pemeriksaan kala itu terus berputar-putar di kepala Evan. Sejak setengah jam yang lalu dia masih berdiri di tempatnya memerhatikan Syafira dan Tami yang membawa barang-barang Dina keluar dari kediamannya. Evan cukup mengerti b

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Arti Sebuah Keluarga

    Rahangnya kembali mengeras. "Keputusan apalagi yang kuambil tanpa melibatkanmu, Din? Sejak kembalinya Dara aku berusaha keras tak menutupi apa pun lagi." Aku menggeleng. "Enggak!" Aku tertawa kecil, tetapi suara itu terasa pahit. "Akang udah banyak berubah sejauh ini. Akulah yang salah di sini, akulah yang sejak awal memang nggak tahu diri. Karena dalam pernikahan ini akang yang punya kendali, kita punya kesempatan dan aku setuju." Aku mengusap sudut mata yang mulai basah. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Dia mendekat. "Sudah cukup bertele-telenya," tegasnya. "Sekarang katakan apa alasanmu berakhir di rumah sakit ini?" Aku diam. "Kamu nggak mengidap penyakit serius yang menyebabkanmu mati dalam waktu dekat ini, kan?" Entah kenapa kalimat itu justru membuat sesuatu di dalam dadaku terasa lucu sekaligus menyakitkan. Aku tertawa. "Hahaha ...." Tawaku terdengar menggema di ruangan. "Kenapa?" tanyaku sambil menatapnya. "Akang takut jadi duda yang ditinggal mati dua kali?"

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Meluapkan Perasaan

    Dua hari berlalu. Kondisiku berangsur membaik meski dokter masih memintaku untuk banyak beristirahat. Emak dan adik-adikku bergantian menjagaku, sementara urusan rumah dan restoran mulai mereka bagi agar tidak semuanya bertumpu pada satu orang. Aku bahkan tidak lagi menyentuh ponsel terlalu sering karena setiap kali layar menyala, nama Kang Epen selalu muncul di sana. Panggilan demi panggilan. Pesan demi pesan. Semuanya kubiarkan tanpa jawaban. Bukan karena aku membencinya. Aku hanya belum tahu harus menjawab sebagai siapa. Sebagai istrinya? Sebagai perempuan yang sedang marah? Atau sebagai seorang ibu yang sedang berusaha melindungi anaknya dari ayah yang bahkan belum tahu keberadaannya? "Teh, si A Epan neleponan wae," kata Shafira dari ambang pintu sambil memperlihatkan ponselku yang sejak tadi tergeletak di meja. "Fira bingung jawabna." Aku menghela napas panjang. "Udah biarin aja." Syafira masuk dan duduk di kursi dekat ranjang. Dia menatapku beberapa saat sebelum ak

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Titik Rapuh

    Kesadaranku perlahan kembali ketika mataku terbuka di sebuah ruangan bernuansa putih dengan aroma khas rumah sakit yang menusuk hidung. Kepala masih terasa berat, tubuhku lemas seperti baru saja melewati perjalanan panjang tanpa istirahat, sementara pandangan yang semula kabur perlahan mulai menemukan bentuk. Langit-langit putih di atas kepala menjadi benda pertama yang berhasil kukenali, disusul suara alat medis yang terdengar teratur dari sisi ranjang. Aku menarik napas pelan, mencoba mengingat bagaimana aku bisa sampai di tempat ini, sebelum ingatan tentang pertengkaranku dengan adik-adik kembali menghantam seperti gelombang yang tak memberi kesempatan untuk menghindar. Pintu terbuka perlahan, lalu seorang suster masuk sambil membawa beberapa lembar catatan pemeriksaan. Senyum hangat terukir di wajahnya ketika menyadari aku sudah sadar, tetapi ekspresi itu segera berubah menjadi lebih hati-hati setelah melihat mataku yang masih kosong menatapnya. Ia mendekat, memeriksa infus dan

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Nikmat Sesaat

    "Aku nggak bilang kamu nggak boleh bahagia. Aku cuma minta kamu jangan mengorbankan anak-anak demi kebahagiaan yang belum tentu." Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Tami yang tadi berada di luar ternyata sudah berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlihat tidak nyaman mendengar pembicaraan kami. Aku mengusap wajah. Entah kenapa semuanya terasa semakin berat. Mungkin karena aku sudah terlalu lama menjadi orang yang selalu mengerti. Terlalu lama menjadi orang yang harus kuat. Terlalu lama menjadi tempat semua orang bersandar. "Aku capek, tahu nggak?" Suaraku perlahan pecah. "Sejak dulu aku yang mikirin kalian." Aku menatap Syafira dan Tami bergantian. "Bahkan saat orangtua kita masih lengkap. Siapa yang mikirin uang sekolah? Siapa yang berhenti mengejar hidup sendiri supaya bisa bantu Emak? Siapa yang kerja sampai badan rasanya nggak punya tenaga lagi?" Air mataku mulai jatuh. "Kalian tahu kalau aku juga punya mimpi?" Tidak ada yang menjawab. "Tahu nggak aku per

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Lupa Diri

    Kuparkirkan motor di halaman rumah di sebuah gang kawasan Bekasi Timur. Rumah yang dulu nyaris tak layak disebut tempat tinggal itu sekarang sudah jauh berubah. Dindingnya telah dicat ulang, lantainya diganti, ruang tamunya memiliki perabot yang lebih layak, bahkan dapurnya sudah dilengkapi berbagai peralatan yang dulu hanya bisa kami lihat di televisi. Semua itu berasal dari sebagian uang warisan Zahra dan hasil investasi yang perlahan mulai memberiku kehidupan yang lebih baik. Namun, sore itu ada sesuatu yang membuatku berhenti beberapa detik sebelum masuk. Teras rumah tampak ramai. Beberapa anak muda duduk bergerombol sambil merokok dan menyeruput kopi kemasan. Musik dari salah satu ponsel terdengar samar, bercampur dengan tawa yang sesekali meledak tanpa peduli pada lingkungan sekitar. Aku mengenali beberapa wajah, tetapi sebagian besar sama sekali asing bagiku. Aku mengerutkan kening. Sejak kapan rumah ini berubah menjadi tempat tongkrongan? "Teteh!" Tami langsung ban

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   15. Privat Jet

    Bunyi weeker terdengar nyaris di seluruh penjuru kamar. Dalam penerangan seadanya kugapai-gapai nakas, dan bergegas mematikan. Aku tak ingat sempat berapa jam terlelap, karena setelah pulang tengah malam, aku melanjutkan packing untuk keberangkatan ke Kalimantan hari ini. Sebab selain seenaknya m

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   7. Tipe Ideal

    "Aaargh!" Kang Epen terlonjak begitu melihatku berdiri di samping ranjang memerhatikannya. "Ngapain kamu di sini?" "Penasaran, pengen liat orang cakep kalau bangun tidur gimana? Ternyata bisa belekan sama ileran juga." Aku nyengir. Dia langsung menyeka sudut bibirnya dan beringsut menjauhi. "U

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   3. Ganti Rugi

    Brak! "Nggak usah ikut campur tentang urusan saya sama klien!" Perintah itu diikuti dengan gebrakan meja yang membuatku terperanjat. "Ehem, bukannya Akang, eh Bapak yang bilang jangan bawa urusan rumah tangga ke tempat kerja?" Aku berusaha mengingatkan kontrak tak tertulis yang sempat dia lonta

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   1. Pelacur Berkedok Istri

    "Kita lakukan sekarang! Agar tak ada lagi drama berkepanjangan tentang nafkah batin yang tak terpenuhi juga gugur kewajiban saya dalam satu malam." Meski sudah tahu hal ini akan terjadi, ucapan si Tampan dengan wajah datar tetap berhasil menyentil hati mungilku yang malang. Ikrar yang terjalin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status