LOGINBrak!
"Nggak usah ikut campur tentang urusan saya sama klien!" Perintah itu diikuti dengan gebrakan meja yang membuatku terperanjat. "Ehem, bukannya Akang, eh Bapak yang bilang jangan bawa urusan rumah tangga ke tempat kerja?" Aku berusaha mengingatkan kontrak tak tertulis yang sempat dia lontarkan saat lamaran. "Ini urgent!" "Oh, oke. Jadi, kalau urgent boleh, ya?" "Nggak juga! Intinya kamu nggak ada hak atur-atur gaya hidup saya apalagi sama perempuan-perempuan yang deket sama saya." "Kalau itu, sih tergantung." "Maksudnya?" "Uhuk, uang tutup mulut!" Kang Epen mengembuskan napas dengan kasar, lalu matanya terpejam. "Jadi, gini, ya. Sebenernya saya mah nggak peduli tentang apa pun kegiatan Akang di luar maupun di tempat kerja, tapi kalau kegiatan itu menyimpang dan langsung keliatan sama kedua biji mata saya--apa salah kalau saya minta konpensasi untuk membayar sakit hati sebagai salah satu hak asasi seorang istri?" "Nggak usah muter-muter! Akui saja kalau kamu memang suka memanfaatkan momentum sebagai ladang uang!" Kalau ngomong suka bener. "Ng-gak gitu! Saya cuma mengantisipasi agar suatu saat Akang lebih hati-hati lagi. Gimana kalau kebetulan di jalan yang nemuin Akang itu Dara? Apa kata gadis kecil nan imut itu kalau Papa tampan yang menjadi panutan dan cinta pertamanya ternyata suka main perempuan? Hayo, gimana itu?! Apa yang mau Akang bilang ke Dara?" Bisa kulihat dia mulai menopang kepala dengan tangan, lalu memijit pelipisnya. "Entahlah saya pusing!" "Mau dipijitin?" Melihat ada peluang, aku langsung bergegas mendekat. "Maju selangkah, jatah bulananmu saya potong!" Aku langsung membatu dan tak berkutik mendengar ultimatum itu. "Sekarang keluar!" "Esnya!" Kuangkat cup Xue Xue berisi Es Mocha yang hampir meleleh. "Kasih saja ke asisten saya di depan!" Tanpa menatapku kali ini dia menangkup wajah dengan kedua tangan. "Oke." Melihat kondisinya yang seperti sedang banyak pikiran, aku tak berani menanyakan ongkir yang dia janjikan. "Sekalian ambil uang dan ongkirnya!" Senyumku mengembang, tenyata dia cukup peka untuk ukuran lelaki kejam. "Makasih." Kurendahkan tubuh sembari berjalan mundur meninggalkan ruangan. Namun, sebelum sempat meraih pegangan pintu, panggilannya menghentikan. "Dina!" "Ya?" "Bisa panggil saya dengan sebutan yang sesuai? Btw kita seumuran!" Wajahnya masih terlihat datar walaupun matanya menyorot serius. Aku mengusap dagu dan berpikir sejenak. Walaupun seumuran, sama suami kan tetep nggak sopan kalau panggil nama. "Kang Mas? Raden Mas?" Dia mengerutkan kening. "Abang? Uda?" Tatapannya menajam. "Tuan Muda? Juragan?" "Yang?" "Ayang?" "Sayang?" "Lupakan!" putusnya final. Aku mengangguk paham. Itu artinya aku masih boleh memanggilnya sesuai kemauan. *** "I am home!" "Uti Dina!" Dara langsung berlari menyambutku pulang. Matanya terlihat sembab dengan hidung yang memerah. "Loh, kenapa?" Aku langsung berjongkok menyejajarkan tubuh dengannya. "Rewel karena yang jemput bukan Teh Dina!" tutur Marni, dia adalah baby sitter Dara sejak orok. Aku mengerucutkan bibir, lalu mengusap pipi gembilnya. "Kan Uti kerja, Sayang. Dijemput Mbak Marni juga nyampenya sama-sama ke rumah, kan?" Bibir bocah berkucir dua itu tiba-tiba bergetar. "Da-Dara kangen Mama, Uti." "Uh, Sayang." Mendengar itu aku langsung membawanya dalam pelukan. "Uti juga kangen. Tapi, kita nggak boleh kayak gini terus, kasian Mama di sana nggak tenang. Mending dari sini Dara kirim doa. Biar Mama selalu bahagia dan--" Prang! Sontak kami semua menoleh ke belakang saat mendengar benda jatuh dari rak pajangan. "Papa!" Dara langsung berlari memburu Kang Epen yang baru saja datang. Ternyata dia adalah tersangka dari pecahnya piring pajangan. Kami bersitatap sejenak. Meski wajahnya terlihat datar tapi sorot mata redup itu sudah cukup menjelaskan bahwa dia juga merasakan apa yang putrinya rasakan. "Bilang sama Mirna dan Mbok Ani, nggak usah siapin makan!" "Oke." Aku langsung memutar tubuh dan bersiap menuju dapur. "Saya ngomong sama Marni bukan kamu!" ralatnya. "Eh?" "Ganti baju sana! Kita ke dealer sekarang." Kugaruk rambut yang tak gatal. "Mau ngapain?" "Motor butut kamu nggak sengaja saya tabrak barusan. Siapa suruh parkir sembarang!" Dengan santai dia mengatakan sesuatu yang membuat jantungku seperti disambar halilintar. Mengabaikan semuanya aku langsung berlari ke TKP. Tubuhku lemas seketika saat melihat si Biru yang baru saja diganti oli dan diisi full bensin sudah berakhir mengenaskan terlindas Rubicon merahnya Kang Epen. "Kok, bisa? Panon Akang teh ninggali na ka mana? (Matamu liatnya ke mana?) Fungsi spion terus kamera bemper depan belakang teh apa? Mobil elit tapi skil parkir su--" "Saya ganti yang baru, Dina!" potongnya yang membuatku langsung terbungkam. "Eh, iyakah?" Dari sedih, terkejut dan kehilangan daya aku langsung semringah seketika. "Kalau gitu saya mau Vespa Matic yang varian GTS!" "Agak ngelunjak, ya!" cibirnya. "Biarin." Aku menjulurkan lidah, lalu beralih pada Dara. "Ganti baju, yuk! Buat gantiin yang nggak jemput tadi kita jalan-jalan sama Papa." ***"Aaargh!" Kang Epen terlonjak begitu melihatku berdiri di samping ranjang memerhatikannya. "Ngapain kamu di sini?" "Penasaran, pengen liat orang cakep kalau bangun tidur gimana? Ternyata bisa belekan sama ileran juga." Aku nyengir. Dia langsung menyeka sudut bibirnya dan beringsut menjauhi. "Udah gila kamu, ya! Pergi san--aaargh!" Sejurus kemudian Kang Epen langsung memegangi kepala. "Nah, nah, pusing, kan? Mabok, sih semalem. Nggak boleh gitu lagi, ya, Kang. Khamr itu harom, bisa merusak akal!" Dia mendecih, lalu mengalihkan pandangan pada nakas di sampingku. Ada nampan berisi makanan dan minuman di sana. "Apa itu?" "Teh Jasmine-Madu sama Sayur Sop. Kata Simbok ini bisa meredakan pengar setelah kobam." Dia loading sejenak, lalu mengulurkan tangan. "Bawa sini!" Aku menurut, lalu meletakan nampan tersebut di sisi lain ranjang. Tenang, Gaes. Kasur orang kaya tak akan meleyot walau diguncang gempa buatan. Jadi, bisa dipastikan teh dan sop-nya aman. "Tiati pa
"Jadi, kamu yang namanya Andi?" Kalimat itu pertama kali terlontar dari mulut Kang Epen setelah lama dia memerhatikan. Masih lekat dalam ingatan saat dia menarikku dari parkiran ke tempat sepi setelah aku menyelesaikan shift malam dan bersiap pulang. Padahal pasca kepergian istrinya, aku sempat kehilangan kontak dengan semua orang yang berhubungan dengan Zahra karena tak tahu nomor Mirna untuk menanyakan tentang perkembangan Dara sepeninggal Mamanya. Selama enam bulan aku juga tak berani menanyakan, mengingat kondisi Kang Epen yang kuperhatikan dari kejauhan sangat kacau dan berantakan, tanpa diduga lelaki yang mulanya sulit dijangkau dan hanya sesekali berpapasan dengan senyum tipis itu ada di hadapan sekarang dengan tingkahnya yang membingungkan. "Tepatnya Andina, Kang. Kalau Andi doang berasa saya lanang. Hehe." Aku nyengir untuk mencairkan suasana. Tapi, sialnya dia tak tertawa. Wajahnya masih sedatar sebelumnya. "Terserah. Yang pasti seminggu dari sekarang kita menikah!""Hah
"Kang Epen masih belum pulang, Na?" tanyaku pada Mirna saat melihatnya pergi lagi, sesaat setelah mengantar aku dan Dara pulang. Sudah hampir jam sembilan sekarang, tapi dia masih belum kembali. Apa aku melakukan kesalahan? "Belum, Teh. Dari tadi saya sama Marni di sini. Paling ke dapur atau kamar sebentar. Kalau pun Bapak tiba-tiba pulang, harusnya, sih kedengeran." Aku mangut-mangut. "Mungkin dia ada urusan dadakan." "Mungkin." Mirna ikut menduga-duga. Setelah membiarkan keheningan berlalu begitu saja, aku baru teringat tentang sesuatu. "Oh, iya. Motor saya udah dibawa Mang Tarman ke bengkel, kan?" Sebelum pergi dengan Dara dan Kang Epen tadi, aku memang sempat memeriksa kondisi Blue. Kurasa tak terlalu parah dan masih bisa diperbaiki. "Udah, Teh. Alhamdulillah katanya masih bisa dibenerin. Yang kena cuma body-nya." "Alhamdulillah Gusti!" "Oh, iya. Teteh mau dibikinin sesuatu?" tawar Mirna kemudian. "Eh, nggak usah! Kalau pun mau saya bisa bikin sendiri
"Yakin mau yang itu?" Aku menganggangguk mantap begitu Kang Epen meyakinkan bahwa pilihanku benar-benar telah jatuh pada motor matic dengan brand yang sama seperti si Blue malang yang telah dilindas Rubiconnya. Hanya saja varian terbarunya. "Iya, udah itu aja." Melihat tatapannya yang masih dalam dan tajam, sepertinya lelaki ini masih belum benar-benar percaya. "Tadi katanya mau Vespa GTS?" "Ih, kan becanda atuh, Kang. Yang itu aja udah lebih dari cukup, kok. Saya emang suka memanfaatkan kesempatan, tapi nggak sampe aji mumpung juga." Dia mangut-mangut, lalu mulai mengeluarkan dompet dari saku belakang celana jins-nya. "Ya udah. Mau mobilnya sekalian?" Aku ternganga, lalu mengerjapkan mata. Kebetulan di samping dealer motor lengkap ini, ada showroom mobil juga. "Emang boleh?" "Nggak!" "Yeh, kirain beneran." Refleks aku memukul lengannya yang membuat Bapak Dara memandang dengan kerutan di dahinya. "Makasih, ya, Kang Epen yang kasep." Kemudian aku memasang seny
Brak! "Nggak usah ikut campur tentang urusan saya sama klien!" Perintah itu diikuti dengan gebrakan meja yang membuatku terperanjat. "Ehem, bukannya Akang, eh Bapak yang bilang jangan bawa urusan rumah tangga ke tempat kerja?" Aku berusaha mengingatkan kontrak tak tertulis yang sempat dia lontarkan saat lamaran. "Ini urgent!" "Oh, oke. Jadi, kalau urgent boleh, ya?" "Nggak juga! Intinya kamu nggak ada hak atur-atur gaya hidup saya apalagi sama perempuan-perempuan yang deket sama saya." "Kalau itu, sih tergantung." "Maksudnya?" "Uhuk, uang tutup mulut!" Kang Epen mengembuskan napas dengan kasar, lalu matanya terpejam. "Jadi, gini, ya. Sebenernya saya mah nggak peduli tentang apa pun kegiatan Akang di luar maupun di tempat kerja, tapi kalau kegiatan itu menyimpang dan langsung keliatan sama kedua biji mata saya--apa salah kalau saya minta konpensasi untuk membayar sakit hati sebagai salah satu hak asasi seorang istri?" "Nggak usah muter-muter! Akui saja kalau ka
Begitu banyak hal tak terduga dalam hidupku. Salah satunya adalah pertemuanku kembali dengan Zahra setelah hilang kontak bertahun-tahun lamanya. Bermula dari kejadian tak terduga lima tahun lalu yang memaksa kami untuk saling bertukar cerita hingga berakhir dengan meluapkan emosi bersama. Selama lima tahun terakhir ini dia telah berhasil memberiku banyak sekali pelajaran tentang kehidupan di dunia yang selalu kuanggap sialan. Mulai dari pengalaman menikah di usia yang bisa dibilang muda, mengurus anak yang tak diinginkan, berkarir, dan masih banyak lagi tekanan berat yang dibebankan di pundaknya yang rentan. Meski begitu, menurutku separuh hidupnya masih tampak mudah karena dia terlahir kaya. Berbeda denganku. Si anak sulung yang menanggung beban sebagai tulang punggung keluarga. Penopang bagi adik-adiknya dan si harapan orangtua. Hidupku seolah sudah ditentukan bahkan sebelum sempat aku memilih mau jadi apa. Aku bersedia menerima tawaran Zahra, ketika akhirnya menemukan kebuntuan d







